Bab 18

Dengan keberanian yang tak kenal takut, Dominict memimpin pasukannya untuk menghadapi serbuan brutal para tentara bayaran yang menyerang mereka.

"Ini aneh... Kenapa tidak ada pasukan lain yang mengikuti mereka? Apa jangan-jangan... Ini jebakan?" Batin, Dominict.

"Laporkan kondisi saat ini ke istana! Dan... Sampaikan surat ini pada Putri Ana."

Dominict, menyerahkan sepucuk surat pada prajurit yang ia beri tugas untuk kembali ke istana dan menyampaikan berita buruk ini beserta sepucuk surat yang sempat Dominict tulis sebelumnya, tangannya tampak gemetar saat menyerahkan surat pada prajuritnya.

"Baik... Jendral..."

Sekilas prajurit itu melihat ke arah Dominict, dan melihat jelas wajah Jendral-nya yang sedang berusaha keras agar tetap sadar di atas kudanya. Samar ia melihat tetesan darah menetes dari sudut bibirnya.

Tanpa menunggu prajurit itu bergegas memacu kudanya kembali ke istana.

"Ana... Kali ini... Aku tidak yakin... Aku akan kembali... Maafkan aku... Sudah membuatmu khawatir..." Batin, Dominict lirih sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.

Sementara itu dari pihak musuh bersiap memulai penyerangan.

"Aku tidak menyangka wanita itu benar-benar melakukannya. Cinta buta memang bisa membutakan hati seseorang."

Ucap seorang pria yang duduk di atas kuda perangnya sambil tersenyum senang.

"Pisahkan dia dari pasukannya."

Dan pertempuran pun tak terelakkan.

Dalam situasi yang sulit, Dominict tetap memimpin pasukannya dengan penuh keberanian, meskipun kondisi fisik dan pasukannya tidak mendukung. Namun, Dominict tetap optimis bahwa mereka akan keluar sebagai pemenang dari pertarungan ini.

Dominict, memimpin pasukannya untuk menyerang dan dengan mudah menjatuhkan satu persatu musuh yang menghadang.

"Komandan Lazarus... Bagaimana? Sepertinya efek racunnya..."

Tanya seorang pria yang sempat Elara temui di tengah hutan dan memberikan sebuah bungkusan misterius padanya.

"Ho... Masih bisa bergerak rupanya. Aku akui dia memang memiliki semangat juang yang tinggi, tunggu... Sampai tubuhnya mencapai batas... semuanya akan berakhir. Tunggu dan lihat! Aku yakin dia tidak akan bisa bertahan lama." Kata, pria bernama Lazarus itu.

Dengan cepat Lazarus memberikan kode pada pasukannya, mereka segera melancarkan strategi untuk memisahkan Dominict dari pasukannya. Mereka mengelilingi Dominict dan membuat barikade untuk mencegah pasukan Istana mendekat. Akhirnya, dan akhirnya Dominict berhasil dijatuhkan dari kudanya dengan panah.

Dominict sadar kalau ini bukan penyerangan untuk menembus pertahanan kerajaan. Ia sadar yang menjadi sasaran para tentara bayaran ini adalah dirinya.

"Jendral!!!" Teriak, Frederick.

Melihat Dominict berhasil di lumpuhkan oleh musuh. namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa, karena pihak musuh lebih unggul meski hanya beranggotakan beberapa ratus orang namun pengalaman berperang yang mereka miliki jauh berbeda dengan pasukan istana yang masih pemula.

"UHUK!"

Dominict, jatuh dengan keras dari atas kudanya.

Hingga membuat kondisinya memburuk, Dominict terbatuk dan mengeluarkan darah kental dari mulutnya. Meski begitu Dominict masih berusaha bangkit dan melawan, dengan menahan sakit di sekujur tubuh ia berusaha bertahan.

"Lihat dirimu! Begitu tak berdaya."

Lazarus turun dari kudanya dan mengambil pedangnya lalu berjalan dengan langkah mantap mendekati Dominict.

"Ingat penghinaan yang kau lakukan padaku lima tahun yang lalu? Kau membuat hidupku menderita... Dan sekarang saatnya bagiku untuk membalas penghinaan itu dengan nyawamu."

Dengan dingin, Lazarus mengangkat pedangnya di hadapan Dominict yang tak berdaya, dan bersiap untuk mengakhiri nyawa Dominict.

merasakan nyawanya berada di ujung tanduk, Dominict dengan susah payah bangkit dan menahan dan menangkis hujaman pedang Lazarus.

"Meski.... Kau pernah menjadi orang yang aku kagumi tapi tidak ada celah bagi penghianat dalam hidupku, Lazarus..." Kata, Dominict dingin menatap tajam Lazarus.

"Mata yang bagus. Tapi sayang lebih baik mata itu tidak ada saja." Lazarus menatap dingin pada Dominict.

Dengan dingin Lazarus melayangkan pukulan telak ke tubuh Dominict, yang membuat Dominict tersungkur.

"Uhg!"

"Aku tidak keberatan melakukan apapun demi mencapai tujuan ku." Ucap, Lazarus dingin.

"Jika... Ini karena Ana... Seharusnya kau tidak memiliki pikiran untuk menyakitinya... Jika kau memang mencintainya..." Dominict menatap tajam Lazarus.

Saat itu, Lazarus mengingat kembali masa dimana ia masih berada di istana. saat dimana Lazarus dan Dominict masih menjadi prajurit dalam masa pelatihan.

Dimana Lazarus dan Dominict bertemu untuk pertama kalinya dengan Putri Ana yang baru pertama kali mengawasi pelatihan militer bersama Sang Raja.

"Hei... Apa itu yang namanya Putri Anastasya?" Bisik, Lazarus pada Dominict yang berdiri di sampingnya dari tengah barisan.

"Ya... Aku rasa begitu."

"Dia manis juga." Ucap, Lazarus tersenyum lembut.

"Jangan bilang kau menyukainya?"

"hihihi. Jangan bilang-bilang dong." Lazarus tampak malu-malu sambil menggaruk belakang kepalanya dan tampak wajahnya merah padam.

"Eh?! Kau sungguh menyukainya? Kita ini hanya prajurit istana biasa. Kau jangan berangan-angan setinggi itu."

"Aku tahu itu... Karena itu... Aku ingin jadi seorang jendral istana, kau harus membantuku, Dominict!"

"Hah?! Aku?!"

"kau harus menjadi teman latihanku!"

"Sudah ku duga, aku akan jadi korban." Dominict tampak mengeluh dengan keputusan Lazarus yang ingin menjadi seorang jendral istana.

"Tapi... Kenapa harus jadi Jendral?"

"Ya... Itu karena... Bisa bertemu setiap hari dengan Putri Anastasya, bisa bertemu setiap hari saja sudah menjadi sebuah keberuntungan untukku." Ucap, Lazarus tampak senang.

Saat itu, Dominict terdiam dan menyadari tekad sahabat seperjuangannya ini.

Semenjak hari itu Lazarus berlatih keras bersama dengan Dominict.

Lazarus, mulai menaruh hati pada Putri Ana, meski saat itu usia Putri Ana masih belia, Lazarus sudah merasa jatuh cinta pada sang Putri pada pandangan pertama.

Beberapa hari berikutnya saat latihan sendirian, tak sengaja Lazarus melihat sesuatu yang berkilauan di dekat semak, Lazarus mendekat dan memungut benda yang ia lihat berkilau di dekat semak.

"Ini..."

Lazarus, terkejut begitu ia tahu yang ia temukan sebuah anting berlian yang cantik, sesekali ia celingukan melihat ke sekeliling mencari pemiliknya, namun di lapangan itu hanya ada dirinya.

Tak jauh dari sana ia melihat Putri Ana, tampak sedang mencari sesuatu di rerumputan.

Lazarus, terpana melihat gadis yang selama ini ia sukai ada di hadapannya, jantungnya berdebar kencang, sampai-sampai ia harus merasakannya.

"Ya... Yang Mulia." Dengan bibir bergetar dan jantung yang berdebar kencang, Lazarus memanggil Putri Ana untuk pertama kalinya.

"A... Apa yang sedang anda cari, Yang Mulia?"

"Eh?! Aku... Aku sedang mencari antingku. Aku menghilangkannya." Jawab, Putri Ana.

"Anting? A... Apa yang ini?" Lazarus menunjukan anting berlian yang baru saja ia temukan.

"I..iya." Tampak senyum lembut di bibir Sang Putri membuat jantung Lazarus berdebar semakin kencang.

Lazarus, berjalan mendekati Putri Ana dan mengembalikan anting itu.

"Terimakasih."

Lazarus, membungkuk memberi hormat lalu pergi setelah mengembalikan anting itu. Ia tak bisa mengatakan sepatah katapun saking gugupnya.

"Tunggu!" Ujar, Putri Ana sebelum Lazarus pergi jauh.

"Maaf, bisa kau pasangkan untukku?"

Sesaat, Lazarus terdiam.

"Te... Tentu, Yang Mulia." Lazarus, mendekati Putri Ana, tampak ia sangat gugup saat Putri Ana memintanya untuk memasangkan anting di telinga Sang Putri.

Dengan tangan gemetar Lazarus, mengambil anting dari tangan Putri Ana, Putri Ana menyeka rambut di telinga kirinya dengan lembut. kemudian Lazarus membungkuk sedikit lalu dengan hati-hati ia memasang anting itu di telinga Sang Putri, meski tangannya gemetar dan sesekali kesulitan memasangnya

Lazarus semakin merasakan jantungnya berdetak kencang saat ia sangat dekat dengan Sang Putri, gadis yang selama ia ini diam-diam ia cintai.

Semenjak hari itu, Lazarus mulai dekat dengan Sang Putri Kerajaan.

Lazarus, tidak akan bisa melupakan hari di mana dia menjadi teman yang selalu menemani Putri Ana.

Lazarus mengingat masa-masa manis itu sampai segala berakhir, saat Lazarus mengetahui Sang Putri jatuh cinta pada sahabat karibnya, Dominict.

Saat itu juga, Lazarus merasa dunianya runtuh seketika yang membuat dirinya menaruh dendam.

Bersambung.......

Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 55
56 Bab 56
57 Bab 57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 Bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab 92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Bab 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab 108
109 Bab 109
110 Bab 110
111 Bab 111
112 Bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 Bab 115
116 Bab 116
117 Bab 117
118 Bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 55
56
Bab 56
57
Bab 57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
Bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab 92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Bab 103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab 108
109
Bab 109
110
Bab 110
111
Bab 111
112
Bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
Bab 115
116
Bab 116
117
Bab 117
118
Bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!