BAB 02 - Tolong Aku

"Perfect, tidak ada yang melihatku, 'kan?"

Tekad Haura untuk membalas dendam sudah begitu bulat. Hanya demi melancarkan misinya, Haura rela datang lebih awal dan mengambil alih tanggung jawab untuk memesan makanan.

Padahal, seharusnya dia tinggal duduk manis dan menikmati makan malam. Akan tetapi, malam ini dia benar-benar nekat dan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai.

Bahkan, malam ini harusnya tetap berada di rumah. Kedua orangtua Haura sempat berpesan untuk tidak pergi di malam hari sementara mereka berada di luar kota.

Namun, karena sakitnya direndahkan Ervano benar-benar tidak tertakar, Haura sampai mengarang cerita agar diizinkan keluar dengan alasan menginap di rumah teman dekatnya.

Tak berselang lama pasca dirinya selesai meneteskan sesuatu ke dalam minuman yang disiapkan untuk Ervano, beberapa rekan lainnya mulai berdatangan.

Seiring berjalannya waktu, mata Haura terus memantau siapapun yang datang. Untuk pertama kalinya, jantung Haura sampai berdegup kencang hanya karena menunggu kedatangan Ervano.

Satu demi satu yang datang belum juga, Haura mulai pesimis dan mengira bahwa Ervano tidak akan datang karena memang pria itu menjalani segala sesuatu sesuai kehendak hatinya.

"Dit, kenapa dia belum datang? Jangan-jangan_"

"Shuut, sudah tenang aja ... mungkin lagi di jalan, kamu tahu sendiri Pak Vano gimana orangnya, Ra, dunia ini seolah punya dia jadi seenaknya," bisik Andita pelan-pelan yang kemudian ditanggapi Haura dengan senyuman.

Keduanya seolah tengah bergunjing di tengah keramaian dan was-was terbongkar di hadapan para pengagum Ervano.

Tak begitu banyak yang mereka bahas karena memang tidak bebas. Ditengah pembicaraan mereka, yang ditunggu-tunggu datang dan disambut begitu antusias oleh para pen-jilat dan pengangum Ervano.

"Selamat datang, Pak Vano ... akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," ucap salah seorang yang paling ahli dalam perihal merebut hati atasan, Velia.

Aktris lama yang menggantikan peran Haura di serial terbaru mereka. Melihat interaksi Velia yang sampai semanis itu tatkala menyambut Ervano membuatnya semakin curiga.

Entah ada apa di balik interaksi mereka, tapi yang pasti Haura yakin betul keduanya bermain api dan dia adalah imbas dari pemainan Velia atas dukungan Ervano di belakangnya.

"Hem, terima kasih."

"Mau duduk di sini, atau samping saya? Kebetulan kosong ... Anwar belum datang," ajak Velia seketika membuat mata Haura membulat sempurna.

Jika sampai Ervano benar-benar tertarik untuk pindah tempat dan duduk di sisi pemeran utama, maka hancur sudah rencananya.

Besar kemungkinan yang paling terakhir datang akan menjadi korban dari tindakan Haura. Dalam diamnya, Haura komat-kamit dan berharap Ervano tetap duduk di kursi yang memang sudah disediakan untuknya.

"Di sini saja, lebih nyaman dan kalian bisa saya lihat semua," balas Ervano masih setia dengan wajah datar dan duduk di tempatnya.

Sontak Haura menghela napas lega, hampir saja dia membuat kekacauan dan menyiksa orang yang tidak bersalah.

Sepanjang acara, mata Haura terus menatap ke arah Ervano di sela-sela kegiatannya. Sengaja makan sembari memantau reaksi obat yang tadi Andita berikan.

Jujur dia penasaran seganas apa reaksinya. Jarak antara Haura dan Ervano tidak begitu jauh, hanya dipisahkan beberapa orang saja.

Sedikit banyak dia bisa menangkap bahwa memang ada perubahan. Ervano sesekali mengusap wajah dan keningnya, kemungkinan berkeringat dan Haura mulai menerka bahwa itu adalah akibat dari Ervano menahan sakitnya.

"Itu belum seberapa, Andita bilang Bapak akan tersiksa selama semalaman ... jadi nikmati saja," batin Haura mulai senyum-senyum dan menari di atas keberhasilannya.

Semakin lama dia lihat, Ervano yang kian gusar dan tak ubahnya bak cacing kepanasan hingga Haura berbinar dibuatnya.

Beberapa kali Ervano pamit ke toilet, Haura dan Andita bertos di bawah meja sebagai perayaan atas kemenangan mereka.

"Manjur banget, padahal aku kasihnya dikit."

"Oh iya? Berapa tetes?" tanya Andita penasaran, sudah tentu masih dengan bisik-bisik ria di sela keributan.

"Ada empat atau lim_"

"Hah? Lima?" Mata Andita membulat sempurna saking kagetnya.

Haura yang ditanya iya-iya saja, toh memang benar begitu adanya. "Iya, kenapa sih? Kok panik gitu?"

"Ra ya ampun, serius lima?"

Sekali lagi Haura mengangguk pelan. "Iya, tapi dikit ... soalnya yang pertama juga rada ragu."

Apapun jawaban Haura, Andita masih tetap panik seolah dia yang akan tertimpa petaka. Sementara di sisi lain, Haura biasa saja, super santai dan menikmati hidangan penutup yang tersedia.

Cukup lama Ervano menghilang, dan mereka seakan tidak ada yang sadar karena asyik sendiri dengan urusan masing-masing. Sampai akhirnya, salah-satu di antara mereka memberikan pemberitahuan bahwa Ervano pamit pulang.

"Serius Pak Ervano pulang?" tanya Haura antusias dan seakan memang menunggu momen ini.

"Iya, kenapa, Ra?"

"Tanya saja, kalau beliau sudah pulang berarti makan malam kita selesai dan aku sudah boleh pulang, 'kan?" tanya Haura dengan begitu santainya.

Jujur dia katakan sebenarnya malas berada di antara orang-orang ini. Hanya saja, dia memang mengimpikan untuk ikut andil dalam series yang diadaptasi dari novel karya penulis favoritnya.

Begitu Haura pamit, yang di sana juga mempersilakan dia pergi tanpa banyak tanya, termasuk Andita.

.

.

"Good job, Haura, sekarang tinggal nunggu kabar dia masuk rumah sakit."

Sembari berlalu menuju area parkir, Haura bergumam pelan dan tak sabar menunggu kabar buruk tentang Ervano, jika perlu kabar duka sekalian.

Namun, baru saja hendak membuka pintu mobilnya, telinga Haura dikejutkan dengan suara erangan tak asing yang berada di dekatnya.

"Heum? Suara apa itu?" Haura celingukan dan mencari ke kiri dan kanan.

Tidak butuh banyak usaha untuk mencarinya, mata Haura kini menangkap Ervano tengah kesulitan seperti menahan sakit.

Haura yang telanjur melihat mendadak bingung hendak ditolong atau biarkan saja sengsara di sana.

Namun, hati kecilnya tetap tidak tega sebagai manusia dan mendekati Ervano walau dia lah penyebabnya.

"Pak ...."

"To_tolong ... aku tidak mampu menahannya lebih lama."

"Mau saya antar ke toilet?" Haura menawarkan bantuan karena jika tidak segera dikeluarkan, kasian juga pikirnya.

Dengan tubuh lemas dan wajah pucat, Ervano menggeleng dan meraih ujung gaun Haura sebagai pertanda jika dia memang tidak baik-baik saja.

"Aku ingin pulang, antar aku ke apartemen ... apa bisa?" tanya Ervano dengan napas yang sudah tidak biasa, persis ikan kekeringan.

Sebenarnya malas sekali, tapi Haura mulai khawatir Ervano akan pingsan dan menimbulkan kecurigaan jika orang lain yang membantu.

Karena itu, dia menganggukkan kepala dan menuntun Ervano untuk masuk ke mobilnya. Sedikit menyulitkan, tapi anggap saja ini tanggung jawab karena telah membuatnya tersiksa.

"Eeeuuggh ... bisa tolong cepat dan tidak?" desak Ervano dengan wajah yang kian memerah dan rambut acak-acakan hingga Haura sebal dibuatnya.

"Sabar, Pak, salah sendiri kenapa harus di Apartemen padahal di sini toilet ada," sentaknya sebelum kemudian mulai mengemudi dengan kecepatan tinggi sembari menggerutu. "Rasain, nyahok kan?"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

aku bingung ,, rada lupa,,perasaan sdh baca kisah ini,,tapi kok ggak tahu kisah akhirnya gimana..

2025-02-20

0

💜jiminaa💜🐣

💜jiminaa💜🐣

berrti udah mangap² dong nyawa si panu. 🤣🤣🤣🤣

2024-11-09

1

Erna Wati

Erna Wati

jangan jangan obat perangsang senjata makan tuan

2024-11-17

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Awal
2 BAB 02 - Tolong Aku
3 BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4 BAB 04 - Akan Kuhabisi
5 BAB 05 - Dengan Caraku
6 BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7 BAB 07 - Aku Lawanmu
8 BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9 BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10 BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11 BAB 11 - Back To Single Era!!
12 BAB 12 - Bukan Suami
13 BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14 BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15 BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16 BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17 BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18 BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19 BAB 19 - Seperti Akan Gila
20 BAB 20 - Di Ujung Penantian
21 BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22 BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23 BAB 23 - Terlihat Romantis
24 BAB 24 - Kalah Strategi
25 BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26 BAB 26 - Mas Jawa
27 BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28 BAB 28 - Masih Dendam
29 BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30 BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31 BAB 31 - Rasa yang Sama
32 BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33 BAB 33 - Kuat LDR?
34 BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35 BAB 35 - Via Suara
36 BAB 36 - Kamu Bahagia?
37 BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38 BAB 38 - Egois
39 BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40 BAB 40 - Makan Apa?
41 BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42 BAB 42 - Cinta Sendirian
43 BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44 BAB 44 - Morning Kiss
45 BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46 BAB 46 - Kurang Belaian
47 BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48 BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49 BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50 BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51 BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52 BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53 BAB 53 - I Found You, Haura.
54 BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55 BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56 BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57 BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58 BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59 BAB 59 - Jin Qorin
60 BAB 60 - Mental Maling
61 BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62 BAB 62 - Bawaan Lahir
63 BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64 BAB 64 - Salah Prasangka
65 BAB 65 - Pulang?
66 BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67 BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68 BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69 BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70 BAB 70 - Sebatas Status
71 BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72 BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73 BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74 BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75 BAB 75 - Jalan Tengah
76 BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77 BAB 77 - Mesin Waktu
78 BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79 BAB 79 - Bukan Mahram
80 BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81 BAB 81 - My First Love
82 BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83 BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84 BAB 84 - Rujuk Saja
85 BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86 Salam Hangat - Desy Puspita
87 BAB 86 - Karena Cinta
88 BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89 BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90 BAB 89 - Ide Gila Haura
91 BAB 90 - Melebur Rindu
92 BAB 91 - Tunda Produksi
93 BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94 BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95 BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96 BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97 BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98 BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99 BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100 BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101 BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102 BAB 101 - Bertukar Pasangan
103 BAB 102 - Lupakan Saja.
104 BAB 103 - Tips Ala Ervano
105 BAB 104 - Takut Karma
106 BAB 105 - Penulis Skenarionya
107 BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108 BAB 107 - Bau Bawang
109 BAB 108 - Malu-Maluin
110 BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111 BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112 BAB 111 - Takut Kehilangan
113 BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114 BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115 BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116 BAB 115 - Tanda Sayang
117 BAB 116 - Amit-Amit!!
118 BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119 BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120 BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121 BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122 BAB 121 - Marah Sekeluarga
123 BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124 BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125 BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126 BAB 125 - Agak Trauma
127 BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128 BAB 127 - My First Love (END)
129 Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
Episodes

Updated 129 Episodes

1
BAB 01 - Awal
2
BAB 02 - Tolong Aku
3
BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4
BAB 04 - Akan Kuhabisi
5
BAB 05 - Dengan Caraku
6
BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7
BAB 07 - Aku Lawanmu
8
BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9
BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10
BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11
BAB 11 - Back To Single Era!!
12
BAB 12 - Bukan Suami
13
BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14
BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15
BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16
BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17
BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18
BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19
BAB 19 - Seperti Akan Gila
20
BAB 20 - Di Ujung Penantian
21
BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22
BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23
BAB 23 - Terlihat Romantis
24
BAB 24 - Kalah Strategi
25
BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26
BAB 26 - Mas Jawa
27
BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28
BAB 28 - Masih Dendam
29
BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30
BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31
BAB 31 - Rasa yang Sama
32
BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33
BAB 33 - Kuat LDR?
34
BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35
BAB 35 - Via Suara
36
BAB 36 - Kamu Bahagia?
37
BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38
BAB 38 - Egois
39
BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40
BAB 40 - Makan Apa?
41
BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42
BAB 42 - Cinta Sendirian
43
BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44
BAB 44 - Morning Kiss
45
BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46
BAB 46 - Kurang Belaian
47
BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48
BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49
BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50
BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51
BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52
BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53
BAB 53 - I Found You, Haura.
54
BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55
BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56
BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57
BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58
BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59
BAB 59 - Jin Qorin
60
BAB 60 - Mental Maling
61
BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62
BAB 62 - Bawaan Lahir
63
BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64
BAB 64 - Salah Prasangka
65
BAB 65 - Pulang?
66
BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67
BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68
BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69
BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70
BAB 70 - Sebatas Status
71
BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72
BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73
BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74
BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75
BAB 75 - Jalan Tengah
76
BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77
BAB 77 - Mesin Waktu
78
BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79
BAB 79 - Bukan Mahram
80
BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81
BAB 81 - My First Love
82
BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83
BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84
BAB 84 - Rujuk Saja
85
BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86
Salam Hangat - Desy Puspita
87
BAB 86 - Karena Cinta
88
BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89
BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90
BAB 89 - Ide Gila Haura
91
BAB 90 - Melebur Rindu
92
BAB 91 - Tunda Produksi
93
BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94
BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95
BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96
BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97
BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98
BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99
BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100
BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101
BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102
BAB 101 - Bertukar Pasangan
103
BAB 102 - Lupakan Saja.
104
BAB 103 - Tips Ala Ervano
105
BAB 104 - Takut Karma
106
BAB 105 - Penulis Skenarionya
107
BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108
BAB 107 - Bau Bawang
109
BAB 108 - Malu-Maluin
110
BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111
BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112
BAB 111 - Takut Kehilangan
113
BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114
BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115
BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116
BAB 115 - Tanda Sayang
117
BAB 116 - Amit-Amit!!
118
BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119
BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120
BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121
BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122
BAB 121 - Marah Sekeluarga
123
BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124
BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125
BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126
BAB 125 - Agak Trauma
127
BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128
BAB 127 - My First Love (END)
129
Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!