Terobsesi

"Dor dor dor!"

"Hei, Dara! Mau sampai kapan kamu berdiam di kamar? Sudah sebulan kamu tidak bayar uang sewa!"

"Pokoknya kalau kamu tidak bisa bayar juga, maka kamu harus keluar dari sini sekarang juga!" Teriakan keras dari luar disertai suara ketukan pintu yang menggema di seluruh kamar.

Purnama terlonjak dari tidurnya, terbangun dengan kaget. Tubuhnya berkeringat, jantungnya berdegup kencang.

Ternyata suara Ibuk Kost. Semenjak tiba di kota Selat Panjang lebih dari sebulan yang lalu, Purnama sengaja mencari kost yang murah.

Selama tinggal di sini Purnama memang menggunakan nama samaran 'Dara.'

Purnama menghela nafas dan menjambak rambutnya dengan kesal.

Ternyata, semua yang dia alami barusan hanyalah mimpi. Mimpi yang begitu nyata, penuh dengan keintim*n dan kedamaian, namun langsung lenyap begitu saja.

Purnama kembali menghela napas panjang, mencoba mengendalikan pikirannya yang masih kusut setelah mimpi itu.

Dia menoleh ke arah pintu, di mana suara gedoran tadi terdengar. Kepalanya masih berat, tapi kesadaran mulai kembali.

"Ya, ya! Sebentar!" Serunya sambil bangkit dari tempat tidur, berusaha menyingkirkan perasaan kecewa yang kini menggantung di hatinya.

Purnama mendekati pintu, membuka sedikit dan melihat pemilik kost berdiri di luar, wajahnya penuh amarah.

"Sudah sebulan, Dara." Kata pemilik kost dengan nada penuh tekanan.

"Aku tidak bisa biarkan kamu tinggal di sini lebih lama lagi tanpa bayar uang sewa. Kalau kamu tidak punya uang, keluar sekarang juga!"

Purnama mengangguk pelan. "Maaf, Buk. Saya akan segera cari cara untuk bayar, tolong beri saya waktu sedikit lagi." Jawabnya dengan nada lemah.

Pemilik kost menatapnya tajam. "Aku beri kamu waktu sampai besok, kalau tidak bisa bayar juga maka barang-barangmu akan aku keluarkan."

"Jangan katakan bahwa aku tidak memberikan kesempatan kepada kamu."

Setelah mengatakan itu, Ibuk pemilik kost segera berlalu meninggalkan Purnama yang masih berdiri di pintu dengan perasaan berat.

Setelah pintu kembali tertutup, Purnama duduk di tempat tidurnya, matanya menatap kosong ke dinding.

Bukan teriakan pemilik kost atau masalah uang yang mengganggu pikirannya.

Apa yang paling mengusik hatinya adalah kenyataan bahwa semua yang dia alami barusan hanyalah mimpi.

Mimpi tentang Mumu, sosok yang selama ini mengisi pikirannya, siang dan malam.

Purnama merasa sangat kecewa. Bukan karena ditagih uang sewa, tapi karena semua keindahan yang baru saja dia rasakan hilang begitu saja.

Dalam mimpi itu, dia dan Mumu seolah berada di dunia yang hanya milik mereka berdua.

Tidak ada Kak Wulan, tidak ada almarhum Mirna, tidak ada kesulitan hidup yang menghantui Purnama setiap hari.

Namun, kini semuanya sirna, meninggalkannya dengan kenyataan pahit bahwa itu semua hanyalah khayalan.

"Kenapa harus mimpi?" Gumam Purnama sambil menatap langit-langit kamarnya.

"Kenapa tidak bisa jadi kenyataan?"

Sudah lama Purnama terobsesi dengan Mumu. Bisa dikatakan, dia sekarang tergila-gila pada pria itu.

Semuanya berawal ketika Mumu mampu menyembuhkan Purnama dari cedera saat dia berada di Padukuhan Wotawati waktu itu.

Setiap hari, Purnama memikirkan Mumu, berharap bisa mendapatkan perhatian darinya.

Tapi sayangnya, segala usaha yang dilakukan Purnama selama ini seolah sia-sia.

Mumu tak pernah menggubrisnya, tak pernah menunjukkan sedikit pun ketertarikan.

Purnama telah mencoba berbagai cara. Mulai dari mengirim pesan singkat, mengajaknya bertemu. Namun, Mumu selalu menjaga jarak. Dia selalu bersikap baik, tapi tak pernah memberi Purnama harapan lebih.

Seolah Purnama hanyalah salah satu dari banyak orang yang hanya sekadar dikenal.

Bahkan nomor kontaknya diblokir oleh Mumu!

Dan yang lebih menyakitkan, baru-baru ini Purnama mendengar kabar bahwa Mumu telah menikah. Dengan seorang wanita bernama Erna.

Berita itu menghancurkan Purnama. Hatinya terasa seperti diremukkan, mengapa Mumu lebih memilih orang lain, bukan dirinya.

Bukan kah dirinya merupakan adik kandung Kak Wulan. Seharusnya dia lebih layak menggantikan posisi Kak Wulan untuk menjadi pendamping hidup Mumu dibandingkan orang lain.

“Kenapa harus Erna? Apa kurangnya aku?” Bisik Purnama, menahan rasa sakit yang menyesak di dadanya.

Dia masih teringat betapa bahagianya Mumu saat foto pernikahannya tersebar di media sosial. Mumu tampak tersenyum, sementara Erna berdiri di sampingnya, terlihat sangat bahagia.

Sejak saat itu, Purnama merasa hidupnya berubah menjadi semakin gelap.

Dia terjebak dalam dunia khayalan, membayangkan bagaimana jika dia yang berada di sisi Mumu, bukan Erna.

Mimpi-mimpi seperti yang baru saja dialaminya menjadi pelarian satu-satunya dari kenyataan yang begitu menyakitkan.

Dalam mimpi, Purnama bisa memiliki Mumu, walau hanya sesaat.

Namun setiap kali terbangun, kenyataan menghantamnya kembali.

Mumu sudah bersama orang lain, dan Purnama hanyalah bayang-bayang yang tak akan pernah diperhatikan.

Dengan penuh putus asa, Purnama meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur.

Dia membuka galeri foto dan menatap gambar-gambar Mumu yang diambil diam-diam saat mereka bertemu dulu.

Foto-foto itu adalah satu-satunya cara Purnama bisa merasa dekat dengan Mumu.

Dia menatap wajah Mumu yang tersenyum di layar ponsel, dan hatinya semakin perih.

"Aku tidak bisa terus begini..." Bisiknya. Tapi meski mulutnya mengatakan itu, hatinya tetap terpaut pada Mumu.

Purnama mencoba mengalihkan pikirannya, tapi bayangan Mumu terus menghantui.

Semua yang dia lakukan seakan selalu berujung pada satu nama : Mumu.

Setiap kali dia mencoba melupakan, mimpi seperti tadi muncul lagi, menariknya kembali ke dalam lingkaran yang sama.

"Apa aku gila?" Tanya Purnama pada dirinya sendiri.

"Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya? Kenapa aku tidak bisa menerima kenyataan?"

Kekecewaan itu semakin lama semakin menumpuk, membentuk gunungan rasa frustrasi yang tak bisa diredakan.

Purnama tahu bahwa Mumu telah memilih jalan hidupnya sendiri. Bahwa Mumu kini bahagia bersama Erna.

Tapi, menerima kenyataan itu terasa seperti menerima kekalahan terbesar dalam hidupnya.

Purnama menghela napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidur.

Dia berjalan menuju jendela kamar, membuka tirai dan menatap ke luar. Hujan turun perlahan, seperti menambah suasana hati yang muram.

"Mungkin… aku harus melepaskan Mumu..." Gumamnya pelan, meski di dalam hatinya dia masih meragukan kata-katanya sendiri.

Pikiran Purnama terus berputar. Wajah Mumu kembali terlintas di benaknya, membuatnya merasa semakin tenggelam dalam rasa sakit yang tak kunjung reda.

"Kenapa harus Erna? Kenapa bukan aku?" Bisik Purnama dengan suara serak.

Matanya memerah, menahan perasaan yang kian menyesakkan dada.

Purnama merasa hidup ini tidak adil.

Obsesi yang dimulai dari rasa suka perlahan berubah menjadi rasa sakit yang mendalam.

Dan kini, Purnama tak bisa lagi membedakan antara cinta dan kehancuran yang menguasainya.

Saat pandangannya tertuju pada sebuah foto Mumu yang terpajang di meja, Purnama tersenyum tipis, senyum yang tidak mengandung kebahagiaan, melainkan keputusasaan.

Di foto itu, Mumu tersenyum ceria, tanpa sedikit pun tahu bahwa seseorang begitu terobsesi padanya hingga rela melakukan apa pun untuk memilikinya.

"Kalau aku tidak bisa mendapatkan Mumu..." Purnama berbicara pelan pada dirinya sendiri,

"Maka orang lain juga tidak pantas mendapatkannya." Kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan dingin, seolah-olah itu adalah sebuah keputusan yang telah lama tertanam dalam pikirannya.

Dia bangkit dari tempat tidur, matanya kini penuh dengan tekad yang dingin.

Purnama tahu bahwa Mumu tidak akan pernah mencintainya. Namun, lebih dari itu, Purnama juga tidak bisa menerima kenyataan bahwa Mumu mencintai orang lain.

Di dalam benaknya yang kacau, Mumu adalah miliknya—dan jika tidak bisa bersama Mumu, maka tak seorang pun boleh.

Terpopuler

Comments

eMuL MuL

eMuL MuL

mantab ada sambungannya kirain beneran bacaan pertama udah mau unsub aja ternyata... wah dilat dr komen dari 2023 yah ini novel untung ktemunya 2025 gk perlu nunggu sambungannya yg ke 2....lanjut bikin novelnya bossss

2025-04-02

0

Nor Johari

Nor Johari

Teresa lebih hebat lg ceritanya

2024-12-24

0

MATADEWA

MATADEWA

Obsesi sang janda....

2025-03-24

0

lihat semua
Episodes
1 Dobrak!
2 Terobsesi
3 Mengobati Pak Abdillah
4 Kedai Makan Yang Suram
5 Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6 Perhatian Yang Tulus
7 CS Baru
8 Cinta Melahirkan Dendam
9 Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10 Saya Tidak Suka Diancam
11 Merupakan Anugrah
12 Ditampar Jin
13 Gadis Jahat
14 Menabur Benih
15 Diabaikan
16 Persoalan Rumah Tangga
17 Dendam
18 Tiba Di Kota Yogyakarta
19 'Hati' Yang Sakit
20 Pria Yang Aneh
21 Wildan Vs Mumu
22 Terpedaya
23 Maafkan Bunda
24 Pasien Kritis
25 Kecelakaan
26 Siapa Pria Itu?
27 Kambing Hitam
28 Resign
29 Membujuk
30 Cemburu Buta?
31 Rapat Terbatas
32 Firasat Bahaya
33 Merasakan Sesuatu
34 Sabotase
35 Mimpi
36 Akibat Memata-Matai
37 Pria Berjas Putih
38 Meminta Bantuan
39 Menyelidiki
40 Pertarungan
41 Tobat
42 Sadewa
43 Dunia Lain
44 Amarah Sang Raja
45 Perselisihan
46 Rencana Jahat
47 Teleportasi antara Dua Alam
48 Cari Sampai Dapat
49 Rezeki Datang Bertubi-tubi
50 Dia Lah Pemuda Itu
51 Pemuda Misterius
52 Curiga
53 Melarikan Diri
54 Diawasi?
55 Terkena 'Tulah'
56 Obsesi
57 Persoalan Rumah Tangga
58 Misi
59 Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60 Proses Persalinan
61 Perempuan
62 Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63 Malahayati
64 Perselisihan
65 Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66 Tolong Carikan Anak Ibuk
67 Tersinggung
68 Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69 Berbagi Resep
70 Siapa?
71 Dimasuki Jin
72 Teluh
73 Gadis Pembawa Si*l
74 Temukan Sumbernya Dulu
75 Berburuk Sangka
76 Pengeroyokan
77 Punya Perasaan Khusus
78 Hobi Baru
79 Menjadi Besar Kepala
80 Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81 Ragu
82 Kecewa
83 Konflik Rumah Tangga
84 Hari-hari Terus Berlalu
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Dobrak!
2
Terobsesi
3
Mengobati Pak Abdillah
4
Kedai Makan Yang Suram
5
Cinta Yang Tidak Bisa Bertahan
6
Perhatian Yang Tulus
7
CS Baru
8
Cinta Melahirkan Dendam
9
Kunjungan ke Rumah Pak Abdillah
10
Saya Tidak Suka Diancam
11
Merupakan Anugrah
12
Ditampar Jin
13
Gadis Jahat
14
Menabur Benih
15
Diabaikan
16
Persoalan Rumah Tangga
17
Dendam
18
Tiba Di Kota Yogyakarta
19
'Hati' Yang Sakit
20
Pria Yang Aneh
21
Wildan Vs Mumu
22
Terpedaya
23
Maafkan Bunda
24
Pasien Kritis
25
Kecelakaan
26
Siapa Pria Itu?
27
Kambing Hitam
28
Resign
29
Membujuk
30
Cemburu Buta?
31
Rapat Terbatas
32
Firasat Bahaya
33
Merasakan Sesuatu
34
Sabotase
35
Mimpi
36
Akibat Memata-Matai
37
Pria Berjas Putih
38
Meminta Bantuan
39
Menyelidiki
40
Pertarungan
41
Tobat
42
Sadewa
43
Dunia Lain
44
Amarah Sang Raja
45
Perselisihan
46
Rencana Jahat
47
Teleportasi antara Dua Alam
48
Cari Sampai Dapat
49
Rezeki Datang Bertubi-tubi
50
Dia Lah Pemuda Itu
51
Pemuda Misterius
52
Curiga
53
Melarikan Diri
54
Diawasi?
55
Terkena 'Tulah'
56
Obsesi
57
Persoalan Rumah Tangga
58
Misi
59
Kemunculan Pedang Kayu Lagi
60
Proses Persalinan
61
Perempuan
62
Apa kah Kamu, Bang Mumu?
63
Malahayati
64
Perselisihan
65
Dendam Yang Harus Dilampiaskan
66
Tolong Carikan Anak Ibuk
67
Tersinggung
68
Hei, Apa Yang Kamu Lakukan?
69
Berbagi Resep
70
Siapa?
71
Dimasuki Jin
72
Teluh
73
Gadis Pembawa Si*l
74
Temukan Sumbernya Dulu
75
Berburuk Sangka
76
Pengeroyokan
77
Punya Perasaan Khusus
78
Hobi Baru
79
Menjadi Besar Kepala
80
Aku Tidak Akan Menikahi Pria Lain Selain Abang...
81
Ragu
82
Kecewa
83
Konflik Rumah Tangga
84
Hari-hari Terus Berlalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!