Bab 12

" Hebat! Tidak sia-sia kau menjadi Jendral Istana. "

Perlahan Pangeran Benedict muncul dari balik pintu dan memperlihatkan dirinya pada Dominict.

" Apa yang kau inginkan, Yang Mulia? " Dominict berbalik dan menatap tajam mata Pangeran Benedict.

" Aku tahu ini ulahmu, kan? " Dominict masih menatap tajam pada Pangeran Benedict.

" Wah! Langsung tertebak, ya. " Sahut Pangeran Benedict lalu melipat tangannya di dada dan bersandar di depan pintu.

" Ini masih permulaan.... "

Pangeran Benedict berjalan mendekati Dominict, kemudian merangkul bahu Dominict sambil memperlihatkan senyum licik, kemudian berbisik kecil di telinga Dominict.

" Aku bisa saja membuatmu kehilangan kepala jika aku mau, Jendral. " Bisik Pangeran Benedict di telinga Dominict dengan senyuman bak Iblis.

Dominict hanya tersenyum tipis mendengar kata-kata pangeran Benedict.

" Aku tidak akan semudah itu kau kalahkan Pangeran. bahkan.... Aku akan membuatmu berlutut di kakiku, Pangeran. "

kata Dominict menantang Pangeran Benedict.

" Haha.... Lucu sekali. Kita lihat saja seberapa kuat kau bisa membuatku tunduk padamu, Jendral Dominict. " Pangeran Benedict mentang Dominict dengan percaya diri.

Dominict menyeringai licik tampak memiliki rencana pada Pangeran Benedict.

perlahan Dominict mendekatkan bibirnya ke telinga Pangeran dan berbisik.

" Aku tahu rahasia yang kau pendam dalam terhadap Putri Ana, dan alasan kuat kau mau menjalin relasi damai dengan kerajaan ini. Itu karena kau dan Anastasya adalah..... "

Bisik, Dominict pelan di telinga Pangeran Benedict.

Sontak perkataan Dominict membuat Pangeran terkejut namun masih berusaha menjaga sikap dan tetap tenang.

" Jadi, selama ini kau mengetahuinya? "

" Ya, dan itu cukup membuatmu kehilangan segalanya, Pangeran. "

Dominict tersenyum puas melihat reaksi Pangeran Benedict, yang terlihat terkejut karena rahasianya terbongkar.

" ...... Dan sayangnya tinggal menunggu waktu saja untuk Yang Mulia Raja mengetahuinya. "

Lanjut Dominict tersenyum puas.

" Kau mencoba mengancamku dengan kebohongan busuk yang kau buat? "

" Sayangnya ini buka hanya sekedar omong kosong belaka, Pangeran. Awalnya aku juga tidak ingin percaya tapi inilah kenyataan. "

Dominict membuat Pangeran Benedict terpojok dengan kata-katanya.

" Jendral, kau mengatakan itu seolah kau sudah menang dariku. Tapi ingat.... Kesalahanmu kali ini juga cukup membuatmu di copot dari jabatanmu. "

Kata pangeran Benedict lalu melangkah keluar dari ruangan Dominict. di koridor biro militer Pangeran Benedict tampak sangat kesal sampai ia memukul dinding dengan keras hingga membuat tangannya terluka.

" Sial! Bagaimana dia tahu semua itu. aku tidak akan membiarkan dia mengacaukan rencanaku. " Pangeran Benedict mengeram kesal setelah ia tahu Dominict mengetahui rahasianya.

Sementara itu di dalam kantornya, Dominict juga tampaknya tersulut emosi dengan perkataan Pangeran Benedict.

" Aku tidak akan membiarkan kau menjalankan rencana busukmu, Pangeran. "

Dominict mengepalkan tangannya dengan kuat, tampak raut kekesalan dan marah di wajahnya.

Tiba-tiba...

Terdengar ketukan di jendela kaca di samping kiri ruangan Dominict yang menghadap ke taman istana. Lalu Dominict menoleh ke jendela dan melihat Putri Ana disana sedang mengetuk jendela ruang kantornya.

" Yang Mulia?! apa yang Anda lakukan? "

Dominict terkejut begitu ia melihat Putri Ana yang mengetuk jendela dan berusaha masuk dari jendela ruangan kantor Dominict.

" Sssttt!! Buka jendelanya!! "

Putri Ana memberi isyarat agar tidak berik dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir sebagai isyarat agar Dominict tak berisik.

" Apa yang kau lakukan di sini? " Tanya, Dominict sedikit panik saat melihat Putri Ana yang mencoba masuk dari jendela.

Dominict mendekat lalu membuka jendela dengan perlahan.

" Dominict.... Aku... Eh?! "

" Masuk!! " Dominict, menarik tangan Putri Ana dan membawanya masuk kedalam kantornya sebelum ada yang melihat Putri Ana yang mengendap-endap ke kantornya.

" Apa yang kau lakukan di sini bagaimana kalau ada yang melihatmu di sini? " Kata, Dominict.

" A.. Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja, aku tidak bisa lewat pintu depan di sana ada penjaga. jadi..... kau baik-baik saja, kan? " Jelas, Putri Ana.

Dominict tampak memijat pelipisnya sambil menghela nafas panjang tampak dia sangat frustrasi dengan tingkah Putri Ana ini.

" Aku benar-benar akan kehilangan jabatanku kalau begini caranya. "

" kau bilang apa? " Tanya, Putri Ana tampak dak mendengar Dominict yang menggumam.

Putri Ana melihat luka di tubuh Dominict tampak khawatir.

" Kau baik-baik saja, kan? "

sesaat Dominict terdiam sebelum ia menjawab.

" I.. Iya aku baik-baik saja. Sebaiknya Anda cepat pergi sebelum ada yang tahu Anda di sini, Yang Mulia. " Kata, Dominict lagi tampak acuh tak acuh.

" Ini... " Putri Ana memperlihatkan obat yang ia bawa untuk Dominict.

" Apa ini? "

" A... Aku bawakanmu obat. "

" Yang Mulia, Anda tidak perlu melakukan ini aku bisa mengurus diriku sendiri. " Ucap Dominict.

" Maafkan aku, aku hanya.... "

Tok..tok..tok..

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kantor Dominict yang membuat Dominict dan Putri Ana panik dan mencoba mencari teman untuk menyembunyikan Putri Ana.

" Jendral, apa anda baik-baik saja? Saya bawakan anda obat. " terdengar suara seorang pria di luar sana.

" Ke mari! "

Dominict tangan Putri Ana dan berusaha menyembunyikan Putri Ana agar tak terjadi masalah lagi. Dominict tampak kelimpungan mencari tempat untuk menyembunyikan Putri Ana.

Lalu pada akhirnya Dominict menyuruh Putri Ana bersembunyi di bawah meja kerjanya kemudian Dominict menarik kursi dan duduk di sana untuk menyembunyikan Putri Ana di bawah meja.

" Masuklah! " Kata Dominict mempersilahkan pelayan itu untuk masuk setelah ia menyembunyikan Putri Ana di bawah meja tepat di hadapannya.

" Jendral, saya Bakan obat untuk mengobati luka anda. "

Tampak seorang pelayan pria lengkap dengan stelan jas hitamnya masuk kedalam kantor Dominict dan melihat Dominict sedang duduk di di meja kerjanya sambil membersihkan luka di tubuhnya dengan handuk hangat.

Sementara itu, Putri Ana yang berada di bawah meja tepat di hadapan Dominict yang sedang duduk dan berusaha menyembunyikan Sang Putri. Malah diam-diam membuka obat yang ia bawa dan mengoleskannya pada luka di perut Dominict yang sedang telanjang dada.

Sontak dengan cepat Dominict yang merasakan perutnya di sentuh melihat ke bawah meja dan melihat ke arah Putri Ana di sana yang ia sembunyikan di bawah meja tepat di bawah kakinya.

" Apa yang kau lakukan? " Dominict berbisik pelan sambil mengeratkan giginya tampak sedikit kesal.

" Aku hanya mengobatimu. " Jawab, Putri Ana berbisik dari bawah meja sambil terus mengoleskan obat pada perut Dominict.

" Hentikan itu sekarang juga! "

Tampak Dominict mengeratkan giginya dengan kuat. Namun sepertinya Putri Ana tak menghiraukan perintah Dominict dan tetap melakukannya.

" Jendral, apa anda butuh bantuan? Saya akan membantu anda mengobati luka anda, Jendral. " Ucap, Sang Pelayan menawarkan bantuan pada Dominict.

" Tidak, tidak perlu. A.. Aku akan melakukannya sendiri, kau bisa pergi. " Jawab Dominict, masih merasakan sentuhan jari Putri Ana di perutnya.

Tiba-tiba, Dominict memegangi tangan Putri Ana yang terus saja menyentuh perutnya. Namun dengan cepat Putri Ana mengigit tangan Dominict, sontak membuat Dominict berteriak dan meringis.

" Aargk!! " teriak, Dominict kesakitan Merakan tangannya di gigit.

" Anda baik-baik saja, Jendral? "

Pelayan yang masih di sana mendengar rintihan Dominict menghampiri Dominict mencoba memastikan keadaan Dominict. namun dengan cepat Dominict mengentikan pelayan itu dan memintanya agar cepat keluar dari ruangan Dominict.

" Tidak... Tinggalkan aku! Aku akan melakukannya sendiri. "

Mendengar perintah itu dari Dominict akhirnya Sang Pelayan keluar dari ruangan Dominict.

Setelah pelayan itu keluar dari ruangan, Dominict menatap ke arah Putri Ana yang masih bertahan di bawah meja.

" Melihat mu disana, Yang Mulia. Aku jadi mengingat sesuatu. " Kata, Dominict menyeringai menunjukan senyuman nakal.

Menyadari maksud perkataan Dominict, Putri Ana dengan cepat meremas luka di perut Dominict hingga membuatnya merintih dan meringis kesakitan.

" Aaaggkk!? Kau ini! Kau mau mengobatiku atau membunuhku? " Bentak, Dominict.

" Habisnya..... "

Putri Ana tampak santai menanggapi amarah Dominict, dengan mengakat kedua bahunya dengan santai.

" Ka... Kau.... "

Bersambung......

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!