Menabur Benih

Wajah Nurul langsung berubah mendengar tuduhan itu. Matanya berkedip cepat, menahan air mata yang hampir jatuh.

Namun, dia berusaha menenangkan dirinya.

Alih-alih membalas, Nurul menundukkan kepala, mencoba menekan kesedihan yang menyelimuti hatinya.

Dia tahu, di balik kemarahan Bu Sri, ada rasa putus asa yang mendalam.

"Saya hanya ingin membantu." Bisik Nurul perlahan, lebih kepada dirinya sendiri.

Suaranya hampir tidak terdengar di tengah ketegangan yang melingkupi ruangan.

Pak Jali hanya diam di samping istrinya, wajahnya juga menyiratkan frustrasi.

Mereka berdua sudah terlalu lama bergumul dengan penyakit Raka, dan harapan yang terus-menerus patah membuat mereka mudah tersulut.

Mumu yang melihat situasi semakin memanas, segera melambai tangannya untuk menetralisir suasana.

“Ibu, Bapak, jangan terburu-buru menentukan sesuatu.” Ucapnya dengan tenang namun tegas.

“Saya belum selesai bicara. Saya mengerti ini sulit, dan kondisi Raka memang tidak mudah diobati."

"Tapi bukan berarti tidak mungkin. Proses penyembuhan seperti ini memang memerlukan waktu. Tidak ada pengobatan instan.”

Buk Sri terdiam sejenak, matanya masih menyiratkan ketidakpercayaan.

“Jadi menurut Pak Dokter, ada harapan untuk anak kami?”

Mumu mengangguk. “Betul, Buk. Kami akan melakukan dengan maksimal."

Pak Jali mulai terlihat sedikit lebih tenang, meski masih ada keraguan di wajahnya.

“Apa kah Pak Dokter benar-benar bisa menyembuhkan anak kami?”

“Kami akan berusaha sebaik mungkin, Pak.” Jawab Mumu. Ia tidak mau terlalu banyak omong kosong. Tindakan lah yang diperlukan bukan ucapan tanpa akhir.

Bu Sri dan Pak Jali saling berpandangan. Ada secercah harapan di mata mereka.

Meski mereka tampak lebih tenang, tidak ada ucapan terima kasih kepada Nurul yang telah mengantar mereka ke tempat ini.

Mereka juga tidak berusaha untuk meminta maaf karena telah menuduh Nurul.

Nurul hanya tersenyum tipis, lega karena setidaknya mereka memberi kesempatan pada Dokter Mumu dalam perawatannya.

Namun di dalam hatinya, ada rasa sedih yang masih tersisa.

"Dok, masih banyak pasien di luar. Jika Dokter fokus mengobati pasien ini maka waktunya akan habis tanpa kita sempat mengobati pasien yang lain." Ujar salah seorang perawat.

"Oh, begitu..."

Lalu ia menoleh ke arah Bu Sri dan Pak Jali, yang masih duduk tegang menanti giliran Raka diperiksa.

"Buk Sri, Pak Jali..." Kata Mumu dengan nada sopan,

"karena saya masih ada beberapa pasien lain yang menunggu, bagaimana kalau Raka saya obati terakhir saja? Dengan begitu, saya bisa memberikan perhatian penuh dan mengobatinya tidak setengah-setengah. Saya kasihan kalau pasien lain terlalu lama menunggu."

Buk Sri tampak sedikit bingung, sementara Pak Jali mengerutkan kening, seolah merenungkan usulan itu.

Bu Sri membuka mulut hendak bicara, tapi ragu-ragu, sehingga Pak Jali yang akhirnya angkat bicara.

“Kalau begitu, kami ikut apa kata Dokter saja. Yang penting anak kami bisa mendapatkan perawatan yang baik.”

Mumu mengangguk penuh pengertian.

“Terima kasih, Pak Jali, Buk Sri. Saya jamin, dengan cara ini, saya bisa lebih fokus pada kondisi Raka."

"Saya tidak mau tergesa-gesa dalam pengobatan, terutama untuk kasus yang rumit seperti ini. Sabar sedikit lagi, ya.”

Bu Sri menarik napas panjang, lalu mengangguk setuju.

"Baik, Dokter. Kami akan menunggu."

Raka yang duduk diam sepanjang percakapan itu, hanya melirik sekilas ke arah Nurul, yang berdiri di sudut ruangan.

“Kami akan tunggu di luar, Pak Dokter.” Tambah Pak Jali dengan nada lebih tenang.

"Silakan, Pak."

Setelah itu, Mumu mempersilakan mereka keluar dari ruang periksa untuk memberi ruang bagi pasien berikutnya. Nurul mengikuti di belakang.

"Nurul, jika kamu ada keperluan lain, pulang saja dulu." Ujar Raka.

"Tidak apa-apa, Raka. Aku di sini saja."

Buk Sri hanya mendengus.

...****************...

Waktu terus berlalu, tak terasa sebulan sudah sejak Purnama mulai semakin dekat dengan Erna.

Pada awalnya, hubungan mereka tampak biasa saja, hanya sekadar teman berbincang di kantor.

Erna sering meminta bantuan kepada Purnama terkait pekerjaan yang biasa dilakukan oleh CS.

Namun Purnama punya niat tersembunyi, dan seiring berjalannya waktu, dia semakin lihai menanamkan pengaruhnya di hati Erna.

Erna yang dulunya waspada kini semakin percaya kepada Purnama.

Dengan kemampuannya berbicara manis dan selalu memberikan perhatian lebih, Purnama perlahan-lahan meruntuhkan dinding kepercayaan diri Erna.

Purnama sangat hati-hati dalam pendekatannya, tidak ingin terlihat terlalu mencolok.

Dia menanamkan rasa percaya pada Erna dengan perlahan.

Suatu siang yang tenang, Purnama baru saja meletakkan segelas susu untuk ibu hamil di hadapan Erna.

Purnama memulai pembicaraan dengan senyum yang biasa dia berikan, sebuah senyum yang Erna anggap tulus.

“Buk Erna, saya perhatikan, Ibuk akhir-akhir ini terlihat lebih ceria. Apa semuanya baik-baik saja di rumah?” Tanya Purnama dengan nada penuh perhatian.

Erna tersenyum kecil, sedikit bingung dengan pertanyaan itu.

“Iya, alhamdulillah semuanya baik. Kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu, Dara?”

Purnama tertawa pelan, seolah menutupi sesuatu.

“Oh, tidak ada apa-apa, Buk. Saya hanya merasa… Ibuk terlihat lebih lega sekarang. Dulu Ibuk sering curhat tentang Pak Mumu, kan? Tentang bagaimana dia sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit?”

Wajah Erna sedikit berubah. Dia terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Iya, dia memang masih sibuk. Tapi akhir-akhir ini saya mencoba untuk lebih mengerti.”

Purnama menatap Erna, menyelidik dengan lembut.

“Begitu ya... Tapi bukannya sulit, ya, Buk? Ibuk selalu harus menunggu dia pulang terlambat. Ibuk berhak mendapatkan lebih dari sekadar menunggu, Buk. Mengobati pasien memang penting tapi istri jauh lebih penting.”

"Seorang dokter bukan pahlawan. Jika kita tidak bisa, masih ada dokter yang lain. Saya rasa ada banyak dokter di rumah sakit kan, Buk."

Kata-kata itu menusuk hati Erna dengan halus. Dia tidak pernah berpikir untuk mengeluh lagi setelah berusaha mengerti situasi Mumu.

Tapi entah kenapa, setiap kali Purnama berbicara seperti itu, ada perasaan tidak nyaman yang muncul.

Seolah-olah apa yang dia terima saat ini kurang dari yang seharusnya.

Erna tersenyum tipis, berusaha mengabaikan perasaan itu.

“Yah, itulah tantangan dalam rumah tangga. Setiap orang punya tanggung jawabnya masing-masing, dan saya hanya mencoba mendukung suami saya sebisa mungkin.”

Purnama mengangguk, tapi tak menyerah begitu saja.

“Ibuk memang istri yang baik, Buk. Tapi saya merasa, Ibuk terlalu baik, kadang Ibuk terlalu banyak berkorban. Ibuk juga butuh perhatian. Jangan biarkan diri Ibuk merasa diabaikan.”

Kalimat itu kembali menancap dalam pikiran Erna.

Meskipun dia berusaha menepisnya, benih keraguan mulai tumbuh.

Dia tidak bisa memungkiri bahwa ada saat-saat di mana dia merasa sendiri, meski Mumu selalu berusaha mengimbanginya.

Namun, dalam kebersamaan yang semakin sering dengan Purnama, Erna mulai membandingkan perlakuan mereka.

Purnama selalu ada, selalu mendengarkan, sementara Mumu sering kali terjebak dalam rutinitas pekerjaannya.

Purnama melihat perubahan halus di wajah Erna. Inilah momen yang dia tunggu-tunggu. Dengan cermat, dia melanjutkan rencananya.

“Buk Erna, kadang dalam hidup, kita perlu memikirkan kembali apa yang kita inginkan. Ibuk pasti ingin bahagia, kan?"

"Kalau Ibuk merasa sesuatu tidak berjalan seperti seharusnya, tidak ada salahnya untuk berbicara dengan Pak Mumu. Tapi Ibuk juga harus jujur dengan diri Ibuk sendiri.”

Erna terdiam, memikirkan kata-kata itu. Dia memang ingin bahagia, semua orang pasti ingin bahagia.

Tapi apakah itu berarti harus meminta lebih dari Mumu? Haruskah dia benar-benar mempertanyakan posisinya dalam pernikahan mereka?

Purnama melanjutkan, seolah memberikan nasihat dari hati.

“Saya cuma ingin Ibuk bahagia, Buk. Karena Ibuk pantas mendapatkannya. Jangan biarkan dirimu merasa terjebak. Coba pikirkan, apa yang membuat Ibuk benar-benar merasa dicintai?”

Erna mulai merasakan keraguan yang semakin kuat. Meskipun dia belum sepenuhnya mempertanyakan pernikahannya, Purnama telah menanamkan bibit-bibit ketidakpuasan di hatinya.

Purnama tidak terburu-buru, dia tahu bahwa untuk membuat rumah tangga Erna dan Mumu berantakan, dia harus sabar.

Setiap kata yang dia ucapkan penuh dengan perhitungan, membawa Erna lebih jauh dari Mumu tanpa Erna sadari.

Terpopuler

Comments

MATADEWA

MATADEWA

Serangan Purnama.....

2025-03-27

0

Endro Budi Raharjo

Endro Budi Raharjo

embernya mulai masuk.....

2024-11-03

1

Zoelf 212 🛡⚡🔱

Zoelf 212 🛡⚡🔱

smoga erna sadar

2024-10-07

1

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!