Jam Makan Siang

Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Di sebuah, lorong, nampak seorang pemuda duduk sendirian sembari menikmati bekal yang dia bawa. Pemuda itu nampak begitu lahap, menikmati hidangan yang dia bawa dari rumah.

Namun ketenangan pemuda itu terusik, kala dirinya menyadari ada orang lain yang berdiri tepat di hadapannya. Bahkan orang itu dengan sengaja menendang bekal si pemuda hingga tumpah.

Pemuda itu mendongak, tapi tidak melakukan apapun dan hanya bisa menahan amarah dalam benaknya.

"Apa! Mau melawan!" ujar pria bertubuh kekar sinis. Dia lalu menyeringai dan menekuk salah satu kakinya. "Sekarang, Erik sudah berhasil saya singkiran. Sebentar lagi, giliran kamu yang akan aku buat tidak betah bekerja di kantor ini. Kamu siap bukan?"

Pemuda itu tetal terdiam. Sama sekali tidak ingin menanggapi tiga orang rekan kerjanya, yang gemar mengganggu.

Setelah memberi ancaman, pria bertubuh kekar itu segera pergi bersama dua rekannya sambil terbahak bersama-sama.

Pemuda yang biasa dipanggil Jojo, hanya bisa mendengus kesal. Namun, saat itu juga, dia jadi teringat Erik karena anak itu tidak ada kabar sama sekali sampai siang ini.

"Apa mungkin, Erik beneran mencuri jam tangan itu?" Jojo bergumam, lalu dia menatap bekalnya yang berserakan di lantai. Jojo menghela nafas panjang kemudian dia segera membersihkan tempat itu.

"Kamu nggak apa-apa?"

Jojo yang sedang membersihkan makanan sontak mendongak, begitu mendengar ada yang bertanya kepadanya. Anak muda itu tersenyum.

"Sudah biasa diginiin, kan," ucap Jojo pada rekan satu profesinya. "Kamu kesini mencari Erik?"

Orang itu malah terperanjat dan nampak salah tingkah. Dia segera turun tangan membantu Jojo. "Tidak," bantahnya. "Aku tadi kebetulan lewat aja."

Jojo mencibir. "Kalau beneran mencari Erik juga nggak apa-apa. Kamu takut, aku cemburu?"

Orang itu malah tersenyum lebar. "Orang udah ngomong jujur. Lagian kan, tadi aku lihat, Erik pergi bersama Tuan besar dan Tuan Alex."

"Iya juga ya?" Jojo pun malah tertawa.

"Apa benar, Erik mencuri, Jo?" sosok itu bertanya sembari duduk di lantai dan bersandar pada dinding.

"Menurutmu?" bukannya menjawab, Jojo malah melempar pertanyaan sembari memunguti sisa makanan yang berserakan di lantai.

"Aku sih tidak percaya. Soalnya tadi pagi, aku perhatikan, Erik langsung ke ruangan Tuan besar, setelah sia ganti seragam."

"Cie.. yang diam-diam memperhatikan?" ledek Jojo sampai lawan bicaranya kembali salah tingkah. "Kalau suka tuh bilang, Naura. Tidak perlu dipendam gitu."

"Tahu ah, orang lagi bahas apa, kamu malah melenceng kemana-kama," sosok Naura merasa kesal. "Lagian aku juga tahu, Erik udah punya cewek."

"Ceilahh, udah kaya detektif aja nih," Jojo semakin semangat meledek wanita itu. "Berarti kamu tahu juga dong kalau semalam Erik udah putus?"

"Hah! Putus lagi?" Naura malah terkejut.

Kening Jojo malah berkerut. "Kamu tahu, Erik punya pacar lagi? Astaga!," Jojo sampai geleng-geleng kepala.

"Hanya kebetulan tahu, Jo. Jangan salah paham," kilah Naura.

"Hahaha... padahal kan, Erik termasuk baru kerja di sini, kok kamu bisa tahu ya, Nau?" ledek Jojo.

"Loh, tempatku kan dekat sama kampungnya. Terus sekolahku dulu berhadapan. Wajar kan kalau aku cukup mengenalnya," sungut Naura membela diri.

Jojo kembali senyum-senyum meledek. "Jadi kamu sudah lama memendam rasa sama Erik, astaga!"

"Apaan sih, Jo," Naura semakin salah tingkah dibuatnya.

"Pantes, sejak Erik kerja di sini, kamu kaya lebih sering pakai make up. Meskipun tipis tapi kelihatan beda dikit sih."

"Tahu, ah, Jo. Kamu itu malah ngeledekin mulu," Naura cemberut tapi Jojo malah terbahak cukup kencang. "Tapi kasihan Erik, Jo. Dia pasti difitnah."

Tawa Jojo berangsur reda. "Aku juga mikirnya gitu. Apa lagi sekarang, dia pergi sama Tuan besar. Apa mungkin, Erik langsung ditindak?"

Naura menggeleng. "Kurang tahu, Jo. Bogo dan gerombolannya pasti seneng banget kalau sampai Erik terbukti bersalah. Bikin geram aja, mereka semua."

Jojo tersenyum masam. "Mungkin, aku juga bakalan keluar kalau Erik nggak ada. Bukannya aku takut sama Bogo, tapi aku muak melihat tingkah mereka. Mentang-mentang saudaranya jadi Manager di sini, dia belagu banget kaya yang punya perusahaan."

"Ya begitulah," balas Naura. "Kata para senior, sebelum kamu kerja di sini, Bogo emang suka begitu. Membully karyawan pria yang baru."

"Benar-benar keterlaluan. Semoga aja, besok ada keajaiban. Aku ingin Bogo dan gerombolannya dapat hukuman yang pas."

"Hahaha ... doa kamu buruk banget, Jo."

"Biarin, abisnya mereka udah keterlaluan."

Naura mengangguk setuju.

Sedangkan anak muda yang sedang dibicarakan kedua orang itu, kini malah dilanda dilema. Begitu mendengar niat Ayahnya yang akan mengumumkan Erik sebagai anak Castilo, pemuda itu terdiam karena rasa terkejut yang menderanya.

"Apa ayah serius?" tanya Erik untuk memastikannya.

"Kalau tidak serius, buat apa Ayah bilang seperti itu?" jawab Castilo. "Setidaknya, ini untuk menutup mulut mereka yang suka menghina kamu dan Ibumu. Mereka harus tahu, siapa kalian yang sebenarnya."

Erik terdiam. Dia juga tadi sempat berpikir seperti ayahnya. Namun Erik tidak menyangka, ayahnya akan mengambil tindakan secepat itu.

"Jangan terlalu bimbang, Erik. Dari sekarang, kamu harus belajar tegas. Terutama, pada diri kamu sendiri," ucap Castilo yang seakan mengerti kegundahan anaknya.

"Erik kan memang memiliki hati yang lembut," celetuk Namira dari pintu masuk. "Jangan ajarin anakku untuk bersikap kejam," wanita itu melangkah masuk sembari memperhatikan kamar anaknya.

"Astaga! Tegas sama kejam itu beda, Sayang," lagi-lagi Castilo harus menahan sabar menghadapi sikap istrinya yang belum stabil.

"Emang kamu mau anak kita ditindas orang lain?"

"Ditindas? Apa maksud kamu?" tanya Namira menatap tajam suaminya.

Castilo sendiri malah melempar pandangan ke arah Erik. "Kamu tidak cerita, kalau kamu sering dibully di kantor?"

"Apa!" Namira memekik lalu, melangkah anaknya. "Beneran, Rik? Kamu sering dibully?"

Erik malah seperti orang bingung. "Ayah tahu dari mana?"

"Jadi beneran, kamu sering dibully? Astaga!" ucap Namira lagi, syok. "Kenapa kamu nggak lawan?"

"Dia adiknya manager pemasaran, Bu. Aku mana berani melawannya," terang Erik.

"Kan, kamu anak pemilik perusahaan. Kamu lebih berkuasa dari mereka dong," Namira tak mau kalah.

"Loh? Aku kan baru tadi pagi kalau aku ini anak Ayah. Itu aja, gara-gara aku dituduh mencuri," adu Erik. Seketika Namira langsung melayangkan tatapan tajam.

"Kamu menuduh anakku mencuri? Ayah kurang ajar kamu yah!. Sama anak sendiri main tuduh aja! Semiskin-semiskinnya kita, pantang untuk mencuri, tahu!" Namira bersiap menabok suaminya.

"Iya-iya, Ayah yang salah. Ayah minta maaf," Castilo benar-benar dibuat takut oleh istrinya. "Maka itu, besok, Ayah akan mengenalkan kalian pada dunia, biar mereka tahu, siapa kalian sebenarnya."

Namira langsung mencibir, lalu dia menarik tangan anaknya. "Ayo, Rik, kita makan. Gara-gara dia, tenaga ibu jadi terkuras habis karena marah- melulu."

"Loh, Sayang, aku yang beli makanan, kenapa nggak di ajak makan?" Castilo terlihat mengenaskan. "Astaga!"

Terpopuler

Comments

Aries suratman Suratman

Aries suratman Suratman

Castillo kalo masalah Bisnis Dan kekayaan memang Tak diragukan... tapi kalo Sang Ratu lagi Marah dan kecewa....Sang Raja cuma bisa Apa... mengalah dan menurunkan gengsi jalan terbaik...👍💪💪💪

2025-03-10

0

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

Castillo tak berkutik di depan istrinya hehehe...wanita adalah makhluk terkuat di bumi ya Castillo, harap maklum.

2025-01-27

0

Fhebrie

Fhebrie

Castillo sangking bucinnya sama namira jadi kelihatan blo'onnya 🤣🤣

2024-12-16

1

lihat semua
Episodes
1 Kembali Dikhianati
2 Hari Yang Sial
3 Sikap Tak Biasa
4 Mencari Informasi
5 Sebuah Fakta
6 Cerita Masa Silam
7 Hinaan Yang Sering Datang
8 Niat Erik
9 Sebuah Bukti
10 Dua Anak Yang Lain?
11 Penjelasan Castilo
12 Jam Makan Siang
13 Kebersamaan Yang Dirindukan
14 Gempar
15 Ketika Malam Menjelang
16 Membungkam Dengan Elegan
17 Setelah Kejadian
18 Hari Berikutnya
19 Hari Yang Di Nanti
20 Ketika Acara Dimulai
21 Ketika Acara Berlangsung
22 Mengungkap Rahasia
23 Kejutan
24 Acara Santai
25 Sikap Yang Berbeda
26 Melepas Penat
27 Sebuah Gosip
28 Satu Lawan Dua
29 Rasa Kecewa Dan Sesal
30 Konspirasi
31 Melepas Penat
32 Dihadang Mantan
33 Tak Berkutik
34 Sebuah Cerita
35 Masa Lalu Erik
36 Persiapan Ke Kantor
37 Kakek Yang Meresahkan
38 Tuntutan Karir
39 Tidak Ada Bedanya
40 Teka Teki Naura
41 Masih Gaduh
42 Keceplosan
43 Keputusan Mutlak
44 Menjelang Petang
45 Godaan
46 Di Kediaman Alex
47 Masih Di Rumah Alex
48 Kembali Ke Kantor
49 Insiden?
50 Mungkinkah?
51 Rasa Curiga
52 Mengungkap Fakta
53 Terinsipirasi
54 Nasib Mereka
55 Masih Di Kediaman Erik
56 Semua Menginginkan Erik
57 Libur Kerja
58 Menikmati Hari Libur
59 Aksi Penggoda
60 Modus
61 Dalam Perjalanan Pendekatan
62 Kencan Tanpa Ikatan
63 Diganggu Lagi
64 Menggali Informasi
65 Masih Menikmati Waktu Berdua
66 Viral Lagi
67 Sebuah Keputusan
68 Rasa Penasaran
69 Kembali Ke Kantor
70 Konferensi Pers
71 Naura Yang Sebenarnya
72 Tak terduga
73 Sebuah Siasat
74 Kecurigaan Namira
75 Yang Sebenarnya
76 Berpacu dengan Pengganggu
77 Mengecoh Pengganggu
78 Lolos Dari Pengganggu
79 Adu Sandiwara
80 Masih Adu Sandiwara
81 Misi Berikutnya
82 Genting
83 Jalan Keluar
84 Menangkap Target
85 Akhir Dari Perjuangan
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Kembali Dikhianati
2
Hari Yang Sial
3
Sikap Tak Biasa
4
Mencari Informasi
5
Sebuah Fakta
6
Cerita Masa Silam
7
Hinaan Yang Sering Datang
8
Niat Erik
9
Sebuah Bukti
10
Dua Anak Yang Lain?
11
Penjelasan Castilo
12
Jam Makan Siang
13
Kebersamaan Yang Dirindukan
14
Gempar
15
Ketika Malam Menjelang
16
Membungkam Dengan Elegan
17
Setelah Kejadian
18
Hari Berikutnya
19
Hari Yang Di Nanti
20
Ketika Acara Dimulai
21
Ketika Acara Berlangsung
22
Mengungkap Rahasia
23
Kejutan
24
Acara Santai
25
Sikap Yang Berbeda
26
Melepas Penat
27
Sebuah Gosip
28
Satu Lawan Dua
29
Rasa Kecewa Dan Sesal
30
Konspirasi
31
Melepas Penat
32
Dihadang Mantan
33
Tak Berkutik
34
Sebuah Cerita
35
Masa Lalu Erik
36
Persiapan Ke Kantor
37
Kakek Yang Meresahkan
38
Tuntutan Karir
39
Tidak Ada Bedanya
40
Teka Teki Naura
41
Masih Gaduh
42
Keceplosan
43
Keputusan Mutlak
44
Menjelang Petang
45
Godaan
46
Di Kediaman Alex
47
Masih Di Rumah Alex
48
Kembali Ke Kantor
49
Insiden?
50
Mungkinkah?
51
Rasa Curiga
52
Mengungkap Fakta
53
Terinsipirasi
54
Nasib Mereka
55
Masih Di Kediaman Erik
56
Semua Menginginkan Erik
57
Libur Kerja
58
Menikmati Hari Libur
59
Aksi Penggoda
60
Modus
61
Dalam Perjalanan Pendekatan
62
Kencan Tanpa Ikatan
63
Diganggu Lagi
64
Menggali Informasi
65
Masih Menikmati Waktu Berdua
66
Viral Lagi
67
Sebuah Keputusan
68
Rasa Penasaran
69
Kembali Ke Kantor
70
Konferensi Pers
71
Naura Yang Sebenarnya
72
Tak terduga
73
Sebuah Siasat
74
Kecurigaan Namira
75
Yang Sebenarnya
76
Berpacu dengan Pengganggu
77
Mengecoh Pengganggu
78
Lolos Dari Pengganggu
79
Adu Sandiwara
80
Masih Adu Sandiwara
81
Misi Berikutnya
82
Genting
83
Jalan Keluar
84
Menangkap Target
85
Akhir Dari Perjuangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!