Setelah Kejadian

Seorang pemuda menatap lekat, teman akrabnya yang sedang menikmati hidangan di depan mereka. Tatapan penuh selidik, dia tunjukan, setelah apa yang dilakukan temannya itu beberapa menit sebelumnya.

"Kamu nggak makan?" tanya Erik pada sahabatnya yang sedari tadi hampir tak berkedip menatapnya. Erik seakan tak peduli dengan tatapan mata Jojo yang menuntut penjelasan.

"Bukankah kamu seharusnya ngasih penjelasan ya?" Jojo malah kembali melempar pertanyaan sembari mulai menikmati kembali hidangan yang sudah mereka pesan dari tadi.

"Penjelasan apa?" Erik berlagak pura-pura tidak tahu. Pemuda itu bahkan nampak acuh dan terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

"Dih, pura-pura nggak tahu," cibir Jojo. "Harusnya, kamu tuh cerita, dapat kartu itu darimana? Terus nasib kerjamu bagaimana? Terus apa lagi? Banyak yang harus kamu jelaskan."

Erik malah cengengesan. "Kamu udah kaya Emakku aja, Jo, apa-apa kudu dijelasin. Orang tinggal makan aja, pakai banyak mikir," kilahnya.

Erik sebenarnya tahu betul, apa yang membuat sahabatnya seperti itu. Tapi Erik sengaja tidak bercerita, biar sahabatnya itu jantungan kalau mengetahui siapa Erik sebenarnya.

"Ya kan wajar lah, kalau aku pengin tahu. Soalnya malam ini, kamu tuh banyak kejanggalan, ngerti?" ujar Jojo. "Apa sekarang kamu sudah punya pekerjaan sampingan?"

"Kerja sampingan apa?" tanya Erik setelah menyeruput es teh tarik.

"Ya pekerjaan sampaingan, misalnya sebagai pelayan tante-tante atau apa, gitu."

"Sembarangan!"

Jojo malah cengengesan. "Ya kali aja. Soalnya nggak mungkin kan, dalam semalam kamu tiba-tiba kaya mendadak seperti ini. Baju yang kamu pakai aja harganya nggak main-main kalau yang asli, terus motor kamu juga edisi terbatas. Belum lagi apa itu tadi, Blackcard. Kamu dapat itu semua darimana coba, kalau bukan dari tante-tante kaya."

"Astaga!" Erik syok mendengarnya. "Kenapa kamu mikirnya jauh banget sih?"

"Loh, ya wajar dong. Orang kamu aja nggak mau ngasih penjelasan, masa iya aku harus berpikir positif? Mana bisa?" ujar Jojo.

Bibir Erik mencebik. "Besok deh aku ngasih tahunya. Malam ini moodku lagi nggak baik gara-gara dua curut itu," balas Erik mencari aman. Tapi melihat reaksi Jojo saat ini, sepertinya cara Erik berhasil.

"Pasti malu banget tuh si Hendra. Baru jadi anak pengusaha toko emas aja belagunya amit-amit," cibir Jojo. Erik hanya tersenyum sembari menghabiskan sisa hidangannya.

"Mutia pasti nyesel banget tuh, Rik, dulu putusin kamu demi Mahendra, setelah tahu kamu punya blackcard, dia memandangmu sampai tak berkedip," ucap Jojo lagi.

Erik kembali tersenyum lebar.

"Belum lagi Niken, terus siapa itu, sebelum kamu sama Mutia, pasti nyesel banget tuh mereka, jika tahu kamu ternyata orang berduit," ujar Jojo masih dengan ocehannya.

"Terus kenapa kalau mereka menyesal? Apa aku harus balikan sama mereka?"

"Ya nggak juga. Kaya nggak ada cewek lain aja."

Erik mendengus. "Ya sudah, mending cepat habiskan makananmu. Terus kita pulang."

Jojo ikutan mendengus. "Besok kamu kerja apa nggak? Tadi ada pengumunan loh, di perusahaan."

"Pengumuman apa?" tanya Erik, terlihat puas setelah menghabiskan makanannya.

"Besok semua karyawan harus mengenakan pakaian rapi. Minimal kalau petugas kebersihan, kita pakai kemeja. Katanya besok Tuan besar, mau mengumumkan anaknya yang akan menjadi penerus Tuan besar di Paragon grup."

Erik agak tercenung. Namun Erik sadar kalau Ayahnya memang hendak mengenalkan dirinya pada seluruh dunianya.

"Oh gitu?" balas Erik pura-pura paham.

"Jadi kamu besok masih kerja?" tanya Jojo langsung begitu melihat reaksi yang ditunjukan Erik. "Wahh, baguslah. Bogo pasti syok banget tuh, melihat kamu masih jadi karyawan Paragon."

Erik pun tersenyum. Dalam benak, Erik juga yakin, kalau Jojo juga akan syok dengan fakta yang akan terjadi di kantor, esok hari.

Sementara itu di malam yang sama, nampak seorang pria muda sedang sibuk memilih beberapa baju di kamarnya. Pria muda itu nampak bersemangat untuk menyambut esok hari dengan menunjukan penampilan yang bisa menghipnotis semua mata.

"Kamu lagi ngapain, Dave?" tanya seseorang, kala orang tersebut membuka pintu kamar dan menyaksikan penghuni kamar sedang sibuk memilih baju.

"Memilih baju yang paling bagus dong, Mom, buat acara besok," jawab Dave antusias. "Menurut Mommy, aku lebih cocok pakai baju yang mana?"

Sang Mommy yang dimintai pendapat, sejenak menghela nafas panjang. Matanya menatap sang anak dengan perasaan yang berkecamuk.

Beragam rasa saat ini bercampur jadi satu dalam hati wanita itu. Namun untuk mengatakan yang sebenarnya, dia juga tidak tega jika harus membuat kecewa anaknya.

"Aku yakin, Daddy pasti besok akan menunjukku sebagai penerus Daddy, iya kan, Mom?" tanya Dave nampak begitu antusias sembari bercermin, dengan menentang sebuah jass.

"Biar bagaimana pun, Aku lebih tua dan lebih pintar dari Morgan. Lagian, Morgan hanya anak kedua, jadi nggak mungkin Daddy menunjuk Morgan sebagai penerusnya."

Sang Mommy masih terpaku. Wanita itu seakan tidak memiliki kata yang pas untuk membuat hati anaknya senang, seperti biasanya.

"Mommy kenapa diam?" protes Dave begitu dia sadar, sedari tadi Ibunya tidak merespon ucapannya. "Mommy nggak dengar apa yang aku omongin?"

"Bukan begitu," Mommy agak tergagap. "Mommy hanya sedang memikirkan Om Marco. Katanya dia mau mau datang, tapi udah jam segini, dia malah nggak ada kabar."

"Oh," cuma itu yang diucapkan Dave. Anak itu kembali sibuk dengan kegiatannya saat ini.

"Kamu ngapain di sini?" tiba-tiba suara tanya terdengar dari belakang wanita bernama Natalia. Suara itu cukup mengejutkan sampai, wanita yang masih memegang gagang pintu menoleh ke arahnya.

"Itu, lagi ngobrol sama Dave," jawab wanita tersebut.

Sosok yang kedatangannya sedang ditunggu, nampak mendekat dan ikut melihat apa yang dilakukan Dave saat ini. "Kamu lagi ngapain, Dave?" sosok bernama Marco pun masuk ke dalam kamar.

"Nyari baju buat acara besok, Om," jawab Dave masih dengan semangat yang sama. "Menurut Om Marco, aku lebih bagus pakai baju yang mana, buat naik panggung saat Daddy menyebut namaku besok?"

Marco sontak melempar pandangan sejenak ke arah Ibunya Dave yang kini sudah masuk dan duduk di sofa yang ada di sana. Kedua orang itu saling pandang dan seakan mereka berbicara melalui kedua mata mereka.

"Kamu tuh, pakai baju apa aja pantes, Dave, nggak perlu bingung," jawab Marco.

Senyum Dave langsung terkembang sempurna. "Om Marco memang yang terbaik," balasnya bangga.

Marco langsung mengacungkan jempolnya dan dia segera duduk di samping Natalia.

"Gimana dengan rencana besok?" bisik Natalia.

"Kamu jangan khawatir. Aku pastikan, anak Castilo yang asli besok tidak akan muncul di acara itu," jawab Marco sangat yakin.

"Baguslah," Natalia nampak sedikit lega.

Rencana yang sama juga sudah disusun sedemikian rupa oleh dua pasangan lainnya yaitu Victoria dan Bram.

Terpopuler

Comments

Ayu

Ayu

semoga erik slmt smpai acara perkenalan sbgai penerus perusahaan smpai selesai.

2024-12-19

0

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

Wahhh Erik dalam bahaya! semoga Tn Castillo sudah tahu akan hal ini.

2025-01-27

0

Merica Bubuk

Merica Bubuk

Ngepet jo... km yg jaga lilin'y, masa lupa sih 🤣🤣🤣

2024-12-22

0

lihat semua
Episodes
1 Kembali Dikhianati
2 Hari Yang Sial
3 Sikap Tak Biasa
4 Mencari Informasi
5 Sebuah Fakta
6 Cerita Masa Silam
7 Hinaan Yang Sering Datang
8 Niat Erik
9 Sebuah Bukti
10 Dua Anak Yang Lain?
11 Penjelasan Castilo
12 Jam Makan Siang
13 Kebersamaan Yang Dirindukan
14 Gempar
15 Ketika Malam Menjelang
16 Membungkam Dengan Elegan
17 Setelah Kejadian
18 Hari Berikutnya
19 Hari Yang Di Nanti
20 Ketika Acara Dimulai
21 Ketika Acara Berlangsung
22 Mengungkap Rahasia
23 Kejutan
24 Acara Santai
25 Sikap Yang Berbeda
26 Melepas Penat
27 Sebuah Gosip
28 Satu Lawan Dua
29 Rasa Kecewa Dan Sesal
30 Konspirasi
31 Melepas Penat
32 Dihadang Mantan
33 Tak Berkutik
34 Sebuah Cerita
35 Masa Lalu Erik
36 Persiapan Ke Kantor
37 Kakek Yang Meresahkan
38 Tuntutan Karir
39 Tidak Ada Bedanya
40 Teka Teki Naura
41 Masih Gaduh
42 Keceplosan
43 Keputusan Mutlak
44 Menjelang Petang
45 Godaan
46 Di Kediaman Alex
47 Masih Di Rumah Alex
48 Kembali Ke Kantor
49 Insiden?
50 Mungkinkah?
51 Rasa Curiga
52 Mengungkap Fakta
53 Terinsipirasi
54 Nasib Mereka
55 Masih Di Kediaman Erik
56 Semua Menginginkan Erik
57 Libur Kerja
58 Menikmati Hari Libur
59 Aksi Penggoda
60 Modus
61 Dalam Perjalanan Pendekatan
62 Kencan Tanpa Ikatan
63 Diganggu Lagi
64 Menggali Informasi
65 Masih Menikmati Waktu Berdua
66 Viral Lagi
67 Sebuah Keputusan
68 Rasa Penasaran
69 Kembali Ke Kantor
70 Konferensi Pers
71 Naura Yang Sebenarnya
72 Tak terduga
73 Sebuah Siasat
74 Kecurigaan Namira
75 Yang Sebenarnya
76 Berpacu dengan Pengganggu
77 Mengecoh Pengganggu
78 Lolos Dari Pengganggu
79 Adu Sandiwara
80 Masih Adu Sandiwara
81 Misi Berikutnya
82 Genting
83 Jalan Keluar
84 Menangkap Target
85 Akhir Dari Perjuangan
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Kembali Dikhianati
2
Hari Yang Sial
3
Sikap Tak Biasa
4
Mencari Informasi
5
Sebuah Fakta
6
Cerita Masa Silam
7
Hinaan Yang Sering Datang
8
Niat Erik
9
Sebuah Bukti
10
Dua Anak Yang Lain?
11
Penjelasan Castilo
12
Jam Makan Siang
13
Kebersamaan Yang Dirindukan
14
Gempar
15
Ketika Malam Menjelang
16
Membungkam Dengan Elegan
17
Setelah Kejadian
18
Hari Berikutnya
19
Hari Yang Di Nanti
20
Ketika Acara Dimulai
21
Ketika Acara Berlangsung
22
Mengungkap Rahasia
23
Kejutan
24
Acara Santai
25
Sikap Yang Berbeda
26
Melepas Penat
27
Sebuah Gosip
28
Satu Lawan Dua
29
Rasa Kecewa Dan Sesal
30
Konspirasi
31
Melepas Penat
32
Dihadang Mantan
33
Tak Berkutik
34
Sebuah Cerita
35
Masa Lalu Erik
36
Persiapan Ke Kantor
37
Kakek Yang Meresahkan
38
Tuntutan Karir
39
Tidak Ada Bedanya
40
Teka Teki Naura
41
Masih Gaduh
42
Keceplosan
43
Keputusan Mutlak
44
Menjelang Petang
45
Godaan
46
Di Kediaman Alex
47
Masih Di Rumah Alex
48
Kembali Ke Kantor
49
Insiden?
50
Mungkinkah?
51
Rasa Curiga
52
Mengungkap Fakta
53
Terinsipirasi
54
Nasib Mereka
55
Masih Di Kediaman Erik
56
Semua Menginginkan Erik
57
Libur Kerja
58
Menikmati Hari Libur
59
Aksi Penggoda
60
Modus
61
Dalam Perjalanan Pendekatan
62
Kencan Tanpa Ikatan
63
Diganggu Lagi
64
Menggali Informasi
65
Masih Menikmati Waktu Berdua
66
Viral Lagi
67
Sebuah Keputusan
68
Rasa Penasaran
69
Kembali Ke Kantor
70
Konferensi Pers
71
Naura Yang Sebenarnya
72
Tak terduga
73
Sebuah Siasat
74
Kecurigaan Namira
75
Yang Sebenarnya
76
Berpacu dengan Pengganggu
77
Mengecoh Pengganggu
78
Lolos Dari Pengganggu
79
Adu Sandiwara
80
Masih Adu Sandiwara
81
Misi Berikutnya
82
Genting
83
Jalan Keluar
84
Menangkap Target
85
Akhir Dari Perjuangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!