1000$ pun harus Erzan keluarkan supaya Tuan menutup mulutnya untuk sekarang ini.
"Kerja sama itu harus menguntungkan kedua belah pihak," ucap Tuan yang sudah berusia 10 tahun.
Dia tak mempermasalahkan perihal uang yang harus dia keluarkan untuk membungkam mulut Tuan. Toh, dia juga sudah mengantongi nama mantan bodyguard Tuan, yakni Bambang. Namun, menurut Jimmy nama tukang ojek Aruna adalah Bengbeng. Wajah yang serupa, tapi nama berbeda.
Erzan meyakini bahwasannya ada yang melindungi Aruna di balik ini semua. Dia juga mencurigai sebuah keluarga.
.
Akhirnya, Erzan bisa pergi ke kantor setelah drama Achel yang tak ada habisnya. Untung saja ada Kakeknya, yakni Tuan Abimana. Dia datang di waktu yang sangat tepat. Alhasil, tangis Achel pun terhenti. Mereka berdua akan pergi ke taman safari untuk melihat binatang.
"Ke ruangan saya!"
Aruna berdecih. Setiap kali berada di lingkungan kantor, Erzan tak pernah memanggilnya dengan sebutan nama. Sangat menyebalkan.
Masuk dengan bibir yang mengerucut dan memasang wajah kecut. Erzan menukikkan kedua alisnya melihat wajah Aruna.
"Kenapa?" tanyanya sambil bersandar di meja sambil melipat kedua tangan.
"Bisa gak sih panggil aku pakai nama," balas Aruna sedikit bersungut.
"Bingung manggilnya."
Decakan kesal keluar dari mulutnya. Namun, tetiba Aruna tersenyum menggoda Erzan.
"Panggil Sayang juga gak apa-apa kok."
Aruna sudah mengedip-ngedipkan mata bagai orang cacingan. Namun, Erzan malah melengos dan memilih duduk di kursi kebesarannya.
"Er!" panggil Aruna.
"Batalkan semua janji untuk hari ini. Saya ada meeting dengan para petinggi Zenth Corporation," sahutnya.
"Hah?"
"Maaf," ucap Erzan penuh rasa bersalah.
"Untuk?"
"Hari ini saya gak ajak kamu meeting. Hampir seluruhnya pria. Saya tidak mau membuat kamu tidak nyaman."
Aruna tersenyum mendengar penjelasan dari Erzan. Baru kali ini dia mendengar seorang lelaki minta maaf kepadanya. Tidak seperti dua lelaki yang ada di hidupnya terdahulu. Hanya ada kata perintah. Juga kata makian.
"Saya akan pergi sama Jimmy," lapor Erzan. Aruna pun mengangguk dengan senyum yang belum pergi.
"Aku gak akan marah. Kan kamu atasan aku. Kamu yang berhak mengatur semuanya."
"Kalau pekerjaan kamu sudah selesai semua. Kamu boleh pulang karena kemungkinan saya pulang malam."
"Iya," balas Aruna.
Deheman seseorang membuat mereka berdua kompak menoleh ke arah belakang. Ternyata Jimmy sudah bersandar di belakang pintu.
"Sejak kapan lu di situ?" sergah Erzan.
"Sejak, maaf," balasnya sembari menunjukkan senyum penuh ejekan.
Erzan berdecak kesal. Aruna pun memilih keluar karena sudah pasti akan ada adu mulut setelah dia pergi.
"Dugaan gua bener kan?"
"BERISIK!"
Aruna mendengar tawa Jimmy menggelegar. Kepalanya pun menggeleng bingung.
"Terserahlah," gumamnya.
.
Erzan dan Jimmy datang ke sebuah hotel mewah di mana para petinggi Zenth Corporation mengadakan meeting besar. Tentunya ada sosok Restu Renendra yang tak lain adalah pemilik perusahaan besar yang berpusat di Zurich.
Wajah Erzan sudah terlihat sangat tidak nyaman ketika satu meja dengan pengusaha muda seusianya yang bernama Harsa Hanasta. Hati kecilnya mengatakan hal lain tentang lelaki itu.
Jimmy kadang merasa aneh kepada Erzan. Dia adalah penerus Zenth Corporation, tapi dia enggan untuk diperkenalkan kepada khalayak jikalau dirinya adalah putra dari Restu Ranendra.
"Gua belum pantes disebut penerus. Gua masih harus banyak belajar karena gua ingin memantaskan diri jadi penerus dengan kerja keras gua sendiri. Bukan karena domplengan bokap."
Bukan hanya Erzan, Rayyan pun sama. Para penerus Zenth Corporation tak memanfaatkan kekuasaan sang ayah. Mereka memilih berjuanh sendiri untuk diakui oleh khalayak bukan karena anak dari siapa. Melainkan dengan kemampuan yang mereka miliki.
Harsa adalah pengusaha muda yang sukses. Selain hebat dalam mengelola perusahaan, ketampanannya membuat banyak wanita tergila-gila. Belum lagi tutur bahasanya yang sangat lembut dan juga sopan ketika berbincang dengan Erzan juga Jimmy. Namun, tetap saja Erzan merasa tidak sreg dengan lelaki itu.
Harsa adalah orang yang mudah bergaul. Beda dengan Erzan. Namun, Erzan tetap menghargai setiap kalimat yang terlontar dari bibir Harsa.
"Sepertinya saya tertarik untuk bekerja sama dengan Anda, Pak Erzan," ucapnya.
"Mendengar semuanya dari asisten Anda membuat saya yakin jika Anda adalah orang yang berkompeten. Jujur, saya ingin sekali menjalin kerjasama. Usia kita juga kan hampir sama, sudah pasti pemikiran kita akan sejalan," paparnya.
Erzan meresponnya hanya dengan seulas senyum. Dia adalah orang yang sangat selektif memilih rekan untuk kerjasama. Apalagi, dia melihat jikalau Harsa adalah tipikal orang yang bermulut manis.
Di kantor, Aruna yang sudah bersiap untuk pulang dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Wanita cantik dengan tubuh tinggi dan penampilan sedikit seksi.
"Permisi, apa benar di sini ruangannya Pak Erzan?"
"Iya, betul," jawab Aruna.
"Ada perlu apa, ya?"
"Saya hanya ingin berjumpa dengannya karena sudah dua tahun saya tak berjumpa dengannya.".
Hati Aruna tiba-tiba perih mendengar ucapan perempuan di depannya. Dia mulai berpikir apakah wanita itu adalah kekasih Erzan? Jika, dilihat dengan jelas, perempuan itu dan Erzan sangatlah cocok. Bukan hanya cocok dari paras, tapi tinggi badan mereka pun begitu serasi.
"Maaf. Pak Erzannya sedang keluar. Dan jika ingin bertemu dengan Beliau, harus membuat janji terlebih dahulu."
Wanita itupun tersenyum mendengar ucapan ucapan Aruna.
"Besok saya akan kembali lagi," balasnya dengan senyum penuh arti.
"Tanpa membuat janji pun, Erzan pasti tak akan menolak kehadiran saya di sini," tambahnya dengan senyum mengejek.
Aruna menghela napas kasar melihat wanita itu sangat percaya diri. Dia memilih untuk melanjutkan membereskan barang bawaannya. Lalu, pulang.
Keesokan paginya, Aruna masuk ke ruangan Erzan tanpa mengetuk pintu. Tak ada senyum yang dia tunjukkan seperti biasanya. Memilih langsung membacakan jadwal Erzan tanpa menggoda terlebih dahulu.
"Satu lagi," ucap Aruna setelah membacakan jadwal sang atasan.
"Akan ada wanita yang melepas rindu dengan kamu tanpa membuat janji terlebih dahulu."
Dahi Erzan pun mengkerut. Aruna mulai menjauh dari Erzan, tapi tangannya berhasil Erzan tahan hingga langkahnya pun terhenti.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Erzan penasaran. Sayangnya, Aruna hanya menggedikkan bahu.
"Ciri-cirinya?"
"Perempuan cantik dan seksi. Juga tinggi."
Erzan mulai berpikir dengan kedua alis beradu. Tangannya pun masih menggenggam lengan Aruna.
"Siapa sih?" tanya Erzan karena tak menemukan titik terang.
"Mana aku tahu," sahut Aruna dengan tatapan tak sukanya.
Suasana pun mendadak hening. Sedangkan Erzan masih menatap Aruna yang terlihat merajuk.
"Hei! Jelasin yang spesifik dong," punya Erzan dengan sangat lembut. Matanya pun masih tertuju pada wajah muram Aruna.
"Pacar kamu mungkin," sahut Aruna dengan begitu ketus.
Tawa Erzan pun terdengar. Kini, giliran Aruna yang menukikkan kedua alisnya. Kedua tangan Erzan pun kini menggenggam tangan Aruna. Dia menatapnya dengan begitu dalam.
"Sudah bukan waktunya lagi untuk pacar-pacaran. Saya tengah mencari yang serius dan terbaik untuk dibawa ke jenjang pernikahan."
"Pacaran dalam keadaan halal lebih mengasyikkan."
Deg.
...*** BERSAMBUNG ***...
Ke mana kalian yang gak pada komen? 😭
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Medy Jmb
Itu temennya Njan pas kuliah bukan?
2024-10-31
0
Indrijati Saptarita
jelas Aruna cemburu.... Abang er senang bukan main...
2024-09-29
0
Yus Nita
itujawaban ygsangat kereeen...
2024-09-17
0