Sebuah Bukti

Di sebuah restoran yang terkenal dengan hidangan mahalnya, nampak beberapa anak muda sedang menyantap makanan yang mereka pesan. Mereka terlihat sangat bahagia karena bisa menikmati hidangan mahal tersebut.

"Kalau mau nambah, kalian tinggal pesan saja. Tudak usah sungkan. Semua, aku yang bayar," ucap seorang pria muda dengan angkuh.

"Siap, Bos," jawab beberapa orang yang seumuran dengan pria muda tersebut. Mereka nampak bersemangat mendapat perintah seperti itu.

"Sayang, aku boleh pesan makanan ini lagi tidak? Buat Mommy aku. Tadi aku tidak sengaja ngasih tahu makan disini sama kamu, gimana?" pinta seorang wanita begitu manja pada pria muda tersebut yang menjadi kekasihnya.

"Tentu, Sayang, silahkan. Buat kamu, apa sih yang enggak, Sayang. Kalau perlu pesan yang lain juga. Tante pasti senang," balas pria muda tersebut dengan entengnya.

"Wahh! Makasih, Sayang. Kamu memang kekasih terbaik yang aku miliki," wanita itu tanpa ragu menempelkan bibirnya pada pipi sang pria di hadapan teman-temannya.

Pria itu tersenyum lalu dia berbisik. "Tapi nanti malam, aku boleh minta jatah kan? Yang semalam masih kurang, Sayang?"

Wanita itu pun tersenyum senang. "Siap, Sayang. Mau sampai pagi lagi?"

Pria muda itu mengangguk antusias.

"Beruntung kamu, Sya, dipilih oleh Dave menjadi kekasihnya," celetuk salah satu orang yang ada di meja tersebut.

"Bukan Tasya yang beruntung, tapi aku yang beruntung mendapatkanya," ucap pria muda yang akrab dipanggil Dave. "Karena hanya Tasya yang siap menerimaku apa adanya."

"Siap menerima apa adanya? Maksudnya?" tanya wanita teman Tasya yang juga ada di sana.

"Seandainya aku jatuh miskin, dia janji akan selalu bersamaku. Jadi ya aku percaya, kalau dia memang cewek yang paling tepat untukku," ucap Dave sambil menatap Tasya penuh cinta, membuat semua yang ada di sana merasa iri sekaligus ikut senang.

"Kamu jatuh miskin? kayanya nggak akan mungkin deh, Dave," ucap salah satu temannya.

"Iya, secara kamu, kan, ahli waris Paragon Grup. Siapa yang nggak tahu sih, kekayaan perusahaan ayahmu itu," sahut yang lainnya.

Senyum Dave terkembang dan semakin terlihat sombong. "Kalian tahu aja," pria itu pun memanggil salah satu karyawan.

"Bungkuskan makanan yang sama seperti ini," titah Dave sok berkuasa sembari menyodorkan sebuah kartu.

Pelayan itu pun mengerti dan segera menerima kartu tersebut. Sepertinya pelayan tersebut juga sudah paham, pengunjung yang bernama Dave itu siapa.

Hingga beberapa saat kemudian. "Maaf, Tuan. Ada kartu lain tidak? Kartu ini tidak bisa digunakan," ucap pelayan yang sama.

Dave nampak terperanjat. "Tidak bisa digunakan?"

"Iya, Tuan. Kami sudah mencoba beberapa kali, tapi sama sekali tidak berfungsi."

Dave pun kembali mengambil dompetnya. "Nih, yang ini pasti bisa."

"Baik, Tuan," sang pelayan langsung pergi.

Namun hal yang sama terjadi lagi hingga empat kartu yang dimiliki Dave dicoba, tapi hasilnya tetap sama.

Dave pun berusaha untuk tidak panik karena dia memang tidak terbiasa mengalami hal seperti ini. Dia pun pamit sejenak untuk menghubungi seseorang, menanyakan hal tersebut.

"Apa, Mom? Semua kartu diblokir?" seketika wajah Dave nampak begitu panik.

"Sementara itu di tempat lain.

"Mom! Mommy!" teriak seseorang mencari orang tuanya begitu dirinya masuk ke dalam rumah.

"Mommy di sini!" teriak seorang wanita dari salah satu ruangan. Orang itu pun segera melangkah menuju ruangan tersebut.

"Mom, Mommy kenapa bikin malu aku sih?" tiba-tiba orang itu melayangkan protes pada wanita yang sedang berbincang dengan pria lain di sana.

"Bikin malu? Bikin malu bagaimana?" tanya sang Mommy yang tak lain adalah Victoria.

Anak itu mengambil dompetnya dan menunjukan empat kartu kredit. "Kenapa semua kartu ini tidak bisa digunakan?"

"Apa! Tidak bisa digunakan? Kok bisa?" Victoria nampak kaget dan matanya langsung menatap pria yang tubuhnya hanya terlilit handuk.

"Iya, tadi aku tidak bisa menggunakannya. Kenapa, Mom? Aku kan jadi malu sama kekasihku. Aku tuh udah janji mau membelikan cincin berlian pada Rosa. Eh malah kartunya sama sekali nggak berfungsi."

Victoria langsung menatap Bram. "Bram, bagaimana ini? Apa jangan-jangan Castilo sudah sudah bertindak?"

Pria yang tubuhnya terlilit handuk hanya diam tanpa bereaksi. Namun otak pria itu berpikir keras dan nampak begitu kesal pada sorot matanya.

#####

Di tempat lain, kala Erik memasuki ruang yang cukup luas, matanya terpaku dengan apa yang dia lihat saat ini.

"Sekarang anda percaya bukan, kalau anda adalah putra Tuan Castilo?" ucap Alex yang sedari tadi setia menemani Erik.

Erik menatap Alex sejenak, lalu kembali menatap sebuah foto berukuran besar yang terpasang di dinding ruang tersebut. Keraguan Erik semakin memudar kala menyaksikan foto dirinya yang masih bayi bersama Ibu dan Tuan Castilo.

"Kapan foto itu di ambil? Perasaan aku tidak pernah melihatnya?" tanya Erik. Dari dulu dia memang tidak pernah sekalipun melihat foto ayahnya.

"Foto itu diambil saat kamu berusia dua tahun," bukan Alex yang menjawab, tapi sepemilik rumah. Nampak, Castilo menuruni anak tangga sembari menatap kedua pria yang ada dalam ruangan tersebut.

"Satu-satunya foto yang Ayah bawa saat pergi meninggalkan kalian," ucap Castilo dengan perasaan yang cukup bergemuruh.

"Sebenarnya, foto kebersamaan kita sangat banyak, tapi semua terbakar tanpa meninggalkan sisa satupun."

Erik menatap Castilo dengan tatapan penuh tanya dan bimbang. Sementara Alex memilih pergi, agar kedua pria itu bisa berbicara dari hati ke hati.

"Apa kamu ingin marah sama Ayah?" Castilo membalas tatapan anaknya.

Erik berpaling, kembali menatap foto keluarga yang nampak bahagia. "Saya tidak tahu. Saya masih bingung saja dengan semua ini."

Castilo tersenyum lalu dia melangkah menuju sofa dan duduk di sana.

"Ibu mana?" Erik langsung mengedarkan pandangannya begitu teringat akan sosok ibunya yang tidak kelihatan.

"Ibu sedang istirahat. Dia lelah karena sedari tadi, dia marah-marah. Dari dulu, ibumu masih galak saja, Rik,"jawab Castilo lalu dia terkekeh untuk beberapa saat.

Tak lama setelahnya saat suara tawanya mereda, Castilo kembali menatap foto kebersamaan mereka.

"Maafkan Ayah, tentang kejadian tadi pagi."

"Kejadian tadi pagi?" Erik malah nampak bingung hingga dia kembali memikirkannya. "Oh, soal saya di kantor Tuan?"

"Aku ayahmu, Erik, jangan panggil aku Tuan," Castilo langsung tidak terima.

Erik tersenyum canggung. "Maaf, saya hanya..."

"Tidak apa-apa, Ayah mengerti," ucap Castilo memotong ucapan anaknya. "Jangan sampai Ibumu tahu, kalau aku tadi menampar dan menendangmu. Kalau tahu, bisa-bisa Ayah ...

"Bisa apa!" bukan Erik yang bersuara, tapi wanita yang telah melahirkan anak itu memotong ucapan Castilo dengan lantang.

Seketika wajah Castilo kembali memucat begitu mendengar suara Namira menggelegar. Erik juga sama kagetnya dan matanya melihat sosok Ibu yang kembali murka.

Terpopuler

Comments

Aries suratman Suratman

Aries suratman Suratman

Hahaha..... hampir 90% Kalo istri galak tapi benar kalo sedang Marah Walaupun Suami Gagah dan berkuasa tapi kalo melakukan kesalahan.... pasti ujung-ujungnya takut dan tunduk pada Istrinya...👏👏👏👏👍💪💞 buat Author moga makin Sukses dan terus berkarya

2025-03-10

1

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

Hahaha 😂😂😂 sama pak Castillo, aku pun takut kalau istriku marah² karena kesalahanku.. pokoknya istri itu selalu benar..

2025-01-26

0

Atik Sunarti

Atik Sunarti

bagus...baru baca sdh set set keinti cerita

2024-12-22

0

lihat semua
Episodes
1 Kembali Dikhianati
2 Hari Yang Sial
3 Sikap Tak Biasa
4 Mencari Informasi
5 Sebuah Fakta
6 Cerita Masa Silam
7 Hinaan Yang Sering Datang
8 Niat Erik
9 Sebuah Bukti
10 Dua Anak Yang Lain?
11 Penjelasan Castilo
12 Jam Makan Siang
13 Kebersamaan Yang Dirindukan
14 Gempar
15 Ketika Malam Menjelang
16 Membungkam Dengan Elegan
17 Setelah Kejadian
18 Hari Berikutnya
19 Hari Yang Di Nanti
20 Ketika Acara Dimulai
21 Ketika Acara Berlangsung
22 Mengungkap Rahasia
23 Kejutan
24 Acara Santai
25 Sikap Yang Berbeda
26 Melepas Penat
27 Sebuah Gosip
28 Satu Lawan Dua
29 Rasa Kecewa Dan Sesal
30 Konspirasi
31 Melepas Penat
32 Dihadang Mantan
33 Tak Berkutik
34 Sebuah Cerita
35 Masa Lalu Erik
36 Persiapan Ke Kantor
37 Kakek Yang Meresahkan
38 Tuntutan Karir
39 Tidak Ada Bedanya
40 Teka Teki Naura
41 Masih Gaduh
42 Keceplosan
43 Keputusan Mutlak
44 Menjelang Petang
45 Godaan
46 Di Kediaman Alex
47 Masih Di Rumah Alex
48 Kembali Ke Kantor
49 Insiden?
50 Mungkinkah?
51 Rasa Curiga
52 Mengungkap Fakta
53 Terinsipirasi
54 Nasib Mereka
55 Masih Di Kediaman Erik
56 Semua Menginginkan Erik
57 Libur Kerja
58 Menikmati Hari Libur
59 Aksi Penggoda
60 Modus
61 Dalam Perjalanan Pendekatan
62 Kencan Tanpa Ikatan
63 Diganggu Lagi
64 Menggali Informasi
65 Masih Menikmati Waktu Berdua
66 Viral Lagi
67 Sebuah Keputusan
68 Rasa Penasaran
69 Kembali Ke Kantor
70 Konferensi Pers
71 Naura Yang Sebenarnya
72 Tak terduga
73 Sebuah Siasat
74 Kecurigaan Namira
75 Yang Sebenarnya
76 Berpacu dengan Pengganggu
77 Mengecoh Pengganggu
78 Lolos Dari Pengganggu
79 Adu Sandiwara
80 Masih Adu Sandiwara
81 Misi Berikutnya
82 Genting
83 Jalan Keluar
84 Menangkap Target
85 Akhir Dari Perjuangan
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Kembali Dikhianati
2
Hari Yang Sial
3
Sikap Tak Biasa
4
Mencari Informasi
5
Sebuah Fakta
6
Cerita Masa Silam
7
Hinaan Yang Sering Datang
8
Niat Erik
9
Sebuah Bukti
10
Dua Anak Yang Lain?
11
Penjelasan Castilo
12
Jam Makan Siang
13
Kebersamaan Yang Dirindukan
14
Gempar
15
Ketika Malam Menjelang
16
Membungkam Dengan Elegan
17
Setelah Kejadian
18
Hari Berikutnya
19
Hari Yang Di Nanti
20
Ketika Acara Dimulai
21
Ketika Acara Berlangsung
22
Mengungkap Rahasia
23
Kejutan
24
Acara Santai
25
Sikap Yang Berbeda
26
Melepas Penat
27
Sebuah Gosip
28
Satu Lawan Dua
29
Rasa Kecewa Dan Sesal
30
Konspirasi
31
Melepas Penat
32
Dihadang Mantan
33
Tak Berkutik
34
Sebuah Cerita
35
Masa Lalu Erik
36
Persiapan Ke Kantor
37
Kakek Yang Meresahkan
38
Tuntutan Karir
39
Tidak Ada Bedanya
40
Teka Teki Naura
41
Masih Gaduh
42
Keceplosan
43
Keputusan Mutlak
44
Menjelang Petang
45
Godaan
46
Di Kediaman Alex
47
Masih Di Rumah Alex
48
Kembali Ke Kantor
49
Insiden?
50
Mungkinkah?
51
Rasa Curiga
52
Mengungkap Fakta
53
Terinsipirasi
54
Nasib Mereka
55
Masih Di Kediaman Erik
56
Semua Menginginkan Erik
57
Libur Kerja
58
Menikmati Hari Libur
59
Aksi Penggoda
60
Modus
61
Dalam Perjalanan Pendekatan
62
Kencan Tanpa Ikatan
63
Diganggu Lagi
64
Menggali Informasi
65
Masih Menikmati Waktu Berdua
66
Viral Lagi
67
Sebuah Keputusan
68
Rasa Penasaran
69
Kembali Ke Kantor
70
Konferensi Pers
71
Naura Yang Sebenarnya
72
Tak terduga
73
Sebuah Siasat
74
Kecurigaan Namira
75
Yang Sebenarnya
76
Berpacu dengan Pengganggu
77
Mengecoh Pengganggu
78
Lolos Dari Pengganggu
79
Adu Sandiwara
80
Masih Adu Sandiwara
81
Misi Berikutnya
82
Genting
83
Jalan Keluar
84
Menangkap Target
85
Akhir Dari Perjuangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!