CS Baru

Setelah memastikan bahwa gadis yang menabraknya tidak apa-apa, Mumu bergegas keluar dari lobi rumah sakit.

Udara Jogja yang sejuk menyambutnya begitu ia melangkah keluar, membuatnya merasa sedikit lebih segar setelah seharian menghadiri seminar.

Mumu baru saja selesai menghadiri acara yang diselenggarakan di salah satu rumah sakit terbaik di kota itu bersama beberapa rekannya.

“Wah, hebat ya fasilitasnya. Kalau di rumah sakit tempat kita kerja, peralatan seperti ini mungkin baru ada beberapa tahun lagi.” Kata dr. Tio, rekan Mumu, sambil menyusulnya ke luar.

Mumu mengangguk pelan, setuju. “Betul apa yang Dokter katakan. Kita jelas masih sedikit ketinggalan. Pelayanannya juga beda. Pasien di sini kelihatan lebih tenang dan nyaman. Peralatan mereka canggih, tenaga medisnya juga kelihatan lebih terlatih.”

Mereka berjalan menuju area parkir, di mana beberapa rekan mereka yang lain sedang menunggu di dekat mobil yang akan membawa mereka kembali ke tempat mereka bekerja.

“Kalau rumah sakit kita punya peralatan seperti itu, aku yakin perawatan pasien kita akan jauh lebih baik.” Lanjut Mumu, suaranya penuh harapan.

Dr. Tio tertawa kecil. “Betul sekali. Tapi mau bagai mana lagi? Rumah sakit kita itu kan termasuk kecil, pendanaannya juga terbatas. Lagipula, yang terpenting itu bagai mana kita merawat pasien dengan hati, bukan cuma alat canggih.”

...****************...

Keesokan harinya, Nurul sudah berada di samping tempat tidur Raka ketika Dokter datang untuk visit.

Dia menatap Dokter yang memasuki ruangan dengan perasaan campur aduk, hatinya berat tapi tekadnya sudah bulat.

Raka berbaring lemah di atas ranjang, tatapannya kosong menatap langit-langit, sementara di tangannya masih terpasang infus.

“Selamat pagi, Raka.” Sapa Dokter sambil tersenyum tipis. Dia membuka berkas di tangannya, memeriksa catatan perkembangan kondisi Raka.

Setelah beberapa saat, dokter melirik Nurul yang jelas-jelas tampak gelisah.

“Bagai mana perasaan mu hari ini, Raka?” Tanya dokter dengan nada lembut.

Raka tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap lurus ke depan sebelum akhirnya berkata pelan,

“Tidak ada yang berubah, Dok. Saya masih merasakan sakit di punggung, dan... saya tidak bisa merasakan apa-apa di kaki saya.”

Dokter mengangguk pelan. Dia sudah terbiasa dengan respons seperti ini dari pasien dengan cedera tulang punggung.

Situasi ini sulit, baik bagi pasien maupun orang-orang yang merawat mereka.

Nurul, yang duduk di kursi di samping tempat tidur Raka, mengambil napas dalam-dalam sebelum memberanikan diri untuk berbicara.

"Dokter, kami sudah bicara, dan... Raka ingin pulang. Dia merasa perawatannya di sini tidak akan banyak membantu."

"Apalagi, Dokter juga sudah bilang bahwa tulang punggung yang patah itu mustahil disembuhkan seperti semula."

Dokter menatap Nurul dengan tenang, lalu mengalihkan pandangannya ke Raka. “Raka, apakah ini benar keinginanmu?”

Raka mengangguk perlahan.

“Iya, Dok. Saya sudah cukup lelah di sini. Saya tahu kondisi saya tidak akan membaik, dan saya hanya ingin pulang. Di rumah, saya bisa bersama keluarga saya. Tidak ada gunanya saya terus di sini kalau akhirnya tidak ada perubahan.”

Dokter terdiam sejenak, memikirkan kata-katanya. Ia mengerti bahwa kondisi mental pasien sama pentingnya dengan kondisi fisik.

Kadang, pasien yang merasa tidak ada harapan akan semakin sulit sembuh jika mereka tetap dipaksa untuk menjalani perawatan.

Namun, Dokter juga tahu bahwa memulangkan Raka tanpa perawatan lebih lanjut adalah keputusan yang berisiko.

“Saya mengerti perasaan kalian.” Kata Dokter, suaranya penuh empati.

“Tulang punggung yang patah memang sulit, bahkan mustahil, untuk kembali seperti semula. Tapi perawatan yang kita lakukan di sini bukan hanya tentang menyembuhkan, tapi juga menjaga agar kondisimu tidak semakin memburuk.”

Raka menghela napas panjang. “Dok, saya paham, tapi saya tidak punya kekuatan lagi untuk melanjutkan. Biaya di rumah sakit juga semakin tinggi, dan saya tidak ingin membebani keluarga saya lebih lama lagi. Saya ingin pulang.”

Dokter mengangguk lagi, tapi kali ini raut wajahnya berubah lebih serius.

“Kalau itu memang keputusan kalian, saya tidak bisa memaksa. Namun, sebelum kami bisa mengizinkanmu pulang, ada satu hal yang harus kalian lakukan.”

Nurul menatap Dokter dengan penuh perhatian, sementara Raka tetap diam.

“Kami memerlukan kalian untuk menandatangani surat penolakan dirawat. Ini adalah prosedur standar di rumah sakit."

"Surat ini berisi pernyataan bahwa kalian sadar akan risiko memutuskan perawatan lebih awal dan menolak rekomendasi medis. Dengan menandatangani surat ini, rumah sakit tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan Raka setelah dia dipulangkan.”

Mendengar itu, Nurul merasa hatinya sedikit bergetar. Dia tahu bahwa ini adalah keputusan yang berisiko, tapi melihat kondisi Raka, dia tidak bisa menahan keinginan Raka untuk pulang.

Dia sudah melihat betapa menderita dan lelahnya Raka dalam beberapa hari terakhir. Apa lagi semenjak diputuskan oleh Nadya, mentalnya down.

Jika inilah yang bisa membuat Raka merasa lebih baik, dia siap untuk mendukungnya.

Raka, yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya berkata, “Saya akan tanda tangani, Dok. Saya mengerti risikonya dan saya siap menerimanya.”

Dokter menatap Raka dengan penuh rasa hormat.

“Baik, Raka. Kalau begitu, saya akan minta petugas untuk menyiapkan suratnya. Tapi sebelum itu, saya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar paham dengan risikonya. Setelah kamu pulang, tanpa perawatan lebih lanjut, kondisimu bisa semakin buruk."

"Ada risiko infeksi, kerusakan permanen yang lebih parah, dan rasa sakit yang mungkin akan terus ada.”

Raka mengangguk, meski suaranya terdengar semakin lemah. “Saya sudah siap, Dok. Saya hanya ingin pulang.”

...****************...

Pagi itu, suasana di ruang kantor Erna tampak sibuk seperti biasa. Beberapa karyawan berlalu-lalang, membawa dokumen dan berkas yang harus segera diperiksa.

Seorang karyawan muda mengetuk pintu dan masuk dengan membawa sebuah map tebal di tangannya.

"Selamat pagi, Buk Erna." Sapanya dengan sopan.

"Pagi. Ada apa?" Tanya Erna sambil menatap karyawan tersebut sekilas sebelum kembali fokus pada berkas yang sedang diperiksanya.

"Ini, Buk. Buk CS cewek yang Ibu minta sudah ada. Namanya Dara." Jawab karyawan itu sambil menyerahkan map yang dibawanya.

Erna meletakkan berkas yang sedang diperiksanya lalu mengambil map tersebut.

Dia membuka map dan memeriksa beberapa lembar dokumen di dalamnya. Wajahnya tampak serius saat membaca informasi tentang calon karyawan baru itu.

"Oh ya? Apakah dia sudah menikah?" tanya Erna sambil tetap menatap berkas di tangannya.

"Belum, Buk. Masih lajang." Jawab karyawan itu cepat.

Erna mengangguk pelan, lalu bertanya lagi,

"Pengalaman kerjanya bagai mana?"

Karyawan itu berdiri tegak, seolah sudah mempersiapkan jawaban dengan baik.

"Dia belum pernah kerja secara formal, Buk. Kalau kerja sambilan ada beberapa."

Setelah beberapa saat membaca berkas dengan seksama, Erna menutup map itu dan meletakkannya di meja.

"Kalau begitu, bilang kepadanya besok dia bisa mulai bekerja di sini. Pastikan semua persiapan untuk hari pertamanya sudah siap."

"Siap, Buk." Jawab karyawan itu dengan sigap, kemudian segera keluar dari ruangan untuk menyampaikan kabar baik tersebut kepada Dara.

Erna menghela napas pendek dan memandang ke arah jendela sejenak.

Satu masalah terselesaikan, pikirnya. Kini tinggal memastikan Dara bisa langsung menyesuaikan diri dengan ritme kerja di kantor ini.

Karyawan customer service yang baik memang penting untuk menjaga reputasi perusahaan, dan dari laporan yang dia baca, Dara sepertinya punya potensi besar.

Erna kembali fokus pada pekerjaannya.

Terpopuler

Comments

Endro Budi Raharjo

Endro Budi Raharjo

mulai bekerja si pur ini....cm berbahaya

2024-11-03

0

MATADEWA

MATADEWA

Bahaya mendekat.....

2025-03-25

0

Muhammad Satria

Muhammad Satria

sekluarga nyusahin hadeh "__"

2024-12-08

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!