Hari ini matahari bersinar cerah dan bunga yang bermekaran, angin berhembus lembut menerbangkan tirai-tirai di dalam perpustakaan istana.
Putri Ana tampak memandang keluar jendela entah apa yang mengisi pikirannya. Lalu kembali melihat kertas di meja sepertinya Putri Ana sedang menulis sebuah surat.
Lalu dengan hati-hati Putri Ana memasukan surat yang telah ia tulis dengan hati-hati ke dalam sebuah amplop lalu membubuhkan stempel pribadi yang hanya di miliki oleh Putri Ana. Dengan segera setelah selesai Putri Ana memberikan surat itu pada seorang prajurit agar segera mengirimnya langsung ke perbatasan.
Setiap hari Putri Ana menunggu balasan dari surat yang ia kirim ke perbatasan yang ia tujukan kepada Sang Jendral Istana, Dominict.
Hampir setiap hari Putri Ana mengirim surat dan selalu menunggu dengan sabar balasan surat-surat itu. Namun tak satupun dari surat yang Putri Ana kirim pada Dominict mendapatkan balasan.
Setiap kali ia meliat prajurit yang menerima tugas untuk menatar surat itu kembali ke istana jawab yang Putri Ana terima selalu sama.
"Bagaimana, apa Dominict memberikan balasan dari suratku?" tanya Putri Ana. namun prajurit yang ia tugaskan untuk menyampaikan surat itu pada Dominict hanya menggeleng pelan.
"Jendral tak membalasnya... Tapi saja sudah meminta agar Jendral segera membalas surat dari Anda, Yang Mulia."
"Apa dia sesibuk itu di perbatasan?" pikir, Putri Ana sambil menggenggam surat yang hendak ia kirim.
Sesaat Sang Prajurit menyadari surat yang Putri Ana pegang.
"Yang Mulia, apa surat itu akan anda kirimkan?"
"Eh?! Tidak... Aku akan menyimpannya dulu. kau bisa kembali ke divisimu!"
Kemudian Putri Ana kembali ke ruang belajarnya dan menyimpan surat yang awalnya ia tulis dan ingin ia kirim namun ia urungkan.
"Yang Mulia, Pangeran Benedict ingin bertemu dengan Anda."
Sebastian datang dan memecah keheningan dan membuyarkan lamunan Putri Ana.
"Oh... Iya."
Tak lama Pangeran Benedict masuk kedalam ruangan dan duduk di kursi di hadapan Putri Ana.
"Ana, akhir-akhir ini kau lihat kau sering sekali murung, ada apa?"
Pangeran Benedict tampak khawatir dan memegang lembut tangan Putri Ana.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
Putri Ana tampak menyembunyikan perasaannya saat ini. namun sepertinya Pangeran Benedict mengetahui apa yang Putri Anan coba sembunyikan.
"Tidak apa-apa, kau bisa cerita padaku." Lanjut, Pangeran Benedict.
Tapi sepertinya Putri Ana lebih memilih tak mengatakannya.
"Apa ini karena Dominict?"
"Eh?! tidak kok." Putri Ana tampak mengalihkan pandangannya dari Pangeran Benedict dan tampak jelas Putri Ana sedang gugup.
"Kau... Memang tidak pernah bisa berbohong, Ana." Ucap Pangeran Benedict sambil tersenyum hangat.
"Ana... Aku tahu kau mengkhawatirkan Dominict, tapi..." Pangeran Benedict berhenti sesaat lalu menarik napas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Jujur saja aku tidak suka melihatmu dekat dengannya." Ucap, Pangeran Benedict tampak mengalihkan pandangannya kebawah.
Sesaat Putri Ana terdiam tak tahu harus berkata apa.
"Aku sudah lama menyimpan perasaan ini padamu, Ana... Aku... Jujur saja, aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Dominict... Aku... Aku cemburu." Lanjut Pangeran Benedict tampak sedikit kecewa.
"Pangeran..."
"Aku sungguh mencintaimu... Ana..." Ungkap Pangeran Benedict, dengan tulus.
Pangeran Benedict menatap lekat wajah Putri Ana mengharapkan jawaban.
Sesaat Pangeran Benedict menangkap keraguan di wajah Putri Ana, terlihat Putri Ana tak nyaman dengan pernyataan cinta Pangeran Benedict.
"Aku mengerti... Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan ini."
Lalu dengan lembut Pangeran Benedict melepaskan genggaman tangannya dari tangan Putri Ana. Kemudian berdiri dan meninggalkan perpustakaan, tampak jelas di wajah Pangeran Benedict ia kecewa, namun ia tahu bahwa ia tak bisa memaksakan perasaan Putri Ana padanya.
...~o0o~...
Sementara itu di benteng perbatasan, Elara melakukan berbagai cara untuk mendekati Dominict setelah ia tahu bahwa Putri Ana dekat dengan Dominict.
Elara telah bertekad untuk mendapatkan hati Sang Jendral Istana dan tak akan membiarkan siapapun menghalanginya.
Malam ini Elara membaca surat yang di kirim Putri Ana pada Dominict, ia merasa marah dan kesal karena Putri Ana selalu mengirimi Dominict surat. Setelah membaca surat terakhir yang Putri Ana kirim, Elara tak bisa menahan rasa cemburunya terhadap Sang Putri Kerajaan.
"Dia... Tidak akan aku biarkan kau mendekati Jendral Dominict." Gumam, Elara kesal sambil meremas surat dari Putri Ana dengan keras lalu melemparnya ke sebuah kotak kayu yang berisi tumpukan surat yang selama ini Putri Ana kirim pada Dominict.
Ternyata selama ini setiap surat yang Putri Ana kirim, Elara lah yang menerimanya secara diam-diam dan tak pernah memberi tahukannya pada Dominict.
Lalu di dalam kantornya, Dominict tampak sibuk dengan aktivitasnya, dan di sana juga ada Frederick ayah Elara yang selama ini bertugas di benteng perbatasan ini.
"Apa ada surat dari Istana?" Tanya, Dominict masih fokus pada berkas di tangannya.
Untuk sesaat Frederick terdiam sebelum akhirnya ia menjawab. Frederick seperti sedang memikirkan jawaban apa yang akan ia katakan.
"Tidak ada, Jendral. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir ini tidak seperti biasanya aku tidak menerima surat dari istana." Jawab, Dominict masih fokus pada berkas di tangannya.
Sementara itu Frederick tampak gelisah sepertinya ia sedang menutupi sesuatu. Frederick sebenarnya tahu bahwa selama ini Putri Ana mengirim surat pada Dominict namun Elara, putrinya telah menyimpan surat-surat itu tanpa sepengetahuan Dominict.
Malam ini Frederick menemui Elara di kamarnya.
"Sayang, Ayah ingin kau berhenti melakukan ini! Bagaimana jika..."
"Aku tidak bisa, ayah! Aku terlanjur jatuh cinta pada Jendral Dominict... Aku...aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri, ayah." Ungkap, Elara.
"Tapi... Bagaimana jika nanti Jendral Dominict mengetahui semua ini, sayang? Ayah tak ingin kau dalam masalah."
"Ayah... Aku tahu. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi. Aku sangat mencintainya, dan aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, termasuk Jendral Dominict." Lanjut, Elara penuh keyakinan.
"Jadi, kau sungguh ingin membuat hubungan Jendral dan Putri Anastasya hancur? Sayang, ayah ingin kau paham apa akan kau lakukan ini!"
Frederick mencoba meyakinkan Elara agar tak melanjutkan tindakannya untuk memisahkan Dominict dan Putri Ana.
"Ayah tahu, Jendral Dominict dan Putri itu tidak memiliki hubungan yang jelas, mereka hanya dekat bukan berarti mereka memiliki hubungan spesial. Dan aku yakin Jendral Dominict akan memilihku."
Elara tampaknya sangat yakin dengan kata-katanya tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi padanya di kemudian hari.
Namun Frederick tak bisa menghentikan keinginan putrinya ini, karena ia tahu Elara memiliki kemauan yang kuat dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.
Dan setelah malam itu, Frederick sering melihat Elara memberikan perhatian khusus pada Dominict demi mendapatkan hati Sang Jendral. Akan tetapi sepertinya Dominict tak menyadari hal itu. Ia masih bersikap biasa dan tak begitu memperdulikan perhatian yang Elara berikan.
Meski Elara sadar Dominict tak pernah memperhatikan dirinya itu tak membuat Elara menyerah untuk mendapatkan hati Dominict.
Hingga suatu hari saat seluruh pasukan melakukan latihan memanah di luar benteng perbatasan, Elara menyusul Dominict ke tempat para prajurit berlatih memanah.
"Jendral Dominict di mana?" Tanya, Elara pada seorang prajurit.
"Eh?! Jendral mengalami insiden... Dan sekarang sedang menerima perawatan."
"A..apa? Dia terluka?! Sekarang Jendral ada di mana?" Elara tampak terkejut dan bergegas untuk menemui Dominict.
Tanpa menunggu lama prajurit itu membawa Elara untuk menemui Dominict. Ia tampak panik saat mendengar Dominict terluka.
"Jendral?!"
Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Myra Myra
kasihan putri Ana...elara bahaya...
2024-11-01
2