Diabaikan

Sepulang dari kantor, Erna masih teringat obrolannya dengan Purnama yang dia kenal sebagai Dara.

Di rumah, Mumu sudah pulang lebih awal hari itu, dan ia menyapa Erna dengan senyum mesra. "Bagai mana keadaan mu, Nda? Penat tak hari ini?"

Erna tersenyum kecil, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Pikiran-pikiran yang ditanamkan Purnama membuatnya mulai memandang Mumu dengan kacamata berbeda.

Bukannya menjawab dengan antusias, dia hanya berkata, "Biasa saja, Yah."

Mumu merasakan ada yang aneh, tapi memilih tidak bertanya lebih jauh. Ia mengira mungkin Erna hanya lelah.

Namun, Purnama sudah berhasil membuka celah kecil dalam hubungan mereka.

Saat malam harinya, Erna langsung tidur tanpa terlalu memperhatikan Mumu.

Hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.

Mumu sempat heran, namun ia beranggapan mungkin Erna sedang lelah atau bisa jadi karena bawaan orang yang lagi hamil.

Mumu duduk di sebelah ranjang, memperhatikan tubuh Erna yang terbaring dengan mata tertutup rapat.

Meskipun tampak seolah-olah sedang tidur, napas Erna terlalu teratur, terlalu dikendalikan.

Mumu tahu betul, Erna tidak benar-benar tidur.

Ia menaruh tangannya dengan lembut di bahu Erna, sedikit memijatnya sebelum berbicara dengan suara rendah.

"Penat ya, Nda?" Tanya Mumu pelan.

Erna tidak merespons. Tidak ada gerakan, tidak ada suara. Tetap kaku seperti patung, seolah-olah dia benar-benar tidur.

Mumu menghela napas perlahan. Ia mulai mengurut pelan punggung Erna untuk menghilangkan rasa lelah yang mungkin Erna rasakan.

Mumu juga menyalurkan sedikit kekuatan spiritualnya. Energi yang mengalir dari tangannya tak hanya untuk menyegarkan tubuh Erna, tetapi juga untuk memastikan bahwa bayi di dalam kandungan tetap sehat.

...****************...

Di bawah pengobatan Mumu, Raka akhirnya sembuh total. Setelah sekian lama menderita cedera parah, dia kini bisa menjalani hidupnya seperti biasa.

Keluarganya sangat bersyukur atas kesembuhan Raka dan tak henti-hentinya memuji Mumu yang dianggap sebagai penyelamat mereka.

Raka yang dulu hampir kehilangan harapan, sekarang bisa kembali bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah instansi pemerintah.

Perlahan hidupnya kembali stabil. Namun, di balik kesembuhan Raka, ada sosok yang terlupakan, yaitu Nurul.

Dia yang selama ini setia berada di samping Raka, merawat dan mendampinginya saat Raka dalam kondisi terburuk.

Nurul telah berkorban banyak, tetapi semakin hari, dia merasa semakin terabaikan.

Keluarga Raka, yang dulu begitu berterima kasih pada Nurul, mulai melupakannya.

Mereka lebih sibuk merayakan kesembuhan Raka dan membangun kembali kehidupan mereka yang sempat kacau.

Nurul, yang tadinya selalu diajak untuk makan bersama di rumah mereka, kini jarang diundang lagi.

Hanya sesekali saja mereka mengucapkan terima kasih padanya, dan itu pun semakin singkat, seakan menjadi formalitas belaka.

Nurul, yang semula bersabar, mulai merasakan kesepian. Harapannya untuk bisa bersama Raka perlahan pudar.

Sakit di hatinya semakin parah ketika Raka juga mulai berubah. Hubungan mereka yang dulu erat, kini terasa dingin.

Raka lebih sering sibuk dengan berbagai hal dan jarang mengajak Nurul bicara.

Bahkan saat mereka bertemu, Raka tampak tergesa-gesa, seolah ingin segera pergi.

Suatu sore, Nurul datang ke rumah Raka, berharap bisa mengobrol seperti biasa.

Namun, saat dia tiba di depan pintu, dia melihat sosok yang tak pernah disangkanya akan muncul lagi.

Nadya, wanita yang dulu pernah memutuskan Raka, kini berdiri di sana.

Anehnya keluarga Raka menyambutnya dengan ramah, seolah Nadya adalah tamu istimewa.

Nurul berdiri kaku, menatap dari kejauhan. Hatinya seakan runtuh melihat pemandangan itu.

Nadya tersenyum hangat, berbicara dengan Ayah dan Ibu Raka seolah mereka sudah lama dekat.

Keluarga Raka tampak begitu bahagia dengan kehadiran Nadya, dan tak satu pun dari mereka menyadari keberadaan Nurul di depan pintu rumah.

Dengan langkah perlahan, Nurul mundur. Dia tak ingin mengganggu, meskipun hatinya perih.

Saat itu, dia sadar bahwa mungkin dirinya tak lagi berarti bagi Raka dan keluarganya.

Hari-hari berikutnya, Nurul semakin menjauh dari kehidupan Raka. Dia mencoba menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, tetapi hatinya masih terikat pada kenangan tentang Raka.

Setiap kali dia mencoba melupakan, rasa sakit itu kembali muncul.

Sementara itu, Raka dan Nadya semakin sering terlihat bersama. Nadya bahkan beberapa kali datang ke rumah Raka, membuat hubungan mereka kembali erat.

Yang paling menyakitkan bagi Nurul adalah kenyataan bahwa Raka tampaknya tak lagi mengingat apa yang Nadya dan keluarganya pernah lakukan padanya.

Raka telah melupakan bahwa orang suruhan Ayah Nadya lah yang memukulnya hingga babak belur, meninggalkannya dalam kondisi yang begitu mengenaskan.

Namun, bagi Raka yang sudah sembuh, semua itu tampaknya hilang bersama luka fisiknya.

Dia lebih memilih untuk mengejar kembali cintanya yang lama, Nadya, meskipun Nadya dulu yang memutuskan hubungan mereka.

Suatu hari, Nurul mencoba untuk berbicara dengan Raka.

Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Di sebuah kafe kecil, Nurul menunggu Raka datang. Saat Raka tiba, dia duduk dengan senyum kecil, tetapi tatapannya terasa jauh.

“Raka, aku ingin berbicara." Ucap Nurul perlahan.

“Aku merasa ada yang berubah. Kamu semakin jauh, dan aku... aku tidak tahu apa yang terjadi.”

Raka menghela napas panjang. Dia tampak ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara.

“Nurul, aku tahu kamu sudah banyak berkorban untukku. Aku berterima kasih untuk semua yang kamu lakukan, tapi...,” Raka berhenti sejenak, menghindari tatapan Nurul.

“Aku masih punya perasaan untuk Nadya.”

Perkataan itu menusuk hati Nurul. Dia mencoba menahan air matanya yang mulai menggenang.

“Tapi, Nadya yang meninggalkanmu dulu. Bahkan, dia...”

“Aku tahu...” Potong Raka cepat.

“Tapi, aku tidak bisa menghilangkan perasaanku untuk dia. Apa yang terjadi di masa lalu... itu sudah berlalu. Aku ingin memberinya kesempatan lagi.”

Nurul terdiam. Dalam hatinya, dia ingin berteriak, mengingatkan Raka tentang semua yang telah terjadi, tentang bagaimana Nadya dan ayahnya telah menghancurkan hidup Raka.

Namun, dia tahu bahwa itu tidak akan mengubah apa pun. Raka sudah membuat keputusannya.

“Aku hanya berharap kamu bisa mengerti, Nurul."

"Aku tidak ingin menyakitimu, tapi aku juga tidak bisa memaksakan diriku untuk merasa sesuatu yang tidak ada lagi.”

Air mata yang ditahan Nurul akhirnya jatuh. Dia mengangguk pelan, meskipun hatinya terasa hancur.

“Aku mengerti, Raka.” Ucap Nurul lirih.

“Aku hanya berharap kamu bahagia.”

Raka tersenyum samar, lalu berdiri dari kursinya. Dia menatap Nurul sejenak sebelum pergi, meninggalkan Nurul sendirian di meja kafe itu.

Setelah pertemuan itu, Nurul benar-benar menjauh. Dia menghapus nomor Raka dari ponselnya, berhenti mengunjungi rumahnya, dan mencoba melanjutkan hidupnya meski sangat sulit.

Sementara itu, Raka dan Nadya semakin dekat. Mereka kembali merajut hubungan seperti dulu, seolah-olah tidak pernah ada luka di antara mereka.

Nurul hanya bisa melihat dari kejauhan, tanpa lagi ada harapan. Dia menyadari bahwa terkadang, cinta yang tulus tak selalu mendapat balasan.

Meski dia telah memberikan segalanya untuk Raka, pada akhirnya, yang tertinggal hanyalah kenangan dan rasa sakit.

Dan dalam sepi, Nurul perlahan belajar menerima bahwa mungkin bukan Raka yang ditakdirkan untuknya.

Meski hati ini patah, dia tahu bahwa hidup harus terus berjalan, walaupun tanpa sosok yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati.

Terpopuler

Comments

Muhammad Satria

Muhammad Satria

jgn terlalu banyak intrik menjijikkan dam perpempuam bodoh dkt mumulah thor udh gk bisa bantu malah nyusahin

2024-12-08

0

Siti Sopiah

Siti Sopiah

kenapa kau tak mati sj Raka.miskin ,sombong,tak tau balas budi.celaka punya manusia

2024-12-18

0

Mardelis

Mardelis

kasihan nurul, mungkin raka bukan yang terbaik untuknya, ada yang lebih, pasti

2025-03-17

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!