Hari Berikutnya

Hari pun kini berganti.

"Selamat pagi, Tuan besar," sapa seseorang begitu masuk ke dalam ruang makan. Sosok tersebut agak kaget kala menatap orang lain yang ada di sana, selain Tuan besar.

"Selamat pagi," sapa Castilo yang sedang duduk santai sembari menikmati teh hangat buatan istrinya. Sementara itu, Namira sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk sarapan.

"Ini, Tuan, pesanan yang tadi anda minta," ucap sang tamu menyodorkan dua koper. Meski penasaran, sosok itu tidak berani bertanya tentang keberadaan wanita tersebut.

Castilo mengangguk, lalu dia berteriak. "Erik!"

sosok yang baru datang itu pun kembali dibuat kaget kala mendengar Castilo berteriak memanggil seseorang.

Tak lama setelah Castilo berteriak, muncullah seorang pemuda dari lantai dua, menghampiri tuan besar.

"Ada apa, Yah?"

Sang tamu semakin terkejut kala anak itu dengan santai melempar pertanyaan pada Castilo dan dia merasa telinganya salah mendengar karena pemuda itu memanggil Castilo dengan sebutan Ayah.

"Perkenalkan, ini anak saya dan itu istri saya," ucap Castilo yang seakan mengerti keterkejutan yang ditunjukan sang tamu melalui wajahnya.

"Istri? Anak? Maksud Tuan besar?" Sosok itu benar-benar syok dan bingung dengan apa yang baru dia dengar. Namun, sosok tersebut tiba-tiba teringat sesuatu.

"Jangan-jangan, acara di kantor hari ini untuk memerkenalkan mereka, Tuan?" terka sosok tersebut.

Castilo mengangguk. "Mulai sekarang, suruh karyawan kamu hanya melayani dua orang ini. Karena mereka keluarga Castilo yang sebenarnya," titahnya.

"Terus, Nyonya ..."

"Mereka dan anak-anaknya sudah tidak ada hak," sambar Castilo, mengerti apa yang hendak dikatakan tamunya. "Sekarang, kamu bantu anak saya, untuk mempersiapkan diri."

"Baik, Tuan," sosok tersebut menatap Erik. "Mari,, Tuan muda."

Erik begitu canggung dengan sebutan yang baru saja dia dengar. Dia pun hanya mengangguk, lalu mengajak orang itu menuju ke kamarnya.

"Orang milih baju, nggak ngukur tubuh anaknya seperti apa," gerutu Namira sembari meletakkan telur orak arik campur daging cincang di atas meja.

"Aku kan nggak tahu, kalau anak kita segede itu. Lagian aku juga nggak beli terlalu banyak dulu," Castilo membela diri.

"Untung cuma baju kerjanya doang yang ukurannya salah," Namira masih menggerutu sembari membersihkan kotoran yang tercecer di dapur yang dia gunakan.

Sosok yang baru datang tadi adalah pemilik butik terkenal di kota ini. Butik tersebut sudah menjadi langganan orang-orang kaya termasuk Castilo. Sosok tersebut tadi datang dengan membawa beberapa pasang pakaian kerja yang ukurannya pas di tubuh Erik.

Hingga beberapa menit kemudian.

"Wuih! Anak Ibu tampan sekali!" puji Namira begitu menyaksikan anaknya yang sudah berpakaian lengkap seperti Ayahnya.

"Tapi nggak nyaman, Bu," ucap Erik agak kurang percaya dirim

"Karena kamu belum terbiasa aja. Nanti lama-lama juga nyaman," ucap Castilo.

"Ya udah, kita sarapan dulu," ucap Namira, lalu dia melempar pandangan pada sosok lain yaitu pemilik butik. "Eh, Tuan, sini, sarapan sekalian."

"Saya?" pria pemilik butik lagi-lagi dibuat kaget.

"Iya, kamu, siapa lagi, sini," dengan entengnya Namira mengajak orang lain untuk sarapan bersama.

"Nggak usah, Nyonya. Saya ..."

"Nggak usah nolak. Kamu pagi-pagi sekali udah dikasih tugas sama Tuan besar, pasti kamu belum sarapan kan? Sini, sarapan sekalian."

"Tapi, saya ..."

"Nggak usah, sungkan, duduklah," Castilo langsung memberi perintah yang tidak mungkin bisa ditolak oleh pemilik butik itu.

"Baik, Tuan, terima kasih," dengan canggung pria itu duduk pada salah satu kursi yang ada di sana. Seumur hidup berbisnis dengan keluarga Castilo, baru kali ini, dia makan dalam satu meja yang sama dengan suasana yang begitu santai.

"Makan yang banyak ya? Kebetulan saya masak banyak pagi ini," titah Namira nampak begitu senang.

"Nggak perlu canggung, Tuan. Ibu memang suka kaya gini," Erik pun ikut bersuara.

"Baik, Tuan muda." Meskipun terlihat patuh, tapi tetap saja rasa canggung menyelimuti pria itu.

"Kamu siapin makanan buat siapa lagi, Sayang?" tanya Castilo begitu matanya menangkap Namira sedang mengisi dua piring dengan hasil masakannnya.

"Buat penjaga rumah. Orang ngasih tugas mendadak banget. Kasihan kan, mereka pasti dari rumah juga belum sarapan?" sungut Namira ketus. Lalu dia melenggang sembari membawa dua piring makanan keluar rumah.

Castilo tersenyum, menatap kepergian istrinya. "Apa ibumu masih suka ngajak-ngajak tetangga untuk makan bareng?" tanya pria itu sembari mulai menikmati hidangan yang sudah tersaji di hadapannya.

"Ya begitulah, Ibu. Apalagi kalau dagangannya nggak habis. Daripada dibuang, kalau masih layak makan, ya dikasih ke tetangga," jawab Erik. Castilo nampak manggut-manggut.

"Nyonya besar, baik banget ya, Tuan besar," puji si pemilik butik.

"Pastinya. Maka itu, saya merasa bangga bisa mendapatkan wanita seperti itu," ucap Castilo tanpa ragu.

"Emang ibu dari dulu kaya gitu, Yah?" Erik pun jadi penasaran.

Castilo mengangguk. "Awalnya Ayah ketemu sama Ibu juga gara-gara makanan. Dulu tuh, Ayah main kejauhan dan uang Ayah dicopet. Di saat Ayah sedang kebingungan dan kelaparan, Ayah ketemu Kakek sama Ibu kamu. Ayah ditawarin makan setelah Ibumu tahu, kalau aku itu nyasar dan kehilangan uangku."

"Wahh, kisah, Tuan besar, ternyata seromantis itu yah?" puji si pemilik butik.

Lagi-lagi Castilo tersenyum senang. "Tapi yang bikin Ayah jatuh cinta sama ibumu ya, karena galaknya itu. Bikin gemas."

"Astaga!" pekik dua pria yang ada di sana.

"Pantes, Ayah dari kemarin pasrah aja dimarahin Ibu seharian," ucap Erik.

Castilo tertawa renyah. "Hahaha ... tapi kan, pada akhirnya Ibumu luluh juga, dan Ayah berhasil ngajak Ibu bikin adik buat kamu."

"Ya ampun!" si pemilik butik kembali kaget. Dia bahkan sampai tercengang beberapa saat, kala menyadari, sosok Castilo saat ini, nampak berbeda dari biasanya.

Lebih dari sepuluh tahun menjadi orang kepercayaan Castilo dalam urusan busana, baru kali ini, si pemilik butik merasakan sikap Castilo yang begitu hangat. Bahkan dengan kedua anak lainnya pun Castilo tidak pernah sehangat ini. Apa lagi dengan orang lain.

"Udah dibilangin, kalau di depan anak tuh ngomongnya dijaga!" seru Namira. Castilo hanya tersenyum lebar sembari terus menikmati hidangannya.

"Erik, semalam kamu menghabiskan uang hampir dua puluh juta, buat apa saja sih?" begitu duduk, Namira langsung mengintrogasi anaknya. "Bukan untuk melakukan hal yang nggak benar kan?"

"Ya nggak lah, Bu," bantah Erik. "Kok Ibu tahu, aku menghabiskan uang sebanyak itu?"

"Kan setiap kali kamu transaksi menggunakan kartu itu, ada pemberitahuan masuk ke ponsel Ayah," jawab Namira. "Katakan, buat apa aja!"

"Oh, gitu," Erik nampak manggut-manggut," jadi, semalam aku tuh," Erik lantas menceritakan kejadian yang dia alami bersama Jojo.

"Bagus! Kamu memang harus seperti itu," ucap Castilo bangga.

Sementara itu di tempat lain.

"Kamu tenang aja, sebelum acara dimulai, orang-orang kita pasti bergerak lebih cepat untuk mencari informasi dan menangkap sosok istri dan anak kandung Castilo. Kamu tidak perlu khawatir," ucap seorang pria pada seorang wanita.

Terpopuler

Comments

MellaMar

MellaMar

Tanpa mengurangi rasa hormat pada author, izinkan saya untuk ikut promosi ya😁

Judul : Convallaria

Sinopsis : Seorang anak perempuan yang memutuskan untuk pergi dari rumahnya demi bekerja di luar negeri.

Bagaimana kisah selanjutnya? Jangan lupa mampir ya!

Terimakasih🙏

2025-03-14

1

Merica Bubuk

Merica Bubuk

Random amat bpk yg 1 ini, ga nyadar ada anak bujang'y 🔨🔨

2024-12-22

0

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

Tn Castillo sangat recehhh omongan nya..

2025-01-27

0

lihat semua
Episodes
1 Kembali Dikhianati
2 Hari Yang Sial
3 Sikap Tak Biasa
4 Mencari Informasi
5 Sebuah Fakta
6 Cerita Masa Silam
7 Hinaan Yang Sering Datang
8 Niat Erik
9 Sebuah Bukti
10 Dua Anak Yang Lain?
11 Penjelasan Castilo
12 Jam Makan Siang
13 Kebersamaan Yang Dirindukan
14 Gempar
15 Ketika Malam Menjelang
16 Membungkam Dengan Elegan
17 Setelah Kejadian
18 Hari Berikutnya
19 Hari Yang Di Nanti
20 Ketika Acara Dimulai
21 Ketika Acara Berlangsung
22 Mengungkap Rahasia
23 Kejutan
24 Acara Santai
25 Sikap Yang Berbeda
26 Melepas Penat
27 Sebuah Gosip
28 Satu Lawan Dua
29 Rasa Kecewa Dan Sesal
30 Konspirasi
31 Melepas Penat
32 Dihadang Mantan
33 Tak Berkutik
34 Sebuah Cerita
35 Masa Lalu Erik
36 Persiapan Ke Kantor
37 Kakek Yang Meresahkan
38 Tuntutan Karir
39 Tidak Ada Bedanya
40 Teka Teki Naura
41 Masih Gaduh
42 Keceplosan
43 Keputusan Mutlak
44 Menjelang Petang
45 Godaan
46 Di Kediaman Alex
47 Masih Di Rumah Alex
48 Kembali Ke Kantor
49 Insiden?
50 Mungkinkah?
51 Rasa Curiga
52 Mengungkap Fakta
53 Terinsipirasi
54 Nasib Mereka
55 Masih Di Kediaman Erik
56 Semua Menginginkan Erik
57 Libur Kerja
58 Menikmati Hari Libur
59 Aksi Penggoda
60 Modus
61 Dalam Perjalanan Pendekatan
62 Kencan Tanpa Ikatan
63 Diganggu Lagi
64 Menggali Informasi
65 Masih Menikmati Waktu Berdua
66 Viral Lagi
67 Sebuah Keputusan
68 Rasa Penasaran
69 Kembali Ke Kantor
70 Konferensi Pers
71 Naura Yang Sebenarnya
72 Tak terduga
73 Sebuah Siasat
74 Kecurigaan Namira
75 Yang Sebenarnya
76 Berpacu dengan Pengganggu
77 Mengecoh Pengganggu
78 Lolos Dari Pengganggu
79 Adu Sandiwara
80 Masih Adu Sandiwara
81 Misi Berikutnya
82 Genting
83 Jalan Keluar
84 Menangkap Target
85 Akhir Dari Perjuangan
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Kembali Dikhianati
2
Hari Yang Sial
3
Sikap Tak Biasa
4
Mencari Informasi
5
Sebuah Fakta
6
Cerita Masa Silam
7
Hinaan Yang Sering Datang
8
Niat Erik
9
Sebuah Bukti
10
Dua Anak Yang Lain?
11
Penjelasan Castilo
12
Jam Makan Siang
13
Kebersamaan Yang Dirindukan
14
Gempar
15
Ketika Malam Menjelang
16
Membungkam Dengan Elegan
17
Setelah Kejadian
18
Hari Berikutnya
19
Hari Yang Di Nanti
20
Ketika Acara Dimulai
21
Ketika Acara Berlangsung
22
Mengungkap Rahasia
23
Kejutan
24
Acara Santai
25
Sikap Yang Berbeda
26
Melepas Penat
27
Sebuah Gosip
28
Satu Lawan Dua
29
Rasa Kecewa Dan Sesal
30
Konspirasi
31
Melepas Penat
32
Dihadang Mantan
33
Tak Berkutik
34
Sebuah Cerita
35
Masa Lalu Erik
36
Persiapan Ke Kantor
37
Kakek Yang Meresahkan
38
Tuntutan Karir
39
Tidak Ada Bedanya
40
Teka Teki Naura
41
Masih Gaduh
42
Keceplosan
43
Keputusan Mutlak
44
Menjelang Petang
45
Godaan
46
Di Kediaman Alex
47
Masih Di Rumah Alex
48
Kembali Ke Kantor
49
Insiden?
50
Mungkinkah?
51
Rasa Curiga
52
Mengungkap Fakta
53
Terinsipirasi
54
Nasib Mereka
55
Masih Di Kediaman Erik
56
Semua Menginginkan Erik
57
Libur Kerja
58
Menikmati Hari Libur
59
Aksi Penggoda
60
Modus
61
Dalam Perjalanan Pendekatan
62
Kencan Tanpa Ikatan
63
Diganggu Lagi
64
Menggali Informasi
65
Masih Menikmati Waktu Berdua
66
Viral Lagi
67
Sebuah Keputusan
68
Rasa Penasaran
69
Kembali Ke Kantor
70
Konferensi Pers
71
Naura Yang Sebenarnya
72
Tak terduga
73
Sebuah Siasat
74
Kecurigaan Namira
75
Yang Sebenarnya
76
Berpacu dengan Pengganggu
77
Mengecoh Pengganggu
78
Lolos Dari Pengganggu
79
Adu Sandiwara
80
Masih Adu Sandiwara
81
Misi Berikutnya
82
Genting
83
Jalan Keluar
84
Menangkap Target
85
Akhir Dari Perjuangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!