Tiba Di Kota Yogyakarta

Erna duduk di sudut ruangan, merenung, sesekali memandang ke arah jendela yang tertutup tirai tebal.

Suasana rumah orang tuanya, yang biasanya membuatnya merasa nyaman, malam ini terasa berbeda. Ada yang mengganjal di hatinya, tapi dia tak tahu harus bagaimana mengungkapkannya.

Dia sedang tidak ingin kembali ke rumah Buk Fatimah meski tahu ada suaminya, Mumu, dan anak tirinya, Arrazi yang menunggu.

Buk Yenny, ibunya yang sedang sibuk merapikan dapur, memperhatikannya dari kejauhan.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia mendekati Erna dan duduk di sebelahnya.

Rasa khawatir tergambar jelas di wajahnya.

"Sudah malam, Erna. Kenapa kamu masih di sini?" Tanya Buk Yenny lembut. Dia memandang anaknya dengan penuh perhatian.

Erna menoleh perlahan, sejenak berpikir sebelum menjawab.

"Maksud ibu apa?" Balasnya singkat.

"Kenapa kamu tidak kembali ke rumah Buk Fatimah? Kan sudah malam." Lanjut Buk Yenny, merujuk pada rumah kedua Erna.

Erna menghela napas.

"Erna tidur di sini saja, bu."

Buk Yenny mengerutkan kening, tidak puas dengan jawaban putrinya.

"Mengapa kamu tidak pulang? Bagaimana Mumu dan anak kalian, si Arrazi?"

"Hmm... tidak apa-apa, Bu. Mereka akan baik-baik saja." Jawab Erna, seolah meyakinkan dirinya sendiri lebih dari pada meyakinkan ibunya.

Buk Yenny mengangkat alis, menyadari ada sesuatu yang disembunyikan.

Dia sudah puluhan tahun hidup dan sudah banyak makan asam garam kehidupan.

"Kalian sedang bertengkar?"

Erna menggelengkan kepala cepat.

"Tidak, bu."

"Terus?"

Erna hanya terdiam, tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya.

Di kepalanya, berbagai macam pikiran berkecamuk. Dia mencintai Mumu, tetapi beberapa waktu belakangan, perasaannya terasa hampa.

Hubungan mereka yang sebelumnya penuh kehangatan dan tawa kini terasa datar dan tanpa arah.

Buk Yenny menyentuh bahu Erna lembut.

"Erna, umur pernikahan kalian masih seumur jagung. Jika ada persoalan di antara kalian, selesaikan baik-baik."

"Kalian harus saling terbuka, biar kelihatan di mana salahnya sehingga bisa dilakukan perbaikan."

"Masalah tidak boleh disimpan dan didiamkan, nanti akan berlarut-larut. Tak baik bagi rumah tangga kalian."

"Jangan hal yang kecil menjadi besar gara-gara tidak ada keterbukaan di antara kalian."

Erna memandang ibunya, lalu menunduk. Dia tahu apa yang dikatakan ibunya benar, tetapi dia tak tahu bagai mana harus memulai pembicaraan dengan Mumu.

Selama ini, dia selalu menghindari konfrontasi, lebih memilih menahan diri daripada harus berbicara langsung. Namun, situasi ini membuatnya semakin tertekan.

"Mumu tidak pernah marah sama Erna, Bu." Kata Erna pelan. "Tapi entah kenapa, rasanya ada jarak antara kami."

"Maksudmu?"

"Entah... Mumu tidak salah apa-apa, tapi Erna merasa kami semakin jauh. Padahal, kami masih tinggal di rumah yang sama, masih makan bersama, masih berbicara... tapi rasanya ada yang hilang."

Buk Yenny menghela napas panjang, mencoba memahami apa yang Erna rasakan.

"Kadang-kadang, dalam pernikahan, ada fase-fase di mana kita merasa begitu. Merasa ada jarak, padahal sebenarnya hanya kurang komunikasi. Mungkin Mumu juga merasakan hal yang sama, tapi kalian berdua saling menahan diri."

Erna terdiam, memikirkan kata-kata ibunya.

"Tapi, Erna bingung harus mulai dari mana, bu. Mumu sepertinya tidak menyadari kalau ada yang salah."

"Erna, kamu yang harus memulai. Kamu istri Mumu. Jika kamu merasa ada sesuatu yang salah, jangan tunggu dia menyadarinya sendiri. Laki-laki kadang tidak peka. Kamu harus bicara."

"Tapi... kalau Mumu tersinggung?"

"Bukankah itu lebih baik daripada kamu terus-terusan merasa tidak nyaman?" Buk Yenny tersenyum, mencoba memberi Erna keberanian.

"Berbicara itu penting, Nak. Kamu tidak bisa terus menahan perasaanmu sendirian. Kalau tidak diungkapkan, nanti malah jadi bom waktu yang meledak suatu saat."

Erna mendengarkan nasihat ibunya, namun ketakutan dalam dirinya masih ada.

Dia tidak ingin merusak apa yang sudah mereka bangun bersama, meskipun dia sadar bahwa perasaan ini, jika dibiarkan bisa memperburuk keadaan.

"Kamu masih cinta sama Mumu, kan?" Tanya Buk Yenny pelan, namun tegas.

Erna menatap ibunya, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.

"Tentu saja, Bu. Erna masih cinta sama Mumu. Hanya saja... Erna merasa lelah."

"Lelah? Lelah dengan apa?"

"Lelah dengan rutinitas. Lelah dengan tanggung jawab. Lelah karena rasanya kami hanya menjalani peran, tapi kehilangan kebahagiaan yang dulu ada."

"Dulu kami tertawa bersama, bercanda. Sekarang... semuanya terasa begitu serius. Tidak ada lagi tawa."

Buk Yenny mengangguk pelan. "Semua pernikahan pasti ada masa-masanya seperti itu, Nak. Itu adalah ujian."

"Tapi, bukan berarti itu akhir dari segalanya. Kalian bisa memperbaikinya, asal mau bekerja sama."

Erna menghela napas panjang. "Erna tahu, Bu. Tapi Erna takut memulai. Takut kalau Mumu tidak merasakan hal yang sama, atau mungkin dia menganggap Erna terlalu banyak menuntut."

"Erna, pernikahan itu bukan soal siapa yang menuntut atau siapa yang memberi. Itu soal kerja sama. Kamu tidak bisa terus diam dan berharap semuanya akan berubah dengan sendirinya."

"Kamu harus berani mengungkapkan apa yang kamu rasakan, karena itu bagian dari usaha menjaga rumah tangga kalian tetap kuat."

Erna sama sekali tidak menyadari bahwa dia telah terjebak dalam pemikiran yang salah akibat mempercayai segala ucapan Purnama sehingga dia jadi terombang-ambing dalam angan-angannya sendiri.

...****************...

Wildan tiba di Yogyakarta dengan hati yang membara. Kota yang penuh kenangan ini kini hanya menjadi latar bagi satu tujuan utamanya yaitu mencari keberadaan Mumu, orang yang dia yakini sebagai penyebab kematian ayahnya.

Semua petunjuk yang telah dia kumpulkan menyatakan bahwa pria itu tinggal di sini.

Oleh karena itu dia bergegas terbang ke sini dari kota Bengkalis.

Namun, Wildan tidak terburu-buru. Dendam adalah sesuatu yang harus diolah dengan hati-hati.

Dia bukan hanya ingin menemukan Mumu, tetapi memastikan bahwa pria itu merasakan penderitaan yang sebanding dengan apa yang telah dia alami.

Setelah turun dari kereta, Wildan menyempatkan diri menghirup udara Jogja, mencoba menenangkan diri.

Kematian ayahnya dianggap sebagai takdir oleh banyak orang, tetapi Wildan tidak percaya itu. Ada sesuatu yang lebih kelam di balik kejadian tersebut menurut cerita Satpam keluarganya dan dia yakin Mumu bertanggung jawab atas kematian ayahnya.

Dengan penuh tekad, Wildan berjalan menyusuri gang-gang sempit di kota, menuju sebuah kedai kecil tempat dia akan bertemu dengan kenalannya, Ratno, seorang jurnalis yang sering membantu mengorek informasi di kota ini.

Ratno mungkin bukan teman yang dekat, tetapi dia tahu betul bagaimana caranya mendapatkan informasi di Jogja dan Wildan tahu, jika ada yang bisa menemukan jejak Mumu, itu adalah Ratno.

Saat bertemu di kedai, Wildan langsung menyampaikan maksudnya. Tanpa basa-basi, dia duduk di depan Ratno dan berbicara dengan nada datar.

"Aku di sini untuk mencari Mumu. Kau pasti sudah dengar tentang dia kan?"

Terpopuler

Comments

Siti Sopiah

Siti Sopiah

kau jangan cari pasal sama Mumu.nanti kau sendiri yg menyesal.kau tak tau bagaimana Mumu yg sebenar

2024-12-18

0

Mardelis

Mardelis

apakah wildan akan mampu melawan mumu?

2025-03-17

0

MATADEWA

MATADEWA

Erna tdk percaya kpd Suami.....

2025-03-27

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!