BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura

Sudah bulat tekad Haura untuk menjalani lembaran baru. Tanpa melibatkan cinta, Haura ingin seperti dulu dimana yang dia pikirkan hanya karir semata.

Belum ada satu bulan pasca kejadian itu, Haura sudah berhasil mengendalikan diri dan fokus tanpa merasa terganggu.

Sudah tentu banyak yang dia korbankan. Hanya demi mendapatkan ketenangan, Haura memilih angkat kaki dan mundur dari series yang begitu dia nantikan selama ini.

Sebelum itu, Haura meminta maaf kepada sang penulis secara pribadi mengingat tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya.

Kebetulan, sebelum melepaskan series tersebut dia memang sudah mendapat begitu banyak tawaran iklan yang fee-nya bahkan lebih besar dibanding series tersebut.

Bukan semata-mata karena uang, tapi Haura menerimanya tanpa pikir panjang.

Selama tiga minggu terakhir, keberuntungan agaknya tengah berpihak karena dia tidak dipertemukan dengan Ervano, juga Andita yang sama sekali tidak Haura percaya sekalipun wanita itu mengelak ketika Haura minta penjelasan tentang kebenaran obat itu.

Walaupun Abimanyu juga sudah mencaritahu dan memaksa Andita mengaku, tapi tidak ditemukan hasil apapun. Entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi hingga detik ini Haura memutuskan untuk tidak mempercayai siapapun selain keluarganya.

Menjalani hidup sendiri dengan lingkup pertemanan yang semakin kecil, Haura merasa lebih nyaman. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang, karena Haura menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan.

Selain job menjadi bintang iklan di televisi nasional, Haura juga aktif di sosial media. Sudah tentu bukan lagi untuk membagikan kebahagiaan semata, melainkan pekerjaan dan di setiap postingan pasti mempromosikan berbagai brand yang bekerja sama dengannya.

Perubahan Haura yang begitu signifikan jelas begitu kentara. Viona yang merupakan teman dekat sejak awal membangun karir sebagai model adalah salah-satu dari sekian banyak orang yang terkejut akan hal itu.

"Perfect!! Good job, Haura!! Kamu memang selalu menyala!!

Pujian semacam itu bukan hal asing lagi bagi Haura. Berbeda jauh dengan sewaktu dirinya terjun ke industri perfilman. Sekarang, kata-kata "Cut!!" "Ulang!!" "Dialogmu apa, Haura!! dan semacamnya tidak lagi Haura terima.

Terkesan lebih gampang dan nyaman juga karena memang pekerjannya cukup memperlihatkan wajah cantik dan pesona tubuh jenjangnya, sudah.

Pun sewaktu iklan, dia hanya perlu memperlihatkan kecantikan di depan kamera, dan suara akan dimasukkan setelahnya.

Sungguh menyenangkan, tidak heran kenapa Haura begitu menikmati dan terlihat tanpa beban.

"Huft akhirnya selesai juga ... kita sudah boleh pulang, 'kan, Na?" tanya Haura pada Viona yang juga tengah duduk manis di kursinya.

"Boleh, tapi sebelum itu kita ngemall dulu gimana? Sudah lama kita tidak jalan berdua, Ra."

"Jalan?" Dahi Haura berkerut seketika tatkala mendengar ajakan Viona.

Jika dipikir-pikir, memang dia sudah begitu lama tidak jalan berdua atau semacamnya. Mengingat kesibukan masing-masing sewaktu belum dipertemukan di project yang sama juga padat, sekarang juga sama padatnya.

"Ayo, Ra, jangan kelamaan dong mikirnya."

"Bentar, Na, dua jam lagi aku harus terbang ke Bali ... ada jadwal buat syuting Romaria Beauty."

Viona berdecak pelan, ini yang mendadak tidak dia suka dari Haura, sungguh. "Kamu kenapa jadi ambisius banget sih, Ra sekarang? Sebahagia itu jadi bintang iklan atau gimana?"

"Bukannya gitu, cuma yang namanya pekerjaan harus profesional, Ona."

"Dari dulu aku tahu kamu profesional kok, tapi sekarang beneran gila kerjanya ... bahkan kamu ambil banyak job dalam waktu hampir berdekatan seolah sangat butuh uang. Padahal, menurut sepengetahuanku kamu lahir dari keluarga berada dan sekalipun kamu duduk manis hidupmu terjamin!! Apa yang sebenarnya kamu kejar, Ra?"

Panjang lebar Viona melontarkan pertanyaan karena memang bingung kenapa sahabat ini mendadak menjadi sosok yang gila kerja seolah dikejar hutang milyaran rupiah.

Padahal, kekayaannya begitu luar biasa bahkan mungkin uang jajan Haura sebelum bekerja lebih besar dibanding bayaran yang dia terima.

Menghadapi Viona yang bingung akan perubahannya Haura hanya tersenyum simpul. Dia tidak mungkin bercerita, sejak awal dia memutuskan untuk memulai lembaran baru sudah bertekad untuk menutup rapat apa yang terjadi dalam hidupnya.

Terserah orang memandangnya apa, hendak dikatakan maruk atau haus juga tidak penting bagi Haura. "Hem, pengen saja ... aku suka kerja, ini duniaku dan menurutku mau kaya atau tidak sama saja, sama-sama harus kerja."

"Lagipula yang kaya bukan aku, tapi papa dan kita tidak tahu nasib kedepan bagaimana jadi aku harus kerja keras ... kamu bayangkan jika aku cuma bisa minta dan terjadi sesuatu misal bangkrut atau semacamnya aku bakal jadi apa? Gembel?" tambahnya lagi.

Haura benar-benar tidak mau kalah, dia punya 1001 jawaban yang membuat Viona menyerah dan memilih diam saja. "Ck, terserah deh ... sejak kapan juga menang debat melawan kamu."

"Nah itu tahu."

"Sekarang gimana? Benar-benar tidak ada waktu jalan berdua?"

"Ehm, No!! Lain kali saja."

.

.

Viona cemberut, terlihat sekali seberapa sebal dirinya tatkala mendengar penolakan Haura. Saat ini, bukan hanya pria yang kesulitan mendekat, tapi wanita bahkan teman dekat juga sangat sulit.

"Jangan cemberut dong."

"Gimana tidak cemberut, kamunya sibuk begitu."

Haura menghela napas panjang. "Ya sudah, aku sempetin, tapi makan di sekitar sini saja gimana?"

"Okay!! Ayo makan!!" sahut Viona begitu cepat lantaran takut Haura berubah pikiran.

Kesibukan Haura yang sudah mengalahkan top model itu membuat Viona menerima sekalipun hanya diajak makan berdua.

Tanpa didampingi asisten masing-masing, mereka hanya pergi berdua dan memilih sebuah restoran Jepang yang ada di dekat sana.

Sengaja memilih yang dekat mengingat waktu Haura tidak begitu banyak. Begitu menu tersaji Viona tampak berbinar dengan cacing di perut sudah menari-nari.

Viona menyantap dengan begitu lahap seolah belum makan sejak tadi. Namun, berbeda dengan Haura yang mendadak mual padahal baru hendak menikmati suapan pertama.

"Uwek!!"

Haura sontak menutup mulut rapat-rapat dengan mata yang juga mendadak berair.

"Loh, Ra? Kamu kenapa?" tanya Viona mendadak khawatir.

Naf-su makannya mendadak hilang. Bukan karena ji-jik, tapi memang kasihan dan segera memijat tengkuk leher Haura.

"Kenapa? Masuk angin?"

"A-aku mual," jawab Haura gugup. Pikirannya sudah kemana-mana dan dalam keadaan ini mendadak dia kembali mengingat Ervano.

"Mual? Apa karena belum makan?"

"Aku sarapan kok, cuma mung_ wueeek!!" Haura beranjak segera dan berlalu ke toilet demi memuntahkan isi perut yang dia rasa sudah memaksa keluar semua.

Diikuti oleh Viona yang cemas dan bingung ada apa dengan sahabatnya. Semakin cepat Viona mengikuti, semakin cepat Haura berlari.

Dalam setiap langkah yang Haura pijaki, dia terus meratap dan mulai menangis tanpa suara. "Tuhan tolong, aku tidak ingin ini terjadi ... aku sudah minum obat yang Abimanyu berikan, apa mungkin tidak bereaksi?"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

sharvik

sharvik

mau skali mlakukan atau pun lebih psti hamil it la . .cb gk ush hamil la ya hahah kepengen y bgitu

2024-12-08

0

Laurensia Listianawati

Laurensia Listianawati

loh Hamil beneran Haura...,Ervano pasti seneng itu

2024-11-28

1

Kamiem sag

Kamiem sag

bunting kan Haura?
gak becus sih minum pil kontrasepsinya

2024-11-19

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Awal
2 BAB 02 - Tolong Aku
3 BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4 BAB 04 - Akan Kuhabisi
5 BAB 05 - Dengan Caraku
6 BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7 BAB 07 - Aku Lawanmu
8 BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9 BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10 BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11 BAB 11 - Back To Single Era!!
12 BAB 12 - Bukan Suami
13 BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14 BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15 BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16 BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17 BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18 BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19 BAB 19 - Seperti Akan Gila
20 BAB 20 - Di Ujung Penantian
21 BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22 BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23 BAB 23 - Terlihat Romantis
24 BAB 24 - Kalah Strategi
25 BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26 BAB 26 - Mas Jawa
27 BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28 BAB 28 - Masih Dendam
29 BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30 BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31 BAB 31 - Rasa yang Sama
32 BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33 BAB 33 - Kuat LDR?
34 BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35 BAB 35 - Via Suara
36 BAB 36 - Kamu Bahagia?
37 BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38 BAB 38 - Egois
39 BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40 BAB 40 - Makan Apa?
41 BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42 BAB 42 - Cinta Sendirian
43 BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44 BAB 44 - Morning Kiss
45 BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46 BAB 46 - Kurang Belaian
47 BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48 BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49 BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50 BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51 BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52 BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53 BAB 53 - I Found You, Haura.
54 BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55 BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56 BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57 BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58 BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59 BAB 59 - Jin Qorin
60 BAB 60 - Mental Maling
61 BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62 BAB 62 - Bawaan Lahir
63 BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64 BAB 64 - Salah Prasangka
65 BAB 65 - Pulang?
66 BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67 BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68 BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69 BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70 BAB 70 - Sebatas Status
71 BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72 BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73 BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74 BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75 BAB 75 - Jalan Tengah
76 BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77 BAB 77 - Mesin Waktu
78 BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79 BAB 79 - Bukan Mahram
80 BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81 BAB 81 - My First Love
82 BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83 BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84 BAB 84 - Rujuk Saja
85 BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86 Salam Hangat - Desy Puspita
87 BAB 86 - Karena Cinta
88 BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89 BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90 BAB 89 - Ide Gila Haura
91 BAB 90 - Melebur Rindu
92 BAB 91 - Tunda Produksi
93 BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94 BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95 BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96 BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97 BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98 BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99 BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100 BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101 BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102 BAB 101 - Bertukar Pasangan
103 BAB 102 - Lupakan Saja.
104 BAB 103 - Tips Ala Ervano
105 BAB 104 - Takut Karma
106 BAB 105 - Penulis Skenarionya
107 BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108 BAB 107 - Bau Bawang
109 BAB 108 - Malu-Maluin
110 BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111 BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112 BAB 111 - Takut Kehilangan
113 BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114 BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115 BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116 BAB 115 - Tanda Sayang
117 BAB 116 - Amit-Amit!!
118 BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119 BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120 BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121 BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122 BAB 121 - Marah Sekeluarga
123 BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124 BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125 BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126 BAB 125 - Agak Trauma
127 BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128 BAB 127 - My First Love (END)
129 Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)
Episodes

Updated 129 Episodes

1
BAB 01 - Awal
2
BAB 02 - Tolong Aku
3
BAB 03 - Menyiksa/Tersiksa
4
BAB 04 - Akan Kuhabisi
5
BAB 05 - Dengan Caraku
6
BAB 06 - Nomor Tak Dikenal
7
BAB 07 - Aku Lawanmu
8
BAB 08 - Mengancam/Diancam?
9
BAB 09 - Aku Yang Tidak Pantas
10
BAB 10 - Aku Yang Mau - Haura
11
BAB 11 - Back To Single Era!!
12
BAB 12 - Bukan Suami
13
BAB 13 - Tanggung Jawab yang Bagaimana?
14
BAB 14 - Enam Bulan Terindah
15
BAB 15 - Tidak Ingin Ini Terjadi - Haura
16
BAB 16 - Gugurkan!! ~ Abimanyu
17
BAB 17 - Pengkhianat yang Sebenarnya.
18
BAB 18 - Perdebatan Pre-Wedding
19
BAB 19 - Seperti Akan Gila
20
BAB 20 - Di Ujung Penantian
21
BAB 21 - Mawarku Hanya Dia
22
BAB 22 - Gugup Setengah Mati
23
BAB 23 - Terlihat Romantis
24
BAB 24 - Kalah Strategi
25
BAB 25 - Kamu Itu Istriku, Hanya Kamu.
26
BAB 26 - Mas Jawa
27
BAB 27 - Kamu Milikku - Ervano
28
BAB 28 - Masih Dendam
29
BAB 29 - Oh, Dari Istrinya?
30
BAB 30 - Galaknya Merepotkan
31
BAB 31 - Rasa yang Sama
32
BAB 32 - Caraku Mencintai Dirimu
33
BAB 33 - Kuat LDR?
34
BAB 34 - I'll Miss You - Ervano
35
BAB 35 - Via Suara
36
BAB 36 - Kamu Bahagia?
37
BAB 37 - Aku Sudah Menikah Lagi ~ Ervano
38
BAB 38 - Egois
39
BAB 39 - Kamu Bukan Istriku Lagi ~ Ervano
40
BAB 40 - Makan Apa?
41
BAB 41 - Pemeran Utama di Kisahku
42
BAB 42 - Cinta Sendirian
43
BAB 43 - Dipeluk/Meluk?
44
BAB 44 - Morning Kiss
45
BAB 45 - Hilang Nikmat Sebagai Ibu ~ Haura
46
BAB 46 - Kurang Belaian
47
BAB 47 - Tegaskan Aku Istrimu - Haura
48
BAB 48 - Bagai Milik Berdua
49
BAB 49 - Pemandangan Tak Terduga
50
BAB 50 - Lambat Laun Dia Tahu
51
BAB 51 - Aku Mencintainya, Sangat Cinta.
52
BAB 52 - Tenangnya Mematikan
53
BAB 53 - I Found You, Haura.
54
BAB 54 - Kamu Sutradara, Aku Aktrisnya.
55
BAB 55 - Dia Hanya Obsesi.
56
BAB 56 - Tuntaskan Denganku ~ Abimanyu
57
BAB 57 - Aku Tidak Seburuk Itu ~ Ervano
58
BAB 58 - Sembilan Tahun itu Lama.
59
BAB 59 - Jin Qorin
60
BAB 60 - Mental Maling
61
BAB 61 - Begitulah Kaum Hawa
62
BAB 62 - Bawaan Lahir
63
BAB 63 - Because I Love You, Haura.
64
BAB 64 - Salah Prasangka
65
BAB 65 - Pulang?
66
BAB 66 - Hanya Satu Macam - Ervano
67
BAB 67 - Abadi Dalam Ingatan
68
BAB 68 - Kamu yang Pertama, juga Terakhir.
69
BAB 69 - Mas Akan Tunggu
70
BAB 70 - Sebatas Status
71
BAB 71 - Balikan atau Gebetan Baru?
72
BAB 72 - Cinta Tak Terlihat
73
BAB 73 - Selesai ~ Atas Izin Mertua
74
BAB 74 - Sudah Bicara Sama Papa - Ervano
75
BAB 75 - Jalan Tengah
76
BAB 76 - Pertahankan, Ra.
77
BAB 77 - Mesin Waktu
78
BAB 78 - Hingga Akhir, Mas Mencintaimu.
79
BAB 79 - Bukan Mahram
80
BAB 80 - Rujuk Yuk, Mas ....
81
BAB 81 - My First Love
82
BAB 82 - Itu Istriku - Ervano
83
BAB 83 - Mas Membohongiku (Lagi)?
84
BAB 84 - Rujuk Saja
85
BAB 85 - Jangan Hukum Aku
86
Salam Hangat - Desy Puspita
87
BAB 86 - Karena Cinta
88
BAB 87 - Make Me Pregnant!!
89
BAB 88 - Memperbaiki Kesalahan.
90
BAB 89 - Ide Gila Haura
91
BAB 90 - Melebur Rindu
92
BAB 91 - Tunda Produksi
93
BAB 92 - Jangan Panggil Aku Sayang!!
94
BAB 93 - Maaf, Ray ... Aku Sangat Mencintainya.
95
BAB 94 - Tidak Direstui Semesta
96
BAB 95 - Membodohi/Dibodohi?
97
BAB 96 - I'm Coming, Honey!!
98
BAB 97 - Mengulang Kembali (Sah)
99
BAB 98 - Dua Anak (Lebih) Baik
100
BAB 99 - Sentuhan Hangatnya
101
BAB 100 - Cemburu Tingkat Dewa
102
BAB 101 - Bertukar Pasangan
103
BAB 102 - Lupakan Saja.
104
BAB 103 - Tips Ala Ervano
105
BAB 104 - Takut Karma
106
BAB 105 - Penulis Skenarionya
107
BAB 106 - Jangan Katakan Cinta
108
BAB 107 - Bau Bawang
109
BAB 108 - Malu-Maluin
110
BAB 109 - Makrab (Malam Keakraban)
111
BAB 110 - Kabar Tak Terduga
112
BAB 111 - Takut Kehilangan
113
BAB 112 - Terkuak Semua, Tanpa Sisa.
114
BAB 113 - Sampai Menutup Mata
115
BAB 114 - Tradisi Keluarga Megantara
116
BAB 115 - Tanda Sayang
117
BAB 116 - Amit-Amit!!
118
BAB 117 - Bukan Pria Penasaran
119
BAB 118 - Haruskah Di Jalan Raya?
120
BAB 119 - Rasa Sakit yang Dirindu
121
BAB 120 - Tamat (Riwayatmu)
122
BAB 121 - Marah Sekeluarga
123
BAB 122 - Sungguh Menyiksa
124
BAB 123 - Curhat Dong, Nak!!
125
BAB 124 - Terima Kasih, Nayaka.
126
BAB 125 - Agak Trauma
127
BAB 126 - Undangan Sang Mantan
128
BAB 127 - My First Love (END)
129
Promosi Karya Baru - Kupinang Dengan Istighfar (Ganeeta)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!