BAB 20 - Di Ujung Penantian

Tanpa menjawab, Ervano berlalu masuk lebih dulu. Diikuti dengan Haura yang terus meminta penjelasan atas tindakannya.

"Pak, jawab dulu apa maksud ucapan Anda yang terakhir?" tanya Haura tanpa lelah terus mengekor di balik punggung pria itu.

Sudah berkali-kali dengan pertanyaan yang sama dan Ervano masih diam, seakan menganggap Haura batu kali.

"Pak ...."

"Pak Vano."

"Bapak."

"Ck, Ervano Lakeswara!!"

Tiga kali dipanggil dengan cara baik-baik dan masih gagal, Haura kehilangan kesabaran hingga nekat memanggil Ervano tanpa embel-embel pak atau semacamnya.

Hal itu berhasil, Ervano tergerak untuk menjawab, tapi bukan menjelaskan segera.

"Apa, Haura?" sahutnya tetap tenang dan semakin membuat Haura naik darah.

"Jangan pura-pura bodoh, jawab saja pertanyaanku apa susahnya?"

"Pertanyaan yang mana? Hem?" Ervano mendekat dan balik bertanya seakan memang tidak mengerti arah pembicaraan Haura.

Terpaksa, mau tidak mau Haura harus mengulang kembali pertanyaannya. Meski dengan emosi yang sudah tak tertahankan, Haura masih berusaha bersikap sopan.

"Oh, itu? Kurang jelaskah?" Kembali Ervano melayangkan pertanyaan menyebalkan semacam itu.

Tidak hanya pertanyaan, tapi ekspresinya juga demikian. Alih-alih menjawab, pria itu justru menghela napas panjang seolah baru saja melepaskan beban berat di pundaknya.

"Sepertinya kita tidak perlu terlalu formal karena kita bukan di lingkungan pekerjaan ... lagi pula_"

"Terserah, langsung jawab saja jangan kebanyakan kata pengantarnya," celetuk Haura memotong pembicaraan Ervano hingga pria itu terkekeh pelan.

Galak sekali, begitu pikirnya sembari menggelengkan kepala. "Baiklah, tentang pertanyaanmu itu kurasa tidak perlu dijelaskan harusnya sudah tahu."

"Apa susahnya jelaskan? Aku bodoh kebetulan," aku Haura secara terang-terangan lantaran memang tak sabaran.

"Ehm, begini ... sesuai dengan kesepakatan kita tadi malam, jika kamu hamil maka di antara kita harus ada pernikahan, ingat?"

"I-iya, terus?"

"Yang namanya pernikahan tentu saja perlu dihadiri orangtua, terutama papa dan mamamu ... iya, 'kan?"

Gleg

Haura meneguk salivanya pahit, tidak dia duga bahwa Ervano sudah melangkah begitu jauh.

"Kamu memberitahukan ini pada orang tuaku?" tanya Haura dengan suara yang kini terdengar lesu, takut sekali andai benar karena bisa dipastikan baik papa dan mamanya akan kecewa setengah mati.

"Bukan."

"Lalu?"

"Abimanyu," jawabnya seketika membuat tubuh Haura lemas tak bertenaga.

Memang benar-benar pengkhianat, Haura sungguh murka sampai ingin menghancurkan kepalanya. Jiwa pemberontaknya masih berpikir positif dan yakin bahwa Abimanyu tidak mungkin segila itu.

"Tidak mungkin, pasti semua ini karanganmu, 'kan?"

"Untuk apa aku mengarang cerita? Aku hanya menyampaikan pengakuannya padaku kemarin, itu saja."

"Abimanyu bilang apa memangnya sama Papa?" tanya Haura ingin tahu lebih jelasnya, kebetulan memang penasaran.

"Kurang tahu jelasnya bagaimana, tapi yang pasti Abimanyu mengatakan sebelum menemuiku dia sudah berdiskusi bersama papamu lebih dulu," ungkap Ervano kian membuat Haura lemas. "Dan itu artinya kedua orang tuamu tahu lebih dulu tentang kehamilanmu jauh sebelum aku," tambahnya kemudian.

Tamat, pupus sudah harapan Haura untuk pergi. Sia-sia dia melarikan diri ke Bali karena ternyata kedua orangtuanya juga sudah tahu. Kemungkinan, keluarganya yang lain juga begitu.

Matanya sontak mengembun dan terduduk lesu. Isak tangis tak mampu lagi dia tahan, Haura ingin meraung agar puas. Akan tetapi, sadar bahwa tangisan takkan menyelesaikan masalah, Haura segera menyeka kasar air matanya.

"Soal kesepakatan kita tadi malam, apa bisa ditarik ulang?" tanya Haura menatap Ervano penuh harap.

Setelah sebelumnya dia terlihat tegar bahkan berani membentak, sekarang mendadak cuit dan berharap belas kasihan Ervano.

"Ditarik ulang?"

"Hem, kan aku juga belum setuju semalam."

"Terlambat, kamu telah menyetujui kesepakatan itu tanpa sadar."

Haura mengusap kasar wajahnya. Mimpi apa dia dihadapkan dengan Ervano yang sama sekali tidak tertebak dan egois juga jalan pikirannya.

"Tapi_"

"Tapi apa?"

"Ck, aku tidak mau jadi istrimu, titik!!" Dengan sisa-sisa keberaniannya Haura masih berusaha mempertahankan haknya untuk menolak.

"Heum? Kenapa jadi plin-plan begitu?"

"Persetan mau dianggap plin-plan atau semacamnya, tapi yang pasti sebagai wanita aku tidak mau menjadi yang kedua!! Titik!!"

"Terus maunya gimana? Jadi satu-satunya?" Ervano balik bertanya dan dengan penuh keberanian memberikan tawaran yang ternyata tetap tidak melunakkan hati Haura.

"Tetap tidak mau, jadi yang kedua, ketiga, keempat maupun satu-satunya bagimu pun tidak!!" cerocos Haura mempertegas seberapa keberatannya dia saat ini.

Dadanya sampai naik turun, berharap Ervano akan paham dan mengalah. Namun, alih-alih mengalah, keyakinan Ervano justru terlihat semakin bulat saja.

"Jangan buang tenagamu ... ada baiknya masuk ke kamarmu, masih ada waktu untuk istirahat," tutur Ervano mempersilakan Haura untuk masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya.

"Aku tidak mau," jawabnya dengan mental pembangkang yang masih begitu menyala hingga detik ini.

"Kenapa? Mau langsung tidur sekamar denganku?"

Pertanyaan Ervano seketika membuat Haura terperanjat. Segera dia berdiri dan berlari keluar begitu sadar bahwa kini dia memang tengah berada di tempat peristirahatan Ervano.

Secepat kilat Haura berlari pergi meninggalkan Ervano yang kini tersenyum penuh kelegaan.

Brugh

Dia menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. Setelah cukup lama mengatur strategi dan mencari peluang, hari ini Ervano baru bisa menghela napas lega.

"Finally ... aku mendapatkannya meski harus memaksa, Ma."

.

.

Jika di kamarnya Ervano tengah menghela napas lega atas pencapaiannya, berbanding terbalik dengan penghuni kamar sebelah.

Alih-alih istirahat sebagaimana yang Ervano katakan, Haura masih tetap berpikir cara melarikan diri. Ya, masih seputar itu-itu saja, Haura belum menyerah.

Meski tahu papanya akan semakin marah, tapi ketakutan tentang menjadi istri kedua Ervano lebih besar rasanya.

"Duh, kenapa juga pakai dijagain segala ... mana sepi tempat ini, mau minta tolong ke siapa? Abimanyu saja sudah tidak dapat dipercaya," gumam Haura dalam hati sembari menatap beberapa pria di luar yang kemungkinan diperintahkan untuk mengawasi dirinya.

Tidak hanya diawasi dari luar, tapi satu wanita juga diperintahkan memantaunya di dalam. Sementara yang satu bertanggung jawab memenuhi kebutuhannya seperti makan, minum dan semacamnya.

Diperlakukan bak ratu seperti ini sebenarnya memang menyenangkan. Namun, Haura sama sekali tidak senang mengingat orang yang ada di balik ini adalah Ervano.

Tak terasa, penantian Haura kini berujung hingga senja menjelang. Tidak ada jalan keluar untuk pergi bahkan setelah dirinya mandi dan diminta berpakaian rapi. Sampai akhirnya, mata Haura dibuat berbinar dengan kedatangan seseorang yang dia saksikan di balik jendela.

"Papa? Mama?" Jantung Haura sontak berdegup tak karu-karuan.

Dia hampir berteriak saking bahagianya. Akan tetapi kebahagiaan itu hanya sesaat dan berganti cemas tatkala Haura ingat apa tujuan kedua orangtuanya datang ke sini.

"Ce-laka, tamat sudah riwayatmu, Ra."

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Ani Suwarni

Ani Suwarni

aku harus mengucapkan selamat kepada ervano ataukah aku harus menghujat nih....dia terang" mengatakan mendapatkannya meski harus memaksa.

tapi pertanyaannya kok seperti mama papanya ervano menyetujui Ervano nikah sama Haura yaa???dahal kan Ervano dah punya istri???Ada apa ini???

2024-09-19

60

Sandisalbiah

Sandisalbiah

kadang takdir bekerja di luar nalar manusia.. kita terkadang yg tak tau diri meminta lebih bahkan tak sadar kalau keinginan kita itu belum tentu membawa kebaikan utk hidup kita.. bahkan tak jarang yg mengupat marah dgn cacian mendapat takdir yg tak sesuai harapan... tanpa kita sadari ada kebaikan, ada pelajaran di balik semua itu... karena ketetapan Allah seburuk apapun itu adalah sebaik² hal bagi hambanya...

2024-11-04

0

Kamiem sag

Kamiem sag

halah !!
Haura banyak gaya banyak drama, gitu lihat papa mamanya bahagia
ya bahagialah sudah datang walinya utk nikah

2024-11-19

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Awal
2 BAB 02 - Tolong Aku
3 BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4 BAB 04 - Akan Kuhabisi
5 BAB 05 - Dengan Caraku
6 BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7 BAB 07 - Aku Lawanmu
8 BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9 BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10 BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11 BAB 11 - Back To Single Era!!
12 BAB 12 - Bukan Suami
13 BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14 BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15 BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16 BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17 BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18 BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19 BAB 19 - Seperti Akan Gila
20 BAB 20 - Di Ujung Penantian
21 BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22 BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23 BAB 23 - Terlihat Romantis
24 BAB 24 - Kalah Strategi
25 BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26 BAB 26 - Mas Jawa
27 BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28 BAB 28 - Masih Dendam
29 BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30 BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31 BAB 31 - Rasa yang Sama
32 BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33 BAB 33 - Kuat LDR?
34 BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35 BAB 35 - Via Suara
36 BAB 36 - Kamu Bahagia?
37 BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38 BAB 38 - Egois
39 BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40 BAB 40 - Makan Apa?
41 BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42 BAB 42 - Cinta Sendirian
43 BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44 BAB 44 - Morning Kiss
45 BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46 BAB 46 - Kurang Belaian
47 BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48 BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49 BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50 BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51 BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52 BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53 BAB 53 - I Found You, Haura.
54 BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55 BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56 BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57 BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58 BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59 BAB 59 - Jin Qorin
60 BAB 60 - Mental Maling
61 BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62 BAB 62 - Bawaan Lahir
63 BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64 BAB 64 - Salah Prasangka
65 BAB 65 - Pulang?
66 BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67 BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68 BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69 BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70 BAB 70 - Sebatas Status
71 BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72 BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73 BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74 BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75 BAB 75 - Jalan Tengah
76 BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77 BAB 77 - Mesin Waktu
78 BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79 BAB 79 - Bukan Mahram
80 BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81 BAB 81 - My First Love
82 BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83 BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84 BAB 84 - Rujuk Saja
85 BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86 Salam Hangat - Desy Puspita
87 BAB 86 - Karena Cinta
88 BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89 BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90 BAB 89 - Ide Gila Haura
91 BAB 90 - Melebur Rindu
92 BAB 91 - Tunda Produksi
93 BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94 BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95 BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96 BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97 BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98 BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99 BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100 BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101 BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102 BAB 101 - Bertukar Pasangan
103 BAB 102 - Lupakan Saja.
104 BAB 103 - Tips Ala Ervano
105 BAB 104 - Takut Karma
106 BAB 105 - Penulis Skenarionya
107 BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108 BAB 107 - Bau Bawang
109 BAB 108 - Malu-Maluin
110 BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111 BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112 BAB 111 - Takut Kehilangan
113 BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114 BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115 BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116 BAB 115 - Tanda Sayang
117 BAB 116 - Amit-Amit!!
118 BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119 BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120 BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121 BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122 BAB 121 - Marah Sekeluarga
123 BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124 BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125 BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126 BAB 125 - Agak Trauma
127 BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128 BAB 127 - My First Love (END)
129 Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
Episodes

Updated 129 Episodes

1
BAB 01 - Awal
2
BAB 02 - Tolong Aku
3
BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4
BAB 04 - Akan Kuhabisi
5
BAB 05 - Dengan Caraku
6
BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7
BAB 07 - Aku Lawanmu
8
BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9
BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10
BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11
BAB 11 - Back To Single Era!!
12
BAB 12 - Bukan Suami
13
BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14
BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15
BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16
BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17
BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18
BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19
BAB 19 - Seperti Akan Gila
20
BAB 20 - Di Ujung Penantian
21
BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22
BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23
BAB 23 - Terlihat Romantis
24
BAB 24 - Kalah Strategi
25
BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26
BAB 26 - Mas Jawa
27
BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28
BAB 28 - Masih Dendam
29
BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30
BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31
BAB 31 - Rasa yang Sama
32
BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33
BAB 33 - Kuat LDR?
34
BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35
BAB 35 - Via Suara
36
BAB 36 - Kamu Bahagia?
37
BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38
BAB 38 - Egois
39
BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40
BAB 40 - Makan Apa?
41
BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42
BAB 42 - Cinta Sendirian
43
BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44
BAB 44 - Morning Kiss
45
BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46
BAB 46 - Kurang Belaian
47
BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48
BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49
BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50
BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51
BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52
BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53
BAB 53 - I Found You, Haura.
54
BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55
BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56
BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57
BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58
BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59
BAB 59 - Jin Qorin
60
BAB 60 - Mental Maling
61
BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62
BAB 62 - Bawaan Lahir
63
BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64
BAB 64 - Salah Prasangka
65
BAB 65 - Pulang?
66
BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67
BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68
BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69
BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70
BAB 70 - Sebatas Status
71
BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72
BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73
BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74
BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75
BAB 75 - Jalan Tengah
76
BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77
BAB 77 - Mesin Waktu
78
BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79
BAB 79 - Bukan Mahram
80
BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81
BAB 81 - My First Love
82
BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83
BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84
BAB 84 - Rujuk Saja
85
BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86
Salam Hangat - Desy Puspita
87
BAB 86 - Karena Cinta
88
BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89
BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90
BAB 89 - Ide Gila Haura
91
BAB 90 - Melebur Rindu
92
BAB 91 - Tunda Produksi
93
BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94
BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95
BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96
BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97
BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98
BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99
BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100
BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101
BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102
BAB 101 - Bertukar Pasangan
103
BAB 102 - Lupakan Saja.
104
BAB 103 - Tips Ala Ervano
105
BAB 104 - Takut Karma
106
BAB 105 - Penulis Skenarionya
107
BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108
BAB 107 - Bau Bawang
109
BAB 108 - Malu-Maluin
110
BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111
BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112
BAB 111 - Takut Kehilangan
113
BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114
BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115
BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116
BAB 115 - Tanda Sayang
117
BAB 116 - Amit-Amit!!
118
BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119
BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120
BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121
BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122
BAB 121 - Marah Sekeluarga
123
BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124
BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125
BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126
BAB 125 - Agak Trauma
127
BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128
BAB 127 - My First Love (END)
129
Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!