10. The Punish

Bjorn memang sengaja memprovokasi Januza. Ia tahu pria itu memiliki emosi yang labil, dan ia memanfaatkan hal itu untuk memancing amarahnya. Bjorn yakin, satu-satunya cara untuk merekrut pria kekar itu adalah dengan memenangkan duel melawannya.

"Kalau kau tidak mau?! Aku akan memisahkan kepalamu dari tubuh kerempeng itu!" Januza meraung, mendekati Bjorn dengan langkah berat. Ia mencengkeram tombak besarnya erat-erat, siap menghantamkannya ke arah Bjorn.

Neil, yang melihat tanda-tanda intimidasi dari Januza, langsung sigap berdiri dan meraih kapaknya. "Paman—" ia ingin memperingatkan Bjorn, namun terhenti saat melihat tatapan tajam Bjorn dan isyarat tangannya yang seolah berkata, "Mundur, jangan ikut campur" Neil pun menelan ludah dan memilih untuk menuruti perintah Bjorn, meski dengan gugup.

"Jika aku melumpuhkanmu, kau akan ikut bersamaku" ucap Bjorn dengan tenang, tatapannya tertuju pada Januza.

"Lumpuh? Pria cungkring sepertimu harusnya banyak makan saja, jangan banyak bicara!" Januza meraung, berlari mendekati Bjorn dengan tombak yang siap menusuk kapan saja. Namun, tombak tajam itu tidak membuat Bjorn gentar. Dengan mata fokus dan langkah mantap, ia membalas berlari ke arah Januza, siap menghadapi serangan pria itu.

Tombak besar itu berayun secepat kilat, mengarah ke wajah Bjorn dengan kekuatan yang cukup untuk meremukkan tulang. Namun, Bjorn bukanlah lawan yang mudah. Dengan kelincahan seekor cheetah, ia menghindar dalam sekejap, hanya dengan sedikit memiringkan kepalanya. Ujung tombak yang tajam itu meleset dari sasaran, menyayat udara kosong di depan wajahnya, meninggalkan desingan yang membuat merinding.

Belum sempat Januza menarik kembali senjatanya, Bjorn sudah bergerak. Dengan kecepatan yang menakjubkan, ia menjepit mata tombak itu dengan kedua telapak tangannya, menghentikan gerakannya seketika. Kemudian, dengan tendangan kilat yang dilepaskan dari kakinya yang sekuat baja, ia menghantam gagang tombak itu ke atas, membuatnya terlepas dari cengkeraman Januza dan berputar-putar di udara.

"Sialan!!" Januza menggeram frustrasi. Tanpa senjata andalannya, ia merasa seperti singa yang kehilangan taringnya. Namun, ia tidak menyerah. Ia mengepalkan tinjunya, otot-otot lengannya menegang, dan melancarkan tinju ke arah Bjorn, berharap bisa mengenai sasaran dengan kekuatan mentahnya.

Tapi Bjorn sudah mengantisipasi hal itu. Insting bertarungnya yang tajam membuatnya selalu selangkah di depan lawannya. Dengan gerakan memutar yang elegan dan mematikan, Bjorn melancarkan Spinning Elbow. Ia mengubah kuda-kudanya dengan lincah, melangkahkan satu kaki ke samping Januza, dan memutar tubuhnya seperti gasing. Sikutnya yang sekeras batu menghantam rahang Januza dengan kekuatan penuh, menghasilkan suara retakan tulang yang mengerikan.

Serangan itu mengirimkan gelombang kejut yang menggelegar. Januza terpental ke belakang dengan kecepatan tinggi, menabrak dinding gedung serikat hingga menciptakan lubang besar berbentuk tubuh manusia. Ia terbenam dalam reruntuhan gedung, terbatuk-batuk dengan darah mengalir dari mulutnya.

Keheningan menyelimuti ruangan. Debu beterbangan di udara, menutupi pemandangan kehancuran yang baru saja terjadi.

Melihat Januza terpental dan menghancurkan dinding gedung serikat, Neil merapatkan gigi-giginya. "Uhh~" desisnya ngilu, matanya menyipit ngeri. Gerakan Spinning Elbow yang dilakukan Bjorn itu adalah gerakan yang hampir dilancarkan oleh Bjorn saat latih tanding dengannya. Kengerian dari serangan itu membuat Neil membayangkan apa yang akan terjadi jika itu dilakukan kepadanya.

"T-tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya seorang resepsionis di dalam serikat, terkejut dengan situasi tak terduga barusan. Ia melongo melihat Januza yang terkapar tak sadarkan diri di depan meja resepsionis, lalu ke arah dinding yang berlubang besar.

"Yahh... kalau sudah begini, saatnya aku yang kerja" Amoria berkata dengan nada serius. Ia masuk ke dalam gedung serikat, hati-hati melangkahkan kakinya di antara puing-puing yang berserakan, melewati dinding yang baru saja berlubang itu sambil mengipasi debu-debu dengan tangannya. "Dia sedang tidak sadarkan diri. Biar aku yang urus"

Dengan langkah tegas, Amoria mendekati Januza. Ia berlutut di samping pria itu, lalu dengan perlahan meletakan telapak tangannya tepat di jantung Januza.

Telapak tangannya menekan dada Januza lebih dalam. Amoria memompa jantung Januza dengan paksa, menggunakan kekuatan sihir duyungnya untuk melancarkan peredaran darah pria itu kembali normal. Luka-luka di tubuh Januza pun ikut memulih dengan cepat. Dalam sekejap, Januza membuka matanya dengan napas terengah-engah. Ia terbatuk-batuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

Bjorn, Neil, dan Sulpha mengikuti Amoria, memasuki gedung serikat melalui lubang besar di dinding yang baru saja dibuat Januza. "Bocah besar" kata Bjorn.

"selamat bergabung dengan regu kami" Ia menjatuhkan tombak besar milik Januza yang sempat terlempar tadi.

Thena, resepsionis serikat, hanya bisa terperangah melihat kejadian itu. Wajahnya pucat, ia terbata-bata mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Maaf, Kak Thena" Neil berkata dengan wajah bersalah, "Salah satu anggota kami datang terlambat dan masuk dengan cara yang tidak sopan"

Thena mencoba tersenyum, meski tawa kecil yang keluar terdengar sedikit terpaksa. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada hal aneh yang terjadi. "Ini sih... bukan tidak sopan, tapi mengejutkan" balasnya.

"Ja-jadi... biar aku daftarkan nama regu kalian" Thena berkata dengan gugup, lalu sibuk menuliskan lisensi di meja tempat ia berdiri.

"Hei, tentukan nama regu ini" ucap Sulpha, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Bjorn menyeringai, "Kami, adalah..." ia menjeda kalimatnya, menciptakan efek dramatis, "The Punish!"

"Baiklah... biayanya 5 koin emas" kata Thena dengan gugup, masih sedikit trauma dengan kejadian barusan.

"Ah, yang akan membayar biaya itu adalah orang yang barusan merusak dindingmu" kata Bjorn dengan enteng, menunjuk Januza yang masih terbatuk-batuk.

Januza tercengang. Matanya melotot, ia menatap Bjorn dengan tidak percaya. "Hei!! Sialan. Yang melubangi dinding itu kau!" serunya, bangkit dan meraih tombak besarnya.

"Tidak, itu karena tubuhmu menabrak bangunan ini" jawab Bjorn dengan tenang.

"Kau menuduhku?! Kau belum tahu ya rasanya dicium bilah tombak?!" Januza meraung, mengangkat tombaknya dengan siap menyerang.

"Hah... mulai lagi" Sulpha menghela napas pasrah, menjauhi Bjorn dan Januza agar tidak terkena imbas pertengkaran mereka.

"Ahh! Ini Kak, ini 5 koin emasnya!" Neil berkata dengan panik, mengeluarkan koin emas dari kantung kecil yang barusan ia ambil dari ikat pinggang Januza. Ia khawatir jika Bjorn benar-benar bertarung lagi dengan Januza, pria itu bisa mati.

"Hei! Itu uangku!" protes Januza.

"Maaf, semuanya. Kami akan segera kembali" Amoria berkata dengan cepat, lalu menarik Januza keluar dari gedung serikat. Ia mengepalkan tangannya, memompa jantung Januza dengan paksa agar pria itu tenang. "Kau itu terlalu berisik!"

"Sakit!!!" rintih Januza.

"Makanya diam!" bentak Amoria.

Mereka berlima pun meninggalkan ruangan serikat yang berantakan itu melalui lubang di dinding yang mereka buat. Thena hanya bisa menatap mereka dengan pasrah, mengeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak pernah menemui petualang seaneh mereka sebelumnya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!