8. Malam di api unggun

Dimalam berikutnya, di bawah langit yang bertabur bintang, mereka berempat duduk melingkari api unggun. Cahaya api menari-nari, membayangi wajah mereka yang lelah. Sesekali terdengar derak kayu bakar yang terbakar, pecah oleh desisan lemak yang menetes dari daging panggang. Aroma harum memenuhi udara, campuran dari kelinci panggang, ikan bakar, dan burung panggang.

Namun, di balik kehangatan api unggun dan aroma lezat makanan, tersembunyi ketegangan yang kental. Tiga pasang mata menatap Bjorn dengan intens, menanti penjelasan yang tak kunjung datang. Bjorn, yang tak menyadari kecanggungan itu, akhirnya bertanya dengan polos, "Apa? Apa ada yang salah?"

"Iya? Apa? Kau bilang ingin makan burung? Aku menangkap ikan segar di sungai, Sulpha membawa burung merpati, dan Neil, lihat! Dia bahkan memburu lima ekor kelinci gemuk! Lalu kau? Kau hanya duduk manis di sini. menyeruput teh?!" Amoria berdiri, wajahnya memerah karena kesal. Ikan bakar di tangannya teracung-acung ke arah Bjorn, hampir mengenai hidungnya.

"Sebenarnya... siapa dirimu? Kau bahkan tidak memiliki kekuatan sihir maupun senjata kuno" tanya Sulpha, matanya menyipit penuh selidik.

"Sudah kubilang, namaku Bjorn—"

"Bukan itu maksudnya!" potong Amoria dan Sulpha serempak. Amoria melipat tangan di dada, ekspresi wajahnya menunjukkan ketidakpuasan.

Neil, yang sedari tadi hanya mengamati, akhirnya angkat bicara. "Dia itu cuma pria biasa, tahu! Berbeda dengan kalian yang manusia angin dan manusia ikan" Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bedanya, paman Bjorn bisa memukul pria berzirah hitam sampai terpental jauh, dan melempar batu besar seperti melempar kerikil!"

Pernyataan Neil membuat Sulpha terkesiap. "Tentara berzirah hitam? Mereka menunggangi phoenix bukan? Pasukan serba hitam itu... mereka membakar habis desaku lalu pergi dengan kuda terbangnya!" Raut wajah Sulpha berubah muram, bayangan masa lalu yang kelam kembali menghantuinya.

"Oh ya" Neil menyela, "seorang tentara yang terpental jauh itu menjatuhkan kapaknya" Dengan bangga, ia menepuk kapak yang tergantung di pinggangnya. "Ini dia!"

Sulpha tersedak minumannya. Matanya terbelalak menatap kapak Neil. "Neil? Kau tahu itu kapak apa?" tanyanya dengan suara tercekat. Botol minuman di tangannya terhenti di udara.

Neil mengerutkan kening. "Yang aku tahu, kapak ini berwarna hitam legam dan sangat ringan digunakan" Ia mengayun-ayunkan kapaknya dengan santai, tidak menyadari perubahan ekspresi Sulpha.

"Tidak—yah, memang—tapi bukan itu..." Sulpha tampak kesulitan berkata-kata. "Kapak yang sedang kau pegang itu... adalah Kapak milik istri pemimpin ras ular hujan! Konon ceritanya, kapak kecil itu dulu digunakan untuk menghukum para siluman dengan cara memotong setiap ujung ekor siluman ular yang memberontak!"

Suasana di sekitar api unggun menegang. Neil, yang tadinya bersikap santai, kini memegang kapaknya dengan hati-hati, seolah-olah benda itu tiba-tiba berubah menjadi ular berbisa. Bjorn dan Amoria saling berpandangan, sama-sama terkejut dengan informasi yang baru saja mereka dengar.

^^^Jauh di bawah permukaan tanah, di dalam labirin gua yang gelap dan lembap, hiduplah ras ular hujan. Sisik mereka berkilauan bagai batu permata yang basah, memantulkan cahaya redup dari lumut-lumut bercahaya yang tumbuh di dinding gua. Selama berabad-abad, mereka hidup damai, mengikuti irama alam dan menjaga keseimbangan ekosistem bawah tanah. Namun, kedamaian itu hancur ketika pemimpin mereka, dilanda kesedihan mendalam akibat kematian istrinya, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.^^^

^^^Kematian sang pemimpin bagai petir di siang bolong. Ras ular hujan, yang kehilangan arah dan perlindungan, terpaksa meninggalkan rumah mereka dan berpencar mencari tempat bernaung. Mereka, para siluman ular yang mampu memanipulasi air hujan menjadi senjata mematikan, kini menjadi buronan dan korban perbudakan. Air hujan yang dulunya menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi air asam dan air berbisa di tangan mereka yang terluka dan putus asa.^^^

^^^Para bangsawan, yang haus akan kekuasaan, melihat kesempatan emas dalam situasi kacau ini. Mereka memburu dan memperbudak ras ular hujan yang tersisa, memanfaatkan kemampuan manipulasi racun mereka untuk menggulingkan takhta kerajaan dan meraih kekuasaan tertinggi. Di tangan para bangsawan yang licik, air mata langit berubah menjadi senjata pemusnah massal, menebar teror dan kehancuran di seluruh negeri.^^^

"Kau tahu banyak soal ini? Memangnya berapa umurmu?" tanya Amoria dengan rasa penasaran.

Sulpha tersenyum ramah. "Ah, aku masih muda"

"Berapa?" Amoria mendesak.

"Tahun ini aku 97" jawab Sulpha dengan santai.

"97? Maksudmu 97 apa?" Amoria mengerutkan kening.

"Umurku 97 tahun" Sulpha mengulangi dengan sabar.

"Apa?!" Amoria terbelalak, matanya melotot sempurna seperti ikan koi yang kehabisan air. "Beritahu aku rahasia awet mudamu Setidaknya rahasia itu akan kugunakan kelak saat keriput mulai muncul di wajah cantik ini" Ia mendekatkan wajahnya ke Sulpha, hampir menyentuh hidung mancung sang elf.

"Cepat katakan, atau aku akan..." Amoria menghentikan ancamannya, mencari sesuatu yang mengerikan untuk dikatakan, "...mengeringkan semua air di danau tempat tinggalmu!"

Sulpha tertawa kecil, menutup mulutnya dengan anggun. "Terima kasih atas pujiannya—tapi! Kau kan tahu aku ini dari suku elf?! Sudah pantas aku awet muda, seperti bunga edelweiss yang mekar abadi di puncak gunung" Senyum ramahnya perlahan memudar, digantikan dengan ekspresi kesal. "Apakah daratan sudah membuatmu pikun, Amoria? Dasar setengah ikan! Otakmu pasti sudah mulai ditumbuhi lumut!"

"Hei! Jaga bicaramu, orang hutan!" Amoria balas membentak, wajahnya memerah seperti udang rebus.

Bjorn meletakkan beberapa kayu tambahan ke dalam api unggun, membuat nyalanya berkobar lebih besar dan menerangi wajah-wajah penasaran di sekitarnya. Sulpha, yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama lagi, akhirnya bertanya, "Jujur, akupun terkejut mendengar cerita Neil. Aku kira dia berbohong, tapi melihat kapak itu berada di tangannya... membuatku yakin kau telah mengalahkan tentara berzirah hitam itu."

Ia menatap Bjorn dengan intens. "Yang ingin kutanyakan, kekuatan seperti apa yang kau kuasai?"

"Aku hanya ahli beladiri" jawab Bjorn sambil merapikan kayu yang terbakar dengan tangkai dahan yang pendek.

"Beladiri? Sihir seperti apa itu?" Sulpha mengerutkan kening, tampak bingung.

"Itu bukan sihir, bodoh. Itu keterampilan bertarung" sahut Amoria, tidak tahan untuk tidak ikut campur. Senyum sebal terlihat jelas di wajah Sulpha.

"Selama aku hidup, kemampuan bertarung hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki badan besar dan membawa senjata khusus. Aku tidak pernah dengar bertarung dengan tangan kosong adalah sebuah keahlian."

"Sulit menjelaskannya, kau juga tidak akan paham" kata Bjorn, nada suaranya sedikit jengkel. "Intinya, ini tidak begitu sulit jika kau banyak berlatih"

Tubuh Bjorn memang tidak begitu besar seperti orang yang memiliki kekuatan super. Otot-ototnya tidak menonjol, bahkan terkesan biasa saja. Namun, di balik penampilannya yang sederhana itu tersimpan kekuatan yang luar biasa. Bjorn melatih tubuhnya dengan metode yang berbeda, tidak berfokus pada pembentukan otot, melainkan pada peningkatan kekuatan dan daya tahan. Latihan kerasnya yang tidak masuk akal telah menempa tubuhnya menjadi mesin tempur yang efisien, mampu menghasilkan kekuatan jauh melampaui batas manusia normal.

"Aku juga ingat, dia sudah melemparku dua kali dengan jarak yang jauh!" Amoria, yang duduk di sebelah Sulpha, ikut menyela dengan nada bangga. "Ya, jelas saja... itu karena aku memang seringan itu" Ia mengibaskan rambutnya dengan gaya dramatis, mencoba memperlihatkan betapa ringannya tubuhnya.

"Tidak, kau cukup berat" sahut Bjorn dingin.

"Heh! Dasar tidak sopan! Tidak sepatutnya pria mengatakan berat badan wanita!" Amoria langsung bereaksi, wajahnya memerah karena jengkel.

"Sudahlah, lupakan saja!" Amoria melipat tangannya di depan dada, memalingkan wajahnya dengan cemberut "Aku tidak mau bicara denganmu lagi"

"Iya, iya. Bagus, aku paham" Bjorn tiba-tiba membaringkan tubuhnya di dekat api unggun, menutup telinga dengan kedua tangannya, dan memejamkan mata seolah ingin tidur. Posisinya membelakangi Amoria yang masih berapi-api.

"Oi! Kau dengar aku tidak, rambut kuning!" Amoria semakin jengkel.

"Maksudmu, aku?" sela Sulpha yang duduk di sebelahnya, mengerutkan kening sambil menunjuk rambutnya sendiri yang berwarna pirang.

"Jangan ikut campur, sialan!" bentak Amoria.

"Aku... cuma bertanya..." Sulpha mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.

Neil, yang sedari tadi menahan tawa, akhirnya meledak dalam tawa yang menggelegar. Ia sangat menikmati pemandangan Amoria yang emosinya meledak-ledak. Gadis kecil itu memang sangat menikmati keramaian dan kehangatan. Tiba-tiba, Neil bangkit dari duduknya dengan sedikit gelak tawa, lalu mengambil arang yang sudah tidak terlalu panas di depannya. Perlahan, ia mendekati Amoria yang sedang asyik memaki Sulpha. Dengan cepat, arang di tangannya dicoretkan pada pipi Amoria.

"Rasakan itu, duyung cerewet!" seru Neil sambil berlari memutari api unggun, tawanya bergema di keheningan malam.

"Neil! Apa yang kau lakukan pada wajah cantikku?! Jangan belajar kurang ajar padaku!" teriak Amoria sambil mengejar Neil dari belakang.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!