Ketika Malam Menjelang

"Aku pergi dulu, Ibu, Ayah," pamit Erik kala hari sudah petang.

"Kamu yakin bisa menggunakan motor itu?" tanya Namira sedikit khawatir, karena baru kali ini, melihat anaknya menggunakan motor yang berbeda.

"Sama aja kaya motor biasa, Bu," jawab Erik enteng.

"Oh, ya udah hati-hati," balas Namira meski masih agak khawatir. "Lagian udah malam, malah mau main. Besok kan kamu mau sibuk."

"Astaga! Cuma sebentar kok, Bu," ucap Erik. "Abisnya jenuh, dari pagi di rumah terus."

"Namanya juga anak muda, Sayang," kali ini Castilo yang bersuara dengan tubuh yang terus menempel pada istrinya, lalu dia menyerahkan sebuah kartu. "Nih, disimpan."

"Kartu apa lagi ini, Yah?" tanya Erik sembari menerima kartu tersebut.

"Itu kartu buat akses masuk ke komplek perumahan ini. Karena para petugas keamanan belum mengenal kamu siapa, jadi kamu tunjukan kartu itu, biar enak keluar masuknya."

Erik mengangguk mengerti. Setelah memasukan kartu tersebut ke dalam tas, Erik langung menyalakan mesin motor yang harganya cukup fantastis karena edisi terbatas.

Setelah siap, Erik pun kembali pamit untuk pergi ke rumah temannya.

"Akhirnya, hanya kita berdua yang ada di rumah," ucap Castilo sembari senyum-senyum nakal.

Kening Namira berkerut, melempar pandangan kepada suaminya dengan mata menyipit. "Emang kenapa kalau kita hanya berdua?"

Castilo sontak menyeringai. Diluar dugaan, Namira dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya saat ini.

"Kamu apa-apan sih, Mas? Turunkan! Cepat!" Namira memberontak. Tapi usahanya sia-sia. Dia tidak akan bisa lepas dengan mudah dari suaminya yang berpostur tubuh tinggi, tegap dan sangat kekar.

"Enak aja, minta diturunin. Aku tuh rindu saat-saat seperti ini, Sayang. Apa kamu sama sekali tidak rindu dengan isi celanaku?" balas Castilo dengan entengnya sembari mengangkat tubuh mungil istrinya.

"Astaga! Udah tua, kalau ngomong tuh dijaga! Turunkan aku!" Namira terus berusaha memberontak.

"Iya, nanti aku turunkan, kalau udah di atas ranjang," jawab Castilo.

"Aku nggak mau! Malam ini aku mau tidur terpisah," tolak Namira tegas.

"Enak aja," tolak Castilo mentah-mentah. "Kita udah terpisah belasan tahun terus kamu minta kita tidur terpisah? Jangan harap. Kamu nggak tahu apa, betapa tersiksanya isi celanaku menahan rindu sama lubangmu itu."

"Hih! Kalau ngomong," Namira gemas sendiri. Tapi kali ini dia sudah tidak bisa memberontak lagi. Percuma melawan Castilo kalau lagi mode keras kepala seperti ini.

Lagian, jauh di dalam lubuk Namira, wanita itu juga sangat merindukan lelakinya. Namun, setiap dia mendengar kabar yang berhubungan dengan nama sang suami, rasa benci itu kian membesar, hingga Namira sulit mengakui sisi rindu dalam benaknya.

"Tidak mungkin, isi celana kamu itu cuma masuk satu lubang? Meragukan," cibir Namira. "Apa lagi istri-istri kamu itu, senang sekali menggunakan pakaian seksi, mana mungkin kamu tidak tergoda?"

"Sama sekali nggak dong," bantah Castilo. "Mereka kan menikahiku, tujuannya karena harta dan nama besar. Keenakan mereka jika aku sampai jatuh ke dalam pelukan dua wanita itu. Mahkotanya yang menikmati pria lain, masa aku yang harus menanggung segala kebutuhan mereka seumur hidup. Mending hartaku buat hal lain yang lebih berguna."

Kening Namira kembali berkerut. Namun tak lama setelahnya, wanita itu diam-diam tersenyum. Ada rasa bangga dan kagum dalam benak Namira kepada suaminya, setelah mendengar pengakuannya barusan.

"Tapi, kamu nggak mungkin kan, selama ini hanya main sama tangan dan sabun? Apa lagi kamu sering bepergian keluar negeri. Terus, banyak wanita yang pasti rela melepas baju di depanmu. Tidak mungkin kamu menahan hasrat sampai bertahun-tahun."

Castilo menghembuskan nafas secara kasar. Sebagai laki-laki tampan dan kaya raya, memang godaan dari wanita hampir tiap hari berdatangan. Tidak munafik, Castilo hampir tergoda oleh mereka. Namun Castilo punya cara sendiri jika ingin melepas hasratnya dan sang istri tidak boleh tahu.

"Kenapa sih, Sayang? Apa kamu nggak percaya, kalau benihku cuma mau aku masukan ke dalam rahimmu saja? Apa kamu berharap, aku tidur dengan banyak wanita dan memiliki banyak anak?" tanya Castilo sembari meletakkan tubuh sang istri di atas ranjang.

"Bukan begitu," Namira malah salah tingkah. Apa lagi posisinya saat ini, Castilo sudah mengunci pergerakan tubuhnya.

"Sudah ya, Sayang. Jika masih banyak yang ingin kamu tanyakan, teruskan nanti saja. Sekarang, biarkan aku melepas rindu yang sudah aku pendam selama bertahun-tahun, oke?"

Namira tak berkutik. Tatapan mata sendu Castilo, seakan menghipnotis Namira hingga dia tidak sanggup menolak saat bibir pria itu mulai menyerang bibirnya dengan lembut.

Sementara itu di tempat lain.

"Erik?" seorang pemuda nampak terkejut begitu melihat teman akrabnya berada sudah di halaman rumah pemuda itu. "Baru aja, aku hendak main ke rumahmu, eh kamu malah kesini duluan," ucap pemuda itu nampak begitu senang.

"Tunggu-tunggu-tunggu. Kok kaya ada yang beda ya?" pemuda itu menatap sahabatnya yang masih berada di atas motor. Tatapannya begitu menyelidik sampai Erik tidak tahan melebarkan senyumnya.

"Motor kamu baru?" tanya Jojo nama pemuda itu. "Wuidihh, motor mahal ini."

"Gimana? Bagus nggak?" tanya Erik sedikit sombong.

"Cakep! Cocok sama tampang kamu," puji Jojo. "Ini motor baru apa gimana?

Sebelum menjawab Erik berpikir sejenak "Ceritanya nanti deh. Kita cari tempar nongkrong yuk. Biar enak ngobrolnya."

Jojo mengangguk. "Oke. Bentar, aku ganti baju dulu," Jojo bergegas pergi tanpa menunggu persetujuan Erik.

Tidak membutuhkan waktu lama, kini kedua anak muda yang usianya tidak terpaut jauh itu, sedang dalam perjalanan mencari tempat nongkrong yang enak buat ngobrol.

"Kita ke sana, yuk, Jo!" Ajak Erik sembari menunjuk ke salah satu arah.

"Ke sana? Nggak salah? Itu tempat mahal, Rik?" Jojo tercengang kala Erik menunjuk sebuah tempat yang memang terkenal harganya mahal.

"Nggak apa-apa. Sekali-kali, kita nongkrong di tempat itu," ucap Erik nampak begitu enteng.

"Oke deh," Jojo pasrah. "Yang penting, aku gratisin ya?"

"Tenang aja," balas Erik santai. Jojo pun langsung kegirangan.

Erik memarkirkan motornya pada tempat yang telah disediakan. Dilihat dari kendaraan yang terparkir di sana, bisa dilihat kalau pengungjung tempat itu, kebanyakan dari masyarakat kelas atas.

Saat memasuki tempat tersebut, keduanya cukup kagum dengan apa yang ada di dalamnya. Namun mereka memilih bersikap biasa saja agar tidak terlihat norak.

Keduanya pun memesan hidangan yang cukup mahal. Awalnya Jojo meragukan sahabatnya, karena takut Erik tidak bisa membayarnya. Bahkan Jojo sempat berbisik untuk keluar saja dari tempat tersebut.

Namun Erik menolaknya dan meyakinkan Jojo kalau dia mampu membayarnya. Jojo pun pasrah dan mereka memilih duduk di tempat yang menurut mereka nyaman untuk mengobrol.

"Wahh, ternyata tempat ini, menerima orang-orang miskin juga?"

Baru lima belas menit duduk di sana, sebuah suara yang cukup Erik kenal, mengusik pendengarannya hingga obrolan kedua pemuda itu terhenti.

Terpopuler

Comments

®agiel

®agiel

bhuaaa haaa haaaa haaaa pertanyaan yang polos & konyol sih...tapi keren keren Thor....masih sehat kok untuk dibaca.... hihihiii

2025-03-13

0

Christina Hartini

Christina Hartini

jangan hiraukan Rick kamu sekarang anak orang kaya, biar mereka yg menghinamu malu sendiri 🤣

2025-02-13

0

Ririn Nursisminingsih

Ririn Nursisminingsih

eric meski udah kaya jg sombong yaa... balas mereka dg elegant

2025-02-11

0

lihat semua
Episodes
1 Kembali Dikhianati
2 Hari Yang Sial
3 Sikap Tak Biasa
4 Mencari Informasi
5 Sebuah Fakta
6 Cerita Masa Silam
7 Hinaan Yang Sering Datang
8 Niat Erik
9 Sebuah Bukti
10 Dua Anak Yang Lain?
11 Penjelasan Castilo
12 Jam Makan Siang
13 Kebersamaan Yang Dirindukan
14 Gempar
15 Ketika Malam Menjelang
16 Membungkam Dengan Elegan
17 Setelah Kejadian
18 Hari Berikutnya
19 Hari Yang Di Nanti
20 Ketika Acara Dimulai
21 Ketika Acara Berlangsung
22 Mengungkap Rahasia
23 Kejutan
24 Acara Santai
25 Sikap Yang Berbeda
26 Melepas Penat
27 Sebuah Gosip
28 Satu Lawan Dua
29 Rasa Kecewa Dan Sesal
30 Konspirasi
31 Melepas Penat
32 Dihadang Mantan
33 Tak Berkutik
34 Sebuah Cerita
35 Masa Lalu Erik
36 Persiapan Ke Kantor
37 Kakek Yang Meresahkan
38 Tuntutan Karir
39 Tidak Ada Bedanya
40 Teka Teki Naura
41 Masih Gaduh
42 Keceplosan
43 Keputusan Mutlak
44 Menjelang Petang
45 Godaan
46 Di Kediaman Alex
47 Masih Di Rumah Alex
48 Kembali Ke Kantor
49 Insiden?
50 Mungkinkah?
51 Rasa Curiga
52 Mengungkap Fakta
53 Terinsipirasi
54 Nasib Mereka
55 Masih Di Kediaman Erik
56 Semua Menginginkan Erik
57 Libur Kerja
58 Menikmati Hari Libur
59 Aksi Penggoda
60 Modus
61 Dalam Perjalanan Pendekatan
62 Kencan Tanpa Ikatan
63 Diganggu Lagi
64 Menggali Informasi
65 Masih Menikmati Waktu Berdua
66 Viral Lagi
67 Sebuah Keputusan
68 Rasa Penasaran
69 Kembali Ke Kantor
70 Konferensi Pers
71 Naura Yang Sebenarnya
72 Tak terduga
73 Sebuah Siasat
74 Kecurigaan Namira
75 Yang Sebenarnya
76 Berpacu dengan Pengganggu
77 Mengecoh Pengganggu
78 Lolos Dari Pengganggu
79 Adu Sandiwara
80 Masih Adu Sandiwara
81 Misi Berikutnya
82 Genting
83 Jalan Keluar
84 Menangkap Target
85 Akhir Dari Perjuangan
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Kembali Dikhianati
2
Hari Yang Sial
3
Sikap Tak Biasa
4
Mencari Informasi
5
Sebuah Fakta
6
Cerita Masa Silam
7
Hinaan Yang Sering Datang
8
Niat Erik
9
Sebuah Bukti
10
Dua Anak Yang Lain?
11
Penjelasan Castilo
12
Jam Makan Siang
13
Kebersamaan Yang Dirindukan
14
Gempar
15
Ketika Malam Menjelang
16
Membungkam Dengan Elegan
17
Setelah Kejadian
18
Hari Berikutnya
19
Hari Yang Di Nanti
20
Ketika Acara Dimulai
21
Ketika Acara Berlangsung
22
Mengungkap Rahasia
23
Kejutan
24
Acara Santai
25
Sikap Yang Berbeda
26
Melepas Penat
27
Sebuah Gosip
28
Satu Lawan Dua
29
Rasa Kecewa Dan Sesal
30
Konspirasi
31
Melepas Penat
32
Dihadang Mantan
33
Tak Berkutik
34
Sebuah Cerita
35
Masa Lalu Erik
36
Persiapan Ke Kantor
37
Kakek Yang Meresahkan
38
Tuntutan Karir
39
Tidak Ada Bedanya
40
Teka Teki Naura
41
Masih Gaduh
42
Keceplosan
43
Keputusan Mutlak
44
Menjelang Petang
45
Godaan
46
Di Kediaman Alex
47
Masih Di Rumah Alex
48
Kembali Ke Kantor
49
Insiden?
50
Mungkinkah?
51
Rasa Curiga
52
Mengungkap Fakta
53
Terinsipirasi
54
Nasib Mereka
55
Masih Di Kediaman Erik
56
Semua Menginginkan Erik
57
Libur Kerja
58
Menikmati Hari Libur
59
Aksi Penggoda
60
Modus
61
Dalam Perjalanan Pendekatan
62
Kencan Tanpa Ikatan
63
Diganggu Lagi
64
Menggali Informasi
65
Masih Menikmati Waktu Berdua
66
Viral Lagi
67
Sebuah Keputusan
68
Rasa Penasaran
69
Kembali Ke Kantor
70
Konferensi Pers
71
Naura Yang Sebenarnya
72
Tak terduga
73
Sebuah Siasat
74
Kecurigaan Namira
75
Yang Sebenarnya
76
Berpacu dengan Pengganggu
77
Mengecoh Pengganggu
78
Lolos Dari Pengganggu
79
Adu Sandiwara
80
Masih Adu Sandiwara
81
Misi Berikutnya
82
Genting
83
Jalan Keluar
84
Menangkap Target
85
Akhir Dari Perjuangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!