Bab 17

Elara berlari menembus lebatnya hutan sambil membawa bungkusan yang ia terima dari pria misterius di tengah hutan tadi.

Namun sepertinya Elara sangat senang dengan apa yang ia dapatkan.

Sementara itu di hutan tadi.

"Bagaimana menurut anda? Apa gadis itu bisa di percaya?"

"Kau tidak perlu khawatir. Cinta buta bisa membuat siapapun akan melakukan apapun demi membenarkan cintanya... Siapapun....."

Kata sang komandan sambil tersenyum puasa.

...~o0o~...

Sementara itu di istana Pangeran Benedict tampak memandang keluar jendela sambil memperhatikan Putri Ana di halaman istana yang sedang duduk sendirian.

Tak lama seseorang memasuki ruangan Pangeran Benedict.

"Yang Mulia, saya telah melakukan seperti apa yang anda perintahkan."

"Bagus. Selanjutnya tunggu perintah dariku." Ucap Pangeran Benedict lalu meninggalkan ruangan.

Malam ini terasa damai, Dominict melihat keluar jendela dari dalam kantornya sambil sesekali mengusap lengannya yang sempat terluka saat mengawasi pelatihan militer. Kemudian tak lama Elara masuk sambil membawa sebuah nampan berisi secangkir teh hangat.

"Jendral, saya bawakan anda teh hangat."

Terdengar suara Elara dari luar ruangan.

"Masuk!"

Dengan perlahan Elara membuka pintu lalu masuk kedalam ruangan Dominict.

Dominict yang melihat Elara masuk kedalam kantornya berbalik dan kembali duduk ke kursinya.

"Letakan saja di meja!" Kata, Dominict lagi.

Perlahan Elara meletakan cangkir teh di atas meja. Lalu ia tampak berdiri sejenak di hadapan Dominict.

"Ada apa?"

Dominict menanggapi Elara dengan Dingin.

"Em... Jendral... Saya ingin minta maaf atas tindakan yang saya lakukan sebelumnya. Saya tidak seharusnya melakukan itu, saya harap anda mau memaafkan saya, Jendral."

Elara mengungkapkan rasa bersalahnya pada Dominict. Sambil memegang erat nampan di tangannya menunggu jawaban dari Dominict.

"Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya lagi ". Kata, Dominict masih dingin pada Elara, bahkan Dominict tak menatap Elara sedikitpun.

Dengan rasa kecewa Elara membungkuk singkat sebelum meningkatkan ruangan Dominict tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Setelah Elara pergi Dominict meminum teh yang Elara bawa untuknya.

Di kejauhan, seseorang sedang memata-matai Dominict yang tengah menjalankan tugasnya. Dengan cepat, orang itu beralih pandangannya ke arah penjaga yang berjaga di sekitar benteng.

"Baiklah. Hanya ada tujuh penjaga dia benteng itu dan sekitar lima ratus orang prajurit baru. mereka masih belum berpengalaman. Bagaimana menurutmu kapten?"

"Itu bukan masalah. Tidak kusangka gadis itu memang bisa di andalkan."

"Ingat sasaran kita adalah Jendral mereka."

"Baik!"

"ayo! Bergerak!"

Tanpa Dominict sadari ternyata selama ini ada sekelompok orang yang sengaja memata-matai pergerakannya di benteng ini. Entah mereka kelompok bandit atau kumpulan perampok yang ingin menyelundupkan barang-barang ilegal ke Kerajaan Savarant.

Yang demi melancarkan aksi mereka melumpuhkan penjagaan di perbatasan atau dengan menyuap penjaga perbatasan.

Sementara itu Dominict kembali ke pekerjaannya, ia mulai fokus pada berkas-berkas di tangannya, sambil sesekali meneguk teh yang Elara suguhkan padanya.

Selang satu jam kemudian, Dominict merasakan ada hal aneh pada tubuhnya. Ia mulai merasakan Tremor dan kedutan otot bahkan ia mulai merasa nafasnya menjadi semakin pendek dan mulai kesulitan menarik nafas.

"Si..sial! Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba.... Tubuhku jadi seperti ini."

Dominict mulai terbatuk karena kesulitan bernafas dan merasakan sendi-sendi di tubuhnya terasa sakit.

"Sial!!"

Di luar benteng, sekumpulan orang yang selama ini memata-matai Dominict mulai bergerak. Terlihat ratusan orang mendekat dalam kegelapan, dengan langkah yang mantap. Mereka berhasil melumpuhkan satu per satu penjaga yang berjaga di atas menara benteng dengan panah yang terus menghujani mereka dari kejauhan.

Salah seorang penjaga di saat terakhirnya sebelum tewas sempat membunyikan lonceng peringatan memberi tanda bahwa terjadi penyerangan oleh pihak musuh, membuat Frederick segera keluar dari ruangannya dan segera menuju ke menara pengawas.

Di sana Frederick melihat para penjaga telah tewas dengan sebuah anak panah menghujam di tubuhnya dan menembus tubuhnya.

Tampak dari tembakan panah itu sangat presisi hingga mengenai organ vital dari target yang membuat sang penjaga tewas seketika.

Saat itulah Frederick menyadari bahwa ini bukanlah perbuatan sembarangan orang. Dari kejauhan, ia melihat samar-samar siluet dari sekelompok orang yang mendekat. Dengan cepat, ia memutar lonceng peringatan bahaya, membuat seluruh prajurit yang baru saja dilantik menjadi pasukan kerajaan berkumpul di tengah halaman benteng.

"Sial! Kenapa harus di saat seperti ini!" Gumam, Frederick tampak kekhawatiran di wajahnya.

Frederick merasa khawatir karena para prajurit yang baru saja dilantik belum memiliki pengalaman dalam berperang. Di sisi lain, kekhawatiran juga menyelinap di pikirannya karena Dominict masih belum menampakan diri dari dalam ruangannya.

Tak lama kemudian, sebelum Frederick sempat menemui Dominict untuk melaporkan situasi terkini, ia terkejut melihat Dominict keluar dari ruangannya dengan sudah siap berperang, lengkap dengan baju zirah dan pedang di tangannya.

"Jendral?!"

Frederick terkejut melihat Dominict dalam keadaan lemah, wajahnya pucat, dan napasnya berat. Namun, dengan gagah berani, Dominict tetap berdiri tegak.

"Jendral... Apa yang terjadi?" Tanya Frederick khawatir. Mengikat baru tadi sore ia bertemu dengan Dominict, ia terlihat baik-baik saja.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Katakan apa yang terjadi!"

Kata-kata Dominict terputus-putus, menahan rasa sakit yang begitu menyiksa tubuhnya. Tremor dan kejang otot semakin kuat terasa, membuatnya hampir tak mampu berkata-kata akibat rasa sakit yang begitu menyiksa.

"Nampaknya musuh kita mulai bergerak dan melakukan serangan, Jendral. Kita harus siapkan pasukan untuk menghadapi mereka!"

Saat itu, Dominict terdiam menerima laporan dari Frederick. Ia berjalan di antara para prajurit istana, dan melihat jasad penjaga yang telah tewas dengan anak panah menancap di dadanya, menatap lurus ke dadanya.

Di sana Dominict tampak mengenali anak panah itu.

Anak panah yang dibuat khusus itu tidak sembarangan digunakan. Dilihat dari ujungnya yang dirancang untuk memberikan daya rusak mematikan, serta diperlukan busur khusus dan tenaga besar untuk melepaskan anak panah tersebut.

"Persiapkan diri kalian! Ini akan menjadi pertempuran pertama kalian. Dan... Musuh kali ini bukan musuh sembarangan. Mereka adalah para tentara bayaran..."

"Jendral.... Apa sebaiknya kita mundur... " Frederick tampak khawatir dengan jawaban Dominict, karena melawan tentara bayaran sama saja dengan bunuh diri.

Karena para tentara bayaran adalah sekelompok orang yang memiliki kemampuan khusus dalam pertempuran dan mereka telah melewati berbagai pertarungan di medan pertempuran hingga banyak kerajaan menyewa mereka dengan harga tinggi demi meraih kemenangan dalam suatu pertempuran.

meski jumlah mereka sedikit yang hanya beberapa ratus orang itu sudah cukup untuk menembus barikade pertahanan pasukan kerajaan.

"Kita tidak akan mundur! Para prajurit istana, saat ini adalah saat kita tunjukkan keberanian sejati kita! Bersama, kita tak akan gentar menghadapi segala rintangan. Ingatlah, kekuatan sejati kita bukan hanya dari senjata, tetapi dari semangat dan persatuan kita sebagai satu tim. Mari bersama-sama menuju kemenangan!" Tarikan Dominict memberikan semangat pada prajuritnya.

Saat yang bersamaan, Frederick melihat bahwa Dominict dalam kondisi tidak mungkin untuk berperang. Frederick menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh Dominict.

Awalnya, Dominict hanya diberi tugas untuk melakukan penjagaan dan latihan militer di perbatasan bersama para prajurit istana yang baru dilantik, namun kini mereka terlibat dalam pertarungan sesungguhnya.

"Kalian... Dengarkan! Ini bukan sekadar tentang tugas dan kemenangan. Yang terpenting, kalian harus pulang dengan selamat! Ingat itu." Tegas Dominict.

Dominict paham betul dengan kondisi yang dihadapi olehnya dan para prajuritnya saat ini. Dia sadar bahwa pasukannya tidak memiliki kemampuan dan pengalaman di medan pertempuran. Namun, Dominict terus memotivasi mereka, karena mundur sekarang berarti membiarkan musuh masuk ke wilayah kerajaan tanpa perlawanan.

"Ini adalah pertempuran pertama kalian. Aku tahu betapa sulitnya untuk menerimanya, tetapi jika kalian tidak melakukannya, nyawa kalian yang akan terancam. Inilah garis takdir yang harus kalian lewati sebagai seorang kesatria."

Tak terlihat sedikitpun keraguan di mata Dominict, ia yakin dengan kemampuan pasukannya meskipun ini pertempuran pertama bagi mereka.

Bersambung.....

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!