Mengobati Pak Abdillah

Di sebuah Rumah Sakit Jogja yang terkenal akan pengobatan tradisional dan modern, seorang pria tua sedang didorong menuju Poli Akupuntur oleh anak gadisnya.

Kursi rodanya bergerak pelan melewati koridor panjang yang dipenuhi pasien dan perawat.

Pria tua itu, yang kini hanya bisa terdiam dan mengandalkan putrinya, pernah menjadi seorang yang kuat, seorang dosen dan dokter terkenal, namun nasib membawanya ke titik ini setelah mengalami stroke berat.

Dia tidak lagi bisa bicara atau menggerakkan sebagian besar tubuhnya, hanya kesadarannya yang masih tersisa untuk merasakan dan mendengarkan sekeliling.

Umurnya belum lah dikatakan terlalu renta, tapi akibat penyakit yang menggerogotinya membuat dia bertambah uzur dari hari ke hari.

Gadis yang mendorong kursi roda itu, bernama Dita, menatap ayahnya dengan cemas.

Setiap langkah yang diambil menuju ruang akupuntur adalah harapan kecil bahwa terapi ini akan membawa perubahan, sekecil apa pun itu.

Dita baru saja mendapat kabar jika Dokter yang di Poli Akupuntur lumayan handal sehingga dia ingin mencoba mengadu peruntungannya mana tahu bisa mengurangi sedikit penderitaan ayahnya.

Ketika mereka sampai di pintu Poli Akupuntur, seorang dokter muda yang baru saja selesai mengobati pasien lain menoleh dan tiba-tiba berdiri.

Wajahnya berubah serius dan tanpa menunggu lebih lama, dia berjalan cepat menuju Dita dan ayahnya.

Hal ini tentu saja mengejutkan Dita dan juga dua orang perawat yang mendampingi Dokter muda itu.

Bagaimana mungkin seorang dokter spesialis terkenal seperti Mumu, yang biasanya tenang dan penuh wibawa, tampak tergopoh-gopoh menuju mereka?

“Pak Prof. Dr. Abdillah!” Seru Mumu dengan nada penuh kekhawatiran.

"Ini memang anda kan, Pak? Apa yang terjadi dengan Bapak? Mari, ayo ke sini! Tolong didorong ke sini kursi rodanya, Buk.”

Dita menurut. Dia mendorong kursi roda ayahnya ke tempat yang ditunjuk oleh Mumu.

Pria tua yang dipanggil itu, Prof. Abdillah, memandang Mumu dengan tatapan bingung. Wajahnya mengerut dalam ketidakpahaman.

Sebagai pertanda bahwa dia tidak mengenali sosok dokter yang kini berdiri di hadapannya.

Mulutnya bergerak seolah ingin mengucapkan sesuatu, namun tak ada suara yang keluar.

Stroke telah merampas kemampuan bicaranya. Namun, pendengarannya masih cukup baik, dan dia bisa merasakan ada sesuatu yang penting dari cara Mumu berbicara.

Melihat kebingungan itu, Mumu menunduk mendekat, suaranya menjadi lebih lembut.

“Bapak tidak kenal saya lagi? Saya Mumu, Pak. Ingat waktu seleksi wawancara beasiswa beberapa tahun yang lalu? Bapak yang mewawancarai saya.”

Ada jeda sejenak. Mata Prof. Dr. Abdillah masih tetap diam, hingga perlahan, sebuah kilatan ingatan muncul di dalamnya.

Mata itu berbinar samar, mulutnya kembali berusaha bergerak seolah ingin mengucapkan sesuatu.

Walaupun tak ada suara yang keluar, ekspresinya menunjukkan bahwa dia mulai ingat.

Dulu, dia memang pernah bertemu banyak mahasiswa yang dia wawancarai untuk mendapatkan beasiswa, salah satunya mungkin Mumu.

Mumu adalah calon mahasiswa yang paling cerdas yang pernah dia wawancarai.

Pria tua itu ingat, dia sampai lupa waktu saat mewawancarai Mumu, hingga koleganya makan siang duluan karena tak sabar menunggu dia mewawancarai Mumu hingga jauh melebihi batas waktu yang ditentukan.

Mumu tersenyum lembut. “Ah, Bapak masih ingat saya. Syukur lah kalau begitu, Pak."

"Bawa tenang ya, Pak. Saya akan segera mengobati bapak. Jangan khawatir. Mudah-mudahan nanti ada perubahan ke arah yang lebih baik."

Di sisi lain, Dita yang sejak tadi diam tak kuasa menahan rasa penasaran.

“Maaf, Dokter. Apakah Anda kenal dengan Ayah saya?” Tanya dia dengan nada ragu. Dia tidak pernah mendengar cerita dari ayahnya tentang Dokter muda ini.

Mumu mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, saya kenal beliau. Beliau salah satu orang yang berjasa besar dalam hidup saya.”

“Benarkah? Tapi...” Dita tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia terlalu terkejut dan bingung, tidak menyangka bahwa ayahnya memiliki hubungan dengan Dokter spesialis terkenal ini.

“Nanti saja ngobrolnya, ya, Buk.” Kata Mumu dengan tenang.

“Biar saya fokus mengobati beliau dulu.”

Dita mengangguk, meskipun rasa ingin tahunya semakin besar. Dia pun membantu Mumu memindahkan tubuh ayahnya dengan hati-hati ke atas tempat tidur perawatan.

Setelah Prof. Dr. Abdillah berbaring dengan nyaman, Mumu mengeluarkan perlengkapannya, yaitu jarum-jarum akupunktur yang akan digunakan.

Mumu memulai proses akupunktur dengan ketelitian dan ketenangan. Jarum-jarum kecil mulai ditancapkan di berbagai titik di tubuh Prof. Abdillah, khususnya di area yang berhubungan dengan peredaran darah dan syaraf yang terkena dampak stroke.

Setiap jarum ditancapkan dengan presisi dan teknik yang dipelajari bertahun-tahun.

Jarum akupuntur di tangan Mumu bagai kan anggota tubuhnya sendiri sehingga dia bisa menggunakan dengan bebas.

Namun tentu saja Mumu tidak hanya mengandalkan ilmu medisnya.

Ia juga mengedarkan kekuatan spiritualnya bersamaan dengan tenaga dalamnya melalui titik-titik akupunktur itu.

Pancaran energi halus terasa meresap, berusaha menyeimbangkan aliran energi dalam tubuh pria tua itu.

Kekuatan spiritual dan tenaga dalamnya mulai memperbaiki urat dan saraf melalui jarum akupuntur tersebut.

Dita yang menyaksikan proses itu hanya bisa berdiri di samping, tak tahu harus berkata apa.

Sesekali dia melirik wajah ayahnya, berharap ada tanda-tanda perbaikan.

Saat jarum-jarum akupuntur ditancapkan ke tubuhnya, Prof. Dr. Abdillah mulai merasakan sensasi hangat yang perlahan menyebar dari setiap titik.

Rasa hangat itu berbeda dari sekadar kehangatan biasa, seperti ada aliran energi yang masuk ke dalam tubuhnya, memperbaiki bagian-bagian yang rusak.

Dia dapat merasakan energi itu bekerja, mengalir lembut namun kuat, seolah-olah sedang menyentuh syaraf-syarafnya yang rusak, mengembalikannya ke tempat yang seharusnya.

Apa kah memang seperti ini efek akupuntur? Pikir Prof. Dr. Abdillah.

Mumu terus mengobati Pak Abdillah, berdiri dengan fokus penuh, menyalurkan tenaga dalamnya melalui jarum-jarum itu. Dia tahu bahwa kondisi Prof. Abdillah sudah cukup parah, tapi dia yakin pengobatan ini bisa membantu memperbaiki keseimbangan tubuh sang profesor.

Setelah beberapa menit, perubahan mulai terlihat. Wajah Prof.dr. Abdillah, yang sebelumnya pucat, perlahan mulai kembali berwarna. Aliran darah yang sebelumnya terhambat mulai lancar kembali, mengalirkan kehidupan ke wajahnya yang dulu dikenal penuh wibawa.

Anak gadisnya, Dita, yang sejak tadi cemas, menyadari perubahan itu.

“Dokter...” Bisik Dita dengan suara penuh harap,

“wajah Ayah saya... tidak pucat lagi.”

Mumu tentu saja tidak menjawab karena dia masih fokus menyalurkan tenaga dalam dan mengatur kekuatan spiritualnya ke dalam tubuh Pak Abdillah.

Sementara itu, di tubuh Prof. Dr. Abdillah, energi yang bekerja terus bergerak. Syaraf-syaraf yang sebelumnya tak berfungsi kini mulai merespons.

Dengan perlahan, dia mencoba menggerakkan bibirnya, sesuatu yang sudah lama tak bisa dia lakukan sejak stroke menyerangnya.

“Ah...,” suara lemah keluar dari mulutnya. Itu adalah pertama kalinya Prof. Dr. Abdillah bisa mengeluarkan suara sejak lama.

Dita langsung mendekat dengan mata berbinar-binar. “Ayah! Ayah bicara! Ini luar biasa, dokter!”

Mumu tetap tenang, tapi ada kepuasan tersirat di wajahnya. Dia mendekat ke Prof. Dr. Abdillah dan berbicara dengan suara lembut.

“Bapak, bagaimana rasanya? Apakah bapak merasa lebih baik?”

Prof. Dr. Abdillah mencoba merespons, meskipun bicaranya masih sangat pelan.

“Luar... biasa...” Gumamnya dengan suara yang serak, tapi terdengar jelas.

Dita tidak bisa menahan air matanya. Melihat ayahnya bisa berbicara lagi, meskipun hanya sedikit, adalah harapan yang selama ini ia tunggu-tunggu.

“Ayah, ini sungguh keajaiban. Terima kasih, dokter.”

Mumu menggelengkan kepalanya dengan rendah hati.

“Tidak perlu berterima kasih. Ini adalah hasil dari pengobatan dan juga kekuatan tubuh Bapak yang berusaha sembuh. Tapi ingat, ini baru permulaan. Masih ada jalan panjang yang harus kita lalui.”

Prof. Dr. Abdillah menatap Mumu dengan penuh rasa syukur. Meskipun tubuhnya belum sepenuhnya pulih, dia merasakan ada harapan.

Energi yang masuk melalui akupuntur tadi tidak hanya memperbaiki fisiknya, tapi juga memberikan keyakinan baru bahwa dia bisa sembuh.

Dengan suara yang masih terbata-bata, dia berkata, “Terima kasih, Mumu. Kamu... sangat berbakat.”

Mumu hanya tersenyum hangat. “Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan, Pak Abdillah. Mari kita lanjutkan pengobatannya di masa mendatang."

Mumu menoleh ke arah Dita.

"Kak, tinggalkan alamatnya, jadi pengobatan yang akan datang tak perlu datang ke sini. Biar saya saja yang mengunjungi Bapak di rumah."

"Mana bisa begitu, Dok?"

"Tidak apa-apa..."

Terpopuler

Comments

Mardelis

Mardelis

mumu, itulah kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain

2025-03-16

0

Nor Johari

Nor Johari

terima kasih sudah hadir kembali

2024-12-24

0

Endro Budi Raharjo

Endro Budi Raharjo

satu cewek lg tersepona....

2024-11-03

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!