Cinta Melahirkan Dendam

Malam itu, di rumah yang tenang dan nyaman, Mara duduk di ruang tamu sambil melihat handphonenya.

Sesekali ia melirik ke arah istrinya, Erna, yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Erna tampak sibuk memeriksa beberapa dokumen dan email kantor.

Meski jam sudah menunjukkan waktu istirahat, Erna masih terlihat sibuk bekerja, seperti biasa.

"Nda, jangan kerja terlalu keras." Ujar Mara tiba-tiba, suaranya lembut. "Jaga kandungannya, ya."

Erna mendongak dari layar laptopnya, tersenyum tipis pada suaminya.

“Iya, Yah. Tenang saja, Bunda baik-baik saja. Ini juga sudah hampir selesai."

Mara mengangguk, meski kekhawatiran masih tersirat di wajahnya.

Ia tahu betapa pekerja keras istrinya, tapi sejak Erna hamil, ia semakin khawatir.

"Ayah tahu Bunda bisa mengatur semuanya, tapi tetap, jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kesehatan Bunda dan bayi dalam kandungan lebih penting."

Erna mengangguk sambil menutup laptopnya.

"Iya, Yah. Bunda janji akan lebih banyak istirahat."

Mara tersenyum lega. Sementara itu, Erna memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan diri dari kelelahan yang dirasakannya.

Bayi di dalam kandungannya kini menjadi prioritas utama, meski tuntutan pekerjaan sering membuatnya lupa untuk berhenti dan beristirahat.

Mumu bangkit, dia mengurut istrinya agar tidak lelah. Ia juga menyuntikkan sedikit kekuatan spiritualnya ke dalam tubuh Erna.

...****************...

Sementara itu, di tempat lain, Purnama duduk di sudut kamarnya yang sempit di sebuah kost sederhana.

Dengan senyum sinis di wajahnya, dia memandangi foto-foto Erna dan Mumu di layar ponselnya.

Dia sudah berhasil masuk ke perusahaan Erna dengan menyamar sebagai Dara, CS yang baru saja diterima. Semua berjalan sesuai rencananya.

Purnama menaruh ponselnya di meja, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin.

"Aku sudah masuk, Erna. Sekarang tinggal tunggu waktu sampai kamu mempercayaiku sepenuhnya." Gumamnya pelan, bibirnya masih melengkung sinis.

Sejak melihat kehebatan Mumu waktu itu, Purnama telah jatuh hati terhadap Mumu.

Dia sudah lama mengincar Mumu, seorang pria yang yang sebenarnya masih bisa dikatakan sebagai abang iparnya sendiri.

Walau pun hubungan Mumu dan kakaknya, Wulan dalam keadaan yang tidak jelas.

Sayangnya cinta Purnama tak berbalas. Mumu tak pernah mau melayaninya, nomor kontaknya pun diblokir Mumu gara-gara dia mengirim pesan mesra waktu itu.

Kini Mumu malah memilih Erna sebagai pendamping hidupnya, dan itu membuat Purnama patah hati.

Oleh karena itu dendam menguasai hatinya. Jika dia tidak bisa memiliki Mumu, maka Erna pun tak boleh menjadi istri Mumu. Begitu pikir Purnama.

Purnama sudah lama merencanakan semuanya. Dia tahu bahwa mendekati Erna akan memberi jalan untuk membalas dendam pada Mumu.

Dia akan menjadi orang kepercayaan Erna, mendapatkan akses ke kehidupan pribadinya, dan perlahan-lahan menghancurkan kebahagiaan yang telah mereka bangun bersama.

"Aku akan buat kalian menderita." Bisik Purnama sambil menatap bayangannya di cermin.

“Kalau aku tak bisa mendapatkan Mumu, Erna juga tak boleh bahagia bersamanya.”

Meski penuh kebencian, Purnama masih sering bermimpi tentang Mumu.

Dalam mimpinya, mereka selalu bersama, mesra, seolah-olah tak ada yang bisa memisahkan mereka.

Setiap kali terbangun dari mimpi itu, Purnama merasa lebih yakin dengan misinya. Dia takkan menyerah sampai rencananya berhasil.

...****************...

Keesokan harinya, di kantor Erna, suasana kerja tampak lebih santai. Dara, atau sebenarnya Purnama, sudah mulai bekerja dan berusaha membuat kesan yang baik pada Erna.

Dengan sikapnya yang sopan dan profesional, dia dengan cepat menarik perhatian rekan-rekan kerjanya.

“Dara, tolong bantu saya urus dokumen ini.” Ujar salah satu rekan kerjanya, sambil menyerahkan setumpuk berkas.

“Siap, Mbak. Saya akan segera mengurusnya.” Jawab Purnama dengan senyum ramah.

Meski di dalam hatinya ada rasa sinis, dia tahu bahwa bermain peran sebagai karyawan teladan adalah kunci untuk mendapatkan kepercayaan Erna.

Erna, yang sesekali memperhatikan dari dalam ruangannya, tampak puas dengan kinerja Dara.

“Dia memang pilihan yang tepat.” Gumam Erna pada dirinya sendiri. “Setidaknya sekarang aku bisa lebih banyak istirahat.”

Namun, Erna tak pernah tahu bahwa di balik senyum manis Dara, ada niat jahat yang tersembunyi.

Purnama terus menjalankan perannya dengan sempurna, sambil merencanakan langkah-langkah berikutnya.

Dia tahu bahwa untuk mencapai tujuannya, dia harus sabar dan teliti.

Hari-hari berikutnya, hubungan antara Erna dan Dara semakin dekat.

Purnama sengaja mencari-cari kesempatan untuk lebih sering berinteraksi dengan Erna, membantu di mana pun dia bisa. Dia tahu bahwa kepercayaan Erna adalah kunci dari rencananya.

Suatu siang, ketika suasana di kantor mulai tenang, Erna mengajak Dara untuk berbicara di ruangannya.

“Dara, kamu sudah bekerja dengan sangat baik. Saya senang punya karyawan seperti kamu."

"Terima kasih banyak sudah membantu, terutama karena kondisiku sekarang sedang hamil.” ujar Erna dengan senyum hangat.

Purnama, atau Dara, menundukkan kepalanya dengan sopan.

“Terima kasih, Buk Erna. Saya senang bisa membantu. Saya akan terus berusaha sebaik mungkin.”

Erna mengangguk puas. “Kamu sudah menjadi bagian penting dari tim ini. Kalau ada apa-apa yang kamu butuhkan, jangan sungkan untuk bicara langsung kepada saya, ya.”

Purnama tersenyum tipis. “Siap, Buk. Saya mengerti.”

Setelah perbincangan itu, Purnama merasa semakin dekat dengan tujuannya.

Sedikit demi sedikit, dia mulai memasuki lingkaran kepercayaan Erna.

Dia tahu bahwa semakin dekat dirinya dengan Erna, semakin besar kesempatan untuk menjalankan rencananya yang lebih jahat.

Di tengah kemajuannya di kantor, Purnama masih sering bermimpi tentang Mumu.

Mimpinya semakin intens, seolah-olah alam bawah sadarnya terus mengingatkan betapa besar cintanya pada pria itu.

Di dalam mimpi-mimpinya, Mumu selalu tampak penuh perhatian dan lembut, berbeda dengan kenyataan di mana Mumu tak pernah memperhatikannya.

Dalam satu mimpi, Purnama dan Mumu berjalan-jalan bersama di pantai, tangan mereka saling menggenggam.

Angin sepoi-sepoi meniup rambut Purnama, dan Mumu menatapnya dengan mata penuh cinta.

“Kita akan selalu bersama, Purnama...” Kata Mumu dalam mimpi itu.

Purnama terbangun dari mimpi tersebut dengan hati berdebar. Setiap kali mimpi seperti itu datang, Purnama merasa semakin yakin bahwa dia harus menghancurkan Erna.

Hanya dengan cara itu, dia bisa memaksa Mumu menyadari bahwa Purnama adalah wanita yang seharusnya dia cintai.

"Erna tidak pantas mendapatkan Mumu..." Pikirnya penuh amarah.

"Dia takkan pernah mencintai Mumu seperti aku mencintainya. Dan aku akan pastikan Erna merasakan penderitaan yang aku rasakan."

Dengan tekad yang semakin bulat, Purnama melanjutkan rencananya di perusahaan Erna.

Dia tahu, semakin lama, semakin besar kemungkinan Erna akan mempercayainya sepenuhnya.

Dan ketika saatnya tiba, Purnama akan siap untuk menghancurkan semua yang telah dibangun oleh Erna dan Mumu.

...****************...

"Pak Dokter. Silahkan masuk! Ayah ada di dalam." Dita menyambut Mumu dengan senyum ramah.

Hal itu membuat lesung pipit di pipi kirinya kelihatan membuat senyumnya bertambah manis.

Terpopuler

Comments

Siti Sopiah

Siti Sopiah

MGKN kau bisa mengelabuhi Erna tp tidak dgn Mumu.bahkan sblm kau bertindak MGKN Mumu sdh bisa mengetahui niat busukmu itu dara

2024-12-18

1

Mardelis

Mardelis

jangan jangan dita jatuh hati sama mumu

2025-03-17

0

Sofyan Muchtar

Sofyan Muchtar

niat busuk si tolol dara

2024-12-19

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!