BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas

Tidak ingin menunda waktu, Haura segera menelan pil pahit yang sama sekali tidak dia ingini itu. Bukan karena rasanya yang pahit, tapi alasan mengonsumsinya memang teramat pahit.

Bagaimana tidak? Seumur hidup, dia tidak pernah berencana untuk mengonsumsi pil kontra-sepsi darurat. Karena memang, sejak lama Haura selalu berandai-andai ingin memiliki banyak anak bersama Ray - sang kekasih.

Sembari memaksakan agar obat tersebut masuk dengan segera, mata Haura kembali membasah mengingat sesal dan amarah dalam dirinya.

Tidak hanya itu, di sana juga tersemat rasa sakit yang tiada tara bahkan hampir membuatnya gila. Jika saja Abimanyu tidak mendukung dan memilih marah sebagaimana perlakuan kebanyakan saudara lainnya, mungkin Haura akan semakin putus asa.

Namun, beruntungnya Abimanyu benar-benar mendukung dan berdiri tegap di belakangnya. Menjadi pembela sekaligus pelindung, juga menjaga rahasianya.

"Okay ... Calm down, Haura!! Dengan ini masalahmu akan selesai," ucap Haura meyakinkan diri sendiri.

Walau tidak menutup diri, jujur saja dari hati terdalam tetap ada ketakutan bahwa akan terjadi sesuatu padanya nanti.

Namun, Haura tidak ingin mematahkan semangatnya lagi. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tenang dan memikirkan hal yang lebih penting.

Tidak lain dan tidak bukan, hubungannya bersama Rayyan. Untuk bagian ini, jujur saja Haura dilema.

Hendak berbohong atau jujur, dia bingung sebenarnya. Di sisi lain, dia takut kehilangan andai Ray tahu kebenarannya. Namun, andai tidak jujur Haura akan terus dihantui rasa bersalah.

"Ya Tuhan ... aku harus bagaimana?"

Tubuhnya kembali lemas dan merasa semakin sulit saja. Baru saja sedikit tenang, kini seketika gusar juga.

Cukup lama berpikir, Haura tidak menemukan jawaban dari dalam dirinya. Tak ingin semakin sakit kepala, Haura berlalu ke kamar untuk menenangkan diri sejenak.

Berharap dengan sedikit istirahat dia bisa berpikir jernih dan menata rencana ke depannya.

Haura menarik selimut untuk menutup sekujur tubuhnya. Tidak dingin, hanya sekadar merasa butuh dekapan hangat saja.

Akan tetapi, lima menit berlalu dan percobaannya untuk tidur tak berhasil juga. Tak peduli sekalipun sudah dipaksa untuk memejamkan mata, rasa kantuk itu seakan tak lagi ada.

Sebelum masalahnya tuntas, mungkin Haura tidak akan bisa tidur nyenyak. Perlahan, Haura meraih ponselnya dan bermaksud menghubungi Ray.

Ya, tidak ada pilihan lain dia harus bicara agar tenang tanpa peduli bagaimana akhirnya. Dengan jantung yang berdebar dan dada kembang kempis, untuk pertama kalinya Haura seragu itu untuk menghubungi Ray.

Bahkan, keraguan dan gugupnya mengalahkan saat pertama kali Haura menghubungi asisten kakaknya itu.

Gugupnya tak main-main, karena di sini ada ketakutan yang tidak bisa Haura definisikan juga sebenarnya. Sembari menggigit bibir, Haura menunggu dengan sabar sang kekasih yang super sibuk itu untuk menerima teleponnya.

"Ayolah angkat, Ray ..."

"The number you are call_"

"Ck, kebiasaan ... kamu kapan tidak sibuknya?" Haura berdecak sebal tatkala mendapati Ray yang lagi-lagi sulit dihubungi.

Maklum saja, tanggung jawab Ray sebagai asisten sang kakak memang cukup kompleks. Bisa dikatakan, Ray tak hanya tangan kanan, tapi jelmaan Hudzai yang membuatnya harus lebih banyak turun ke lapangan dibanding bosnya sendiri.

Cukup lama Haura menunggu, dan dia juga tetap sabar untuk mencoba. Sampai akhirnya, di percobaan ke-enam barulah membuahkan hasil dan suara yang dia rindukan itu terdengar di balik telepon.

"Hallo, Sayang ... maaf lama, tadi_"

"Aku tahu, kamu pasti sibuk 'kan?" Haura tersenyum getir.

Bukan kecewa, hanya saja kasihan karena setelah ini Ray mungkin akan mendengar sesuatu yang membuatnya menyesal selalu mengutamakan pekerjaan.

"Maaf, Ra."

"It's fine, aku paham."

"Suaramu kenapa? Sakit?"

Haura menggeleng, seakan tidak sadar jika tengah menelpon sang kekasih.

"Ra? Sayang? Hei ... kamu dengar aku?"

"Hah? I-iya dengar, aku dengar, suaramu jelas kok," jawab Haura yang mulai sedikit melenceng dari pertanyaan.

Sudah tentu yang mendengar dapat memahami hal itu. "Kamu dimana? Rumah?"

"Ehm, aku di rumah."

"Tunggu aku, aku kesana sekarang."

"Eh jangan!!" Mata Haura membulat sempurna begitu mendengar Rayyan hendak menemuinya.

Sungguh dia tidak siap jika harus ditemui di rumah. Mustahil yang melihat tidak akan curiga, karena mustahil membawa Ray ke kamar hanya untuk bicara empat mata.

"Kenapa jangan?"

"Biar aku yang menemuimu di tempat biasa, bisa?"

"Bisa, mau dijemput?" tanya Ray sekali lagi dan tentu saja Haura tolak mentah-mentah.

"Tidak, aku bisa sendiri ... kamu tunggu saja."

"Baiklah, kamu mau dipesankan apa nanti? Supaya tidak begitu lama menunggu?"

"Apa saja, aku tidak tahu ingin apa sekarang," jawab Haura susah payah menahan tangis demi tidak membuat Ray semakin curiga.

"Okay ... hati-hati, see you, My Sunshine." Dengan suara yang begitu hangat, Ray mengucapkan kata-kata indah dan sekarang justru terdengar menyakitkan.

Tanpa menjawab, Haura mengakhiri panggilan tersebut. Sungguh, dia tak kuasa untuk berbicara lebih lama lagi.

.

.

"Heum, aku sudah cukup cantik, 'kan?" Haura memastikan kembali penampilannya di cermin sebelum turun dan menghampiri Ray.

Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu lalu dengan mata berair, begitu tiba Haura menyempatkan diri untuk kembali memoles riasan wajahnya agar tidak terlihat begitu menyedihkan.

Nyatanya, walau sudah memutuskan untuk berani menemui Ray, tetap saja perasaannya tak karu-karuan. Perlahan, Haura turun dengan langkah gontainya.

Begitu masuk, dia sudah disambut sang pemilik wajah tampan dan senyum teduh itu. Di atas meja sudah ada bunga mawar merah yang Haura yakini sebagai hadiah untuknya.

"Hai, Sayang ... bagaimana perjalanannya? Macet kah sampai selama ini?" tanya Ray seraya menarik kursi untuk Haura dan mempersilakan wanita duduk segera.

Pertanyaan bermaksud sarkas itu berhasil membuat senyum Haura terukir tipis. Tipis sekali, bahkan nyaris tidak terlihat.

Jika biasanya dia bahkan bisa mencubit lantaran salah tingkah, kali ini Haura terlihat berbeda sampai Ray sangat sadar akan perubahannya.

"Kenapa mukanya begitu? Kamu benar-benar sakit ya?" Sembari memastikan suhu tubuh Haura, Ray melontarkan pertanyaan karena memang curiga sejak tadi.

Haura menggeleng. "Bukan, aku tidak sakit dan aku_"

"Apa? Kangen aku?" tanya Ray tersenyum tipis.

Kembali Haura tersenyum tipis menanggapi candaan kekasihnya.

"Ditanya malah senyum, jawab dong."

"Tanpa kujawab harusnya tahu ... aku merindukanmu setiap waktu, Rayyanza," tutur Haura seketika membuat mata Ray mengerjap pelan.

"Tiba-tiba sekali manggil nama lengkap, kamu kenapa? Sedih? Atau ada mas_"

"Kita putus saja."

"What? Haura kamu?" Ray menganga dan seakan tidak percaya dengan ucapan sang kekasih. "Kamu bercanda?" lanjutnya lagi.

"Tidak, aku tidak bercanda ... kita putus saja."

Sontak Ray tertawa hambar, antara percaya dan tidak dia merasa Haura aneh saja. "Kamu kenapa sebenarnya? Jika ingin bercanda jangan yang begini, aku malas, Ra."

"Sudah kukatakan aku tidak bercanda, Ray."

"Apa alasannya tiba-tiba minta putus? Aku tidak pantas untukmu ya, Ra?" tanya Ray melemah, detik ini sungguh dia sadar akan posisinya.

Haura menggeleng, pertanyaan Ray sama sekali tidak benar tentu saja. "Tidak ... akulah tidak pantas untuk laki-laki baik sepertimu."

"Maksudmu apa sebenarnya, Ra? Apa kamu harus jadi kriminal? Hah?" tanya Ray sampai gusar karena sikap Haura saat ini teramat membingungkan.

"Bukan begitu, Ray!!"

"Lalu apa?"

"Aku tidak suci lagi."

Deg

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Takdir Hidupku

Takdir Hidupku

Pingin pakai jln ninda langsung ke bab ahir biar g penasaran Haura Happy End Sama Rayyan Apa Vano

2025-01-09

0

Kamiem sag

Kamiem sag

jujur emang lebih baik
utk masalah kejujuran dan kecepatan berterus terang aku jem po lin Haura

2024-11-19

0

Laurensia Listianawati

Laurensia Listianawati

lah jujur lebh baik Haura

2024-11-28

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Awal
2 BAB 02 - Tolong Aku
3 BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4 BAB 04 - Akan Kuhabisi
5 BAB 05 - Dengan Caraku
6 BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7 BAB 07 - Aku Lawanmu
8 BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9 BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10 BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11 BAB 11 - Back To Single Era!!
12 BAB 12 - Bukan Suami
13 BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14 BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15 BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16 BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17 BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18 BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19 BAB 19 - Seperti Akan Gila
20 BAB 20 - Di Ujung Penantian
21 BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22 BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23 BAB 23 - Terlihat Romantis
24 BAB 24 - Kalah Strategi
25 BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26 BAB 26 - Mas Jawa
27 BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28 BAB 28 - Masih Dendam
29 BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30 BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31 BAB 31 - Rasa yang Sama
32 BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33 BAB 33 - Kuat LDR?
34 BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35 BAB 35 - Via Suara
36 BAB 36 - Kamu Bahagia?
37 BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38 BAB 38 - Egois
39 BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40 BAB 40 - Makan Apa?
41 BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42 BAB 42 - Cinta Sendirian
43 BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44 BAB 44 - Morning Kiss
45 BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46 BAB 46 - Kurang Belaian
47 BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48 BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49 BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50 BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51 BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52 BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53 BAB 53 - I Found You, Haura.
54 BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55 BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56 BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57 BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58 BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59 BAB 59 - Jin Qorin
60 BAB 60 - Mental Maling
61 BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62 BAB 62 - Bawaan Lahir
63 BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64 BAB 64 - Salah Prasangka
65 BAB 65 - Pulang?
66 BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67 BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68 BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69 BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70 BAB 70 - Sebatas Status
71 BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72 BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73 BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74 BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75 BAB 75 - Jalan Tengah
76 BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77 BAB 77 - Mesin Waktu
78 BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79 BAB 79 - Bukan Mahram
80 BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81 BAB 81 - My First Love
82 BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83 BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84 BAB 84 - Rujuk Saja
85 BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86 Salam Hangat - Desy Puspita
87 BAB 86 - Karena Cinta
88 BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89 BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90 BAB 89 - Ide Gila Haura
91 BAB 90 - Melebur Rindu
92 BAB 91 - Tunda Produksi
93 BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94 BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95 BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96 BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97 BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98 BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99 BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100 BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101 BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102 BAB 101 - Bertukar Pasangan
103 BAB 102 - Lupakan Saja.
104 BAB 103 - Tips Ala Ervano
105 BAB 104 - Takut Karma
106 BAB 105 - Penulis Skenarionya
107 BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108 BAB 107 - Bau Bawang
109 BAB 108 - Malu-Maluin
110 BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111 BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112 BAB 111 - Takut Kehilangan
113 BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114 BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115 BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116 BAB 115 - Tanda Sayang
117 BAB 116 - Amit-Amit!!
118 BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119 BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120 BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121 BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122 BAB 121 - Marah Sekeluarga
123 BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124 BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125 BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126 BAB 125 - Agak Trauma
127 BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128 BAB 127 - My First Love (END)
129 Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
Episodes

Updated 129 Episodes

1
BAB 01 - Awal
2
BAB 02 - Tolong Aku
3
BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4
BAB 04 - Akan Kuhabisi
5
BAB 05 - Dengan Caraku
6
BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7
BAB 07 - Aku Lawanmu
8
BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9
BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10
BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11
BAB 11 - Back To Single Era!!
12
BAB 12 - Bukan Suami
13
BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14
BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15
BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16
BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17
BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18
BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19
BAB 19 - Seperti Akan Gila
20
BAB 20 - Di Ujung Penantian
21
BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22
BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23
BAB 23 - Terlihat Romantis
24
BAB 24 - Kalah Strategi
25
BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26
BAB 26 - Mas Jawa
27
BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28
BAB 28 - Masih Dendam
29
BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30
BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31
BAB 31 - Rasa yang Sama
32
BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33
BAB 33 - Kuat LDR?
34
BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35
BAB 35 - Via Suara
36
BAB 36 - Kamu Bahagia?
37
BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38
BAB 38 - Egois
39
BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40
BAB 40 - Makan Apa?
41
BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42
BAB 42 - Cinta Sendirian
43
BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44
BAB 44 - Morning Kiss
45
BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46
BAB 46 - Kurang Belaian
47
BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48
BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49
BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50
BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51
BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52
BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53
BAB 53 - I Found You, Haura.
54
BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55
BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56
BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57
BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58
BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59
BAB 59 - Jin Qorin
60
BAB 60 - Mental Maling
61
BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62
BAB 62 - Bawaan Lahir
63
BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64
BAB 64 - Salah Prasangka
65
BAB 65 - Pulang?
66
BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67
BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68
BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69
BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70
BAB 70 - Sebatas Status
71
BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72
BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73
BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74
BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75
BAB 75 - Jalan Tengah
76
BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77
BAB 77 - Mesin Waktu
78
BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79
BAB 79 - Bukan Mahram
80
BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81
BAB 81 - My First Love
82
BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83
BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84
BAB 84 - Rujuk Saja
85
BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86
Salam Hangat - Desy Puspita
87
BAB 86 - Karena Cinta
88
BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89
BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90
BAB 89 - Ide Gila Haura
91
BAB 90 - Melebur Rindu
92
BAB 91 - Tunda Produksi
93
BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94
BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95
BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96
BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97
BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98
BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99
BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100
BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101
BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102
BAB 101 - Bertukar Pasangan
103
BAB 102 - Lupakan Saja.
104
BAB 103 - Tips Ala Ervano
105
BAB 104 - Takut Karma
106
BAB 105 - Penulis Skenarionya
107
BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108
BAB 107 - Bau Bawang
109
BAB 108 - Malu-Maluin
110
BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111
BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112
BAB 111 - Takut Kehilangan
113
BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114
BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115
BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116
BAB 115 - Tanda Sayang
117
BAB 116 - Amit-Amit!!
118
BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119
BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120
BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121
BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122
BAB 121 - Marah Sekeluarga
123
BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124
BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125
BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126
BAB 125 - Agak Trauma
127
BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128
BAB 127 - My First Love (END)
129
Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!