Merupakan Anugrah

Pak Abdillah duduk di ruang tamu, tersenyum puas melihat dirinya yang semakin pulih.

Di bawah perawatan Mumu, dia kini sudah bisa beraktivitas seperti biasa.

Meski jalannya masih sedikit lemah, dia yakin hanya masalah waktu sebelum kekuatan penuhnya kembali.

Dita duduk di seberang ayahnya, menatap dengan rasa syukur, tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap kesembuhan ayahnya.

"Bagaimana menurutmu, Dita?" Tanya Pak Abdillah tiba-tiba, suaranya lembut namun penuh makna.

Dita yang sedang merenung tersentak. “Maksud, Ayah?”

Pak Abdillah menatap putrinya dengan mata yang sudah tak muda lagi, namun masih tajam dalam membaca situasi.

“Kamu tentu tahu apa maksud Ayah.” Jawabnya dengan nada menggoda.

Dita mengernyit bingung, atau setidaknya berpura-pura demikian.

“Dita tidak tahu apa yang Ayah bicarakan.” Jawabnya dengan senyum malu-malu, berusaha mengalihkan topik.

Pak Abdillah tertawa kecil. “Jangan kura-kura dalam perahu, Dita. Kamu ini sudah besar, tidak perlu berpura-pura tak tahu apa yang Ayah maksud.”

Dita mengangkat bahu, meskipun ada sedikit rasa panas di pipinya.

“Serius, Ayah. Dita benar-benar tidak tahu.” Jawabnya, meski dalam hati, dia mulai menduga arah pembicaraan ini.

Pak Abdillah menatap putrinya dalam-dalam, lalu mengangguk pelan.

“Hmm... Baik lah, kalau begitu biar Ayah bantu. Apa pendapatmu tentang Dokter Mumu?”

Sekejap, wajah Dita sedikit memerah. Kata-kata ayahnya mengenai Mumu tiba-tiba membuat pikirannya berputar.

Sejak Mumu datang dan merawat ayahnya, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.

Perasaan yang belum pernah dia alami sebelumnya. Namun, dia tidak pernah menyangka ayahnya akan menyinggung hal ini begitu langsung.

“Dita tidak ada pendapat apa-apa tentangnya, Ayah.” Jawab Dita, mencoba terdengar santai, meskipun nada suaranya sedikit gugup.

Pak Abdillah menaikkan alis. “Yang benar?”

Dita menundukkan pandangannya, berharap ayahnya tidak melihat kegugupan yang semakin jelas di wajahnya.

“Iya, Ayah.”

Suasana hening sejenak. Pak Abdillah memperhatikan putrinya dengan cermat, melihat betapa kerasnya Dita mencoba menyembunyikan perasaannya.

Dua tahu Dita sejak kecil selalu memiliki ketenangan dan kedewasaan, namun kali ini, dia bisa melihat ada yang berbeda.

“Kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun, Nak. Ayah tahu bahwa sejak kehadiran Mumu, ada sesuatu yang berubah dalam dirimu.” Kata Pak Abdillah dengan bijak.

Dita terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat. Dia tahu ayahnya selalu jeli, tapi dia tidak menduga kalau perasaannya akan begitu jelas terlihat.

“Ayah salah. Dita hanya berterima kasih pada Mumu karena sudah merawat Ayah dengan sangat baik.” Jawabnya pelan, meski hatinya tahu itu bukan sepenuhnya benar.

Pak Abdillah tersenyum kecil, tidak ingin terlalu memaksa. Namun, dia juga tidak akan menyerah begitu saja.

“Kamu ingat, Dita? Ayah selalu bilang kalau kesehatan adalah hal yang sangat penting. Tapi, ada satu hal yang tak kalah penting, yaitu kebahagiaan.”

Dita menatap ayahnya, mendengar kata-katanya dengan seksama.

“Ayah tahu kamu selama ini berkorban banyak demi menjaga Ayah. Dan Ayah sangat berterima kasih. Tapi, Ayah juga ingin melihat kamu bahagia.”

Dita menggeleng perlahan. “Ayah sudah lebih baik, itu sudah membuat Dita bahagia.” Katanya dengan tulus.

Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa ada lebih dari sekadar kebahagiaan karena ayahnya pulih.

Pak Abdillah menghela napas panjang, seolah mengumpulkan semua kebijaksanaannya.

“Dita, Ayah tahu kamu tidak pernah terlalu memikirkan soal pernikahan atau cinta, mungkin karena kamu terlalu sibuk mengurus Ayah. Tapi, kamu sudah cukup dewasa. Ayah tidak mau kamu terus-terusan menunda kebahagiaanmu sendiri.”

Dita menatap ayahnya, merasa campuran perasaan haru dan bingung.

“Ayah... Dita belum pernah memikirkan soal itu... Dita hanya ingin fokus menjaga Ayah.”

Pak Abdillah tertawa pelan.

Q“Dan sekarang Ayah sudah hampir sembuh, Nak. Kamu tak perlu terus-terusan khawatir soal Ayah.”

Mendengar itu, Dita terdiam. Dia tahu apa yang ayahnya katakan ada benarnya.

Selama bertahun-tahun, dia memang lebih banyak mencurahkan waktu dan energinya untuk merawat ayahnya yang sakit.

Tidak pernah ada waktu untuk dirinya sendiri, apalagi untuk memikirkan cinta atau pernikahan.

Namun, kini saat ayahnya sudah mulai pulih, pertanyaan itu mulai muncul. Apakah dia siap untuk memikirkan dirinya sendiri?

“Kamu tidak perlu buru-buru, Dita.” Lanjut Pak Abdillah dengan lembut.

“Tapi jika ada seseorang yang membuat hatimu berdebar, Ayah harap kamu tidak menutupinya.”

Wajah Dita semakin merah. Dia tidak bisa mengelak lagi.

Kata-kata ayahnya tepat menghantam perasaannya yang selama ini dia sembunyikan.

Benar, setiap kali Mumu datang, merawat ayahnya dengan penuh perhatian dan ketulusan, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.

Dita merasakan debaran yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Tapi, dia juga tidak pernah berani mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.

“Ayah…” Kata Dita pelan, suaranya hampir berbisik.

“Dita tidak tahu apakah itu perasaan yang benar. Dita tidak pernah memikirkan soal pacaran atau pernikahan sebelumnya.”

Pak Abdillah tersenyum penuh pengertian.

“Itu normal, Dita. Tidak ada yang tahu kapan perasaan itu akan datang, atau bagaimana perasaan itu bisa muncul."

"Tapi satu hal yang Ayah tahu, kamu harus mendengarkan hatimu. Jika kamu merasa nyaman dan bahagia, maka itu mungkin tanda bahwa kamu harus memberinya kesempatan.”

Dita terdiam, mencerna kata-kata ayahnya. Dia tahu ayahnya tidak akan memaksanya mengambil keputusan.

Tapi, kata-kata itu membuatnya mulai berpikir lebih dalam tentang perasaannya sendiri. Apakah debaran hatinya saat bersama Mumu hanya sekadar rasa kagum, atau ada sesuatu yang lebih?Setelah beberapa saat, Dita mengangkat kepalanya, menatap ayahnya dengan penuh rasa syukur.

“Ayah… Dita masih butuh waktu untuk memahami perasaan ini. Tapi, Dita akan mencoba mendengarkan kata hati Dita.”

Pak Abdillah tersenyum penuh kasih.

“Itu yang Ayah harapkan, Nak. Kamu tidak harus terburu-buru. Tapi jangan pernah menutup pintu untuk kebahagiaanmu sendiri.”

Dita mengangguk pelan. Meskipun perasaan itu masih kabur dan belum jelas, satu hal yang pasti, pertemuannya dengan Mumu telah membuka pintu yang selama ini dia kunci rapat-rapat. Pintu untuk kebahagiaan yang mungkin selama ini dia abaikan.

"Jika memang Dita punya perasaan terhadapnya, hal ini tidak ada gunanya, Yah. Dia sudah beristri." Kata Dita pelan.

"Apa salahnya, Dita? Selama kalian saling mencintai dan kamu tidak keberatan jadi istri yang kesekian, apa masalahnya? Yang penting, kalian bahagia."

"Tapi Ayah, bagaimana dengan istri pertamanya?" Dita memalingkan wajahnya, pandangannya kosong menatap lantai.

"Bagaimana kalau dia tidak setuju? Aku tidak ingin menghancurkan keluarga mereka. Lagi pula belum tentu Mumu menyukai Dita."

Pak Abdillah menghela napas panjang.

"Kamu terlalu banyak berpikir, Nak. Hidup ini penuh dengan pilihan yang sulit. Kadang, kita harus memilih apa yang membuat kita bahagia, meski mungkin ada orang lain yang terluka."

"Jadi Ayah ingin Dita tetap melanjutkan perasaan ini? Meski Dita tahu itu salah?" Dita mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi keraguan.

"Siapa yang bisa bilang ini salah, Dita?" Tanya Pak Abdillah menatap dalam-dalam mata putrinya.

"Mumu juga punya perasaan, sama seperti kamu. Kalau dia mencintaimu dan kamu mencintainya, kenapa harus takut? Kehidupan ini tak selalu hitam putih."

Setelah anaknya pergi, Pak Abdillah menghela nafas panjang.

"Maafkan Ayah, Dita. Ayah terpaksa sedikit memaksamu. Jika itu pemuda lain, Ayah tidak terlalu peduli. Tapi Mumu bukan lah pemuda biasa. Merupakan sebuah anugrah jika kamu bisa bersuamikan diam"

Terpopuler

Comments

Ling

Ling

wkwkwk dinovel peran org tua pda bego otak nya cuma pemikiran sejengkal

2025-02-15

0

Endro Budi Raharjo

Endro Budi Raharjo

agak kurang ajar jg nih dokter....

2024-11-03

0

MATADEWA

MATADEWA

Begitulah adanya.....

2025-03-26

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!