Pria Yang Aneh

“Kalau begitu, sebaiknya Bapak berobat di Poli internis, Pak. Biar bagian dalam tubuh Bapak, terutama hati, bisa diperiksa dan diobati.” Ucap Mumu dengan tenang.

Ia berusaha menjaga agar percakapannya tetap berada dalam ranah profesional. Namun, pria di hadapannya menampilkan ekspresi yang berbeda.

“Tak ada gunanya, Dok.” Balas pria itu dengan nada yang datar, namun jelas ada emosi di baliknya.

“Sakit 'hati' ini hanya bisa sembuh dengan bantuan Dokter Mumu secara pribadi.”

Ada sedikit penekanan saat dia menyebut nama Mumu.

Kata-kata itu membuat Mumu waspada.

Ia tahu bahwa yang dimaksud oleh pria itu bukan sekadar sakit fisik di hati, melainkan ada makna lain di balik ucapannya.

Mumu dapat merasakan, dari nada suara dan sikap pria tersebut, bahwa ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

Entah bagaimana ceritanya, pria ini merasa marah atau tersinggung karena Mumu sehingga dia ingin melampiaskan emosinya kepada Mumu.

Mumu menarik napas pelan. Situasi seperti ini memerlukan kehati-hatian.

Ia tidak ingin memicu lebih banyak ketegangan, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan perasaan negatif mengganggu suasana ruang praktiknya.

Dengan tenang, ia berkata,

“Kalau memang seperti itu, bisakah Bapak mengalah dulu terhadap pasien lain?"

"Biarkan mereka berobat dulu. Setelah semuanya selesai, tentu saja saya akan ‘mengobati sakit hati Bapak' dengan sungguh-sungguh.”

" Saya suka bicara dengan orang yang cerdas seperti Pak Dokter ini."

Pria itu menatap Mumu tanpa berkedip.

Tatapannya tajam namun, Mumu tetap tenang.

"Terima kasih atas pujiannya, Pak. Saya merasa sangat tersanjung."

“Oh ya, silahkan Bapak tentukan saja di mana tempat kita bertemu nanti..." Lanjut Mumu dengan suara yang lembut namun tegas.

“Nanti saya akan datang dan kita bisa menyelesaikan ini dengan cara yang baik.”

Pria itu terdiam sesaat, seolah sedang merenungkan apa yang baru saja diucapkan oleh Mumu.

“Saya sudah menunggu sangat lama, Dok.” Ujarnya akhirnya, dengan nada yang masih dingin. “Dan saya tidak suka menunggu lebih lama lagi.”

“Saya mengerti, Pak.” Kata Mumu, tetap menjaga nada suaranya tetap tenang.

“Namun, ada pasien lain yang membutuhkan perawatan juga. Jika Bapak bersabar sedikit saja, saya akan memberikan perhatian penuh kepada Bapak."

"Kita bisa berbicara lebih lanjut, dan saya akan mendengarkan apa yang menjadi 'keluhan' Bapak.”

Pria itu menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya, ada sedikit perubahan dalam sikapnya.

Ketegangan di wajahnya sedikit mereda, meski tatapan tajamnya belum sepenuhnya hilang.

Dia tampak ragu-ragu sejenak, seperti sedang mempertimbangkan apakah akan terus menekan Mumu atau memberikan sedikit ruang.

“Baiklah.” Akhirnya pria itu mengangguk pelan, meskipun nadanya masih penuh ketegangan.

“Tapi saya berharap, Dokter menepati janji. Karena saya tidak punya waktu untuk bermain-main.”

Mumu mengangguk dengan penuh kesabaran.

“Tentu saja, Pak. Saya akan menepati janji saya. Setelah semua pasien selesai, saya akan menemui Bapak, dan kita bisa berbicara dengan lebih tenang.”

Pria itu berdiri dari kursinya. Sekali lagi, dia menatap Mumu dengan intens, seakan ingin memastikan bahwa kata-kata yang diucapkan oleh Mumu benar-benar tulus dan dapat dipercaya.

“Saya akan menunggu, Dok.” Ucapnya sebelum berjalan keluar dari ruangan.

Langkahnya tetap tenang, tetapi atmosfer di sekitarnya terasa lebih dingin.

Begitu pria itu meninggalkan ruangan, Mumu menghela napas panjang.

Ada sesuatu yang aneh tentang pria tersebut, dan ia yakin bahwa pertemuan berikutnya tidak akan berjalan dengan lancar

Ia dapat merasakan bahwa pria itu membawa beban emosional yang besar, dan entah bagaimana, Mumu terlibat di dalamnya, meskipun ia belum sepenuhnya memahami alasannya.

Mumu kembali fokus pada pasien berikutnya, tetapi dalam benaknya, ia terus memikirkan pria yang baru saja pergi.

Ada perasaan tidak nyaman yang menggelayuti pikirannya.

Masalah istrinya Erna belum selesai kini ditambah masalah baru.

...****************...

Aditya sedang sibuk di mejanya ketika Dara, seorang CS yang belum terlalu lama bekerja di sini datang mendekatinya.

"Pak Aditya, Buk Erna memanggil Bapak di ruangannya." Kata Dara dengan nada meyakinkan.

Aditya mengernyit heran.

"Buk Erna memanggil saya? Untuk apa ya?"

"Saya tidak tahu, Pak. Tapi beliau bilang sebaiknya Bapak segera ke ruangannya." Jawab Dara sambil tersenyum tipis.

Meskipun merasa aneh, Aditya memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.

"Baiklah kalau begitu, saya akan ke sana."

Setelah merapikan sedikit dokumen di mejanya, Aditya berjalan menuju ruang Buk Erna, pimpinan yang dihormati di kantor itu.

Sesampainya di depan pintu, dia mengetuk pelan,

"Tok, tok."

"Masuk." Jawab suara Erna dari dalam ruangan.

Aditya membuka pintu dan melangkah masuk.

"Eh, Pak Aditya, kenapa anda ke sini?"

"Katanya Ibuk memanggil saya."

Erna tampak bingung. Dia baru saja sibuk dengan pekerjaannya dan merasa tidak memanggil siapa pun.

"Memanggil Anda? Saya tidak merasa memanggil anda, Pak Aditya..."

Namun, sebelum Erna bisa melanjutkan perkataannya, tiba-tiba dia merasakan nyeri di perutnya.

"Aduh..." Desisnya, menahan rasa sakit yang datang tiba-tiba. Wajahnya berubah pucat, dan dia memegangi perutnya dengan kedua tangan.

"Eh, ada apa, Buk? Ibu baik-baik saja?" Aditya langsung mendekat dengan khawatir.

Melihat kesempatan yang dinantikannya, Purnama yang diam-diam mengintip dari celah pintu, dengan cepat mengambil ponselnya.

Dia merekam dan mengambil beberapa foto adegan tersebut.

Dengan licik, Purnama memastikan bahwa gambar-gambar itu terlihat seperti Aditya dan Buk Erna sedang dalam posisi yang mencurigakan, seakan-akan ada kedekatan fisik yang tak seharusnya.

Erna masih tampak kesakitan, sementara Aditya kebingungan.

Dia tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu hingga Erna merasa lebih baik.

"Buk, saya panggil bantuan ya?" Kata Aditya, bersiap untuk keluar dan mencari pertolongan.

Namun, Erna segera menahannya dengan isyarat tangan.

"Tidak... tidak usah. Saya hanya perlu istirahat sebentar."

"Kalau memang begitu, saya keluar dulu, Buk."

Sementara itu, Purnama puas dengan hasil rekamannya. Dia tahu betul bagaimana memanipulasi gambar-gambar itu untuk membuatnya terlihat jauh lebih buruk daripada yang sebenarnya.

Ini adalah bagian dari rencananya yang jahat untuk menghancurkan rumah tangga Erna dan Mumu.

Dia yakin bahwa foto dan video tersebut akan menjadi senjata yang ampuh untuk menghancurkan rumah tangga Mumu.

Purnama tersenyum licik. Setelah mengedit dia langsung mengirimkan foto dan video tersebut ke nomor Mumu menggunakan nomornya yang satunya lagi.

Karena nomor kontak Purnama yang lama sudah diblokir oleh Mumu saat Purnama pernah mengirim berbagai pesan mesra kepada Mumu pada waktu itu.

Dalam pada itu, Mumu baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap pergi untuk menemui pria yang sepertinya punya masalah dengan dirinya.

Tiba-tiba handphonenya bergetar pertanda ada pesan masuk.

Mumu mengharapkan itu adalah pesan dari Erna. Tapi ternyata bukan.

Pesan itu lagi-lagi dari nomor yang tidak ia kenali yang sudah pernah mengirimkan beberapa foto sebelumnya.

"dug dug dug..."

Jantung Mumu berdebar kencang dan wajahnya sontak berubah saat melihat isi pesan tersebut.

Terpopuler

Comments

MATADEWA

MATADEWA

Makin menjadi si Pur.....

2025-03-28

0

Endro Budi Raharjo

Endro Budi Raharjo

siap2...

2024-11-03

0

Zoelf 212 🛡⚡🔱

Zoelf 212 🛡⚡🔱

mau tanya purnama kapan matiny

2024-10-10

1

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!