Bab 19

Lazarus menatap dingin Dominict.

"Aku tidak akan membiarkanmu melewati perbatasan ini, Lazarus." Dominict bangkit dengan susah payah, dengan bertumpu pada pedangnya.

Lazarus tersenyum puas saat melihat Dominict masih memiliki kekuatan untuk menatapnya. Dengan keahlian yang dimilikinya, Lazarus melancarkan serangannya dengan penuh kekuatan, membuat Dominict terpental ke belakang namun tetap kuat berdiri.

"Kau..." Lazarus, menatap Dominict dingin dengan senyum senang.

"Aku... Tidak pernah menganggap mu musuh ku, kau... Masih Lazarus yang sama yang aku kenal dulu."

Dengan nafas tersengal, Dominict berusaha bangkit meski dengan susah payah dengan tatapan tajam Dominict mengangkat pedangnya tanda Dominict menantang Lazarus.

"Tapi... Jika ini jalan yang kau pilih... Aku akan melawanmu... Demi melindungi kerajaan ini... Aku akan menukarnya dengan nyawaku!!" ucap, Dominict penuh keyakinan.

Tanpa menghiraukan sakit di tubuhnya, Dominict menghunuskan pedangnya dan menerjang Lazarus.

Meski dalam keadaan lemah, itu tak mengurangi keakuratan serangan yang Dominict lancarkan.

Lazarus, tersenyum senang tampak menikmati.

"memang, kemampuanmu tidak mengecewakan jabatanmu, Dominict. Tapi itu masih belum cukup..." Lazarus menyeringai senang.

Sementara itu, Frederick tampak kewalahan menghadapi para tentara bayaran yang membarikade dirinya dan pasukan istana. Ia tidak bisa menembus barikade yang dibuat para tentara bayaran, yang membuat Dominict terpisah dari pasukannya.

"Sial! Kalau begini terus..." Frederick, tampak frustrasi dan mencari cara untuk keluar dari situasi ini.

Lazarus terus melancarkan serangan bertubi-tubi pada Dominict, yang mulai terlihat kelelahan dan hampir kehilangan kesadarannya. Namun, dengan tekad yang kuat, Dominict tetap memaksa dirinya untuk tetap sadar.

Tremor yang dialaminya semakin parah, membuat Dominict kesulitan mengendalikan tangannya dan memegang pedang dengan mantap. Nafasnya tersengal-sengal, menandakan kondisinya semakin memburuk.

Lazarus, menyeringai senang meliat tanda-tanda bahwa tubuh Dominict mulai kritis.

"Dominict... mungkin ini adalah akhir dari perjuanganmu."

Dengan langkah mantap, Lazarus berjalan mendekati Dominict, pedang tegak di tangannya siap mengakhiri pertarungan di antara keduanya. Dengan penuh keputusan, Lazarus mengangkat pedangnya di hadapan Dominict, siap untuk mengakhiri pertarungan ini.

Di sisi lain, prajurit yang Dominict perintahkan kembali ke istana menyampaikan berita penyerangan yang di lakukan oleh tentara bayaran, akhirnya sampai di istana. Dengan terburu-buru ia masuk ke aula istana.

Raja Auguste, yang menerima kabar ini tidak bisa tinggal diam. Dengan tegas ia memerintahkan Thadeus untuk mempersiapkan pasukan bantuan ke perbatasan.

"Apa?! Ini tidak bisa di biarkan! Thadeus, segera siapkan pasukan menuju ke perbatasan!"

Thadeus, mempersiapkan pasukan istana yang telah terlatih dan mengirim bantuan ke perbatasan.

"Jangan sampai mereka menembus pertahanan kerajaan kita!"

Tanpa menunggu lama, Thadeus mempersiapkan pasukan kavaleri istana yang di pimpin oleh Thadeus Alexander Blackwood.

Thadeus adalah wakil dari Dominict, dan orang kepercayaan Dominict. Dengan cepat Thadeus memimpin pasukannya menuju ke perbatasan.

Dari balkon istana Putri Ana, melihat Thadeus berangkat dengan pasukan kavaleri kerajaan melewati gerbang istana. terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah Sanga putri.

"Dominict..."

Putri Ana, tahu betul bahwa jika Dominict sampai meminta bantuan pada Thadeus, maka kondisi yang dialami Dominict sangat serius. Karena selama ini Thadeus hanya menerima perintah dari Dominict saat situasi benar-benar genting.

Dalam setiap pertempuran, Dominict hampir tidak pernah melibatkan Thadeus. Karena Dominict mampu mengatasi setiap situasi dan kemungkinan di medan perang dengan sempurna. Sehingga Thadeus lebih sering menjalankan tugas yang terpisah dari Dominict.

...~o0o~...

Dominict, masih terus berjuang melawan Lazarus, yang menyerangnya dengan kekejaman. Dominict merasakan beberapa pukulan keras mendarat di tubuhnya yang mengakibatkan beberapa tulang rusuk dan lengan kirinya patah, namun hal itu tidak membuatnya menyerah dalam pertempuran.

Di sisi lain, pasukan Dominict semakin menyusut. Dominict sadar betul bahwa hal ini tidak bisa dianggap enteng. Dia harus segera mencari jalan keluar dari situasi yang semakin memburuk ini.

Namun, Dominict sadar bahwa tubuhnya tidak akan mampu bertahan lama akibat efek racun di dalam tubuhnya, racun itu membuat Dominict mengalami Tremor, kesulitan bernafas, dan menderita rasa sakit yang tak tertahankan.

Ditambah lagi, Dominict harus tetap bertahan dalam pertempuran meskipun kondisinya sangat kritis.

"Haa... Haa... Haa... Aku tidak boleh mati di sini..."

Dengan nafas yang tersengal-sengal, Dominict masih berusaha bangkit, meski dengan beberapa luka di tubuhnya.

Dominict menatap tajam Lazarus, seolah ia tak ingin melepaskan Lazarus dari penghianat yang ia lakukan.

"Kau memang memiliki pandangan yang tajam, Dominict... Tapi... Itulah yang membuatku tidak menyukaimu." Ucap, Lazarus dingin.

"Aku akan mengakhiri semua ini."

Dangan nafas tersengal, Dominict berusaha bangkit, di tengah kondisi yang sulit ia masih berusaha bangkit dan melawan Lazarus.

"Aku... tidak semudah itu kau kalahkan, Lazarus. Demi kehormatan dan kerajaanku... Aku akan mempertaruhkan segalanya yang aku miliki." Kata, Dominict penuh keyakinan.

Dominict, kembali menyerang Lazarus meski beberapa tulangnya telah remuk akibat serangan Lazarus sebelumnya. Namun itu tak menghentikan Dominict.

"baiklah, kita lihat sampai di mana kau akan mampu melawanku."

Lazarus, yang tak gentar menghadapi serangan Dominict, menyambutnya dengan sekali ayunan pedang yang mematikan, mengakhiri pertarungan dengan satu serangan tajam.

Dominict, yang terkena tikaman telak di dada, terdorong mundur sambil memuntahkan darah. Meskipun tersiksa oleh rasa sakit, Dominict tetap menatap Lazarus dengan tekad yang tak tergoyahkan.

Lazarus, tersenyum puas, melihat Dominict masih memiliki kekuatan untuk menatapnya. Lazarus memperdalam serangannya hingga menembus tubuh Dominict, dan seketika membuat Dominict mengerang kesakitan.

"AARGK!!"

Tampak terukir senyuman bak iblis di wajah Lazarus. Ia tahu, bahwa dia telah membunuh teman karib yang dulu pernah mendukungnya.

"La...zarus...."

Dominict, sempat menatap Lazarus sesaat sebelum Lazarus menarik pedangnya dari tubuh Dominict.

Untuk beberapa saat, Frederick melihat kejadian itu seolah tak percaya bahwa Jendral-nya berhasil di bunuh, yang membuat Frederick tak memiliki pilihan selain menyerah.

Thadeus memacu kudanya dengan cepat hingga sampai di benteng perbatasan saat fajar mulai menyingsing, dan dihadapkan pada pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Sementara itu, Thadeus memacu kudanya dengan cepat bersama pasukan bantuan dari istana menuju ke perbatasan.

"Jendral, aku harap tidak terjadi hal buruk padamu." Batin, Thadeus.

Thadeus memacu kudanya dengan cepat hingga sampai di benteng perbatasan saat fajar mulai menyingsing, dan disana Thadeus dihadapkan pada pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Jendral...."

Mata Thadeus terbelalak melihat Dominict yg telah di kalahkan oleh Lazarus. Lazarus menghujamkan pedangnya di dada Dominict hingga menembus ke punggungnya.

"Jendral!!"

Lazarus, setelah berhasil menghabisi Dominict. kemudian Lazarus menarik pedangnya dari tubuh Dominict, dan menarik mundur pasukannya bersamaan dengan tibanya, Thadeus bersama pasukan bantuan dari istana.

"Jendral!"

Lazarus menyeringai licik setelah berhasil mengalahkan Dominict. Lazarus menunjukan senyum kemenangan.

Thadeus yang baru tiba meliat Dominict, Sang Jendral telah tergeletak dalam keadaan kritis, dengan luka menganga di dadanya dan darah yang terus merembes dari luka di dadanya.

"Jendral! Bertahanlah!"

Saat itu, Thadeus menyadari kalau ada yang aneh dengan tubuh Dominict. Ia menyadari Dominict telah di racun.

"Chi! Bagaimana ini bisa terjadi?" Gumam, Thadeus melihat kondisi Dominict yang memperihatinkan.

"Tuan Thadeus! Apa kita akan mengejar mereka?" Tanya, Frederick.

"Tidak, lebih baik kita mundur. Ini bukan saat yang tepat untuk melawan mereka, sekarang yang terpenting adalah keselamatan Jendral Dominict."

Thadeus, memerintahkan pasukannya mundur bersama pasukan militer istana yang masih tersisa.

Kemudian dengan hati-hati, Thadeus memeriksa luka Dominict dan memberikan bantuan pertama untuk menghentikan pendarahan pada tubuh Dominict yang semakin lemah.

"Racunnya, menyebar dengan cepat." Thadeus berusaha keras untuk menghentikan pendarahan pada luka Dominict yang terus mengeluarkan darah, sebelum akhirnya ia membawa Dominict kembali ke benteng pertahanan untuk mendapatkan perawatan medis.

Di benteng pertahanan, Elara melihat Thadeus kembali bersama Dominict, Elara terkejut melihat Dominict kembali dengan pasukannya dengan kondisi terluka parah.

"Jendral!!" Elara menghampiri Dominict yang di papah oleh Thadeus.

"Tangani luka Jendral Dominict! aku akan segera membawanya kembali ke istana!" perintah Thadeus tegas.

"T...tapi... Jendral Dominict, tidak bisa melakukan perjalan jauh dengan kondisi seperti ini..."

"Lakukan perintahku dengan cepat, dan jangan banyak bicara! Sebelum semuanya terlambat racun dalam tubuhnya harus segera di netralisir.

"Racun?! Apa mungkin..." Elara, terkejut dan terdiam dengan pernyataan Thadeus, sepertinya Elara menyadari dengan apa yang ia tambahkan dalam teh yang sempat Elara sajikan pada Dominict, namun Elara memilih diam dan tak mengatakan tentang hal itu.

"Lakukan tugasmu dengan cepat!"

"Ba... Baik."

Elara merasa bersalah karena ketidaktahuannya dan dengan penuh penyesalan, ia memberikan perawatan pada luka Dominict.

Elara memeriksa luka di tubuh Dominict dengan hati-hati, berusaha menghentikan pendarahan yang terus mengalir. Namun, usahanya tak mampu mencegah Dominict dari melewati masa kritisnya. Tubuhnya semakin lemah akibat racun yang belum teratasi, memperparah kondisinya.

Sementara itu, di istana, Putri Ana membaca surat yang dikirim oleh seorang prajurit atas nama Dominict. Air matanya berlinang saat membaca isi surat yang penuh makna dari Dominict.

Bersambung......

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!