BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?

Pertanyaan konyol, orang gila saja mungkin tahu jawabannya. Bagaimana bisa Ervano bertanya lagi, begitu pikir Haura dalam diam sebelum kemudian menjawab lesu. "Pikir saja sendiri, apa mungkin tidak takut?"

Sesuai dugaan Ervano, Haura memang takut hingga membuat pria itu menghela napas panjang. "Saya tidak segila itu, Haura ... kalau bukan karena obat yang kamu masukkan ke dalam_"

"Shut!! Untuk masalah ini mohon diingat, saya tidak bermaksud memasukkan obat perang-sang ke dalam minuman Anda, tidak sama sekali!!" Haura kembali ke mode formal dan menganggap Ervano sebagai seseorang yang terhormat tatkala memberikan penjelasan.

Sebisa mungkin dia tetap bersikap sopan agar Ervano mengerti dan tidak berpikir aneh setelah ini. "Akan tetapi, entah kenapa justru berubah dan jadi petaka untuk saya padahal awalnya ...."

Gleg

Kelepasan, tidak seharusnya dia sejujur itu dan Haura benar-benar baru sadar. Terlambat, karena kini Ervano seolah sudah menunggu jawabannya.

"Pada awalnya apa? Kamu memang berniat mencelakai saya?"

"Ti-tidak!! Saya hanya_"

"Hanya apa? Katakan, apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Haura?"

"Tidak ada, lupakan saja." Tidak ingin salah menjawab, Haura kembali melanjutkan perjalanan.

Rasanya juga percuma menjelaskan kepada Ervano, toh posisinya tetap sama-sama salah. Akan lebih baik jika malam ini dia mengakhiri pertemuan dengan Ervano segera.

Tanpa berucap, Haura menambah kecepatan agar segera tiba. Bukan ke apartemen tentu saja, Haura tidak mau terjebak untuk kedua kalinya.

Cukup kemarin saja dia yang bodoh, malam ini tidak lagi. Meskipun keadaan Ervano lebih memprihatinkan malam ini, Haura tidak peduli.

Dia hanya bersedia mengantar Ervano ke rumah sakit, lagi pula mana mungkin luka seperti itu bisa dirawat sendiri di rumah tanpa pertolongan dokter.

Tidak begitu lama waktu yang diperlukan oleh Haura untuk tiba di rumah sakit terdekat. Tanpa peduli kualitas, Haura percaya saja dan memilih yang paling dekat.

Begitu tiba, Ervano dibuat terkejut begitu sadar dimana dirinya kini berada. "Kita dimana?"

"Rumah sakit," jawab Haura masih baik, tetap ada sopannya walau nama rumah sakit sudah terpampang jelas di depan mata.

Mendengar jawaban Haura, Ervano mendadak terdiam dan melayangkan tatapan tak terbaca ke arah Haura. "Kenapa ke rumah sakit? Saya bilang_"

"Saya tidak mau, kalau memang tetap memaksa ... pesan taksi online saja," tegas Haura sudah siap dengan ponselnya andai memang Ervano memaksa harus pulang ke apartemennya.

Ervano terdiam, sementara Haura kini masih memberikan pilihan. "Gimana? Mau ke apartemen atau rumah sakit? Saya masih baik hati dan berniat tanggung jawab atas luka yang Anda alami, itu saja."

"Fine, rumah sakit," jawab Ervano memejamkan mata.

Masih dengan penampilan yang terlihat tak berdaya di samping Haura, Ervano tetap tidak tergerak untuk turun segera.

Sampai akhirnya, Haura melepas seat belt dan mempersilakan Ervano untuk turun. "Silakan turun."

"Terus kamu?"

"Ya pulanglah, Bapak berharap apa memang? Saya jagain gitu? Hah?"

Ervano bertanya baik-baik, tapi Haura seperti ngajak bertengkar dengan melibatkan emosi di sana.

"Bukan begitu, tapi bukankah kamu sendiri yang mengatakan akan bertanggung jawab?"

Mulut Haura seketika menganga tatkala mendengar Ervano justru menagih ucapannya beberapa saat lalu. Padahal, sewaktu Haura bicara pria itu seperti tidak mendengar dengan baik.

"Kenapa? Kamu sendiri yang bilang tadi, 'kan?"

Sungguh menyesal Haura bicara, agaknya dia memang harus lebih berhati-hati kepada pria yang memang belum dia kenali secara personal ini.

"Fine, tapi setelah ini jangan pernah mengusik hidup saya lagi!!"

Tak berjanji, Ervano diam saja dan pasrah dengan perlakuan Haura yang terkesan dingin. Bagaimana tidak? Langkahnya sewaktu membantu jelas sekali terlihat tidak niat.

Walau begitu, nyatanya Haura tetap baik bahkan rela meluangkan waktu untuk menunggu, padahal bukan siapa-siapa.

Berawal dari dia yang sebenarnya khawatir bocor di kepala Ervano parah dan bisa membuatnya kembali terjebak dalam petaka, Haura dibuat terkejut begitu mengetahui semua luka yang ada di tubuh Ervano sewaktu diperiksa.

Terlebih lagi, luka di telapak tangan yang ternyata cukup dalam dan butuh dijahit. Bisa dipastikan luka itu bukan sekadar tergores, sampai Haura ngilu membayangkannya.

.

.

"Kenapa bisa begitu?" tanya Haura basa-basi demi memastikan yang melakukannya Abimanyu atau bukan.

Ervano menatap Haura sekilas, wanita yang telah membuatnya persis pria lemah itu masih setia di sisinya. "Apanya?"

"Telapak tangannya."

"Oh ini?" Ervano memperlihatkan telapak tangan yang sudah diganti perbannya dan juga dijahit tentu saja. "Ini luka," lanjutnya kemudian.

"Aku tahu itu luka, maksudku luka karena apa?" Bukan bermaksud perhatian, Haura hanya ingin tahu penyebabnya, itu saja.

Tak segera menjawab, Ervano seperti sengaja merahasiakan hal itu sampai Haura malas juga. "Baiklah, saya rasa cukup sampai di sini ... saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Anda bisa meminta keluarga atau istri Anda datang ke sini."

Begitu tegas Haura katakan dengan maksud agar Ervano sadar akan statusnya. Namun, alih-alih sadar Ervano menahan kepergian Haura.

"Bisakah kamu tetap di sini sampai keadaan saya benar-benar membaik?"

"Tidak."

"Kenapa? Tanggung jawabmu baru setengah kalau hanya sebatas ini."

"Shuuut!! Jangan bicara tentang tanggung jawab ... coba pikir lagi siapa korban sebenarnya di sini?" Haura balik bertanya sembari bersedekap dada.

Sikap Ervano yang justru terbalik dan seperti tidak sadar posisi semacam ini sungguh membuat Haura kesal sebenarnya.

"Saya, saya korban di sini!! Terlepas dari kejadian awal, saya tetap korban karena sebagai pelaku Anda bisa melakukan cara lain jika hanya karena obat itu!!" tegas Haura menggunakan analogi yang sempat Abimanyu sampaikan kepadanya.

Selama Haura menegaskan duduk masalahnya, Ervano terus menatap lekat bahkan tidak berkedip di sana.

Hingga selesai, barulah dia menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian dia embuskan perlahan. "Jadi maksudmu bagaimana? Butuh pertanggungjawaban atas apa yang terjadi malam kemarin?"

Gleg

Untuk kesekian kali Haura menyesal bicara. Niat hati menampar Ervano dengan fakta, nyatanya Haura sendiri yang gelagapan dibuatnya.

"Katakan, tanggung jawab apa yang kamu inginkan?"

"Eum ...." Lidah Haura mendadak kelu, seperti tidak berguna tatkala Ervano justru menawarkan tanggung jawab atas perbuatannya.

"Hem? Katakan saya harus bagaimana? Jangankan kompensasi, pernikahan pun akan saya berikan, Haura," tegas Ervano begitu yakinnya.

Sontak Haura terkekeh, merasa geli mendengar pernyataan Ervano.

"Kenapa tertawa? Saya tidak bercanda."

"Thanks, tapi saya tidak butuh kompensasi apalagi dinikahi!! Cukup jangan usik ketenangan saya dan anggap tidak ada yang terjadi, permisi!!" pungkas Haura berlalu pergi meninggalkan Ervano tanpa kata.

Kali ini agaknya pria itu mengalah, dia tidak membuntuti Haura lagi hingga bisa melangkah dengan bebas. Sembari berjalan, Haura mengutuk Ervano. "Dasar gila!! Bisa-bisanya dia menawarkan pernikahan padahal statusnya masih pria beris_"

"Bagus!! Ternyata ini alasanmu kenapa kekeuh minta putus, Haura?"

"Heuh?"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Kamiem sag

Kamiem sag

nah... ketahuan kan Ra kalo kamu ngarep si Vano

2024-11-19

0

Hamimah Jamal

Hamimah Jamal

waduuh, keciduk ray nih.

2024-11-16

0

Takdir Hidupku

Takdir Hidupku

Rayyan🥺🥺

2025-01-10

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Awal
2 BAB 02 - Tolong Aku
3 BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4 BAB 04 - Akan Kuhabisi
5 BAB 05 - Dengan Caraku
6 BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7 BAB 07 - Aku Lawanmu
8 BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9 BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10 BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11 BAB 11 - Back To Single Era!!
12 BAB 12 - Bukan Suami
13 BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14 BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15 BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16 BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17 BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18 BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19 BAB 19 - Seperti Akan Gila
20 BAB 20 - Di Ujung Penantian
21 BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22 BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23 BAB 23 - Terlihat Romantis
24 BAB 24 - Kalah Strategi
25 BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26 BAB 26 - Mas Jawa
27 BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28 BAB 28 - Masih Dendam
29 BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30 BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31 BAB 31 - Rasa yang Sama
32 BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33 BAB 33 - Kuat LDR?
34 BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35 BAB 35 - Via Suara
36 BAB 36 - Kamu Bahagia?
37 BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38 BAB 38 - Egois
39 BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40 BAB 40 - Makan Apa?
41 BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42 BAB 42 - Cinta Sendirian
43 BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44 BAB 44 - Morning Kiss
45 BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46 BAB 46 - Kurang Belaian
47 BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48 BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49 BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50 BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51 BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52 BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53 BAB 53 - I Found You, Haura.
54 BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55 BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56 BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57 BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58 BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59 BAB 59 - Jin Qorin
60 BAB 60 - Mental Maling
61 BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62 BAB 62 - Bawaan Lahir
63 BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64 BAB 64 - Salah Prasangka
65 BAB 65 - Pulang?
66 BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67 BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68 BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69 BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70 BAB 70 - Sebatas Status
71 BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72 BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73 BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74 BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75 BAB 75 - Jalan Tengah
76 BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77 BAB 77 - Mesin Waktu
78 BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79 BAB 79 - Bukan Mahram
80 BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81 BAB 81 - My First Love
82 BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83 BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84 BAB 84 - Rujuk Saja
85 BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86 Salam Hangat - Desy Puspita
87 BAB 86 - Karena Cinta
88 BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89 BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90 BAB 89 - Ide Gila Haura
91 BAB 90 - Melebur Rindu
92 BAB 91 - Tunda Produksi
93 BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94 BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95 BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96 BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97 BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98 BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99 BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100 BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101 BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102 BAB 101 - Bertukar Pasangan
103 BAB 102 - Lupakan Saja.
104 BAB 103 - Tips Ala Ervano
105 BAB 104 - Takut Karma
106 BAB 105 - Penulis Skenarionya
107 BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108 BAB 107 - Bau Bawang
109 BAB 108 - Malu-Maluin
110 BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111 BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112 BAB 111 - Takut Kehilangan
113 BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114 BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115 BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116 BAB 115 - Tanda Sayang
117 BAB 116 - Amit-Amit!!
118 BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119 BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120 BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121 BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122 BAB 121 - Marah Sekeluarga
123 BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124 BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125 BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126 BAB 125 - Agak Trauma
127 BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128 BAB 127 - My First Love (END)
129 Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
Episodes

Updated 129 Episodes

1
BAB 01 - Awal
2
BAB 02 - Tolong Aku
3
BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4
BAB 04 - Akan Kuhabisi
5
BAB 05 - Dengan Caraku
6
BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7
BAB 07 - Aku Lawanmu
8
BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9
BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10
BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11
BAB 11 - Back To Single Era!!
12
BAB 12 - Bukan Suami
13
BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14
BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15
BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16
BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17
BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18
BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19
BAB 19 - Seperti Akan Gila
20
BAB 20 - Di Ujung Penantian
21
BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22
BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23
BAB 23 - Terlihat Romantis
24
BAB 24 - Kalah Strategi
25
BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26
BAB 26 - Mas Jawa
27
BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28
BAB 28 - Masih Dendam
29
BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30
BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31
BAB 31 - Rasa yang Sama
32
BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33
BAB 33 - Kuat LDR?
34
BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35
BAB 35 - Via Suara
36
BAB 36 - Kamu Bahagia?
37
BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38
BAB 38 - Egois
39
BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40
BAB 40 - Makan Apa?
41
BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42
BAB 42 - Cinta Sendirian
43
BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44
BAB 44 - Morning Kiss
45
BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46
BAB 46 - Kurang Belaian
47
BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48
BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49
BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50
BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51
BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52
BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53
BAB 53 - I Found You, Haura.
54
BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55
BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56
BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57
BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58
BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59
BAB 59 - Jin Qorin
60
BAB 60 - Mental Maling
61
BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62
BAB 62 - Bawaan Lahir
63
BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64
BAB 64 - Salah Prasangka
65
BAB 65 - Pulang?
66
BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67
BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68
BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69
BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70
BAB 70 - Sebatas Status
71
BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72
BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73
BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74
BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75
BAB 75 - Jalan Tengah
76
BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77
BAB 77 - Mesin Waktu
78
BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79
BAB 79 - Bukan Mahram
80
BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81
BAB 81 - My First Love
82
BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83
BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84
BAB 84 - Rujuk Saja
85
BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86
Salam Hangat - Desy Puspita
87
BAB 86 - Karena Cinta
88
BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89
BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90
BAB 89 - Ide Gila Haura
91
BAB 90 - Melebur Rindu
92
BAB 91 - Tunda Produksi
93
BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94
BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95
BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96
BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97
BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98
BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99
BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100
BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101
BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102
BAB 101 - Bertukar Pasangan
103
BAB 102 - Lupakan Saja.
104
BAB 103 - Tips Ala Ervano
105
BAB 104 - Takut Karma
106
BAB 105 - Penulis Skenarionya
107
BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108
BAB 107 - Bau Bawang
109
BAB 108 - Malu-Maluin
110
BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111
BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112
BAB 111 - Takut Kehilangan
113
BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114
BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115
BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116
BAB 115 - Tanda Sayang
117
BAB 116 - Amit-Amit!!
118
BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119
BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120
BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121
BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122
BAB 121 - Marah Sekeluarga
123
BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124
BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125
BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126
BAB 125 - Agak Trauma
127
BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128
BAB 127 - My First Love (END)
129
Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!