Januza membuka matanya perlahan. Cahaya api unggun yang menari-nari di hadapannya terasa menyilaukan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya yang masih buram setelah pingsan.
Tubuhnya terasa nyaman berbaring di atas rerumputan yang empuk. Di sekitarnya, suara teman-temannya berceloteh riuh memenuhi keheningan malam.
Ia mendorong tubuhnya dengan lengan, mengangkat setengah badannya hingga bersandar pada sebuah batu. Januza menatap sekelilingnya dengan linglung. "Kalian?" tanyanya dengan suara serak, "Tumben sekali membuat api unggun dini hari?"
Semua mata tertuju padanya. Sulpha, yang duduk di atas tumpukan jerami, menatap Januza dengan kening berkerut. "Dini hari?" tanyanya heran, "Ini sudah hampir malam"
"Malam?" Januza memegang keningnya, merasa kepalanya masih sedikit pusing. "Aku pikir aku pingsan hanya beberapa menit"
"Beberapa menit-mu itu sangat lama," balas Amoria. Gadis duyung itu bersandar manja pada tubuh beruang besar yang tengah berbaring tengkurap, kepalanya ia sandarkan pada bulu beruang yang tebal dan hangat. Jemarinya dengan lincah menelusuri bulu-bulu lebat beruang itu, mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Beruang itu mendengus pelan, matanya terpejam, seolah tenggelam dalam kenyamanan.
Januza mengerutkan keningnya, menatap pemandangan di hadapannya dengan tidak percaya. Ia memperhatikan beruang itu dengan seksama, mencoba mengenali apakah ia pernah melihatnya sebelumnya. Tiba-tiba, matanya melebar "Heh!" serunya kaget, mengenali beruang yang pernah menyerangnya di hutan. Ia melompat dari tempatnya, siap menerjang beruang itu. "Amoria, awas!" teriaknya dengan penuh kecemasan, "Hewan itu buas!"
Amoria menoleh, "Tenang saja" ucapnya, "Hewan buas ini sudah kuobati" Ia mengelus kepala beruang itu dengan lembut, mengusap bulunya yang lebat. "Anak pintar~ anak pintar tidak akan menyakiti mama, 'kan?" Ia berbicara dengan manja pada beruang itu, seolah-olah ia sedang berbicara pada seorang bayi.
"Paman Bjorn yang menyuruhnya untuk mengobati luka Nogale" sahut Neil dengan mulut penuh, serpihan jagung bakar beterbangan ke segala arah.
"Nogale? Jadi nama beruang jelek ini Nogale?" tanya Januza.
Neil mengangguk, menelan jagung bakarnya dengan susah payah. "Entahlah, saat diobati beruang itu berulang kali merintih sambil mengucapkan 'Nogale'. Jadi aku memberinya nama Nogale" jelasnya.
Pandangan Januza beralih pada Bjorn yang sedang duduk dengan tenang di dekat api unggun, menikmati secangkir teh hangat. Bjorn tampak acuh tak acuh dengan percakapan mereka, seolah-olah tidak ingin ikut campur. "Bjorn" panggil Januza, "Kenapa kau ingin menyembuhkan Nogale juga?"
Bjorn menoleh, mengerutkan keningnya. "Nogale?" tanyanya dengan bingung.
"Ah, sial. Maksudku beruang itu" ralat Januza.
"Jadi kau sudah memberinya nama?" tanya Bjorn, nada suaranya terdengar sedikit geli.
"Tidak, bukan begitu..." jawab Januza dengan gugup, "Neil yang memberinya nama itu"
"Neil memberikan Nogale?" Amoria tiba-tiba menyela dari seberang api unggun.
Neil menoleh dengan bingung, tangannya masih memegang jagung bakar. "Memberikan apa?"
"Nogale" jawab Sulpha singkat.
"Nogale?" Bjorn mengulang dengan nada tanya.
"Nogale!" beruang itu menyahut dengan suara malas, seolah mengiyakan.
Januza menggaruk kepalanya dengan frustrasi. "Cukup!" serunya, "Itu tidak menjawab pertanyaanku!" Ia merasa kepalanya semakin pusing dengan percakapan yang semakin tidak jelas ini.
"Aku membawa Nogale ikut, karena Sulpha bilang dia bukanlah monster ataupun hewan," ucap Bjorn tenang, mengangkat cangkir teh hangatnya dan menyesapnya perlahan. Uap tipis mengepul dari permukaan teh.
"Memangnya dia apa?" tanya Januza, menatap Sulpha dengan penuh rasa ingin tahu.
Sulpha menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh, seolah-olah sedang mengingat-ingat masa lalu. "Nogale itu senjata kuno" jelasnya, "Aku pernah mendengar ceritanya saat aku masih kecil. Dia adalah sebuah tombak kuno yang bisa berubah wujud menjadi beruang. Tombak itu milik seorang Raja bangsawan yang tak diketahui siapa namanya" Ia menjeda sejenak, mengambil sebatang kayu kecil dan memainkannya di tangan. "Kemudian, saat Raja itu meninggal, tombak itu diwariskan kepada anaknya. Alih-alih menerima dengan baik, beruang itu justru merasa kesal dengan keahlian tombak penerusnya. Nogale tidak ingin dipakai oleh orang yang dianggapnya lemah. Lalu, dia memutus sepihak kontraknya dengan darah keluarga kerajaan dan menghilang entah ke mana"
"Lalu bagaimana bisa kau tahu beruang ini adalah Nogale dari cerita itu?" tanya Januza penasaran.
"Mudah saja..." jawabnya, "Karena beruang itu hanya bisa bicara 'Nogale'."
...****************...
Tok tok tok. Suara ketukan pintu yang lembut namun berulang-ulang akhirnya membangunkan Yver dari tidurnya. Seorang pelayan wanita berdiri di balik pintu, suaranya terdengar sopan dan ramah. "Tuan Yver, sarapan sudah siap. Ayahanda menunggu Anda di meja makan"
Dengkuran halus yang sebelumnya mengisi kamar itu pun berhenti. "Hmm... Ya, ya... Aku segera kesana" jawab Yver dengan nada malas, suaranya masih serak karena baru bangun tidur.
Ia mendorong tubuhnya untuk duduk, mengangkat punggungnya dari ranjang empuk berlapis sutra. Matahari pagi menyinari kamarnya yang mewah, memberikan kehangatan yang menenangkan. Yver menyipitkan mata, menatap pemandangan kota yang indah dari jendela kamarnya. "Ah, sial, hari ini libur" gumamnya dengan nada sedikit kesal, lalu menguap keras sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Semua misi dengan kelas tertinggi telah ia selesaikan bersama regunya. Ia seharusnya merasa senang karena akhirnya bisa beristirahat setelah bekerja keras. Namun, Yver justru merasa bosan. Ia tidak begitu bisa menikmati hari libur. Itu karena ia bukanlah seorang yang bersosial dan memiliki banyak teman. Kebanyakan hari liburnya hanya ia pakai untuk melamun dan tidur seharian. Apa yang harus kulakukan hari ini? tanyanya dalam hati, merasa frustasi.
Yver beranjak dari ranjangnya, meregangkan tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia berjalan menuju pintu kamarnya yang berada di lantai dua. Pintu itu langsung terhubung dengan tangga menuju lantai bawah. "Pagi, Yah," sapanya sambil menggaruk rambutnya yang kusut, menuruni tangga dengan langkah santai.
Di meja makan, ayahnya sudah duduk menunggunya. Sebuah sarapan mewah telah tersaji, dengan aroma lezat yang menggugah selera. Yver duduk di hadapan ayahnya, masih dengan baju tidurnya. "Kau tidak mandi?" tanya ayahnya sambil memotong steak panggang di piringnya, "Memangnya hari ini tidak ada misi yang menarik?"
"Tidak, hari ini aku libur" jawab Yver sambil mengambil sepotong roti panggang dan mengoleskannya dengan selai stroberi. Ayahnya berhenti memotong steak, meletakkan pisau dan garpunya di samping piring. "Ayah harap kau tidak menghabiskan waktumu untuk bermalas-malasan di rumah" ucapnya dengan nada serius.
"Kalau itu aku tak bisa menjamin" balas Yver enteng, mengambil gelas susu dan meneguknya perlahan.
Ayahnya menatap Yver dengan tajam, menunggu jawaban yang lebih memuaskan. Namun, Yver hanya terus menikmati sarapannya, seolah-olah tidak peduli dengan perkataan ayahnya. Melihat sikap Yver yang acuh tak acuh, wajah ayahnya mulai mengerut, menunjukkan ekspresi ketidaksenangan.
Yver, yang menyadari perubahan raut wajah ayahnya, akhirnya mengangkat wajah dan menatap ayahnya. "Iya, iya, aku akan menikmati hari liburku" ucapnya dengan nada pasrah.
Wajah ayahnya kembali cerah. "Bagus, itu baru anakku" ucapnya dengan senyum lebar.
Mereka pun melanjutkan sarapan mewah itu sambil berbincang-bincang hangat layaknya seorang ayah dan anak. Suasana ruang makan yang sebelumnya tegang kini berubah menjadi hangat dan penuh keakraban.
......................
Kerumunan orang membuat Yver merasa risih. Ia lebih suka menyendiri, menikmati ketenangan dan kesunyian. Berjalan menyusuri pemukiman padat tanpa tujuan yang jelas membuatnya semakin tidak nyaman.
Ia tidak berniat sama sekali untuk datang ke Serikat hari ini, jadi ia hanya mengenakan pakaian kasual dan membawa pedang andalannya yang terselip di pinggang. Tidak ada zirah berat yang membatasi gerakannya.
Sambil berjalan, ia teringat pada Bjorn. Orang itu cukup menarik, pikirnya. Meskipun ia tidak tahu apa-apa tentang Bjorn, ada sesuatu yang membuatnya penasaran. Ia mencoba mengingat-ingat jurus Bjorn saat berhadapan dengannya di dalam Serikat tempo hari.
Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Yver menghentikan langkahnya, menatap semak belukar di depannya. "Sepertinya aku jalan terlalu jauh" gumamnya. Jalan itu buntu. Tidak ada persimpangan lain, dan ia sudah jauh dari pemukiman warga. Satu-satunya jalan adalah memutar balik.
Saat Yver berbalik untuk mencari jalan lain, telinganya menangkap suara samar dari balik semak belukar yang lebat. Suara itu seperti tawa seorang gadis kecil, lembut dan riang.
"Memangnya ada orang di balik hutan ini?" gumam Yver penasaran.
Didorong rasa ingin tahu, ia pun menyelinap hati-hati melewati semak-semak, mengikuti sumber suara. Semakin ia melangkah masuk ke dalam hutan, semakin jelas suara tawa itu terdengar. Akhirnya, ia sampai di sebuah pohon tua yang menjulang tinggi, dan dari balik pohon itulah suara tawa itu berasal.
Di balik pohon tua itu, tersembunyi sebuah rumah sederhana minimalis. Asap tipis mengepul dari cerobong asap di atapnya, menandakan ada seseorang yang sedang memasak di dalam. Yver tertegun. Ia tidak menyangka akan menemukan rumah di tengah hutan seperti ini.
Yver menyelinap keluar dari balik rerimbunan pohon. Ia akhirnya berhasil meloloskan diri dan melompat keluar dari semak-semak,
Namun, betapa terkejutnya ia saat mendapati semua mata tertuju padanya. "Eh?" ucapnya, merasa seperti binatang langka yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah kebun binatang.
Di halaman rumah sederhana itu, terhampar pemandangan yang cukup... menarik. Bjorn sedang duduk bersandar di kursi kayu, menikmati secangkir teh dengan santai seolah-olah sedang berada di taman istana.
Januza dan Nogale, si beruang raksasa yang entah bagaimana bisa menjadi teman latih tanding, sedang asyik bergulat dengan penuh semangat.
Sulpha, sibuk membuat anak panah dengan konsentrasi penuh seolah-olah nasib dunia bergantung padanya.
Sementara itu, Neil dan Kundea memotong kayu bakar dengan penuh semangat, sesekali diselingi canda tawa yang ceria.
Aktivitas mereka terhenti seketika saat melihat Yver, semua menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu dan sedikit curiga.
Merasa sedikit canggung menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan, Yver mengepalkan tangannya ke bibir dan berdeham keras. "Ekhem... Sepertinya aku tersesat" ucapnya dengan tawa kecil yang terpaksa, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang. Ia menghindari tatapan mereka, melirik ke arah pohon, lalu ke arah awan, lalu ke arah... apapun asal bukan manusia. "Ah, cuaca hari ini bagus ya?" gumamnya dengan gugup, mencoba mencari topik pembicaraan yang aman.
"Kau sengaja kesini ingin membalas dendam pada Bjorn, 'kan?" tuduh Januza dengan nada dramatis, menunjuk Yver dengan jari telunjuknya seolah-olah ia adalah seorang penjahat keji. "Nogal.." sahut si beruang, menganggukkan kepalanya dengan ekspresi serius seolah-olah ia adalah saksi kunci dalam sebuah persidangan.
"Pria ini... pria yang angkuh itu, 'kan?" tanya Kundea dengan polos, menatap Yver dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
"Terima kasih pujiannya" balas Yver dengan nada datar. "Tapi jujur saja, aku kemari karena tersesat"
"Aku mendengar suara tawa gadis kecil dari luar hutan dan mengikutinya" jelas Yver dengan tenang, "Kemudian suara itu membawaku kemari."
"Oh, itu aku!" seru Neil riang. "Aku tertawa karena Kak Januza dan Nogale bertaruh makan malam untuk latihan konyol itu. Tapi dari tadi pertarungan mereka selalu seri" Ia mengambil sapu tangan dan mengelap keringat di dahinya.
"Nogale?" ulang Yver, mengerutkan keningnya. "Maksudmu Nogale kuno?" tanyanya penasaran, mencondongkan tubuhnya ke arah Neil hingga wajah mereka hampir bersentuhan.
Neil tersentak mundur, merasa sedikit tidak nyaman dengan jarak yang terlalu dekat itu. "Hei... Kundea" panggilnya dengan suara pelan, bibirnya memonyong ke samping, "Kakak ini membuatku sedikit takut. Dia bukan pedofil, 'kan?"
"Kau!" Amoria tiba-tiba muncul dari pintu markas, tangannya mengangkat centong sayur dengan siap. "Jangan sok akrab dengannya! Kau sudah membuat tombak Januza rusak!" teriaknya pada Yver.
"Terima kasih sudah perhatian padaku, Duyung" sahut Januza dengan senyum genit.
"Jangan merayuku!" balas Amoria dengan kesal, "Bantu Neil menyelesaikan balok kayu itu jika kau ingin makan!"
"Eh?" Januza tercengang.
"Cepat!" Amoria melemparkan centong sayurnya ke arah Januza.
"Iya, iya!" Januza menutupi kepalanya dengan kedua tangan, menghindari lemparan maut itu. Ia berlari ke arah Neil dengan wajah cemberut.
Bjorn bangkit dari kursinya, dan menopangkan tangan di pilar kayu teras markas. Ia menatap Yver dengan tajam. "Kau... Yver, kan?" tanyanya, "Wajahmu seperti tahu sesuatu soal Nogale"
"Tentu" jawab Yver dengan percaya diri, "Aku mempelajari banyak hal tentang senjata kuno"
"Kalau begitu, kemarilah. Singgah sebentar" ajak Bjorn, "Amoria" panggilnya pada gadis Duyung itu, "Tolong buatkan dia teh" Amoria mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah. Bjorn kembali menatap Yver. "Aku ingin menanyakan hal itu sambil menikmati teh herbal ini" ucapnya, lalu melangkah mundur dan kembali duduk di kursinya.
.....
Amoria, dengan hati-hati menurunkan secangkir teh hangat dari nampan yang dibawanya. "Aku akan bayar teh ini" ucap Yver sopan.
"Tak apa, ini gratis," balas Amoria singkat, seulas senyum tipis menghiasi bibirnya. Ia lalu berbalik dan melangkah kembali ke dalam rumah, meninggalkan Yver dan Bjorn yang masih terdiam.
"Tehnya hangat, orangnya dingin," gumam Yver sinis, mengamati kepergian Amoria dengan tatapan menilai.
"Yang kudengar... Nogale ini senjata kuno yang membangkang dari kontraknya, benarkah begitu?" tanya Bjorn menatap Yver dengan penuh harap.
Yver mengangguk pelan. "Kau mau mulai dari mana?" tanyanya balik, mengambil cangkir tehnya.
"Dari intinya saja" jawab Bjorn.
"Menurut sejarah yang kupelajari," Yver memulai penjelasannya dengan nada serius, "kontrak terakhir Nogale yaitu dengan Turtios, seorang pangeran sekaligus anak dari Raja Ryatmun. Setelah memutus kontrak secara sepihak, Nogale berkelana dengan cara mengamuk membabi buta. Ia berharap ada orang kuat yang bisa mengalahkannya, dan bisa melakukan kontrak dengan orang kuat lagi"
Yver menjeda sejenak, menyesap tehnya sebelum melanjutkan, "Dan aku kira Nogale sudah mendapatkan seseorang yang kuat. Selama ini aku pikir jika suatu saat bertemu Nogale... akulah orang yang mungkin layak untuk menjalin kontrak dengannya" Ia melirik ke arah Nogale yang sedang asyik memotong balok kayu bersama Januza, seolah-olah beruang itu adalah tukang kayu profesional.
Bjorn mendengarkan dengan seksama, Ia membuka jari-jari tangannya dan menopang dahinya, memiringkan kepalanya sedikit. Beberapa helai rambut terurai di sela-sela jarinya. Ia menatap Yver dengan ekspresi datar. "Januza kehilangan tombaknya..." ucapnya tiba-tiba, membuat Yver kembali memfokuskan perhatiannya padanya.
"Tapi," Bjorn memulai dengan nada rendah, "dia sudah bertarung imbang dengan Nogale tanpa senjata, dan tanpa bantuan apapun..." Ia menjeda sejenak, membiarkan kata-katanya mengendap di udara. "...Apa dengan begitu, menurutmu Januza tidak layak mendapatkan Nogale?" sambungnya, menatap Yver dengan tajam.
Yver tersenyum kecil, meski terlihat sedikit terpaksa. "Aku tidak bilang begitu" elaknya, "Tentu, saat ini Januza lah yang sangat cocok dengannya"
Bjorn mengangguk perlahan, menerima jawaban Yver. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pedang yang terselip di pinggang Yver. "Ngomong-ngomong, pedangmu itu bukan pedang biasa, 'kan?" tanyanya penasaran.
Yver mengikuti arah pandangan Bjorn, lalu menatap pedangnya dengan bangga. "Ya" jawabnya, "Di antara semua bangsawan yang punya banyak pedang, aku hanya memiliki satu pedang ini seumur hidupku" Ia menyentuh gagang pedangnya dengan lembut. "Butuh waktu lama untuk bisa menggunakan pedang ini, karena penghuni asli pedang ini adalah Hyena"
"Hyena?" Bjorn mengerutkan keningnya, "Maksudmu...?"
"Karena Hyena adalah hewan berkelompok" Yver menjelaskan, "jadi pedang ini selalu 'meminta' rekan yang terlantar. Akhirnya... saat ini pedangku telah dihuni tujuh hewan buas" Ia mengusap lembut sarung pedangnya, seolah-olah sedang membelai hewan peliharaannya.
Bjorn mengangkat alisnya, terkesan dengan cerita Yver. "Di reguku saat ini, sudah dua orang yang memiliki senjata kuno" ucapnya, "meski Januza masih belum bisa dibilang sepenuhnya menjalin kontrak dengan Nogale"
"Oh ya?" Yver terlihat penasaran. "Siapa satunya?"
"Neil" jawab Bjorn, "Dia menjalin kontrak dengan ular hujan"
"Ular hujan?" Yver terkejut. "Spesies itu setahuku sudah lama punah. Apa aku boleh bertemu dengannya?"
"Kau tidak menyadarinya?" tanya Bjorn, "Saat kau datang tadi, Neil mencoba bertanya sesuatu pada gadis yang ia panggil Kundea"
"Maksudmu...?" Yver menatap Bjorn dengan tidak percaya. "Kundea... itu ular hujan?"
"Benar" jawab Bjorn, mengangguk perlahan.
"Sulpha" panggil Bjorn, suaranya terdengar tegas.
Sulpha, yang sedang asyik mengasah anak panahnya, menoleh. "Ya, Bjorn?"
"Panggilkan Neil kesini" perintah Bjorn.
Sulpha memberi isyarat "oke" dengan jarinya, lalu berbalik dan masuk ke dalam hutan. Ia ingat Neil pergi mencari tambahan kayu bakar beberapa saat yang lalu.
Bjorn kembali menatap Yver, seulas senyum bangga terukir di wajahnya. "Dia tidak hanya melakukan kontrak dengan ular hujan, tapi dia juga menggunakan kapak asli dari peninggalan ketua suku mereka"
"Benarkah?" Yver mengangkat sebelah alisnya, "Aku harap kau tidak melebih-lebihkan"
"Aku bukan orang yang berlebihan sepertimu" balas Bjorn dengan nada sindiran.
Dari kejauhan, Bjorn melihat Sulpha melambai di tepi hutan, seolah memanggilnya. Ekspresi wajah Sulpha tampak serius, membuat Bjorn merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia berdiri dari kursinya, rasa penasaran dan kekhawatiran bercampur di dadanya "Tunggu sebentar" ucapnya pada Yver, lalu bergegas meninggalkan tamunya itu dan menghampiri Sulpha.
Yver menoleh, mengamati keduanya dengan penasaran. Bjorn dan Sulpha berbicara dengan serius, ekspresi wajah mereka tegang. Yver bahkan sempat melihat Bjorn memegangi keningnya dan memarahi Sulpha. Ada apa sebenarnya? pikirnya.
Tak tahan dengan rasa penasarannya, Yver bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah Bjorn. "Ada apa, Bjorn?" tanyanya hati-hati.
Bjorn menghela napas panjang, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Neil... diculik" jawabnya dengan suara berat.
"Apa?!" Januza, yang sedang memotong balok kayu dengan Nogale, berhenti dan menghampiri mereka. "Bagaimana maksudmu diculik? Jangan bercanda, Bjorn!"
Bjorn mengangkat kepalanya, menatap Januza dengan tatapan serius. "Tak mungkin aku bercanda" bantahnya, "Sulpha yang mengatakannya—" Ucapannya terhenti saat ia melihat sesuatu di tangan Januza. "Sejak kapan kapak itu ada di tanganmu?" tanyanya dengan nada tajam.
Januza menatap kapak hitam di tangannya dengan bingung. "Neil menyuruhku membelah balok kayu menggunakan ini, jadi aku menggunakannya" jawabnya polos.
"Yang benar saja!" Bjorn semakin panik "Neil tidak membawa kapaknya, dan Kundea tidak akan bisa muncul jika jauh dari kapak itu!" Ia memegangi dahinya dengan kedua tangan.
Sulpha dengan cepat mengeluarkan selembar kertas yang terlipat rapi dari sakunya. "Aku menemukan ini di sekitar ranting pohon" lapornya, menyerahkan kertas itu pada Bjorn.
Bjorn meraih kertas tersebut dengan tangan gemetar, membukanya dengan hati-hati, dan membaca tulisan di dalamnya dengan seksama.
^^^Gadis berambut pirang ini kami culik. Kami akan memberikannya kepada Naga Air yang agung sebagai tumbal persembahan.^^^
^^^• Kekaisaran Platas^^^
"Kekaisaran Platas?!" seru Yver terkejut, membuat Bjorn dan Sulpha tersentak.
"Apa? Kau tahu sesuatu?" tanya Bjorn dengan nada mendesak.
"Mereka Kekaisaran yang baru-baru ini terdengar namanya" jelas Yver dengan cepat, "Tidak ada yang tahu mereka itu berasal dari mana. Menurut saksi dari Larson, tempat itu berisikan ras monster. Tak ada satupun manusia di dalamnya"
"Kau tahu di mana lokasinya?" tanya Bjorn lagi, sekarang dengan secercah harapan di matanya.
"Tempat itu berada di selatan dari sini, sekitar tiga puluh menit jika kita berlari" jawab Yver.
"Baiklah" Bjorn mengambil keputusan cepat, "Yver, kita segera kesana. Tolong pimpin jalannya. Sulpha, kau panggil Amoria dan gendong dia dengan anginmu, susul dari belakang"
"Bagaimana denganku?" tanya Januza, merasa diabaikan.
"Kau jaga markas" sahut Bjorn sambil berlari meninggalkan mereka.
"Menjaga markas?" Januza tercengang. "Yang benar saja!"
"Hei, turuti saja. Ini perintah ketua" ucap Sulpha, menepuk pundak Januza. Ia lalu berlari masuk ke dalam rumah untuk mencari Amoria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments