Niat Erik

"Bagaimana ini, Bram?" Victoria nampak begitu panik.

Sebelum menjawab, Bram meminta wanita yang bersamanya untuk menyingkir. Tangan pria itu meraih handuk yang tersampir di sandaran sofa dan melilitkannya di pinggang.

"Bagaimana dengan nasib Morgan?" Victoria kembali bersuara. "Kalau Castilo menemukan anaknya, maka Morgan bakalan gagal menjadi hasil waris."

"Sudahlah, kita harus tetap tenang. Kita lihat dulu, perkembangannya bagaimana," ucap Bram. "Apa Natalia sudah tahu?"

Victoria menggeleng. "Sepertinya dia belum tahu. Apa sebaiknya kita beri tahu dia?"

"Buat apa?" tanya Bram setelah menyalakan sebatang rokok mahalnya. "Bukankah dia juga sedang mengincar hartanya Castilo?"

"Setidaknya, kita bisa memperalat dia untuk memperkeruh hubungan Castilo dan istrinya. Biar bagaimana pun Natalia juga pernah menjadi istri Castilo. Pasti dia bisa menggunakan fakta itu untuk senjatanya."

Bram terdiam. Dihisapnya rokok di tangan dalam-dalam, lalu mengepulkan asapnya ke sembarang arah.

"Ya sudah, kita pantau aja dulu. Kalau keadaannya membahayakan kita, baru kita bertindak," ucap Bram.

Victoria mengangguk pelan dengan pikiran menerawang kemana-mana. "Aku pikir, Castilo sudah percaya kalau anaknya sudah mati. Ternyata diam-diam dia masih mencarinya."

"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan yang sudah terjadi. Sekarang, kita fokus aja, rencana kita berikutnya. Kalau Morgan tidak mendapatkan harta Castilo, kita harus pakai cara lain untuk merebutnya."

Victoria kembali mengangguk pelan.

####

Sementara itu, Erik kini sidah berada dalam satu mobil bersama Alex. Sesuai dengan perintah, Erik hanya mengemas barang yang penting-penting saja, termasuk barang-barang milik Ibunya. Barang-barang lainnya, Erik serahkan kepada para tetangganya.

Ada perasaan sedih dalam hati Erik kala meninggalkan kampung tersebut. Meskipun ucapan para tetangganya kadang terdengar menyakitkan. Namun para tetangganya juga yang sering membantu Erik dan Ibunya jika mereka dalam kesusahan.

Erik juga masih tidak menyangka, kalau Castilo yang namanya sangat terkenal, adalah ayah kandungnya. Di saat dia sedang memikirkan hal tersebut, Erik tiba-tiba teringat akan sesuatu.

"Tuan," panggil Erik pada pria yang memegang kendali mobil.

"Sudah saya katakan berkali-kali, Tuan muda. Anda harus belajar memanggil saya dengan nama saja," protes Alex.

"Aduh, gimana ya? Saya merasa itu kurang sopan, Tuan?" ungkap Erik dan hal itu sukses membuat Alex tersenyum lebar.

"Bukan masalah tidak sopan apa bagaimana. Dalam keluarga Castilo maupun miliarder lainnya, hal ini sudah terbiasa mereka lakukan sebagai majikan."

Kening Erik sedikit berkerut. Lalu dia melempar pandangan me arah lain. "Apa keluarga Tuan besar jumlahnya sangat banyak?"

"Dia ayah anda, Tuan muda," ujar Alex mengingatkan.

Erik tersenyum lebar. "Entahlah. Sudah terbiasa hidup tanpa Ayah, jadi rasanya sangat aneh."

Alex menoleh sejenak, menatap Erik. Lalu dia kembali melempar tatapannya ke arah jalan. "Apa anda marah sama Tuan besar?"

"Saya tidak tahu harus bagaimana. Saat ini saya hanya kepikiran ibu saja. Sejak Kakek meninggal, Ibu yang berjuang sendirian. Dan sekarang tiba-tiba Tuan Castilo muncul dan mengaku sebagai saya. Saya bingung."

Alex yang mendengarnya turut merasa prihatin dan bersalah. Biar bagaimanapun, saat itu dirinya juga ikut andil dengan kepergian Castilo disaat Erik baru berusia hampir tiga tahun.

"Kapan kakek anda meninggal?" tanya Alex lagi. Sejak Erik bercerita dia lupa untuk menanyakan hal tersebut.

"Sebelum kita pindah ke kota ini," jawab Erik.

Alex mengangguk paham. "Lalu, apa kalian sering mendapat hinaan seperti tadi?"

Erik menatap Alex sejenak, lalu dia berpaling.

"Dulu waktu masih ada Kakek. Kakek lah yang selalu melindungi saya dan ibu jika ada yang menghina kami. Tapi sejak Kakek meninggal, Ibu memilih mengabaikan setiap hinaan yang datang. Saya sendiri tidak bisa berbuat banyak karena Ibu selalu memperingatkan. Sebagai anak laki-laki, saya benar-benar merasa tidak ada gunanya buat Ibu."

Alex tersenyum iba. "Terus soal cincin itu, kenapa bisa ada pada anda?"

"Itu juga karena Kakek. Sebenarnya Ibu sudah membuangnya, tapi sama Kakek disimpan karena itu satu-satunya benda kenang-kenangan dari Ayah. Waktu Kakek mulai sakit-sakitan, dia menyerahkannya sama saya."

Alex mengangguk. Sudah cukup banyak informasi yang dia dapat dari anak muda di sebelahnya. Mungkin informasi itu akan dia gunakan jika Castilo nanti bertanya.

"Apa keluarga Tuan besar, akan menerima kedatangan kami?" sekarang tinggal Erik yang bertanya.

"Mau tidak mau, mereka harus menerima kalian. Biar bagaimanapun anda memiliki darah Castilo. Jangan takut."

"Bukannya takut, saya merasa tidak pantas aja berada dalam keluarga kaya itu."

"Maka itu, mulai sekarang, anda harus terbiasa dengan keadaan anda yang merupakan satu-satunya putra Castilo."

"Satu-satunya?" Erik nama kaget mendengarnya. "Bukankah Tuan besar memiliki dua anak laki-laki lagi?"

Alex tersenyum sinis. "Nanti biar Tuan besar yang menjelaskan soal itu."

Erik mengangguk meski hatinya masih diliputi banyak pertanyaan.

Selang beberapa puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Alex memasuki kawasan perumahan elit.

Erik nampak terkejut kala menyaksikan semua rumah mewah yang berjejer di sana. Bukan sampai disitu saja. Rasa terkejut Erik semakin membesar kala mendengar dari mulut Alex, kalau rumah-rumah itu adalah salah satu bisnis milik ayahnya.

"Ini rumah siapa? Kok modelnya berbeda sama yang lain?" tanya Erik kala mobil yang dia tunggangi berhenti tepat di pintu gerbang rumah yang paling besar.

"Ini rumah anda," ucap Alex santai, tapi sukses membuat Erik terperangah.

Begitu pintu gerbang terbuka, mobil kembali bergerak masuk ke dalamnya. Erik pun tidak dapat menyembunyikan kekagumannya melihat keadan rumah mewah tersebut.

"Apa ini semua mobil Tuan besar?" tanya Erik lagi, saat mobil memasuki garasi. Berjejer mobil mewah, berbaris rapi di dalam sana.

"Ya. Milik Tuan besar semua. Tapi sebenarnya, mobil-mobil ini Tuan beli, tepat ditanggal kelahiran anda."

"Apa!"

Alex mengangguk. "Ya, ini hadiah ulang tahun buat anda. Anda bisa mengemudi?"

"Sedikit," jawab Erik dengan pandangan fokus menatap semua mobil yang katanya hadiah ulang tahun untuknya.

Erik begitu takjub, karena selama ini Erik hanya bisa mengkhayal tentang mobil mewah tersebut yang sering dia saksikan di media sosial.

"Jika anda suka motor, di ruang sebelah juga ada beberapa motor yang siap anda gunakan."

"Benarkah?" Alex mengangguk. "Apa saya boleh melihatnya?"

"Tentu. Mari ikut saya."

Begitu turun dari mobil, Alex mengajak Erik melewati pintu penghubung ruangan tersebut. Erik kembali dibuat takjub dengan motor-motor mahal yang berjejer rapi di sana.

"Ini semua juga milik anda."

"Astaga! Apa semua ini masih baru?"

"Tentu. Tidak ada satupun orang yang berani memakainya termasuk mobil. Hanya anda yang berhak menggunakannyam"

Erik merasa tak percaya dengan fakta yang baru saja dia dapatkan.

"Mari masuk, Tuan besar pasti menunggu anda."

Erik mengangguk. Suasana hatinya benar-benar tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tapi satu yang pasti dan akan Erik lakukan, dia akan membalas semua orang yang telah menghinanya, terutama yang suka menghina sang Ibu.

Terpopuler

Comments

Djamiun Sadang

Djamiun Sadang

luar biasa, nasib orang benar,

2024-12-30

0

Okto Mulya D.

Okto Mulya D.

Eric langsung kaya mendadak..

2025-01-26

1

Robiyah Negsa

Robiyah Negsa

lanjut kan.

2024-12-30

0

lihat semua
Episodes
1 Kembali Dikhianati
2 Hari Yang Sial
3 Sikap Tak Biasa
4 Mencari Informasi
5 Sebuah Fakta
6 Cerita Masa Silam
7 Hinaan Yang Sering Datang
8 Niat Erik
9 Sebuah Bukti
10 Dua Anak Yang Lain?
11 Penjelasan Castilo
12 Jam Makan Siang
13 Kebersamaan Yang Dirindukan
14 Gempar
15 Ketika Malam Menjelang
16 Membungkam Dengan Elegan
17 Setelah Kejadian
18 Hari Berikutnya
19 Hari Yang Di Nanti
20 Ketika Acara Dimulai
21 Ketika Acara Berlangsung
22 Mengungkap Rahasia
23 Kejutan
24 Acara Santai
25 Sikap Yang Berbeda
26 Melepas Penat
27 Sebuah Gosip
28 Satu Lawan Dua
29 Rasa Kecewa Dan Sesal
30 Konspirasi
31 Melepas Penat
32 Dihadang Mantan
33 Tak Berkutik
34 Sebuah Cerita
35 Masa Lalu Erik
36 Persiapan Ke Kantor
37 Kakek Yang Meresahkan
38 Tuntutan Karir
39 Tidak Ada Bedanya
40 Teka Teki Naura
41 Masih Gaduh
42 Keceplosan
43 Keputusan Mutlak
44 Menjelang Petang
45 Godaan
46 Di Kediaman Alex
47 Masih Di Rumah Alex
48 Kembali Ke Kantor
49 Insiden?
50 Mungkinkah?
51 Rasa Curiga
52 Mengungkap Fakta
53 Terinsipirasi
54 Nasib Mereka
55 Masih Di Kediaman Erik
56 Semua Menginginkan Erik
57 Libur Kerja
58 Menikmati Hari Libur
59 Aksi Penggoda
60 Modus
61 Dalam Perjalanan Pendekatan
62 Kencan Tanpa Ikatan
63 Diganggu Lagi
64 Menggali Informasi
65 Masih Menikmati Waktu Berdua
66 Viral Lagi
67 Sebuah Keputusan
68 Rasa Penasaran
69 Kembali Ke Kantor
70 Konferensi Pers
71 Naura Yang Sebenarnya
72 Tak terduga
73 Sebuah Siasat
74 Kecurigaan Namira
75 Yang Sebenarnya
76 Berpacu dengan Pengganggu
77 Mengecoh Pengganggu
78 Lolos Dari Pengganggu
79 Adu Sandiwara
80 Masih Adu Sandiwara
81 Misi Berikutnya
82 Genting
83 Jalan Keluar
84 Menangkap Target
85 Akhir Dari Perjuangan
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Kembali Dikhianati
2
Hari Yang Sial
3
Sikap Tak Biasa
4
Mencari Informasi
5
Sebuah Fakta
6
Cerita Masa Silam
7
Hinaan Yang Sering Datang
8
Niat Erik
9
Sebuah Bukti
10
Dua Anak Yang Lain?
11
Penjelasan Castilo
12
Jam Makan Siang
13
Kebersamaan Yang Dirindukan
14
Gempar
15
Ketika Malam Menjelang
16
Membungkam Dengan Elegan
17
Setelah Kejadian
18
Hari Berikutnya
19
Hari Yang Di Nanti
20
Ketika Acara Dimulai
21
Ketika Acara Berlangsung
22
Mengungkap Rahasia
23
Kejutan
24
Acara Santai
25
Sikap Yang Berbeda
26
Melepas Penat
27
Sebuah Gosip
28
Satu Lawan Dua
29
Rasa Kecewa Dan Sesal
30
Konspirasi
31
Melepas Penat
32
Dihadang Mantan
33
Tak Berkutik
34
Sebuah Cerita
35
Masa Lalu Erik
36
Persiapan Ke Kantor
37
Kakek Yang Meresahkan
38
Tuntutan Karir
39
Tidak Ada Bedanya
40
Teka Teki Naura
41
Masih Gaduh
42
Keceplosan
43
Keputusan Mutlak
44
Menjelang Petang
45
Godaan
46
Di Kediaman Alex
47
Masih Di Rumah Alex
48
Kembali Ke Kantor
49
Insiden?
50
Mungkinkah?
51
Rasa Curiga
52
Mengungkap Fakta
53
Terinsipirasi
54
Nasib Mereka
55
Masih Di Kediaman Erik
56
Semua Menginginkan Erik
57
Libur Kerja
58
Menikmati Hari Libur
59
Aksi Penggoda
60
Modus
61
Dalam Perjalanan Pendekatan
62
Kencan Tanpa Ikatan
63
Diganggu Lagi
64
Menggali Informasi
65
Masih Menikmati Waktu Berdua
66
Viral Lagi
67
Sebuah Keputusan
68
Rasa Penasaran
69
Kembali Ke Kantor
70
Konferensi Pers
71
Naura Yang Sebenarnya
72
Tak terduga
73
Sebuah Siasat
74
Kecurigaan Namira
75
Yang Sebenarnya
76
Berpacu dengan Pengganggu
77
Mengecoh Pengganggu
78
Lolos Dari Pengganggu
79
Adu Sandiwara
80
Masih Adu Sandiwara
81
Misi Berikutnya
82
Genting
83
Jalan Keluar
84
Menangkap Target
85
Akhir Dari Perjuangan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!