Bab 15

Hari ini matahari bersinar cerah dan bunga yang bermekaran, angin berhembus lembut menerbangkan tirai-tirai di dalam perpustakaan istana.

Putri Ana tampak memandang keluar jendela entah apa yang mengisi pikirannya. Lalu kembali melihat kertas di meja sepertinya Putri Ana sedang menulis sebuah surat.

Lalu dengan hati-hati Putri Ana memasukan surat yang telah ia tulis dengan hati-hati ke dalam sebuah amplop lalu membubuhkan stempel pribadi yang hanya di miliki oleh Putri Ana. Dengan segera setelah selesai Putri Ana memberikan surat itu pada seorang prajurit agar segera mengirimnya langsung ke perbatasan.

Setiap hari Putri Ana menunggu balasan dari surat yang ia kirim ke perbatasan yang ia tujukan kepada Sang Jendral Istana, Dominict.

Hampir setiap hari Putri Ana mengirim surat dan selalu menunggu dengan sabar balasan surat-surat itu. Namun tak satupun dari surat yang Putri Ana kirim pada Dominict mendapatkan balasan.

Setiap kali ia meliat prajurit yang menerima tugas untuk menatar surat itu kembali ke istana jawab yang Putri Ana terima selalu sama.

"Bagaimana, apa Dominict memberikan balasan dari suratku?" tanya Putri Ana. namun prajurit yang ia tugaskan untuk menyampaikan surat itu pada Dominict hanya menggeleng pelan.

"Jendral tak membalasnya... Tapi saja sudah meminta agar Jendral segera membalas surat dari Anda, Yang Mulia."

"Apa dia sesibuk itu di perbatasan?" pikir, Putri Ana sambil menggenggam surat yang hendak ia kirim.

Sesaat Sang Prajurit menyadari surat yang Putri Ana pegang.

"Yang Mulia, apa surat itu akan anda kirimkan?"

"Eh?! Tidak... Aku akan menyimpannya dulu. kau bisa kembali ke divisimu!"

Kemudian Putri Ana kembali ke ruang belajarnya dan menyimpan surat yang awalnya ia tulis dan ingin ia kirim namun ia urungkan.

"Yang Mulia, Pangeran Benedict ingin bertemu dengan Anda."

Sebastian datang dan memecah keheningan dan membuyarkan lamunan Putri Ana.

"Oh... Iya."

Tak lama Pangeran Benedict masuk kedalam ruangan dan duduk di kursi di hadapan Putri Ana.

"Ana, akhir-akhir ini kau lihat kau sering sekali murung, ada apa?"

Pangeran Benedict tampak khawatir dan memegang lembut tangan Putri Ana.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."

Putri Ana tampak menyembunyikan perasaannya saat ini. namun sepertinya Pangeran Benedict mengetahui apa yang Putri Anan coba sembunyikan.

"Tidak apa-apa, kau bisa cerita padaku." Lanjut, Pangeran Benedict.

Tapi sepertinya Putri Ana lebih memilih tak mengatakannya.

"Apa ini karena Dominict?"

"Eh?! tidak kok." Putri Ana tampak mengalihkan pandangannya dari Pangeran Benedict dan tampak jelas Putri Ana sedang gugup.

"Kau... Memang tidak pernah bisa berbohong, Ana." Ucap Pangeran Benedict sambil tersenyum hangat.

"Ana... Aku tahu kau mengkhawatirkan Dominict, tapi..." Pangeran Benedict berhenti sesaat lalu menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Jujur saja aku tidak suka melihatmu dekat dengannya." Ucap, Pangeran Benedict tampak mengalihkan pandangannya kebawah.

Sesaat Putri Ana terdiam tak tahu harus berkata apa.

"Aku sudah lama menyimpan perasaan ini padamu, Ana... Aku... Jujur saja, aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Dominict... Aku... Aku cemburu." Lanjut Pangeran Benedict tampak sedikit kecewa.

"Pangeran..."

"Aku sungguh mencintaimu... Ana..." Ungkap Pangeran Benedict, dengan tulus.

Pangeran Benedict menatap lekat wajah Putri Ana mengharapkan jawaban.

Sesaat Pangeran Benedict menangkap keraguan di wajah Putri Ana, terlihat Putri Ana tak nyaman dengan pernyataan cinta Pangeran Benedict.

"Aku mengerti... Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan ini."

Lalu dengan lembut Pangeran Benedict melepaskan genggaman tangannya dari tangan Putri Ana. Kemudian berdiri dan meninggalkan perpustakaan, tampak jelas di wajah Pangeran Benedict ia kecewa, namun ia tahu bahwa ia tak bisa memaksakan perasaan Putri Ana padanya.

...~o0o~...

Sementara itu di benteng perbatasan, Elara melakukan berbagai cara untuk mendekati Dominict setelah ia tahu bahwa Putri Ana dekat dengan Dominict.

Elara telah bertekad untuk mendapatkan hati Sang Jendral Istana dan tak akan membiarkan siapapun menghalanginya.

Malam ini Elara membaca surat yang di kirim Putri Ana pada Dominict, ia merasa marah dan kesal karena Putri Ana selalu mengirimi Dominict surat. Setelah membaca surat terakhir yang Putri Ana kirim, Elara tak bisa menahan rasa cemburunya terhadap Sang Putri Kerajaan.

"Dia... Tidak akan aku biarkan kau mendekati Jendral Dominict." Gumam, Elara kesal sambil meremas surat dari Putri Ana dengan keras lalu melemparnya ke sebuah kotak kayu yang berisi tumpukan surat yang selama ini Putri Ana kirim pada Dominict.

Ternyata selama ini setiap surat yang Putri Ana kirim, Elara lah yang menerimanya secara diam-diam dan tak pernah memberi tahukannya pada Dominict.

Lalu di dalam kantornya, Dominict tampak sibuk dengan aktivitasnya, dan di sana juga ada Frederick ayah Elara yang selama ini bertugas di benteng perbatasan ini.

"Apa ada surat dari Istana?" Tanya, Dominict masih fokus pada berkas di tangannya.

Untuk sesaat Frederick terdiam sebelum akhirnya ia menjawab. Frederick seperti sedang memikirkan jawaban apa yang akan ia katakan.

"Tidak ada, Jendral. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir ini tidak seperti biasanya aku tidak menerima surat dari istana." Jawab, Dominict masih fokus pada berkas di tangannya.

Sementara itu Frederick tampak gelisah sepertinya ia sedang menutupi sesuatu. Frederick sebenarnya tahu bahwa selama ini Putri Ana mengirim surat pada Dominict namun Elara, putrinya telah menyimpan surat-surat itu tanpa sepengetahuan Dominict.

Malam ini Frederick menemui Elara di kamarnya.

"Sayang, Ayah ingin kau berhenti melakukan ini! Bagaimana jika..."

"Aku tidak bisa, ayah! Aku terlanjur jatuh cinta pada Jendral Dominict... Aku...aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri, ayah." Ungkap, Elara.

"Tapi... Bagaimana jika nanti Jendral Dominict mengetahui semua ini, sayang? Ayah tak ingin kau dalam masalah."

"Ayah... Aku tahu. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi. Aku sangat mencintainya, dan aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk Jendral Dominict." Lanjut, Elara penuh keyakinan.

"Jadi, kau sungguh ingin membuat hubungan Jendral dan Putri Anastasya hancur? Sayang, ayah ingin kau paham apa akan kau lakukan ini!"

Frederick mencoba meyakinkan Elara agar tak melanjutkan tindakannya untuk memisahkan Dominict dan Putri Ana.

"Ayah tahu, Jendral Dominict dan Putri itu tidak memiliki hubungan yang jelas, mereka hanya dekat bukan berarti mereka memiliki hubungan spesial. Dan aku yakin Jendral Dominict akan memilihku."

Elara tampaknya sangat yakin dengan kata-katanya tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi padanya di kemudian hari.

Namun Frederick tak bisa menghentikan keinginan putrinya ini, karena ia tahu Elara memiliki kemauan yang kuat dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.

Dan setelah malam itu, Frederick sering melihat Elara memberikan perhatian khusus pada Dominict demi mendapatkan hati Sang Jendral. Akan tetapi sepertinya Dominict tak menyadari hal itu. Ia masih bersikap biasa dan tak begitu memperdulikan perhatian yang Elara berikan.

Meski Elara sadar Dominict tak pernah memperhatikan dirinya itu tak membuat Elara menyerah untuk mendapatkan hati Dominict.

Hingga suatu hari saat seluruh pasukan melakukan latihan memanah di luar benteng perbatasan, Elara menyusul Dominict ke tempat para prajurit berlatih memanah.

"Jendral Dominict di mana?" Tanya, Elara pada seorang prajurit.

"Eh?! Jendral mengalami insiden... Dan sekarang sedang menerima perawatan."

"A..apa? Dia terluka?! Sekarang Jendral ada di mana?" Elara tampak terkejut dan bergegas untuk menemui Dominict.

Tanpa menunggu lama prajurit itu membawa Elara untuk menemui Dominict. Ia tampak panik saat mendengar Dominict terluka.

"Jendral?!"

Bersambung......

Terpopuler

Comments

Myra Myra

Myra Myra

kasihan putri Ana...elara bahaya...

2024-11-01

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!