Gadis Jahat

Dian menatapnya penuh simpati. "Kenapa harus pusing? Bawa saja ke rumah sakit. Mereka punya peralatan medis canggih. Pasti bisa ditangani."

Nurul menggeleng lemah. "Tidak bisa, Dian. Masalah Raka bukan sekadar cedera biasa. Tulang punggungnya hancur, bukan patah biasa. Dokter bilang tak ada cara untuk memperbaikinya."

Dian terdiam sejenak, lalu berkata, "Kalau begitu, kenapa tidak bawa ke tukang urut? Mereka kadang punya cara-cara tradisional yang bisa membantu."

Nurul tersenyum masam dan menggeleng lagi.

"Kami sudah mencoba. Beberapa tukang urut yang kami datangi menyerah. Mereka bilang kondisinya terlalu parah."

Dian masih tidak menyerah. "Kalau begitu, bawa saja ke sensei. Kamu tahu kan, yang ahli pengobatan Cina? Aku dengar mereka bisa mengobati berbagai macam penyakit."

"Sama saja." Kata Nurul dengan suara pelan.

"Kami sudah pergi ke sana juga. Tapi hasilnya nihil. Tak ada yang bisa dilakukan."

Dian tampak berpikir keras. "Hmmm... Kenapa tidak coba ke rumah sakit di Jogja? Aku dengar Dokter Poli Akupunktur di sana sangat mumpuni. Mereka menggunakan metode pengobatan alternatif yang sering kali berhasil ketika cara lain gagal. Tetangga aku baru saja pulang berobat di sana semalam."

Nurul terkejut mendengar saran itu. "Apa iya? Aku belum pernah dengar soal itu. Kamu yakin?"

"Iya, tetangga baru berobat di sana dan langsung sembuh. Teman sepupuku juga pernah berobat di sana."

"Katanya Dokter Akupunktur di sana ahli dalam menangani masalah-masalah yang tidak bisa ditangani dengan metode medis konvensional. Coba saja, Nurul. Mana tahu itu berhasil."

Nurul merenung sejenak, pikirannya mulai terbuka untuk kemungkinan baru.

"Mungkin itu ide yang bagus. Aku akan coba bicara dengan keluarga Raka. Mungkin kita bisa bawa dia ke sana."

Dian tersenyum lebar. "Nah, itu baru semangat! Jangan menyerah dulu. Selalu ada jalan, kita hanya perlu mencarinya."

Mereka berdua terus mengobrol, membahas kondisi Raka dan kemungkinan pengobatan yang bisa dijalani.

Kebetulan, hari ini di kantor tidak banyak pekerjaan, jadi mereka bisa berbicara dengan lebih santai.

"Kapan terakhir kali kamu lihat Raka?" Tanya Dian setelah beberapa saat hening.

"Seminggu lalu." Jawab Nurul, suaranya sedikit bergetar. "Kondisinya semakin lemah. Dia bahkan susah untuk menggerakkan tangannya sendiri. Aku benar-benar khawatir."

Dian menatap Nurul dengan serius. "Kamu sangat peduli padanya, ya?"

Nurul mengangguk pelan. "Tentu saja. Raka itu... Dia orang yang sangat penting bagiku. Melihat dia menderita seperti ini rasanya sulit sekali."

Dian menghela napas, merasa simpati pada Nurul.

"Aku bisa lihat. Dan itulah kenapa kamu harus tetap kuat, Nurul. Jika kamu menyerah, siapa lagi yang akan memberi semangat pada Raka?"

Nurul tersenyum tipis, meski hatinya masih berat.

"Kamu benar. Aku harus tetap kuat. Untuk Raka."

Setelah beberapa saat, Dian melanjutkan, "Kamu tahu, akupunktur bukan cuma untuk penyakit fisik, lho."

"Aku dengar mereka bisa menangani masalah energi tubuh juga. Siapa tahu masalah Raka bukan cuma fisik, mungkin ada sesuatu yang menghambat aliran energinya."

Nurul menatap Dian, tertarik dengan saran itu. "Aliran energi? Maksudmu seperti pengobatan tradisional Cina?"

"Yup." Jawab Dian. "Semacam itu lah yang aku dengar. Mereka percaya kalau energi di tubuh kita tidak mengalir dengan baik, bisa menyebabkan penyakit atau memperburuk kondisi yang sudah ada."

"Mungkin Raka butuh perawatan yang lebih dalam, sesuatu yang bisa menyelaraskan kembali tubuh dan energinya."

...****************...

Nurul duduk di ruang tamu yang sederhana di rumah keluarga Raka. Dia memandang pria muda yang terbaring di kasur dengan penuh empati.

Wajah Raka pucat dan dipenuhi kelelahan, sebuah ekspresi yang sudah lama melekat padanya.

Di tepi tempat tidur, duduk kedua orang tuanya yang tampak sedih dan juga jengkel.

“Pak, Bu, saya paham perasaan Bapak dan Ibu.” Kata Nurul lembut, memecah keheningan.

“Saya tahu ini berat bagi kalian. Tapi saya percaya, kali ini kita bisa coba sesuatu yang berbeda. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan."

Ayah Raka, Pak Jali, menghela napas panjang.

“Kami sudah mencoba berbagai cara, Nurul. Dokter, tabib, dukun… tapi Raka tidak kunjung sembuh. Sekarang kamu mengajak kami mencoba sesuatu yang lain lagi? Apa bedanya? Ujung-ujungnya hal itu akan mengecewakan juga kan?"

Nurul tersenyum kecil, meskipun di dalam hatinya dia juga merasa sedikit ragu. Namun dia tahu mereka harus berusaha.

"Yang penting kita berusaha, Pak. Jangan berputus asa. Saya mendapat kabar, Di poli akupuntur itu, ada seorang ahli yang sudah menangani banyak kasus."

"Akupuntur adalah metode pengobatan yang sudah terbukti efektif dalam mengatasi persoalan tulang dan urat saraf."

Raka yang dari tadi hanya diam, akhirnya membuka mulut.

“Akupuntur, Nurul? Memasukkan jarum-jarum kecil ke tubuhku? Kamu pikir itu akan berhasil?”

"Raka..." Nurul memulai dengan suara penuh perhatian,

"Saya tahu kedengarannya tidak masuk akal. Saya paham. Tapi kita sudah berusaha begitu lama, mencoba berbagai cara. Akupuntur bukan hanya tentang memasukkan jarum, ini adalah seni mengembalikan keseimbangan energi dalam tubuh. Banyak yang meremehkannya, tetapi banyak juga yang berhasil."

Ibunya, Bu Sri, memotong. “Kami tidak punya banyak uang lagi, Nurul. Semua pengobatan yang sudah kami coba hanya menghabiskan biaya. Jika ini tidak berhasil, bagaimana?”

"Ini bayarannya tak mahal, Buk. Sudah dibayar oleh Pemerintah. Kalau memang ada biaya lain-lain nanti, pakai uang saya saja."

Pak Jali terlihat ragu. “Kamu sangat yakin ini akan berhasil, Nurul?”

“Tidak ada jaminan, Pak." Jawab Nurul dengan jujur.

“Tapi ini adalah kesempatan yang layak dicoba. Tidak ada ruginya jika kita mencoba satu kali lagi.”

Keheningan melingkupi ruang tamu itu. Semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Setelah beberapa saat, Bu Sri berkata pelan,

“Raka, bagaimana menurutmu? Ini tubuhmu. Kalau kamu merasa tidak mau, kami tidak akan memaksa.”

Raka mengangguk pelan. Dia menatap Nurul seolah menimbang-nimbang usulnya.

Dia sudah lama menderita, dan meskipun rasa takut serta skeptis masih menyelimuti pikirannya, ada sesuatu dalam suara Nurul yang membuatnya merasa ada harapan, meski hanya sedikit.

“Ayo kita coba.” Kata Raka akhirnya.

Keesokan harinya, Nurul menjemput Raka dan keluarganya ke Rumah Sakit dan mereka mendaftar ke bagian Poli Akupuntur.

Saat tiba giliran Raka, mereka semua masuk.

"Eh!" Nurul terkejut melihat wajah yang tampak familiar.

Mumu tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk sedangkan Raka langsung dibaringkan di Bed.

"Apa keluhannya, Pak, Buk?"

"Anak saya, Dok. Tulang dia..."

Buk Sri lah yang terus bicara menjelaskan tentang kondisi anaknya.

Sekira lima menit kemudian baru lah dia selesai bercerita.

"Bagai mana, Dok? Apa kah anak kami bisa diselamatkan?"

Mumu menghela nafas. Ia menggelengkan kepala.

"Sulit, Buk..."

"Kan aku sudah bilang tak perlu kita berobat lagi. Tak ada gunanya tapi kamu memaksa juga. Kamu senang ya melihat Raka tersiksa."

"Wajar lah jika anak kami tidak menyukai mu karena sifat kamu sangat buruk."

Buk Sri langsung memotong perkataan Mumu dan menuding Nurul dengan jari telunjuknya.

Terpopuler

Comments

Endro Budi Raharjo

Endro Budi Raharjo

pasti ortu klo tak berhasil mencari kambing muda.....

2024-11-03

0

Zoelf 212 🛡⚡🔱

Zoelf 212 🛡⚡🔱

💪 kegigihan nurul

2024-10-07

1

aim pacina

aim pacina

✌️👌🙏🙏

2024-09-23

2

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!