Perhatian Yang Tulus

Nurul berdiri di balik pintu rumah sakit, kedua tangannya mengepal erat, hatinya bergemuruh.

Dia mendengar setiap kata yang Nadya ucapkan, setiap helaan napas berat Raka ketika cinta yang diimpikannya hancur begitu saja.

Mata Nurul terasa panas, tapi dia tidak menangis.

Dia tahu, ini bukan saatnya menunjukkan kelemahan.

Nadya sudah lama pergi, meninggalkan Raka dalam kesunyian yang kelam.

Nurul masih tak bergerak, menyandarkan tubuhnya ke dinding dingin. Ingatannya berputar, kembali ke saat pertama kali dia bertemu Raka di kantor.

Keduanya adalah pegawai honorer, menjalani hidup dari gaji kecil, dan sering mengeluh bersama soal beban pekerjaan yang tak sebanding dengan imbalan.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan kantornya yang sederhana, Nurul tak bisa menahan hatinya untuk jatuh pada sosok Raka, pria yang selalu tersenyum, meski hidup tak selalu ramah padanya.

Tapi sayangnya, hati Raka sudah tertambat pada Nadya. Gadis cantik dari keluarga kaya yang dunia dan statusnya jauh di atas Nurul.

Sejak awal Nurul tahu bahwa dia tak akan pernah bisa menandingi Nadya dalam banyak hal.

Namun, rasa sayangnya kepada Raka terus tumbuh, meski dia tahu bahwa cinta itu tak akan pernah terbalas.

Beberapa hari yang lalu, saat Nurul menemukan Raka tergeletak berlumuran darah di gang sempit setelah dikeroyok, dia merasakan ketakutan yang luar biasa.

Dia langsung menelepon ambulance, tak peduli dengan rasa panik yang menguasainya.

Raka nyaris tak sadarkan diri, tubuhnya penuh luka, namun di tengah semua itu, Nurul hanya berpikir satu hal, dia tidak akan membiarkan Raka menderita.

Selama Raka dirawat, Nurul selalu ada di sana.

Dia datang ke rumah sakit setiap hari, memastikan Raka mendapatkan perawatan terbaik, meski Raka sendiri tak pernah benar-benar memperhatikannya.

Bahkan dalam kondisinya yang terluka, pikiran Raka hanya dipenuhi Nadya.

Setiap kali Raka bertanya tentang Nadya, hati Nurul terasa perih, namun dia tak pernah menunjukkan kekecewaannya.

Dia hanya tersenyum dan berkata, “Nadya pasti akan datang, Raka.”

Dan hari ini, Nadya memang benar-benar datang.

Tapi apa yang ditinggalkannya hanyalah luka dan kesedihan mendalam di hati Raka.

Nurul menarik napas dalam dan akhirnya memberanikan diri membuka pintu.

Raka masih terbaring di tempat tidurnya, menatap kosong ke langit-langit.

Matanya merah, mungkin karena menahan tangis yang tak ingin dia lepaskan.

Nurul melangkah perlahan mendekati tempat tidur, takut mengganggu kesunyian yang melingkupi ruangan itu.

“Raka...” Nurul memanggil dengan suara pelan.

Raka menoleh perlahan, matanya masih penuh kesedihan. Ketika melihat Nurul, dia mencoba tersenyum, meski senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.

“Eh, Nurul, baru sampai?” Tanya Raka pelan, suaranya sedikit serak. Dia tampak berusaha tersenyum meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kesedihan.

Nurul hanya mengangguk, menahan perasaan yang bercampur aduk di dalam dirinya. Tentu saja Raka tak tahu bahwa dia sudah mendengar semuanya.

Percakapan antara Raka dan Nadya barusan, keputusan Nadya untuk pergi, dan bagaimana hati Raka hancur karena hal itu.

Nurul memandang pria yang berbaring di tempat tidurnya, dengan tatapan yang dulu selalu ceria namun kini tersirat kerapuhan yang tak bisa disembunyikan.

“Hari ini bagai mana, Raka? Sudah lebih baik?” Tanya Nurul, berusaha mengalihkan suasana dengan nada hangat.

Dia menarik kursi ke samping tempat tidur Raka dan duduk di sana.

Raka menghela napas panjang. “Lebih baik? Entahlah, Nurul. Secara fisik mungkin sedikit lebih baik, tapi... hati ini.” Dia berhenti, menatap kosong ke luar jendela, “Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Nurul tak langsung menjawab. Dia sudah menduga bahwa hari ini akan menjadi berat, tapi mendengarnya langsung dari Raka membuat rasa sakit itu semakin nyata.

Selama ini, dia tahu betapa dalam cinta Raka pada Nadya, dan bagaimana semua itu kini berakhir dengan cara yang begitu menyakitkan.

Hatinya ingin berkata banyak hal, ingin menenangkan Raka, tapi lidahnya seakan kelu.

“Aku melihat Nadya barusan. Apa kah dia dari sini?" Nurul pura-pura bertanya hanya sekedar memecah keheningan.

Raka tersenyum getir. “Iya, dia tadi datang." Raka tidak bermaksud menutupi.

"Apa yang terjadi?"

"Dia pergi. Memilih keluarganya. Memilih kenyamanan hidupnya. Aku tidak bisa marah. Itu pilihannya.”

Nurul menunduk, memainkan ujung kerudungnya dengan gugup.

Dia ingin menghibur Raka, tapi apa yang bisa dia katakan?

“Aku tak tahu harus bilang apa, Raka. Tapi aku yakin kamu kuat. Kamu pasti bisa melewati ini.”

Raka menatap Nurul dengan sorot mata yang sayu.

"Terima kasih, Nurul. Kamu selalu ada buat aku."

Nurul tersenyum tipis, menahan perasaan yang bercampur aduk di dalam dadanya.

"Jangan bilang begitu, Raka. Aku hanya ingin kamu cepat sembuh."

Raka terdiam sejenak, lalu dengan suara lirih dia berkata, "Nurul, bisa kah aku minta tolong?"

Nurul mengangguk cepat. "Tentu, Raka. Tolong apa?"

Raka menarik napas panjang, seolah berusaha mengumpulkan kekuatan.

"Aku mau pulang."

Nurul mengerutkan kening, bingung dengan permintaan itu.

"Pulang? Tapi kenapa, Raka? Bukankah kamu belum sembuh?"

Raka menunduk, menatap tangannya yang lemah di atas selimut rumah sakit.

“Aku... aku tak akan bisa sembuh, Nurul.” Suaranya penuh kepedihan yang terpendam.

“Dokter sudah mengatakan pada aku. Mereka bilang, aku mungkin tak akan pernah bisa berjalan lagi. Lagi pula, mau sampai kapan aku di sini? Aku tak punya biaya untuk terus dirawat.”

Nurul terkejut, hatinya terasa hancur mendengar kenyataan itu.

“Apa maksudmu, Raka? Pasti ada jalan. Kita bisa cari bantuan, atau... atau bicara lagi dengan dokter.”

Raka menggeleng pelan.

“Tidak, Nurul. Aku sudah mendengar semuanya. Kaki ini... cacat dan punggung aku hancur. Aku tak akan pernah bisa berdiri seperti dulu lagi."

"Tak ada gunanya aku terus di sini. Aku tak punya uang untuk perawatan lebih lama. Aku bahkan tak bisa membayar biaya yang sudah menumpuk sekarang.”

Nurul terdiam, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.

Dia tahu situasi Raka tidak mudah, tapi dia tidak menyangka kondisinya seburuk ini.

"Tapi, Raka... kamu tak bisa menyerah begitu saja. Masih ada harapan."

Raka menggeleng lagi, lebih kuat kali ini.

"Tidak ada, Nurul. Aku sudah memikirkan semuanya. Aku tidak bisa terus-menerus membebani keluarga. Aku hanya ingin pulang. Itu saja. Tolong bantu aku keluar dari sini."

Nurul merasakan tekanan di dadanya semakin berat. Dia tahu Raka terlalu bangga untuk meminta belas kasihan, tapi dia juga tahu betapa putus asanya pria itu sekarang.

“Aku... aku akan bantu, Raka. Tapi janji satu hal, jangan menyerah. Kita akan cari jalan keluar. Aku akan coba bicara dengan pihak rumah sakit soal biaya.”

Raka tersenyum tipis, tapi di balik senyum itu tersirat kelelahan dan kepasrahan yang mendalam.

"Terima kasih, Nurul. Kamu selalu baik padaku. Tapi aku tidak mau kamu terbebani lagi karena aku. Aku cuma ingin pulang, istirahat di rumah, bersama keluargaku. Itu saja."

Nurul meraih tangan Raka, menggenggamnya erat.

“Aku akan urus semuanya, Raka. Tapi kamu harus tahu, kamu tidak sendirian. Aku akan tetap ada buat kamu, apapun yang terjadi.”

Saat Nurul pulang dia tanpa sengaja menabrak seseorang di koridor rumah sakit.

"Maaf, Dok. Saya tidak sengaja."

Ternyata yang ditabraknya adalah seorang Dokter yang masih muda. Jas putih yang dikenakannya menambah kesan wibawa.

"Apa kah kamu tidak apa-apa?"

Saat tabrakan tadi Dokter muda itu memang tidak merasakan apa-apa malah Nurul yang terjajar sampai lima langkah ke belakang.

Dokter itu tidak marah. Saat dia sedikit menunduk ke arah Nurul, Nurul sempat membaca nama di ID Cardnya. 'dr. Mumu, Sp. Ak.'

Terpopuler

Comments

Siti Sopiah

Siti Sopiah

ya Allah Mumu tolong obati Raka yg hampir lumpuh total dgn tangan dingin mu itu

2024-12-18

0

MATADEWA

MATADEWA

Datangnya pertolongan yg diharapkan....

2025-03-25

0

Zoelf 212 🛡⚡🔱

Zoelf 212 🛡⚡🔱

ketemu penolong kah

2024-09-15

2

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!