Erzan mulai tidak profesional dalam memilih kandidat untuk menjadi sekretarisnya. Dia memilih CV Aruna Cyra Sachikirani padahal memiliki pengalaman minim. Rasa penasaranlah yang membuatnya seperti itu. Nama serta wajah wanita itu begitu mirip dengan teman masa kecilnya.
Jimmy pun tak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Erzan adalah final. Erzan adalah orang yang sangat yakin akan keputusan yang dia ambil. Tentunya dengan perhitungan dan pertimbangan yang sangat matang. Jimmy harus mengikuti saja.
"Kapan mau interview?"
"Besok."
Dahi Jimmy mulai mengkerut. Tak biasanya Erzan akan gerak cepat dalam hal ini. Biasanya akan ada jeda satu hari setelah memilih kandidat. Dia juga termasuk orang yang malas bertemu dengan orang lain termasuk orang yang mau dia interview. Namun, kali ini Jimmy melihatnya berbeda.
"Kok gua curiga, ya," selidik Jimmy pada wajah Erzan.
Sang bos malah tetap tenang dalam diamnya. Dia sama sekali tak menimpali ucapan Jimmy. Asistennya itupun menyerah karena tidak bisa menjadi penyelidik yang baik jika menyangkut Erzan. Wajah datarnya sangat sulit ditebak. Bahkan bisa mengecoh.
.
Kepulan asap rokok sudah menguar ke udara. Minuman alkohol kalengan pun sudah ada di atas meja. Dua sahabat Erzan yang selalu mendampinginnya di saat tengah sendirian.
Isi kepalanya tengah dipenuhi dengan wajah teman masa kecilnya. Seperti ada rasa rindu yang tiba-tiba datang dan menyuruhnya untuk bertemu kembali dengannya.
"Tapi, apa benar itu dia? Bukankah banyak sekali nama yang sama di dunia ini," gumamnya.
Alkohol pun dia tengguk. Tatapannya lurus ke depan. Senyum yang begitu manis masih dia ingat sampai sekarang.
"Cyra, apakah itu kamu?"
Ada sebuah harap di mana dia bisa bertemu kembali dengan Cyra. Satu-satunya perempuan yang bisa dekat dengannya.
.
Sudah rapi dan tinggal memakai dasi, suara bel apartment berbunyi. Dahi Erzan mengkerut. Dia melihat ke arah jam tangan..
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gumamnya.
Bel itu terus berbunyi seperti orang tak sabaran. Erzan pun menghela napas kasar dan dia berniat akan memaki orang yang ada di depan unit apartment-nya. Baru saja mulut hendak dibuka, wajah cantik sang keponakan-lah yang dia lihat.
"Wawa," panggil Achel dengan begitu sendu.
Erzan segera memeluk tubuh kecil itu dan menggendongnya. Membawanya masuk ke dalam. Seperti biasa Achel akan melingkarkan tangan di leher Erzan.
"Chel, baju Wawa kusut itu," ucap sang mami.
Tapi, Achel tak mau melepaskan pelukannya. Dia semakin erat memeluk leher sang paman. Mata Erzan seakan bertanya kepada sang adik. Reyn hanya menghela napas kasar.
"Semalam Achel tidur gak nyenyak. Reyn ambil dan tidur bareng mami papinya. Setiap dua jam sekali dia seperti mimpi dan terus manggil nama Abang."
Erzan terdiam. Dia mengusap lembut rambut sang keponakan yang begitu harum.
"Achel kenapa? Achel mimpi apa semalam?"
Balita itu belum mau bicara, dia masih betah memeluk tubuh pamannya. Reyn melihat ke arah jam dinding. Dia menatap sang Abang dengan penuh rasa bersalah.
"Maaf ya, Bang," sesalnya.
"Untuk?"
"Reyn sama Achel udah ganggu Abang. Malah sekarang buat Abang terlambat untuk ke kantor."
"It's okay. Gak akan ada yang marah. Penyebab Abang datang terlambat karena ratu cantik kesayangan Papi. Enggak akan bisa marah kalau udah berhubungan dengan Achel mah," terangnya dan itu membuat Reyn tertawa.
"Abang udah sarapan? Biar Reyn bikinin, Achel juga gak mau makan di rumah. Pengen cepet ke sini."
"Boleh," jawab Erzan.
Selama Reyn membuatkan sarapan. Erzan membawa Achel masuk ke kamarnya. Di sana Achel pun tak mau melepaskan tangannya di leher Erzan.
"Boleh Wawa bertanya?" Begitu lembut kalimat yang terucap dari bibir Erzan. Achel pun mengangguk.
Erzan menyuruh Achel duduk di atas tempat tidur. Sedangkan dirinya duduk di lantai menatap sang keponakan dengan penuh rasa sayang.
"Achel kenapa bobonya semalam? Kalau Achel kurang bobo nanti Achel sakit. Nanti Wawa sedih."
"Achel--"
Balita itupun kembali terdiam. Seperti tak ingin melanjutkan ucapannya. Namun, Erzan terus memaksa dengan lembut.
"Achel mimpi, Wawa di kiss sama cewe. Wawa sayang sama cewe. Wawa lupain Achel."
Mata balita itupun mulai berair. Segera Erzan memeluk tubuh Achel dengan begitu erat.
"Wawa dak bole di kiss sama cewe. Wawa dak bole sayang sama cewe. Wawa bolenya sayang Achel aja. Sayang Mami, sayang Oma. Dak bole sayang yang lain."
Erzan pun terdiam. Dia mengusap lembut punggung Achel. Kembali memangku tubuh sang keponakan yang terlihat ketakutan akan kehilangan kasih sayang darinya.
"Achel jangan takut, ya. Wawa akan selalu sayang sama Achel sampai kapanpun." Balita itupun mengangguk dengan tangan yang memeluk tubuh Erzan.
Reyn yang hendak masuk ke kamar sang Abang hanya bisa menghela napas kasar ketika melihat betapa nyamannya sang putri dipeluk oleh kakaknya.
"Kamu terlalu posesif, Chel. Kasihan Wawa," gumamnya.
.
Di kantor Jimmy sudah terus bersungut. Pasalnya, Erzan malah menunda interview dengan alasan sang keponakan.
"Papinya aja bisa diajak adu argumen, lah ini bocil ngeselin malah gak bisa dia taklukin. Heran gua mah," omel Jimmy ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.
Dua kandidat sekretaris itu harus menunggu lebih lama lagi. Apalagi Erzan tak mengundur hari, hanya mengundur jam interview yang tak tahu sampai kapan. Mereka berdua pun sabar menanti.
Mata Jimmy tertuju pada kandidat yang Erzan pilih. Si minim pengalaman. Sedari tadi masker di wajahnya tak dia buka. Penampilannya memang sangat seksi. Kulit putihnya terlihat begitu jelas.
"Buset, pilihan si Erzan beneran bening kayak botol kaca," ucapnya di dalam hati.
Kandidat pertama sudah terlihat lelah menunggu. Beda halnya dengan kandidat yang kedua yang nampak sangat santai. Jimmy mencoba untuk menghubungi Erzan kembali. Namun, tak ada jawaban.
"Buset dah kalau udah sama tuh bocil kematian udah kayak yang lagi pacaran. Gak mau diganggu," ujar Jimmy kesal.
.
Jam sebelas siang barulah Achel mau pulang. Itupun karena dia sudah mengantuk. Dia juga tidak betah tidur di kamar sang Wawa. Padahal, begitu nyaman.
"Emang gak bawa susu?" tanya Erzan sembari memasang dasi.
"Reyn kira bakalan sebentar. Ternyata malah lama," jawab Reyn ketika Achel sudah mulai rungsing.
Erzan mengambil jas dan memakainya. Lalu, mencium kening Achel dengan begitu lembut.
"Wawa antar pulang, ya." Balita itu mengangguk di dalam gendongan maminya.
Erzan tersenyum dan kembali mencium pipi sang keponakan. Satu-satunya orang yang tak bisa membuat dirinya marah.
"Wawa," panggil Achel dengan suara lemah.
"Iya. Kenapa? Achel mau Wawa gendong?"
Balita itu mulai menegakkan tubuhnya. Menatap wajah sang paman dengan penuh telisik.
"Kenapa Wawa sangat tampan hali ini?"
"Apa Wawa mau ketemu cewe yang kiss Wawa di mimpi Achel semalam?"
"Hah?"
...*** BERSAMBUNG ***...
Biasakan komen ya kalau udah habis baca. Jangan ditinggal begitu aja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Lies Atikah
kenapa vosesiv sampai segitunya emang nya Acel gak punya pa2h gak bahaya tah
2025-01-03
0
Medy Jmb
Acel posesif ya kaya sultan
2024-10-31
0
irma hidayat
lanjut thor
2024-09-01
0