Yver dan Bjorn berlari berdampingan, mengitari pepohonan rimbun yang menghalangi jalan mereka. Tatapan Bjorn tajam, fokus pada tujuan di depan. Ia tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan atau memikirkan hal lain. Neil dalam bahaya, dan ia harus segera menyelamatkannya.
Di sampingnya, Yver berlari dengan lincah, sesekali meloncati akar-akar pohon yang melintang. Meskipun pertemuannya dengan Bjorn adalah kebetulan, ada sesuatu yang membuat Yver, si bangsawan yang angkuh, ingin membantu regu Bjorn. Mungkin ia bosan dengan kehidupannya yang monoton, atau mungkin ia tertarik dengan misteri yang menyelimuti Neil dan Kundea. Apapun alasannya, ia sekarang berada di sini, berlari bersama Bjorn untuk menyelamatkan seseorang yang bahkan belum lama ia kenal.
"Sebentar lagi kita sampai" ucap Yver, memecah keheningan, "Dinding Kekaisaran sudah terlihat"
Bjorn mengikuti arah pandangan Yver. Di kejauhan, sebuah bangunan besar terlihat menjulang tinggi. Dindingnya yang terbuat dari tanah liat yang kokoh tampak sangat mirip dengan arsitektur Colosseum Romawi di Italia. Bjorn tertegun. Ia tidak menyangka akan menemukan bangunan seperti itu di dunia ini.
Ketika mereka tiba di depan pintu masuk Kekaisaran, Bjorn semakin terkejut. Tempat itu sangat sepi. Tidak ada penjaga yang berdiri di depan gerbang, tidak ada aktivitas yang menandakan adanya kehidupan di dalam. Suasana hening dan misterius menyelimuti Kekaisaran Platas, sangat berbeda dengan gambaran yang ia bayangkan sebelumnya. Bjorn menatap bangunan itu dengan tatapan kosong, pikirannya melayang ke masa lalu. Arsitektur ini... sangat mirip dengan dunia yang kuhuni sebelumnya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dan tidak pada tempatnya.
"Ayo Bjorn, kita masuk lewat sini," panggil Yver, mendorong pintu utama Kekaisaran Platas hingga terbuka lebar.
Bjorn tersentak dari lamunannya, mengangguk pelan. "Ah benar, ayo kita masuk" sahutnya, mengikuti Yver memasuki bangunan megah itu.
Mereka berdua berjalan melewati lorong yang dalam dan gelap. Penerangan di jalan sempit itu hanya berasal dari beberapa obor yang menempel di dinding, menciptakan bayangan-bayangan menari yang menambah kesan misterius. Bjorn melangkah dengan hati-hati, matanya menjelajahi setiap sudut lorong. Ia tampak tegang, sesekali menyentuh dinding kasar itu dengan ujung jarinya.
"Dari tadi apa yang kau perhatikan?" tanya Yver penasaran, "Apa kau merasa ada sesuatu yang janggal?"
Bjorn menggeleng perlahan. "Entahlah," jawabnya dengan nada ragu, "Ini... sangat tidak asing bagiku"
Mereka terus melangkah semakin dalam ke dalam lorong. Suara ramai yang samar-samar mulai terdengar, bercampur dengan gema langkah kaki mereka. Seberkas cahaya terlihat di ujung lorong, semakin lama semakin terang. Suara ramai itu pun semakin jelas, seperti suara orang banyak yang sedang bersorak-sorai.
Akhirnya, mereka sampai di ujung lorong. Sebuah pintu besar terlihat menjulang di hadapan mereka, membatasi mereka dari sumber suara dan cahaya itu.
Dengan satu dorongan kuat, Bjorn dan Yver membuka pintu besar itu. Seketika, cahaya matahari yang terik menyerbu masuk, menyilaukan mata mereka bagaikan lampu sorot panggung. Bjorn mengangkat tangan, menghalau cahaya yang menyilaukan wajahnya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya.
Saat pandangannya mulai jelas, pemandangan di hadapannya membuatnya tercengang. Lorong gelap yang baru saja mereka lewati ternyata mengarah ke sebuah arena luas yang penuh sesak oleh para monster. Makhluk-makhluk aneh dengan berbagai bentuk dan ukuran berdesakan di kursi penonton, menciptakan suasana ribut dan kacau.
"BUNUH! BUNUH! BUNUH!" teriak mereka bersahutan, suara mereka bergema di seluruh arena.
Bjorn dan Yver bertukar pandangan, kebingungan dan kekhawatiran terpancar di wajah mereka. Mereka terjebak di tengah-tengah kerumunan monster yang haus darah, tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Pintu besi berkarat di seberang berderit menggelikan saat terdorong terbuka, menciptakan suara parau yang membuat suasana semakin menegangkan. Dari balik kegelapan yang menyelimuti pintu itu, muncul sesosok Ogre bertubuh bongsor dengan kulit kehijauan yang tampak kasar. Otot-ototnya menonjol di bawah cahaya matahari yang menyengat, memberikan kesan kuat dan mengancam. Di kedua tangannya, ia mencengkeram dua buah golok besar yang melengkung tajam. Bilah-bilah golok itu terlihat sangat tajam dan terawat, memantulkan cahaya dengan mengancam.
Ogre itu melangkah masuk ke tengah arena dengan langkah berat dan mantap. Setiap tapak kakinya menghasilkan dentuman keras yang membuat tanah bergetar, Ia menghentikan langkahnya di tengah arena, menatap Yver dan Bjorn dengan mata menyala-nyala.
"Wahai prajurit pemberani..." Ogre itu meraung dengan suara yang tegas, "Namaku Myokolenko, anak dari Myokitopo!" Ia mengangkat kedua goloknya tinggi-tinggi, menggesekkannya satu sama lain hingga mengeluarkan suara gesekan logam yang membuat bulu kuduk merinding.
Yver menelan ludah dengan gugup. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, membasahi rambut peraknya. Jantungnya berdetak kencang, namun bukan karena takut. Ia lebih merasa bingung dan kesal. Aku tidak takut melawan Ogre besar ini, batinnya, Tapi tolong jelaskan situasi apa ini? Kenapa kami berdua malah terlibat di arena bertarung seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Dengan sedikit ragu, ia menarik pedangnya dari sarung pedang yang tergantung di pinggangnya. "Namaku Yver Chenko, anak dari Mathias Chenko" ucapnya dengan suara tegas, mencoba menutupi kegugupannya. Ia melirik Bjorn dengan ekspresi bertanya-tanya, mengangkat bahunya sedikit seolah berkata, "Giliranmu"
Bjorn melangkah maju, tatapannya tajam dan dingin seperti es. Ia tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. "Namaku Bjorn Erez" ucapnya dengan suara berat, "Kau tak perlu tahu siapa orang tuaku" Ia menatap Ogre itu dengan tantangan.
Dari tengah lautan monster yang bergemuruh bak badai, seorang pria dengan kharisma yang mencolok tiba-tiba mengangkat tangannya. Jari-jarinya menunjuk langit-langit arena, menghentikan seketika gemuruh sorakan yang memekakkan telinga. "STOPPP!" teriaknya, suaranya beresonansi dengan kekuatan yang tak terbantahkan. Keheningan mencekam pun jatuh, menggantikan hiruk-pikuk yang sebelumnya mendominasi.
Pria itu duduk di singgasana yang terbuat dari tulang-tulang raksasa yang dipoles hingga mengkilap. Kakinya disilangkan dengan angkuh. Satu tangannya menopang pipi, menonjolkan rahang tegas dan tatapan mata elang yang tajam. Jaket kulit coklat gelap yang membalut tubuhnya dihiasi bulu-bulu serigala putih di bagian kerah, menambah kesan berkuasa dan liar. Celana jeans dengan robekan di lutut menyempurnakan penampilannya yang rebel namun elegan. Dialah Raja dari Kekaisaran Platas, penguasa dari kerajaan monster yang misterius.
Dengan gerakan yang penuh kepercayaan diri, ia bangkit dari singgasananya. Melompat turun ke dalam arena dengan kelincahan yang mengejutkan, ia mendarat dengan ringan dan mantap di hadapan Bjorn dan Yver.
Rambutnya yang gondrong dan berwarna kuning keemasan ia sibakkan ke belakang telinga dengan gerakan santai, menampakkan wajahnya. Ia menatap Bjorn dengan intens, sorot matanya tajam dan menyelidik, seolah-olah mampu menembus jiwa Bjorn.
"Kau yakin namamu Bjorn Erez?" tanyanya dengan suara rendah yang penuh otoritas, setiap kata yang ia ucapkan mengandung kekuatan yang tak terbantahkan.
"Aku sudah menyebutkannya" balas Bjorn, ia menatap pria itu dengan intens, mencoba mencari kebenaran di balik tatapannya yang tajam.
Pria itu tersenyum kecil, sebuah senyuman yang menampakkan sebaris gigi putih yang rapi. Ia melepaskan tangannya dari rambutnya, membiarkan rambut kuning keemasannya yang tebal tergerai bebas menutupi telinganya. "Kalau begitu..." ucapnya dengan nada santai, "Perkenalkan, namaku Theo Dubois"
Nama itu menghantam Bjorn seperti petir di siang bolong. Alisnya tertekuk tajam, bibirnya terbuka sedikit, namun tak ada suara yang keluar. Pikirannya kacau balau, dipenuhi oleh kenangan-kenangan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam. Theo Dubois... nama itu membawa kembali semua rasa sakit, kehilangan, dan penyesalan yang selama ini ia coba lupakan.
Ia menatap pria itu dengan lebih seksama. Perawakannya yang tinggi dan tegap, rambut kuning keemasannya, dan sorot mata birunya yang tajam... semua itu begitu familiar. Wajah itu... ia pernah melihatnya sebelumnya. Dan tiba-tiba, semua menjadi jelas. Pria itu... adalah adiknya!
Bjorn merasa jantungnya berdetak kencang. Namun, ia menahan diri. Ia harus berhati-hati. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada adiknya selama ini, mengapa ia berada di tempat ini, dan apa yang ia inginkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments