Dendam

Dua tahun yang lalu, saat Wildan pulang ke Bengkalis dari tugas menjaga perbatasan, rumahnya tidak lagi sama.

Suasana muram menyelimuti seisi rumah, tidak ada lagi tawa ayahnya yang biasanya menyambutnya setiap kali kembali.

Ketika melangkah masuk, hatinya tercekat melihat ibu dan saudaranya menangis di sudut ruangan. Ayahnya telah tiada.

Wildan terdiam, perasaannya campur aduk antara duka dan kemarahan. Dia belum bisa memahami sepenuhnya apa yang terjadi.

Satpam keluarga yang bernama Rahman lalu menceritakan sesuatu yang membuat darah Wildan mendidih.

“Ayahmu sebenarnya bisa selamat, Wildan...” Kata Rahman, suaranya terdengar penuh kesedihan.

“Tapi dukun muda yang menangani ayahmu tidak bertanggung jawab. Dia meninggalkan ayahmu begitu saja saat kondisinya memburuk. Kalau saja dia tidak pergi, ayahmu mungkin masih hidup sekarang.”

Mata Wildan menyipit, kemarahan mengalir di dalam dirinya.

“Siapa dukun itu, Pak Rahman? Apa yang dia lakukan hingga ayahku meninggal?”

Rahman menghela napas panjang. “Namanya Mumu. Dia seorang dukun muda yang konon katanya sangat hebat."

Banyak yang memujinya, tapi aku tidak percaya sepenuhnya. Saat ayahmu sakit keras, dia memang datang dan memberi pengobatan, tapi entah kenapa, saat kondisi ayahmu memburuk, Mumu justru pergi dengan alasan dia harus berangkat ke daerah lain."

"Kami coba memanggilnya lagi, tapi dia tak mau datang. Hingga akhirnya... ya, ayahmu tidak tertolong.”

Dari situ, dendam itu mulai tumbuh di hati Wildan. Setiap malam, bayangan ayahnya yang terbaring lemah terus menghantui pikirannya.

Wildan bersumpah, dia akan menemukan Mumu dan menuntut pertanggungjawaban atas kematian ayahnya.

Namun karena tugas mendadak yang harus dia lakukan sehingga balas dendam itu terpaksa tertunda-tunda dalam waktu yang sangat lama.

Baru kini lah Wildan dapat cuti panjang sehingga dia perlu menuntaskan dendamnya.

Walau pun waktu telah lama berlalu namun hal itu tidak lah menyurutkan dendamnya.

Oleh karena itu, dengan tak kenal lelah Wildan mulai melacak keberadaan Mumu.

Dengan berbagai koneksi dan relasi yang dimilikinya dari masa tugasnya sebagai penjaga perbatasan, sedikit demi sedikit Wildan mulai menemukan titik terang.

Mumu, sang dukun muda yang dulu dianggap penyebab kematian ayahnya, ternyata pindah ke daerah Jogja.

Infonya masih terlalu umum, sehingga Wildan kesulitan mencari keberadaan Mumu di kota Jogja yang luas itu.

Malam itu, di sebuah kafe kecil di pinggir kota Bengkalis, Wildan bertemu dengan seorang kenalannya yang bernama Heru, seorang informan terpercaya yang punya koneksi luas di berbagai daerah.

“Aku dengar kamu masih mencari Mumu.” Kata Heru sambil mengaduk kopi di depannya.

“Aku punya kabar buatmu.”

Wildan mengangkat alis, matanya penuh perhatian.

“Kabar apa, Heru? Jangan bilang kabar ini berkaitan dengan Mumu. Terus terang aku sudah lama mencari dia.”

Heru menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu berbicara pelan namun jelas.

“Dukun muda itu sekarang bekerja di salah satu rumah sakit yang di Jogja. Namun rumah sakit yang mana satu, aku belum sempat menyelidikinya."

“Rumah sakit?” Wildan mengulangi info itu, seolah sedang memetakan lokasinya di kepalanya.

“Itu bukan masalah besar. Kalau benar dia di sana, aku akan ke sana. Terima kasih banyak atas informasinya, Heru."

Heru tidak menanggapi sebaliknya dia menatap Wildan dengan serius.

“Tapi, Wildan... kamu yakin Mumu benar-benar bersalah? Maksudku, banyak dukun atau tabib yang tidak bisa menyembuhkan pasien karena keterbatasan mereka. Mungkin ada penjelasan lain?”

Wildan menggeleng tegas, matanya menyala penuh dendam.

“Aku sudah mendengar semuanya, Heru. Dukun itu yang membiarkan ayahku meninggal."

"Kalau saja dia tidak pergi begitu saja, ayahku mungkin masih hidup. Ini bukan soal kemampuan, ini soal tanggung jawab.”

Heru menarik napas panjang, lalu mengangguk.

“Baiklah, kalau kamu memang yakin. Tapi berhati-hatilah, Wildan. Kadang apa yang kita tahu bisa jadi tidak seluruhnya benar.”

Wildan hanya terdiam, hatinya sudah tertutup oleh dendam yang dia pendam selama ini. Tidak ada yang bisa mengubah pikirannya sekarang.

...****************...

Mumu sedang duduk di ruang tamu, menggendong anaknya, Arrazi, yang sedang tertidur dalam dekapan.

Suara televisi yang menyala di latar belakang hanya terdengar sayup-sayup, karena pikirannya melayang jauh, mencoba memahami perubahan sikap Erna yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir.

Hari ini, tanpa diduga, Erna berkata sesuatu yang membuat Mumu semakin cemas.

"Yah, untuk sementara waktu Bunda mau pulang ke rumah orang tua Bunda." Ucap Erna tiba-tiba, saat mereka berdua duduk di meja makan usai sarapan.

"Ayah sama Arrazi tetap di sini saja."

Mumu mengangkat wajahnya, terkejut. Dia tak menyangka Erna akan mengatakan hal itu.

"Kenapa, Nda? Apakah Ayah telah melakukan kesalahan kepada Bunda?" Tanya Mumu hati-hati, mencoba membaca ekspresi istrinya.

Namun Erna tetap tak bergeming. Wajahnya datar, tanpa emosi, seolah-olah tak ada yang perlu dijelaskan.

Alih-alih menjawab, Erna hanya berdiri, meraih kunci mobil yang tergantung di dekat pintu, lalu tanpa sepatah kata pun, dia keluar dari rumah.

Mumu hanya bisa terdiam, masih memproses kata-kata yang baru saja didengarnya.

Di luar, suara mesin mobil menyala, diikuti dengan raungan pelan roda yang mulai bergerak menjauh. Mumu menunduk, berusaha meredam perasaan bingung yang mulai menyeruak. Mengapa Erna tiba-tiba seperti ini? Apakah ada sesuatu yang dia tidak ketahui?

Tak lama setelah Erna pergi, Buk Fatimah, datang bersama suaminya, Pak Wahab.

Mereka baru saja pulang dari pasar untuk membeli berbagai bahan untuk stok.

"Erna kemana, Mumu?" Tanya Buk Fatimah sambil meletakkan tas belanjaan di atas meja.

Mumu menatap mereka dengan senyum tipis, mencoba menyembunyikan kegundahannya.

"Dia tiba-tiba teringat ibunya di rumah, jadi dia ingin pulang, Buk." Jawab Mumu.

Namun, Bu Fatimah yang sudah lama mengenal Erna tahu ada sesuatu yang salah.

"Tumben mendadak begini.Biasanya pulang kan bersama kamu dan anak mu. Apa kalian ada masalah?" Tanya Buk Fatimah lebih lanjut, matanya menelisik wajah Mumu yang tampak tenang.

Mumu menggeleng, "Tak ada masalah apa-apa, Buk. Lagi pula rumahnya pun dekat jadi kapan-kapan bisa bolak balik ke sini lagi."

Pak Wahab, yang sejak tadi diam, mendesah pelan.

"Kadang perempuan memang begitu, Mumu. Ada saatnya mereka merasa butuh waktu sendiri, terutama kalau sedang banyak pikiran."

Mumu mengangguk pelan, meskipun hatinya masih penuh pertanyaan.

Dia berpikir keras, mencoba mengingat kembali apakah ada hal yang membuat Erna merasa kesal atau kecewa dengannya.

Tapi seingatnya ia tak pernah membuat istrinya kesal atau kecewa.

Malam harinya Mumu mencoba menelpon Erna. Dia biasanya tak bisa berpisah dengan Arrazi jika malam tiba.

Namun telpon tidak dijawab dan pesan pun hanya dibaca tanpa dibalas.

"Hmmm..."

Mumu hanya bisa menghela nafas. Kadang kala seorang istri menuntut suami supaya bisa membaca pikiran dan hati manusia.

Terpopuler

Comments

Endro Budi Raharjo

Endro Budi Raharjo

nah kadang wanita sulit utk ngomong jd kita hrs sakti....

2024-11-03

0

MATADEWA

MATADEWA

Apa semua wanita begitu yach.....

2025-03-27

0

Mardelis

Mardelis

erna erna.....

2025-03-17

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!