Bab 16

Elara buru-buru menghampiri Dominict yang terluka, menemukan sebuah anak panah menancap di lengannya. Panik menyelimuti Elara saat ia mendekati Dominict.

"Tidak apa-apa ini hanya luka kecil. Sudah bias terjadi." Kata Dominict mencoba menenangkan Elara yang panik.

"Apanya yang luka kecil! Hari ini lengan besok kaki! Lusa apa lagi?" Omel, Elara mencoba mencabut anak panah yang menancap di lengan Dominict dengan hati-hati.

Dominict memperhatikan Elara yang terus mengomel sambil merawat lukanya. Saat itu Dominict mengingat bagaimana Putri Ana memarahinya saat ia tak sengaja terluka saat latihan di istana.

Flashback.....

"Sudah ku bilang, kan! Hati-hati! Hari ini tangan, besok kaki, lusa apa lagi? Aku rasa setelah ini nyawamu yang akan tercabut dari raga."

"Wah! Tidak ku sangka, Tuan Putri Kerajaan ini ingin Jendral-Nya mati."

"Jika itu terjadi aku tidak akan datang ke upacara pemakaman mu!"

"Meski anda tidak mau, Yang Mulia. Tapi itu adalah tugas anda memberikan penghormatan terakhir pada ku, Sang Jendral Istana. Karena bagaimana pun aku yang melindungi kerajaan ini."

"Huh!! Aku tetap tidak mau."

Dominict sempat melamun sesaat setelah ia melihat persamaan Elara dan Putri Ana yang suka marah-marah saat ia terluka.

Setelah melakukan pertolongan pertama Elara membawa Dominict kembali ke benteng untuk mendapatkan medis.

Sesampainya di benteng, Elara kembali memeriksa luka di lengan Dominict dan memberikan perawatan yang lebih intensif. Setelah melakukan perawatan, Elara membereskan peralatan medisnya di atas meja. Sementara itu Dominict memilih untuk beristirahat.

Elara tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh kekar dan atletis Dominict yang terbuka di hadapannya. Setiap detil dari otot-ototnya membuat mata Elara terus terpaku, terpancar kegodaan yang sulit untuk ditutupi. Meskipun sadar akan perasaannya, pesona sang Jendral tetap membuat Elara terpikat tanpa bisa berbuat banyak.

"Jendral...."

Dengan penuh keinginan, mata Elara menatap Dominict yang sedang beristirahat. Rasa ingin memiliki sang Jendral begitu kuat dalam dirinya, sulit untuk ditahan.

Sampai akhirnya, Elara memberanikan diri menyentuh tubuh atletis Dominict. Mata Elara penuh dengan keimanan yang tak terbendung, menunjukkan kekuatan dorongan yang sulit untuk ditahan.

"Elara, apa yang kau lakukan?"

Dominict membuka matanya karena merasakan tubuhnya di sentuh. Sontak Elara terkejut melihat Dominict terbangun dan memergokinya menyentuh tubuh Sang Jendral tanpa izin.

"Eh?! J..Jendral... Maafkan saya... I..ini tidak seperti yang Jendral pikirkan." Elara tampak sangat gugup dan panik saat Dominict memergokinya.

Dominict menatap Elara dingin akibat perbuatannya ini.

"Jendral... Saya... mencintai Anda... Saya tak bisa berbohong pada diri saya bahwa saya telah jatuh cinta pada anda, saya..." Ungkap, Elara meski ia tahu ini adalah pernyataan cintanya yang kesekian kali pada Dominict, dan ia tahu Dominict sudah pasti akan menolaknya.

Tetapi kali ini, dengan penuh keberanian, Elara memutuskan untuk menggoda Dominict. Dengan gerakan tubuh yang menggoda, Elara mendekat pada Dominict yang terbaring di atas tempat tidur, menciptakan suasana yang sarat dengan hasrat dan ketegangan.

"Apa yang kau lakukan, Elara?"

"Jendral..."

Elara mulai mendekatkan dirinya pada Dominict dan menggodanya dengan sentuhan yang intim, menciptakan ketidaknyamanan dalam diri Dominict.

"Hmm, Elara, ada apa ini? Apa yang sedang kau rencanakan dengan bertindak seperti ini? Jangan lupa diri, Elara." Merasa sedikit terganggu namun juga tergoda dengan sentuhan yang Elara lakukan.

Elara berusaha menyentuh tubuh Dominict dan meraba dadanya dengan penuh keinginan.

"Jendral... Aku tahu bahwa anda juga menginginkannya." Menggoda Dominict.

"Elara, berhentilah sekarang juga! Aku tidak pernah memiliki perasaan untukmu. Jangan sekali-kali menyentuhku dengan cara seperti itu." Dominict menatap Elara tajam dan merasakan amarah memuncak di dalam dirinya

"Kau telah melampaui batas, Elara. Aku hanya memiliki mata untuk wanita yang aku cintai." Lanjut, Dominict dingin.

"Memangnya apa yang anda harapkan dari wanita yang tak pernah mencintai, Anda Jendral?" Elara masih mencoba menggoda Dominict.

Dominict terdiam dan menatap lekat wajah Elara, tampak jelas Dominict tak menyukai topik dan hal yang Elara lakukan saat ini.

Dominict menggertakkan gigi. "Elara, kau berani bicara begitu padaku?Jangan sampai mulutmu mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas." Dominict menatap Elara tajam, tampak jelas Dominict merasa terganggu dengan pertanyaan Elara.

"Aku dan wanita yang aku cintai memiliki hubungan yang jelas, tidak ada tempat untukmu di dalamnya." Dominict merasakan kebencian terhadap perkataan Elara yang semakin memuncak.

"Jangan sekali-kali menyentuh topik tentang hubunganku ataupun kehidupan pribadiku di depanku." Ungkap, Dominict marah.

"Jendral... selama ini aku jatuh cinta padamu... aku sangat mencintaimu...aku..." Elara masih mencoba memaksakan perasaan dan keinginannya pada Dominict.

Dominict menatap Elara dengan dingin. "Elara, itu semua hanyalah ilusi yang kau ciptakan sendiri. Aku tidak pernah memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Jangan harapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi di antara kita." Dominict merasa kesal dengan sikap Elara ini namun masih mencoba untuk tetap menjaga kontrol dirinya.

Namun Dominict jaga merasakan sedikit iba di dalam hatinya. "Segera tinggalkan kamarku, Elara."

Dominict menghela nafas panjang dan meminta Elara untuk segera pergi dan keluar dari kamarnya tanpa menatap Elara sedikitpun.

Kali ini Dominict telah merasa Elara telah melampaui batasan dengan berani bertindak tidak pantas padanya. Dominict tak menyangka Elara akan senekat itu demi cintanya.

Sementara itu Elara yang mendapatkan penolakan dari Dominict, menangis sedih di halaman belakang benteng, ia merasa patah hati dan tak memiliki harapan lagi.

"Putri Anastasya.... Jika aku tak bisa memiliki Jendral maka kau juga tidak akan bisa memilikinya."

Elara mengungkapkan semuanya dengan penuh tekad, jelas terlihat bahwa cinta buatnya telah merasuki hatinya dan memengaruhi dirinya.

Tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul dalam benak Elara untuk menjalankan rencana yang telah lama dipersiapkannya.

"Aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan mu, Jendral." Mengeratkan giginya, Elara tampak tak bisa menerima penolakan dari Dominict.

Tiba-tiba.....

Seseorang membekap mulut Elara dari belakang dan menempelkan sebilah belati di lehernya. ia merasakan dinginnya bilah pisau itu di lehernya hingga membuatnya gemetar.

"Jangan melawan jika kau masih ingin nyawamu selamat!"

Terdengar suara berat seorang pria dari belakang tubuhnya dan berbisik di telinga Elara sambil tetap menempelkan bilah pisau belati di lehernya.

"Ikuti aku! Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu!" Lanjut, pria itu lalu meminta Elara untuk mengikutinya kedalam hutan.

Pria itu membawa Elara masuk ke dalam hutan. Dengan perasaan cemas dan was-was Elara mengikuti pria misterius itu. Dari penampilannya ia seperti seorang kesatria namun tampak di atribut yang yang ia kenakan tak nampak satupun atribut dari kerajaan manapun di tubuhnya.

Sesaat Elara berpikir apa mungkin pria ini ingin membunuhnya. Merasa terancam Elara ingin berbalik dan kembali ke benteng namun, belum sempat Elara melakukan itu pria yang membawanya ini telah mengetahui niatan Elara yang ingin melarikan diri.

"Jangan melakukan hal-hal yang mungkin akan mengancam nyawamu, Nona." Kata pria itu, sepertinya ia menyadari niatan Elara yang ingin melarikan diri.

Mendengar perkataan pria itu Elara menjadi tak memiliki pilihan selain tetap mengikutinya ke dalam hutan yang lebat.

Semakin jauh Elara mengikuti pria itu semakin dalam dan lebat ia menyusuri hutan. Di dalam hati Elara penasaran dengan pria di hadapannya ini.

"Tuan... Anda ingin membawa saya kemana?"

"Sebaiknya kau tidak tahu. Diam dan ikuti saja aku!" Jawab, pria itu dingin.

Sesampainya di tengah hutan, Elara melita seorang pria lain sedang berdiri menunggu mereka. Terlihat dari pakaiannya bahwa pria ini adalah komandan pasukan istana namun Elara tak mengetahui mereka ini dari kerajaan mana karena Elara tak melihat simbol kerajaan mereka di baju zirah yang mereka kenakan.

Lalu pria yang membawa Elara tadi berlutut dan memberi hormat di depan komandannya.

"Aku sudah membawa gadis yang anda minta."

Perlahan pria asing itu mendekati Elara dan membuka jubahnya lalu memberikan sesuatu pada Elara, tampak sebuah kotak kecil yang berhiaskan permata tampak mewah.

kemudian berbisik di telinga Elara.

Sontak Elara terkejut dengan apa isi dari bungkusan itu.

"Gunakan ini! Makan dia akan jadi milikmu selamanya."

Ungkap pria itu lalu menyuruh Elara segera pergi.

Bersambung.......

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!