Bab 20

Fajar mulai menyingsing dan angin berhembus lembut membelai lembut tubuh mungil dan ramping Putri Ana yang sedang berdiri di balkon kamarnya, sambil memandang ke luar istana dengan memegang surat yang Dominict kirim untuknya.

"Ana... Jika suatu saat, ini akan menjadi tugas terakhirku, aku ingin kau tahu... Bahwa, kau adalah orang paling berharga dalam hidupku. Dan maafkan aku, selama ini aku selalu membuatmu marah dan kesal. Tapi... Aku ingin kau tahu melihat dirimu yang selalu marah-marah padaku, aku tahu bahwa kau baik-baik saja. Aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik karena aku tidak akan selalu berada di sampingmu.

Dominict "

Putri Ana tak bisa menyembunyikan kesedihannya karena surat yang Dominict kirim untuknya, memperlihatkan keadaan Dominict yang sebenarnya.

Tak lama, Sebastian masuk kedalam kamar Putri Ana.

"Yang Mulia, Pangeran Benedict ingin bertemu dengan anda." Ucap, Sebastian.

"Iya..." Jawab, Putri Ana singkat.

Kemudian Sebastian mempersilakan Pangeran Benedict untuk menemui sang putri. Dengan lembut, Pangeran Benedict mendekati Putri Ana di balkon dan berdiri di samping sang Putri.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Ana? Akhir-akhir ini, aku perhatikan kau selalu sedih. Mau cerita?" Ucap, Pangeran Benedict lembut.

Pangeran Benedict mencoba menghibur Putri Ana yang tampak bersedih.

"A...aku merasa bersalah..."

Diam-diam, Pangeran Benedict memperhatikan setiap reaksi dan mimik wajah Sang Putri.

"Bersalah? Apa ini tentang Dominict?"

Putri Ana, hanya mengangguk singkat saat memberikan jawaban pada Pangeran Benedict.

Ekspresi wajah Pangeran Benedict tiba-tiba berubah, yang awalnya tampak tampak lembut berumah menjadi kesal, namun Pangeran Benedict masih berusaha menyembunyikan rasa kesalnya dan mencoba agar tetap tetap tenang.

"Anastasya, jangan salahkan dirimu. Dominict bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama, aku akan selalu mendukungmu." Lanjut, Pangeran Benedict sambil menyentuh lembut tangan Putri Ana.

Pangeran Benedict, masih berusaha menjaga ketenangan dirinya di hadapan Putri Ana, padahal dalam hati ia sudah merasa sangat kesal dan jengkel, karena Putri Ana begitu terpaku pada Jendral Istananya sendiri.

"Tapi... Dominict tidak melakukan kesalahan apapun... Aku... Aku sangat khawatir..."

Dengan lembut Pangeran Benedict menyentuh wajah Putri Ana dan mengusap lembut air matanya.

"Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi Ana, aku ingin kau fokus pada hubungan kita, aku sangat berharap padamu... Ana... Aku mencintaimu..."

Pangeran Benedict menatap lembut gadis pujaannya ini dengan penuh kasih.

"Aku akan berikan waktu sebanyak yang kau mau, sampai kau siap menerimaku. Aku tidak peduli apa yang terjadi malam itu denganmu dan Dominict. Aku akan tetap menerimamu apa adanya, Anastasya." Kata, Pangeran Benedict lagi.

Terdengar dari kata-katanya, Pangeran Benedict sangat tulus dengan perasaanya pada Putri Ana. Dengan lembut Pangeran Benedict meraih dagu Putri Ana, dengan lembut Pangeran Benedict mendekatkan wajahnya pada Putri Ana. Kemudian dengan lembut Pangeran Benedict memberikan kecupan manis di bibir Sang Putri.

Namun, belum sempat bibir keduanya bersentuhan, Putri Ana memalingkan wajahnya dari pangeran Benedict dan dengan lembut Putri Ana menolak ciuman dari Pangeran Benedict.

"Jadi... Kau juga berpikir Dominict melecehkan ku? Dan melakukan itu padaku?"

"Ana... Aku tidak bermaksud mengatakan itu... Aku... Aku peduli padamu." Pangeran, Benedict mengusap lembut wajah Putri Ana kemudian memeluk Putri Ana lembut.

"Maafkan aku..." Ucap, Pangeran Benedict lembut.

akan tetapi, di dalam hatinya Pangeran Benedict menyimpan dendam terhadap Dominict.

...~o0o~...

Sementara itu, di perbatasan, setelah Dominict mendapatkan perawatan, Thadeus segera mengikat tubuh Dominict pada dirinya di atas kuda tanpa membuang waktu. Ia membawanya kembali ke istana, di mana kondisi Dominict semakin memburuk akibat luka dan racun yang memperparah keadaannya.

"Bertahanlah, Jendral!" Batin, Thadeus cemas dan khawatir.

Sementara itu Elara yang mengikuti bersama dengan seorang prajurit di belakang Thadeus.

Elara, terus menerus menyalahkan dirinya karena ia termakan hasutan dari anak buah Lazarus beberapa waktu yang lalu.

"maafkan aku, Jendral... Seharusnya aku lebih berhati-hati, semuanya karena aku..." Batin, Elara menahan tangisnya.

Dominict, yang terlihat lemah di punggung Thadeus, terus-menerus mengeluarkan darah kental dari mulutnya, menandakan kondisinya yang semakin kritis. Meskipun begitu, ia tetap berusaha bertahan, meski keadaannya sudah sangat memprihatinkan.

Thadeus memacu kudanya semakin cepat, hingga akhirnya ia berhasil sampai di ibu kota pada saat tengah hari.

"Minggir dari jalanku!!" Teriak, Thadeus keras.

Memperingatkan orang-orang di alun-alun kota untuk menyingkir dari jalannya. Thadeus terlihat terburu-buru karena ia tahu Dominict tak memiliki waktu banyak.

Sesampainya di gerbang istana, beberapa penjaga membatu Thadeus untuk membawa Dominict ke Unit Medis Istana.

"Cepat! Rawat luka Jendral Dominict!" Thadeus memberi perintah dengan tegas.

"Dan kau... Ikut mereka ke Unit Medis Istana." Lanjut, Thadeus tegas menunjuk Elara untuk ikut ke Unit Medis Istana.

"Aku harus menemui Putri Anastasya."

Dengan langkah cepat, Thadeus menyusuri istana mencari Sang Putri. Thadeus bertanya pada para pegawai istana tentang di mana keberadaan Sang Putri.

Setelah bertanya dengan beberapa pegawai istana, Thadeus meliat Sebastian di koridor istana.

"Sebastian! tunggu!" Ujar, Thadeus.

Dengan langkah setang berlari Thadeus menghampiri Sebastian di ujung koridor.

"Tuan Blackwood? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya, Sebastian begitu ia meliat Thadeus menghampirinya.

"Dimana Tuan Putri?"

"Eh?! Tuan Putri... Tuan Putri ada di taman... Ada apa?"

"Cepat! Aku membutuhkan bantuan Tuan Putri segera! Jendral Dominict dalam keadaan kritis."

"Apa?! Baik, ikuti saya." kemudian Sebastian membawa Thadeus menemui Putri Ana di taman istana.

Di taman istana, Putri Ana sedang duduk di bangku taman sambil mengumpulkan beberapa bunga kering koleksinya. Ternyata Sang Putri juga memiliki kebiasaan mengumpulkan bunga kering sebagai koleksi selain hobinya menggambar.

Thadeus, yang melihat Sang Putri di taman, dengan cepat menghampiri Sang Putri.

"Yang Mulia!"

Putri Ana, yang melihat kedatangan Thadeus yang tampak terburu-buru. dengan cepat Putri Ana bangkit dari duduk dan menghampiri Thadeus.

"Thadeus?! Dominict!.. Dominict, bagaimana dengannya?" Tanya, Putri Ana khawatir.

"Yang Mulia, saat ini... Jendral Dominict dalam keadaan kritis, Jendral mengalami luka yang cukup parah, dan saat ini Jendral sedang di rawat di Unit Medis Istana." Ucap, Thadeus.

Putri Ana yang mendengar itu jadi semakin khawatir dengan keadaan Dominict.

"Thadeus, antar aku ke sana!"

"Baik, Yang Mulia."

Dengan segera, Thadeus mengantar Putri Ana ke Unit Medis Istana. Sementara itu di Unit Medis Istana, Dominict masih di tangani oleh Dokter Kerajaan.

Di dalam ruangan perawatan, terlihat para Dokter Kerajaan berusaha keras agar Dominict bisa melewati masa kritisnya.

"Lewati sini, Yang Mulia!"

Thadeus mengarahkan Putri Ana ke ruangan perawatan. Terlihat jelas di wajah Sang Putri raut kekhawatiran dan cemas begitu jelas di wajahnya.

Putri Ana, berjalan cepat menyusuri koridor istana menuju ke ruang perawatan istana.

Selama perjalanan dari taman istana menuju ke ruangan perawatan Unit Medis Istana, sesekali Putri Ana bertanya tentang Dominict pada Thadeus.

"Seperti yang saya katakan sebelumnya, Yang Mulia. Jendral mengalami luka parah dan memerlukan perawatan segera, dan... Itu hanya anda yang bisa melakukannya."

"A... Apa?! Tapi... Apa yang bisa akulakukan? Aku tidak memiliki keahlian dalam bidang medis."

"Yang Mulia, anda memiliki kemampuan untuk mengenali racun, dan saat ini Jendral Dominict membutuhkan kemampuan anda, Yang Mulia."

"Tapi... Aku belum pernah mencobanya apa pada manusia." Putri Ana terlihat ragu dengan kemampuannya.

"Yang Mulia, saya yakin anda bisa melakukannya, kita tidak memiliki banyak waktu Yang Mulia." Thadeus mencoba meyakinkan Putri Ana.

sesampainya mereka di ruangan perawatan Unit Medis Istana. Putri Ana terkejut melihat keadaan Dominict yang memperhatikan. Dengan beberapa luka di tubuhnya dan terlihat jelas wajah Dominict pucat dan luka bekas tikaman pedang di dadanya.

Dengan segera Putri Ana mendekati Dominict yang sedang terbaring lemah. Di saat yang sama Elara memperhatikan Putri Ana yang masuk ke dalam ruangan, Putri Ana menggeser posisi Elara di dekat Dominict, yang membuat Elara menjauh dari samping Dominict.

Dan sikap Putri Ana ini telah membuat Elara merasa tersinggung, namun ia masih berusaha tetap tenang dan tak memperlihatkan emosi apapun.

Bersambung.....

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!