Saya Tidak Suka Diancam

Mumu menepis tangan pria itu dengan gerakan halus tapi tegas. Tatapannya tetap tenang meski jelas sedang diintimidasi.

Pria yang mencengkeramnya sebelumnya tampak marah, merasa harga dirinya terluka oleh tindakan Mumu.

Di belakangnya, ketiga pria lain menatap dengan pandangan tajam, siap untuk bertindak.

"Tidak perlu bermain kasar jika hanya sekedar memberikan peringatan, Bang." Ujar Mumu dengan suara rendah namun jelas.

"Saya tidak sedang mencari masalah."

Pria yang berada paling depan, yang tampaknya pemimpin dari kelompok ini, mendekat dengan senyum mengejek.

"Memangnya kenapa? Kamu tak senang, ya?" Katanya sambil menyeringai, matanya penuh amarah yang ditahan.

"Atau kamu mau melawan?"

Mumu menghela napas, matanya tetap tenang meski ketegangan semakin memuncak.

"Saya tidak melawan, tapi saya juga tidak akan diam jika kalian memulai sesuatu yang tidak perlu."

"Musuh jangan dicari tapi jika sudah bertemu, jangan lari."

Kata-kata Mumu tampaknya semakin membakar emosi pria itu. Tanpa memperingatkan, dia melemparkan pukulan ke arah wajah Mumu.

Tapi Mumu, yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, dengan mudah menghindar, tubuhnya bergerak cepat ke samping.

Pukulan itu hanya menghantam udara kosong.

Melihat serangan itu meleset, ketiga pria lainnya langsung bereaksi.

Salah satu dari mereka mencoba menendang Mumu dari belakang, tetapi Mumu sudah siaga.

Dia dengan cepat berputar, menangkis tendangan itu dengan lengan kirinya, dan dengan satu gerakan cepat, menyapu kaki pria tersebut. Pria itu jatuh tersungkur ke tanah dengan keras, terkejut karena serangannya gagal begitu cepat.

"Apa kalian benar-benar ingin melakukan ini?" Tanya Mumu sambil berdiri tegak, matanya tajam memperhatikan setiap gerakan mereka.

"Kita tidak saling mengenal dan juga tidak ada silang sengketa di antara kita kan?"

Namun, tampaknya pertanyaan itu hanya membuat mereka semakin marah.

Pria yang tadi terjatuh cepat bangkit kembali, sementara dua lainnya mulai mendekat, mencoba mengurung Mumu dari berbagai sudut.

Mereka pikir, dengan keunggulan jumlah, mereka bisa menekan Mumu. Tapi mereka salah besar.

Pria pertama melancarkan serangan lagi, kali ini dengan pukulan cepat ke arah dada Mumu.

Namun, Mumu menangkap lengan pria itu dengan satu tangan, menekannya dengan tenaga dalam yang terlatih.

Pria itu meringis kesakitan ketika Mumu memelintir lengannya, memaksa tubuhnya jatuh ke lutut.

Di saat yang sama, dua pria lainnya melompat ke arah Mumu, mencoba memanfaatkan gangguan tersebut.

Tapi Mumu, dengan gerakan yang halus namun penuh tenaga, melepaskan cengkeramannya dan menghindar.

Dia menangkis salah satu pukulan yang diarahkan ke wajahnya dan balas menendang dengan keras ke perut pria lainnya, membuatnya terhuyung mundur sambil memegang perut yang kesakitan.

Kini hanya tersisa dua pria yang masih berdiri, sementara dua lainnya terkapar, kesakitan di tanah.

Pemimpin mereka, yang tampak lebih marah dari sebelumnya, mencoba sekali lagi menyerang. Kali ini dia mengambil pis*u dari sakunya dan dengan cepat mengayunkannya ke arah Mumu.

Namun Mumu, yang sudah berlatih dalam seni bela diri dan pengendalian tenaga dalam selama bertahun-tahun, tidak mudah panik.

Berkelahi dalam mempertahankan diri sudah menjadi hal biasa baginya.

Ia dengan cepat melangkah mundur, menghindari tebasan pis*u tersebut dengan gerakan gesit.

Ketika pria itu menyerang lagi, Mumu memanfaatkan momentum serangan tersebut, meraih pergelangan tangan pria itu, dan dengan satu gerakan memutar, ia menjatuhkan pria itu ke tanah. Pis*u terlempar dari tangan pria itu, meluncur jauh ke samping.

Pria itu mendengus kesakitan, namun sebelum dia bisa bangkit, Mumu menekannya dengan lutut, menahan tubuhnya di tanah.

"Cukup!" Ujar Mumu dengan tegas. "Ini sudah berakhir."

Pria itu meronta-ronta, mencoba melepaskan diri. Jelas dia tak bisa menerima kenyataan.

Tapi kekuatan Mumu membuatnya tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa memelototi Mumu dengan kemarahan yang membara di matanya.

"Kamu pikir kamu siapa, hah?" Seru pria itu, suaranya bergetar karena frustrasi.

"Kami akan membuatmu menyesal!"

Mumu menggeleng, tetap tenang meski dihadapkan dengan ancaman.

"Saya tidak ingin melukai kalian." Katanya dengan nada rendah.

"Tapi kalau kalian terus memaksakan diri, kalian hanya akan membuat diri kalian semakin rugi."

Salah satu dari pria yang masih tersisa akhirnya membantu pemimpinnya bangkit. Mereka jelas tidak mengharapkan perlawanan seperti ini dari Mumu.

Ketiganya, yang kini penuh luka dan memar, mundur perlahan, jelas kehilangan semangat untuk bertarung lebih lama.

Sebelum pergi, pemimpin mereka mendengus sekali lagi, melontarkan ancaman terakhir.

"Ini belum selesai. Kamu akan menyesal telah menantang kami."

Mumu menatap tajam ke arah keempat pria di depannya. Ancaman yang keluar dari mulut mereka jelas bukan sesuatu yang bisa diabaikan.

Namun, dia tetap tenang, menimbang situasi dengan hati-hati.

Setelah pertarungan singkat tadi, ia tahu mereka tidak cukup terlatih untuk menjadi ancaman serius.

Namun, ancaman yang lebih besar bisa muncul jika mereka dibiarkan bebas.

"Saya tak suka diancam." Kata Mumu dengan suara rendah namun penuh ketegasan.

"Dan saya juga tidak suka membiarkan musuh saya berkeliaran bebas."

Sebelum mereka sempat bereaksi, Mumu langsung bergerak. Tubuhnya meluncur dengan kecepatan luar biasa, nyaris seperti bayangan yang sulit diikuti mata.

Keempat pria itu jelas tidak menyangka serangan balik yang begitu tiba-tiba dan brutal.

Dalam hitungan detik, Mumu telah meluncurkan serangan pertama.

Tangannya bergerak cepat, mengincar titik-titik vital pada tubuh pria pertama yang berdiri paling dekat dengannya.

Sebuah dorongan telak mengenai tengkuk pria itu, langsung melumpuhkan saraf di lehernya. Pria itu bahkan tidak sempat berteriak, tubuhnya langsung terjatuh ke tanah, lumpuh total.

Dua pria lain yang berada di dekatnya mencoba bereaksi, namun sudah terlambat.

Mumu mengayunkan tubuhnya dengan kecepatan kilat, menyusul dengan pukulan ke arah titik saraf di lengan dan perut salah satu dari mereka.

Pria kedua jatuh dengan ekspresi terkejut di wajahnya, tubuhnya tidak lagi bisa digerakkan.

Dia mencoba berbicara, namun lidahnya terasa berat, dan tubuhnya tidak merespon perintah otaknya.

Pria ketiga, yang tadinya tampak lebih percaya diri, langsung panik.

Dia mencoba mundur, matanya melebar melihat rekannya yang sudah terkapar tak berdaya.

Namun, Mumu tak memberi ruang untuk melarikan diri.

Dengan satu langkah cepat, Mumu berada tepat di depannya dan menebas titik saraf di pangkal pahanya.

Pria itu menjerit pendek sebelum kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya.

Dia jatuh ke tanah, berusaha untuk merangkak, namun sia-sia. Tubuhnya sudah tak lagi menuruti perintah.

Hanya tinggal satu pria lagi yang masih berdiri. Pemimpin kelompok itu, yang sejak awal bersikap paling arogan, kini tampak pucat.

Matanya membesar melihat ketiga rekannya tak lagi bisa bergerak. Peluh mengalir di dahinya saat dia menyadari bahwa tidak ada jalan keluar dari situasi ini.

Dia sangat menyesal karena telah mengancam pria yang masih muda ini.

"Tunggu, kita bisa bicara." Katanya tergagap, mencoba mundur.

Namun, Mumu tidak memberi kesempatan.

Ia melangkah maju, serangan kilatnya langsung menuju saraf di bahu dan leher pria itu.

Hanya dalam hitungan detik, pria itu pun jatuh ke tanah dengan tubuh yang tak lagi bisa digerakkan.

Keempat pria itu kini tergeletak, lumpuh total tanpa adanya luka yang terlihat jelas.

Semua titik saraf mereka telah dilumpuhkan dengan akurasi yang luar biasa oleh Mumu.

Mumu berdiri di tengah mereka, menarik napas panjang.

Serangan kilatnya tidak meninggalkan bekas luka, tetapi efeknya luar biasa.

Mereka semua lumpuh dan tidak akan menjadi ancaman lagi untuk sementara waktu.

"Saya sudah memperingatkan kalian tapi kalian tidak peduli."

Pria yang tadi menjadi pemimpin kelompok itu mengerang, mencoba menggerakkan tubuhnya yang lumpuh.

“Apa... apa yang kau lakukan pada kami?” Katanya dengan susah payah.

Mumu menatapnya dengan tenang.

"Saya hanya melumpuhkan saraf kalian. Kalian tidak akan bisa bergerak selama beberapa hari, atau bisa juga beberapa minggu atau beberapa bulan dan bahkan mungkin lebih lama. Anggap ini sebagai pelajaran."

Sambil melangkah mundur, Mumu melihat keempat pria itu terkapar tak berdaya.

Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa perlawanan mereka akan berakhir secepat ini.

Meskipun penuh dengan ancaman dan keberanian semu di awal, pada akhirnya, mereka semua menjadi korban dari keahlian Mumu yang luar biasa dalam seni bela diri dan pengendalian tenaga dalam.

Pria itu hanya bisa menatap Mumu dengan ketakutan, tubuh mereka kaku tak berdaya.

Dengan itu, Mumu berbalik dan mulai mengidupkan motornya, meninggalkan keempat pria itu di sana, tergeletak di pinggir jalan.

Sementara itu, keempat pria itu hanya bisa terbaring di tanah, tak mampu melakukan apa pun.

Rasa takut dan keputusasaan menggantikan arogansi yang mereka tunjukkan sebelumnya.

Terpopuler

Comments

MATADEWA

MATADEWA

Ini namanys cari penyakit......

2025-03-26

0

Abu Wira

Abu Wira

mumu dilawan.....💪💪💪

2025-02-09

0

Endro Budi Raharjo

Endro Budi Raharjo

nah kan....

2024-11-03

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!