BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu

"Ra!! Are you okay?"

Panggilan berkali-kali dari Viona sebenarnya dapat Haura dengar. Namun, dia memilih untuk terus diam dan berpikir keras tentang apa yang terjadi padanya.

Mual-mualnya sudah mereda setelah lima menit menghabiskan waktu di dalam toilet untuk mengeluarkan isi perutnya. Berbagai dugaan menghampiri benak Haura dan dia tidak bisa menyimpulkan apa yang terjadi sebenarnya.

"Tidak mungkin, aku minum sebelum 72 jam ... tidak cuma sekali dan sesuai dengan petunjuk yang aku ketahui." Haura bergumam pelan.

Mengingat-ingat kembali barangkali dia yang lupa. "Atau mungkin salah minum obat? Tapi sepertinya tidak, Abimanyu tidak mungkin sejahil itu!!"

Sebelumnya ragu, beberapa detik kemudian yakin lagi tidak ada kesalahan dalam dirinya. Haura memijat pangkal hidung sebelum kemudian mengacak rambutnya

Baru saja tenang, nyatanya dia kembali dibuat kebingungan. Perasaan dimana dia panik pasca melewati malam itu kembali terulang, bahkan lebih panik lagi.

"Ck ... yang benar saja kalau hamil sekarang, Haura!!" gerutu Haura memaki diri sendiri yang dia rasa memang begitu bodoh saat ini.

Masih dengan Viona yang setia memanggilnya, bahkan sempat menawarkan bantuan Haura masih fokus dengan pikirannya.

"Clam down, Haura, ini bukan masalah besar ... kita bisa selesaikan!" Haura meyakinkan diri untuk tidak terlalu memusingkan masalah ini.

Tak pernah terbayangkan dalam hidup Haura bahwa dirinya akan menata masa depan di dalam toilet semacam ini. "Iya, bisa, tidak ada yang tidak bisa diselesaikan di dunia ini, 'kan?"

Dalam kesendirian dia bermonolog, padahal ada Viona yang bisa menjadi teman untuk bertukar pikiran. Akan tetapi, karena Haura merasa hal ini adalah aib yang sifatnya privasi, jelas harus dia tutup-tutupi.

"Ra!! Aku minta orang buat bukain pintunya sekarang ya!!" teriak Viona yang membuat Haura tersadar dimana kini dia berada.

Tidak ingin sampai melibatkan orang lain dan dikira yang tidak-tidak, Haura bergegas keluar setelah merapikan rambutnya.

Berusaha bersikap tenang seakan tidak terjadi apa-apa selain mual biasa. "Sorry lama, mual banget soalnya."

"Yakin cuma mual, Ra?" tanya Viona menatap curiga sahabatnya itu.

Sontak Haura mengulas senyum tipis sebagai jawaban pamungkasnya. "Ehm, cuma mual kok."

"Apa tidak perlu ke dokter?" tawar Viona yang sontak Haura tanggapi dengan gelengan cepat.

Jujur, dia tidak siap untuk itu. Bukan hanya karena takut ketahuan andai Viona yang menemani, tapi secara pribadi dan jiwa dalam dirinya belum sanggup menerima fakta itu.

Sungguh, entah apapun alasannya dia enggan dan Haura tidak bersedia. "Tidak apa, sudah mendingan ini."

Demi meyakinkan Viona, wanita itu mengaku demikian. Padahal, tubuhnya saat ini panas dingin lantaran gugup.

"Tapi kok wajahmu pucat banget, Ra?"

"Pucat wajar, lipstikku luntur semua, Ona," ungkap Haura beralasan dan sama sekali tidak sesuai dengan faktanya.

Akan tetapi, karena kemampuan akting Haura cukup mumpuni Viona yang merupakan teman dekatnya pun seakan tertipu dan percaya saya bahwa Haura hanya mual biasa.

Mereka kembali ke meja untuk menyelesaikan makan siang mereka. Tentu saja sudah berbeda, rasa lapar yang tadi menggebu-gebu mendadak hilang.

Viona seketika kenyang, apalagi Haura yang memang tidak merasa lapar sebelumnya. Tidak ingin terlalu lama membuang waktu, Haura justru pamit lebih dulu.

Beralasan harus segera terbang ke Bali, Haura benar-benar ingin meninggalkan Viona sendiri sampai wanita itu tak habis pikir.

"Bentar, kamu yakin tetap ke Bali, Ra?"

"Heum, yakin kok, kenapa, Na?" Haura balik bertanya tanpa menatap lawan bicaranya.

Viona menghela napas panjang. Belum apa-apa dia sudah lelah membayangkan sibuknya menjadi Haura. "Duh, Ra, apa tidak sebaiknya tunda saja?"

"Tunda gimana, Ona? Jelas tidak bisa, kan sudah tanda tangan kontrak," jawabnya berlagak si paling profesional dalam pekerjaan sampai rela mengabaikan kesehatan.

"Aku tahu, Ra!! Tahu banget kita memang harus profesional!! Tapi jangan lupakan kesehatan dong. Masa sekarang tetap nekat berangkat juga?" Viona menghela napas panjang dengan harapan Haura mendengar kekhawatirannya.

"Ehm sepertinya aku sudah terlambat, belum packing juga kebetulan ... dah, see you!!" Tanpa menanggapi ucapan Viona sebelumnya, Haura berlalu pergi begitu saja.

Menyaksikan hal ini Viona semakin bingung dengan perubahan sikap Haura. Bagaimana tidak? Haura yang sebelumnya selalu mengutamakan kesehatan dan menjalani pekerjaan sebagai pengisi waktu luang mendadak serius banting tulang.

Siang jadi malam, malam dijadikan siang dan tiada hari tanpa kesibukan sampai lupa kesehatan. "Apa yang sebenarnya terjadi? Sesakit apa luka yang kamu alami sampai kamu jadi begini, Haura?" tanya Viona dalam kesendirian tanpa tahu dimana dia akan mendapat jawaban.

.

.

"Ya Tuhan, kenapa harus begini?"

Setelah tadi dia mampu bersikap santai di hadapan Viona, ketika sendiri nyatanya hancur juga.

Haura menghela napas panjang pasca menyiapkan perlengkapannya. Sebentar lagi dia harus segera ke Bandara, tapi Haura masih di titik bingung tentu saja.

Ingin dia utarakan keresahannya pada Abimanyu. Akan tetapi, nyalinya tidak begitu besar dan takut justru disemprot dengan kata-kata mutiara.

Karena itulah, dalam diam Haura berpikir hendak diberitahu atau tidaknya. "Bilang tidak, bilang tidak bilang tidak bilang_"

"Ah bilang aja deh!!" ucap Haura kemudian mengambil keputusan dan segera menghubungi Abimanyu yang kemungkinan sedang sibuk di kantor.

Cukup lama dia menunggu sampai akhirnya diterima dan terdengar suara Abimanyu di sana.

"Ada apa?"

"A-aku mual-mual ... sepertinya benar hamil," aku Haura langsung pada intinya.

Tanpa dijelaskan juga Abimanyu mungkin mengerti karena tidak ada pertanyaan yang memperlihatkan dia bingung di sana.

"What the_ are you serious, Haura?" suara Abimanyu terdengar berbisik, kemungkinan khawatir bocor ke pihak lain.

"Iya, serius!!"

"Kapan mulainya?"

"Tadi, sewaktu di restoran ... padahal aku pesan menu yang biasa, tapi tadi baru disuap langsung huek-huek!! Dan parahnya lagi, aku sudah telat bulan ini," papar Haura mengadukan apa yang dia rasa.

Tak ada jawaban segera dari Abimanyu, kemungkinan pria itu berpikir keras hingga Haura bingung sendiri.

"Bim, gimana? Kalau sampai Papa tahu gimana?"

"Gugurkan!!"

Deg

Mata Haura mengerjap pelan, jantungnya berdenyut sewaktu Abimanyu menyarankan hal gila semacam itu padanya.

"Apa kamu bilang?"

"Gugurkan, kurang jelas?"

"Yang benar saja, masa langsung digugurkan? Bukankah itu sama saja dengan membu-nuh?"

"Lalu mau bagaimana lagi, Haura? Kamu tahu sendiri status pria itu bagaimana!! Andai tidak minta tanggung jawabnya bagaimana? Siap membesarkan anak itu sendirian? Kamu siap menghadapi dunia dengan status hamil tanpa suami?"

Panjang lebar Abimanyu bicara, tepat menusuk di dalam dada Haura yang berakhir membuat wanita itu meneteskan air mata saking bingungnya.

Dihadapkan dengan masalah ini gilanya luar biasa, Haura ingin menyerah dan sempat terpikir bahwa jalan keluar yang disarankan Abimanyu masuk akal juga.

Namun, dalam sekejap sesuatu dalam dirinya justru berontak detik itu juga hingga dengan tegas dia mampu untuk mengambil keputusan. "Siap!! Aku akan pertahankan anak ini!!"

"What? Kamu mabuk, Haura?!"

"Tidak, aku dalam keadaan sadar dan keputusanku sudah tepat."

"Jangan gila, Ra, coba kamu pikir bagaimana Mama, Papa dan keluarga kita andai tahu_"

"Tenang saja, aku pastikan keputusanku ini tidak akan mencoreng nama baik keluarga kita!!" pungkas Haura mengakhiri panggilan suara dan ditutup dengan air mata.

Perlahan, dia menunduk dan menyentuh perutnya yang masih rata. "Baiklah, jika memang sebesar itu kemauanmu untuk menjadi bagian hidupku, aku terima tanpa peduli siapa ayahmu ... anggap saja anak hantu."

.

.

- To Be Continued -

Assalamualaikum, maaf karena kemarin cuma up satu ... janjinya memang tiga, tapi aku takut malah terjebak review lama karena NT belum stabil seperti biasa. Mohon dimaklumi dan Author usahakan hari ini bisa tiga lagi, mohon doain NT nggak ngadi-ngadi karena ini menjelang bab 20 (Perjuangan pertama di retensi).

Terpopuler

Comments

mbak i

mbak i

keputusan yang tepat Haura,,,makhluk mungil dalam rahimmu tak berdosa,,,jangan hilangkan kesempatan nya untuk melihat dunia,,kamu pasti bisa

2024-11-06

3

Kamiem sag

Kamiem sag

lagi lagi Haura bergaya hancur padahal dia suka mengandung anaknya Vano

2024-11-19

0

mbak i

mbak i

aku cuma masih ganjel sama Andita,,,apa jangan jangan dia dan Ray,,,ah nggak mungkin

2024-11-06

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Awal
2 BAB 02 - Tolong Aku
3 BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4 BAB 04 - Akan Kuhabisi
5 BAB 05 - Dengan Caraku
6 BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7 BAB 07 - Aku Lawanmu
8 BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9 BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10 BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11 BAB 11 - Back To Single Era!!
12 BAB 12 - Bukan Suami
13 BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14 BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15 BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16 BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17 BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18 BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19 BAB 19 - Seperti Akan Gila
20 BAB 20 - Di Ujung Penantian
21 BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22 BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23 BAB 23 - Terlihat Romantis
24 BAB 24 - Kalah Strategi
25 BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26 BAB 26 - Mas Jawa
27 BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28 BAB 28 - Masih Dendam
29 BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30 BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31 BAB 31 - Rasa yang Sama
32 BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33 BAB 33 - Kuat LDR?
34 BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35 BAB 35 - Via Suara
36 BAB 36 - Kamu Bahagia?
37 BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38 BAB 38 - Egois
39 BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40 BAB 40 - Makan Apa?
41 BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42 BAB 42 - Cinta Sendirian
43 BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44 BAB 44 - Morning Kiss
45 BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46 BAB 46 - Kurang Belaian
47 BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48 BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49 BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50 BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51 BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52 BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53 BAB 53 - I Found You, Haura.
54 BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55 BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56 BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57 BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58 BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59 BAB 59 - Jin Qorin
60 BAB 60 - Mental Maling
61 BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62 BAB 62 - Bawaan Lahir
63 BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64 BAB 64 - Salah Prasangka
65 BAB 65 - Pulang?
66 BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67 BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68 BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69 BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70 BAB 70 - Sebatas Status
71 BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72 BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73 BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74 BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75 BAB 75 - Jalan Tengah
76 BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77 BAB 77 - Mesin Waktu
78 BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79 BAB 79 - Bukan Mahram
80 BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81 BAB 81 - My First Love
82 BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83 BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84 BAB 84 - Rujuk Saja
85 BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86 Salam Hangat - Desy Puspita
87 BAB 86 - Karena Cinta
88 BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89 BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90 BAB 89 - Ide Gila Haura
91 BAB 90 - Melebur Rindu
92 BAB 91 - Tunda Produksi
93 BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94 BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95 BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96 BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97 BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98 BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99 BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100 BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101 BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102 BAB 101 - Bertukar Pasangan
103 BAB 102 - Lupakan Saja.
104 BAB 103 - Tips Ala Ervano
105 BAB 104 - Takut Karma
106 BAB 105 - Penulis Skenarionya
107 BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108 BAB 107 - Bau Bawang
109 BAB 108 - Malu-Maluin
110 BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111 BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112 BAB 111 - Takut Kehilangan
113 BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114 BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115 BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116 BAB 115 - Tanda Sayang
117 BAB 116 - Amit-Amit!!
118 BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119 BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120 BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121 BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122 BAB 121 - Marah Sekeluarga
123 BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124 BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125 BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126 BAB 125 - Agak Trauma
127 BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128 BAB 127 - My First Love (END)
129 Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
Episodes

Updated 129 Episodes

1
BAB 01 - Awal
2
BAB 02 - Tolong Aku
3
BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4
BAB 04 - Akan Kuhabisi
5
BAB 05 - Dengan Caraku
6
BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7
BAB 07 - Aku Lawanmu
8
BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9
BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10
BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11
BAB 11 - Back To Single Era!!
12
BAB 12 - Bukan Suami
13
BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14
BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15
BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16
BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17
BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18
BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19
BAB 19 - Seperti Akan Gila
20
BAB 20 - Di Ujung Penantian
21
BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22
BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23
BAB 23 - Terlihat Romantis
24
BAB 24 - Kalah Strategi
25
BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26
BAB 26 - Mas Jawa
27
BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28
BAB 28 - Masih Dendam
29
BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30
BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31
BAB 31 - Rasa yang Sama
32
BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33
BAB 33 - Kuat LDR?
34
BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35
BAB 35 - Via Suara
36
BAB 36 - Kamu Bahagia?
37
BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38
BAB 38 - Egois
39
BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40
BAB 40 - Makan Apa?
41
BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42
BAB 42 - Cinta Sendirian
43
BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44
BAB 44 - Morning Kiss
45
BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46
BAB 46 - Kurang Belaian
47
BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48
BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49
BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50
BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51
BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52
BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53
BAB 53 - I Found You, Haura.
54
BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55
BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56
BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57
BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58
BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59
BAB 59 - Jin Qorin
60
BAB 60 - Mental Maling
61
BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62
BAB 62 - Bawaan Lahir
63
BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64
BAB 64 - Salah Prasangka
65
BAB 65 - Pulang?
66
BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67
BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68
BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69
BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70
BAB 70 - Sebatas Status
71
BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72
BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73
BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74
BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75
BAB 75 - Jalan Tengah
76
BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77
BAB 77 - Mesin Waktu
78
BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79
BAB 79 - Bukan Mahram
80
BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81
BAB 81 - My First Love
82
BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83
BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84
BAB 84 - Rujuk Saja
85
BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86
Salam Hangat - Desy Puspita
87
BAB 86 - Karena Cinta
88
BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89
BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90
BAB 89 - Ide Gila Haura
91
BAB 90 - Melebur Rindu
92
BAB 91 - Tunda Produksi
93
BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94
BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95
BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96
BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97
BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98
BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99
BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100
BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101
BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102
BAB 101 - Bertukar Pasangan
103
BAB 102 - Lupakan Saja.
104
BAB 103 - Tips Ala Ervano
105
BAB 104 - Takut Karma
106
BAB 105 - Penulis Skenarionya
107
BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108
BAB 107 - Bau Bawang
109
BAB 108 - Malu-Maluin
110
BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111
BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112
BAB 111 - Takut Kehilangan
113
BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114
BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115
BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116
BAB 115 - Tanda Sayang
117
BAB 116 - Amit-Amit!!
118
BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119
BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120
BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121
BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122
BAB 121 - Marah Sekeluarga
123
BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124
BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125
BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126
BAB 125 - Agak Trauma
127
BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128
BAB 127 - My First Love (END)
129
Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!