Erzan menatap Aruna dengan begitu serius. Perempuan itu tertidur dalam posisi miring karena tindakan menutup luka yang baru tadi dilakukan.
"Tuan Erzan, maaf saya memberikannya obat tidur."
Telapak tangan kekar itu sudah mengusap lembut ujung kepala Aruna. Dokter mendengar keluhan Aruna selepas Erzan pergi, dan dia mengatakan ingin tidur dengan nyenyak seperti orang lain.
"Cyra, tak bisakah kamu berkata yang sejujurnya? Kenapa kamu tak sudahi kepura-puraan ini?"
Ponsel Erzan berdering. Dan nama seseorang yang penting tertera di layar ponselnya. Erzan segera menjauhi Aruna karena dia tak mau mengganggu tidur perempuan yang memiliki banyak luka.
Erzan kembali ke ruang perawatan Aruna. Perempuan yang dia kasihani masih tidur dengan sangat nyenyak. Dia penasaran apa yang sudah terjadi hingga tubuhnya dipenuhi luka lebam. Serta luka gores yang begitu dalam.
Laporan demi laporan dari orang suruhannya dia terima. Belum ada yang bisa meretas data keluarga yang begitu baik bisa menerima Aruna di Eropa. Negara di mana Aruna tinggal pun tak bisa dideteksi.
Sebuah email masuk dan Erzan segera membacanya. Ternyata dari Axel. Dibacanya dengan seksama dan matanya melebar ketika sebuah negara Axel tuliskan di sana.
"Hampir lima belas tahun tinggal di Zurich," gumamnya sambil menatap ke arah Aruna.
"Aruna Cyra Sachikirani sudah bertunangan."
Setelah membaca email tersebut, Erzan terdiam untuk sesaat. Matanya kini tertuju kepada jari Aruna. Tak ada cincin yang melingkar di sana.
"Benarkah kamu sudah tunangan?"
Wajah Erzan kini berubah sangat datar. Terlihat siluet kecewa. Namun, masih ada sorot penuh tanya.
Beranjak dari samping Aruna. Erzan berdiri di depan jendela rumah sakit. Tangannya dia masukkan ke dalam saku.
"Bubu, Abang Er kangen."
Jika, sudah begini pasti dia tengah dilanda kesedihan. Erzan menghela napas kasar.
"Er."
Suara parau khas orang bangun tidur terdengar. Erzan menoleh dan Aruna sudah membuka mata. Erzan menghampiri Aruna.
"Kenapa bangun?"
"Jangan tinggalin aku, Er," pintanya dengan air mata yang sudah menggenang.
"Aku takut."
Erzan mengangguk dan meraih tangan Aruna. Mengusap lembut punggung tangannya.
"Hanya kamu yang aku percaya, Er."
Aruna menggenggam tangan Erzan dengan sangat erat. Terlihat dia sangat bergantung pada Erzan.
Aruna Cyra Sachikirani terlihat bukan seperti perempuan nakal yang senang mempermainkan lelaki. Apalagi luka psikis yang Aruna derita begitu banyak.
Erzan sama sekali tak meninggalkan Aruna. Apalagi Aruna terus menggenggam tangannya padahal matanya sudah tertidur.
"Kenapa dengan kamu, Cyra?"
.
Aruna terlihat ketakutan ketika melihat seorang wanita cantik datang. Padahal, dia datang dengan dokter yang akan memeriksanya.
"D-dok--"
"Tenang, Nona Aruna. Tenang! Beliau orang baik."
Dokter menjelaskan tentang wanita yang ada di sampingnya itu. Penolakan Aruna lakukan, tapi dokter terus meyakinkan dan alhasil Aruna mau berbicara empat mata dengan wanita itu.
"Kita akan melakukan hipnoterapi. Di mana itu bisa menyembuhkan fobia serta kecemasan yang kamu alami."
"A-an-da psi-ko-log."
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. Hipnoterapi pun dimulai. Di mana sekarang Aruna sudah berada di bawah alam sadar.
"Aku benci orang terdekat aku. Aku benci."
Bulir bening meluncur di ujung mata. Padahal, dia baru saja mengucapkan satu kalimat. Ada luka yang orang-orang terdekat Aruna tinggalkan hingga dia seperti itu.
"Di umur sepuluh tahun, ibuku menjadikan aku tontonan untuk para teman lelakinya. Aku ditelanjangi di ruangan miliknya. Dan tubuhku dibebaskan untuk disentuh oleh mereka. Aku masih sangat jelas mengingatnya. Masih sangat jelas."
Semakin deras bulir bening itu menetes. Wanita yang tak lain adalah Mami Aleena menyeka ujung mata Aruna yang sudah sangat basah.
"A-ku sudah meminta tolong, tapi ibuku tetap diam saja. Hingga datang seorang pahlawan yang menyelamatkanku, yakni ayahku."
Bibir Aruna pun sedikit menyunggingkan senyum. Namun, tak lama kemudian wajahnya dipenuhi kesedihan.
"Setelah kejadian itu aku sangat ketakutan. Aku takut bertemu dengan orang lain. Kejadian itu sangat membekas di kepala dan aku hanya bisa memeluk tubuh Ayahku untuk menghilangkan rasa takut itu. Sayangnya--"
Aruna menjeda ucapannya. Dia terdiam untuk sesaat.
"Orang yang menjadi tempat berlindung ku malah dipenjara oleh ibuku. Dan aku ... dibuang ke daerah paling terpencil. Di mana sebelumnya tubuhku disiksa oleh orang suruhan ibuku. Dipukul, ditampar, dicambuk. Rasanya sakit sekali."
"Setelah berada di tempat itu, aku kira aku akan aman. Nyatanya tidak. Diketidakberdayaanku ... lagi dan lagi aku hampir diperkosa. Namun, Tuhan masih baik kepadaku. Aku diselamatkan oleh orang baik dan dibawa pergi dari sana."
Mami Aleena menghela napas kasar ketika mendengarnya. Rasa sedih dan sakit yang Aruna rasakan mampu dirinya rasakan.
"Aku dibawa jauh dari negara itu. Aku dititipkan di sebuah panti. Tempat itu aman, tapi semakin bertambahnya usiaku aku baru tahu ternyata tempat itu membawa pengaruh buruk kepadaku. Seks bebas dihalalkan. Bahkan di manapun dilakukan. Aku sering melihatnya."
"Apa kamu pernah melakukannya juga?" tanya Mami Aleena.
"Tidak."
"Apa itu alasan kamu kabur ke sini?" Aruna pun menggeleng.
"Setelah sepuluh tahun di panti, aku memutuskan untuk keluar dari sana dan bekerja. Tuhan begitu baik mempertemukan aku dengan seorang lelaki yang sangat baik. Kata-katanya manis dan seperti ingin melindungi ku. Aku terjebak dalam sebuah perasaan yang begitu dalam kepadanya. Dan salahnya, aku menjadikannya rumah."
Bulir bening kembali menetes. Isakan kini mulai hadir. Mami Aleena menggenggam tangan Aruna.
"Dia seperti pangeran penyelamat. Aku kira aku akan selamat jika bersamanya. Ternyata sama saja."
Mami Aleena masih setia mendengarkan. Dia tak mencela sedikit pun kalimat yang keluar dari Aruna. bulir bening kembali menetes. Kini, semakin deras.
"Tiga tahun ... tubuhku disiksa tanpa henti. Luka di tubuh sudah tak terhitung berapa banyaknya. Tubuhku sudah tak berdaya, tapi tetap dipaksa untuk terus berada di sampingnya."
"Dia selalu melakukan itu ketika dia sedang ada masalah. Aku hanya dijadikan Samsak tinju. Dijadikan tempat pelampiasan. Ketika badanku terkapar, barulah dia sadar dan mengobatiku. Tapi, tak pernah ada kata maaf yang terlontar dari bibirnya setelah melakukan hal itu."
Mami Aleena terdiam. Air matanya menetes mendengar pengakuan Aruna.
"Aku ingin pergi ... tapi, aku sudah terikat janji. Di awal hubunganku, dia akan membantu membebaskan ayahku. Aku terus bertahan di tengah tubuh yang penuh kesakitan. Dan dia menepati janji, membebaskan ayahku. Aku sangat bahagia dan berharap ayahku akan menyelamatkanku dari lelaki itu."
"Dan lagi-lagi aku salah. Aku dipaksa untuk terus bersamanya bahkan bertunangan dengannya. Padahal, aku sudah jujur jikalau lelaki itu selalu bersikap kasar. Tapi, ayahku tak mendengar. Malah membiarkanku disiksa di depan matanya."
"Aku lelah. Aku ingin menyerah. Tak pernah ada bahagia yang aku dapat. Tak pernah ada kasih sayang yang tulus yang aku terima. Salahku apa? Kenapa aku selalu diperlakukan seperti hewan? Kenapa takdir begitu kejam?"
Aruna menangis begitu kencang. Begitu juga dengan Mami Aleena yang tak henti menitikan air mata. Dia sudah memeluk tubuh Aruna dengan begitu erat.
"Luka psikisku saja belum sepenuhnya sembuh. Tapi, aku sudah harus menerima luka fisik yang tak henti. Jujur, rasa takut selalu hadir setiap hari. Takut semuanya akan terulang lagi. Aku sangat takut."
...*** BERSAMBUNG ***...
Ayo dong komen biar dikasih double up.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
nuraeinieni
ya ampun mewek bacax,,,,,,,😭😭😭😭😭😭😭😭😭
2024-10-05
0
Indrijati Saptarita
duuhhh cerita nya koq begini... bikin takuuuuttt...
2024-09-29
0
Yus Nita
ungkin kahpelaku yg di maksud Hatsa, karena dia yg berturur katamsnis, sprtu yg di kata kan a ang Er
2024-09-18
0