Erzan menyentuh bibirnya yang dikecup oleh Aruna. Tidak ada kehangatan yang dia rasakan, melainkan kesedihan. Ketika dia memandang wajah Aruna, samar terlihat jejak air mata di sana. Juga raut Aruna yang berubah tiba-tiba.
"Maaf, Pak."
Kalimat formal yang membuat Erzan terdiam. Aruna menundukkan kepala dan pergi dari ruangan. Ada tanda tanya di hati Erzan.
Erzan sudah keluar dari ruangannya karena jam pulang kantor sudah tiba. Namun, Aruna masih berkutat dengan pekerjaannya. Bahkan dia tak menyadari jikalau ada Erzan di sana.
.
Kepulan asap rokok sudah menguar ke udara. Pikirannya tengah menerka-nerka tentang Aruna. Setahu dirinya jikalau Aruna atau Cyra adalah anak orang kaya. Tapi, kenapa dia malah melamar ke anak perusahaan Zenth Corporation? Erzan mengeluarkan ponselnya dan mengecek cctv.
Jam tujuh malam Aruna baru meninggalkan mejanya. Bukannya menuju lift dia malah menuju toilet. Tak lama berselang, dia keluar dengan bawahan yang tertutup. Kedua alis Erzan pun menukik tajam.
"Kenapa diganti?"
Rasa penasaran semakin menjadi. Rokok dia matikan dan segera masuk ke kamar. Menghidupkan komputer khususnya. Dan dia mulai mencari tahu tentang Aruna. Seketika dia terdiam.
"Dan ini bukan penguncian data biasa," gumamnya.
Penguncian seperti itu hanya untuk kalangan atas. Erzan sudah sangat hafal perihal itu. Rasa penasaran pun semakin menjadi.
Hati Erzan mengatakan jikalau Aruna memang Cyra. Namun, matanya menolak karena sikap dan tingkah Aruna bukan seperti Cyra. Hati dan mata memang tak sejalan, tapi setiap kali Aruna mendekat dan melakukan sesuatu hal kepadanya, tubuhnya seakan tak menolak. Beda ketika dengan wanita murahan yang banyak menggodanya. Dia tak segan mendorong tubuh mereka.
.
Hari kedua bekerja, Aruna masih berpakaian seksi. Senyum khas yang begitu manis menyambutnya. Namun, wajah tanpa ekspresi Erzan tunjukkan. Erzan kira perempuan itu akan ikut masuk dengannya. Ternyata tidak.
"Pak Erzan sudah datang?" tanya Jimmy kepada Aruna.
"Sudah," jawab Aruna singkat tanpa menatap Jimmy.
Jimmy pun masuk ke ruangan Erzan karena banyak yang harus mereka bahas. Sudah setengah jam membahas perihal pekerjaan, ketukan pintu terdengar. Aruna masuk dengan membawa iPad di tangan.
"Permisi, Pak. Ini jadwal Bapak hari ini."
Kalimat itu begitu tak nyaman di telinga Erzan. Dia meraih iPad yang diserahkan Aruna yang berdiri di sampingnya.
"Ada klien yang memaksa untuk bertemu esok. Saya sudah bilang jikalau jadwal Bapak sudah penuh. Tapi, dia tetap kekeh."
"Siapa?" tanya Erzan yang masih menatap layar ipad.
Aruna mencondongkan wajahnya ke arah iPad hingga jarak wajah mereka berdua sangat dekat. Jimmy yang melihat itu terdiam karena Erzan terlihat nyaman.
"Beliau orangnya."
Ya, Aruna menunjukkan foto orang yang terus memaksa ingin bertemu dengan Erzan besok.
"Jam makan siang ubah untuk bertemu dengannya. Tapi, hanya satu jam. Tak kurang dan tak lebih." Aruna mengangguk.
"Baik. Kalau begitu saya permisi."
Mata Jimmy terus mengikuti langkah Aruna. Pulpen pun mendarat di kepala hingga dia mengaduh.
"Jaga mata lu!" omel Erzan.
"Dih! Kenapa lu sewot?"
Erzan memutar matanya jengah. Dia mulai fokus kembali ke layar segiempatnya.
"Gua akui meskipun non pengalaman, tapi keren. Apalagi dia sangat seksi."
Erzan pun berdecak kesal mendengarnya. Apalagi Jimmy terus memuji kecantikan Aruna. Erzan pun mulai membuka suara.
"Keluar dari ruangan gua. SEKARANG!"
Jimmy bersungut ria setelah keluar dari ruangan Erzan. Hari ini Erzan seperti ABG yang sedang PMS. Langkahnya terhenti di meja Aruna.
"Aruna, boleh minta nomor wa?"
"Untuk apa?" tanya Aruna tanpa menatap Jimmy.
"Untuk bertukar pekerjaan."
Aruna mulai memandang Jimmy. Senyum yang begitu manis terukir di wajah Jimmy yang juga tampan.
"Maaf. Pak Jimmy asistennya Pak Erzan. Dan saya sekretaris Pak Erzan. Jadi, saya dan Pak Jimmy tak ada ikatan pekerjaan. Jadi, tak perlu memiliki nomor satu sama lain."
Baru kali ini sekretaris Erzan tak menyambut perkenalannya. Bahkan, tak ada senyum sedikit pun yang terukir di wajah Aruna.. Hanya wajah jutek yang dia berikan.
"Ya sudah kalau gak boleh." Jimmy meninggalkan Aruna dengan hati yang terus mengomel ria.
"Enggak bos gak sekretarisnya mulutnya berbisa semua," sungutnya lagi.
.
Aruna yang tengah fokus bekerja dipanggil oleh Erzan. Senyum manis pun dia ukirkan.
"Kenapa? Kangen, ya?" goda Aruna.
Erzan melihat jikalau Aruna mampu menempatkan diri. Dia akan profesional ketika di depan karyawan yang lain. Tapi, jika tengah berdua seperti sekarang ini khodam cacing kepanasan hadir.
"Saya ingin kamu ikut meeting di jam makan siang besok."
"Serius?" Mata Aruna berbinar.
"Sebagai penilaian hari akhir magang. Apakah kamu masih pantas saya pertahankan. Atau akan saya keluarkan."
Kalimat Erzan membuat Aruna terdiam. Mimik wajahnya sudah berubah.
"Apa kamu tidak siap?"
"Aku siap, Er."
Erzan memberikan materi yang akan dibahas esok. Aruna pun mengambilnya dengan raut wajah tak secerah tadi.
Keesokan harinya, Aruna menatap dirinya di depan cermin toilet kantor. Aruna memejamkan matanya sejenak.
"Ada Erzan, Cyra. Jangan takut."
Sedangkan Erzan sudah berdecak kesal ketika Aruna tak ada di mejanya. Tak lama dia melihat Aruna yang berjalan menuju tempatnya.
"Jam berapa ini?"
Terdengar Erzan membentak Aruna. Tak ada jawaban dari sekretarisnya itu. Dia segera mengambil tas dan mengikuti Erzan dari belakang.
Aruna mendadak alim. Bagi Erzan, Aruna memiliki dua kepribadian. Sekarang ini dia tengah menjaga keprofesionalan. Di dalam mobil pun begitu sunyi. Erzan fokus pada jalanan, dan Aruna diam seribu bahasa. Erzan merasa aneh dengan sikap Aruna sekarang. Jika, di kantor dan hanya ada mereka berdua sudah pasti Aruna akan menjelma menjadi wanita bar-bar. Tapi, tidak untuk sekarang.
Ujung mata Erzan melihat Aruna selalu meremas kedua tangannya. Seperti tengah dilanda kecemasan dan ketakutan. Ingin bertanya, tapi mulut Erzan sulit untuk dibuka.
Baru saja turun dari mobil, wajah Aruna memerah. Erzan yang melihat perubahan wajah Aruna segera bertanya.
"Apa kamu sakit?"
Aruna menggeleng pelan tanpa mau menatap ke arahnya. Erzan semakin dibuat bingung. Tapi, tak melanjutkan pertanyaannya karena klien sudah menunggu.
Tibanya di tempat meeting, wajah Aruna semakin memerah dan tangannya terus dia remas karena mata klien Erzan yang tak berkedip melihat Aruna.
"Silahkan duduk," ujar sang klien.
Erzan melihat ke arah Aruna yang masih sama seperti tadi. Aruna mulai menurunkan bokongnya ke atas sofa. Erzan segera meletakkan jas yang sudah dia lepas ke atas paha Aruna hingga membuat Aruna menoleh dan menatap lelaki tampan itu dengan wajah yang masih memerah.
"Cukup catat poin penting dan abaikan yang lain." Aruna mengangguk dengan sorot mata penuh kecemasan.
"Ketika takutmu datang, tataplah orang yang ada di samping kamu sekarang. Dia akan memberikan ketenangan."
...**** BERSAMBUNG ****...
Biasakan komen ya kalau udah habis baca. Jangan ditinggal begitu aja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Medy Jmb
Makin penasaran kak fiee
2024-10-31
0
nuraeinieni
ada apa dengan aruna
2024-09-10
0
Rahmawati Abdillah
kepo ku tingkat dewa sudah ini,ada apa dengan Aruna apakah kasusinya kurang lebih sama istri Apang?????
2024-09-03
0