8. Dua Kepribadian

Erzan menyentuh bibirnya yang dikecup oleh Aruna. Tidak ada kehangatan yang dia rasakan, melainkan kesedihan. Ketika dia memandang wajah Aruna, samar terlihat jejak air mata di sana. Juga raut Aruna yang berubah tiba-tiba.

"Maaf, Pak."

Kalimat formal yang membuat Erzan terdiam. Aruna menundukkan kepala dan pergi dari ruangan. Ada tanda tanya di hati Erzan.

Erzan sudah keluar dari ruangannya karena jam pulang kantor sudah tiba. Namun, Aruna masih berkutat dengan pekerjaannya. Bahkan dia tak menyadari jikalau ada Erzan di sana.

.

Kepulan asap rokok sudah menguar ke udara. Pikirannya tengah menerka-nerka tentang Aruna. Setahu dirinya jikalau Aruna atau Cyra adalah anak orang kaya. Tapi, kenapa dia malah melamar ke anak perusahaan Zenth Corporation? Erzan mengeluarkan ponselnya dan mengecek cctv.

Jam tujuh malam Aruna baru meninggalkan mejanya. Bukannya menuju lift dia malah menuju toilet. Tak lama berselang, dia keluar dengan bawahan yang tertutup. Kedua alis Erzan pun menukik tajam.

"Kenapa diganti?"

Rasa penasaran semakin menjadi. Rokok dia matikan dan segera masuk ke kamar. Menghidupkan komputer khususnya. Dan dia mulai mencari tahu tentang Aruna. Seketika dia terdiam.

"Dan ini bukan penguncian data biasa," gumamnya.

Penguncian seperti itu hanya untuk kalangan atas. Erzan sudah sangat hafal perihal itu. Rasa penasaran pun semakin menjadi.

Hati Erzan mengatakan jikalau Aruna memang Cyra. Namun, matanya menolak karena sikap dan tingkah Aruna bukan seperti Cyra. Hati dan mata memang tak sejalan, tapi setiap kali Aruna mendekat dan melakukan sesuatu hal kepadanya, tubuhnya seakan tak menolak. Beda ketika dengan wanita murahan yang banyak menggodanya. Dia tak segan mendorong tubuh mereka.

.

Hari kedua bekerja, Aruna masih berpakaian seksi. Senyum khas yang begitu manis menyambutnya. Namun, wajah tanpa ekspresi Erzan tunjukkan. Erzan kira perempuan itu akan ikut masuk dengannya. Ternyata tidak.

"Pak Erzan sudah datang?" tanya Jimmy kepada Aruna.

"Sudah," jawab Aruna singkat tanpa menatap Jimmy.

Jimmy pun masuk ke ruangan Erzan karena banyak yang harus mereka bahas. Sudah setengah jam membahas perihal pekerjaan, ketukan pintu terdengar. Aruna masuk dengan membawa iPad di tangan.

"Permisi, Pak. Ini jadwal Bapak hari ini."

Kalimat itu begitu tak nyaman di telinga Erzan. Dia meraih iPad yang diserahkan Aruna yang berdiri di sampingnya.

"Ada klien yang memaksa untuk bertemu esok. Saya sudah bilang jikalau jadwal Bapak sudah penuh. Tapi, dia tetap kekeh."

"Siapa?" tanya Erzan yang masih menatap layar ipad.

Aruna mencondongkan wajahnya ke arah iPad hingga jarak wajah mereka berdua sangat dekat. Jimmy yang melihat itu terdiam karena Erzan terlihat nyaman.

"Beliau orangnya."

Ya, Aruna menunjukkan foto orang yang terus memaksa ingin bertemu dengan Erzan besok.

"Jam makan siang ubah untuk bertemu dengannya. Tapi, hanya satu jam. Tak kurang dan tak lebih." Aruna mengangguk.

"Baik. Kalau begitu saya permisi."

Mata Jimmy terus mengikuti langkah Aruna. Pulpen pun mendarat di kepala hingga dia mengaduh.

"Jaga mata lu!" omel Erzan.

"Dih! Kenapa lu sewot?"

Erzan memutar matanya jengah. Dia mulai fokus kembali ke layar segiempatnya.

"Gua akui meskipun non pengalaman, tapi keren. Apalagi dia sangat seksi."

Erzan pun berdecak kesal mendengarnya. Apalagi Jimmy terus memuji kecantikan Aruna. Erzan pun mulai membuka suara.

"Keluar dari ruangan gua. SEKARANG!"

Jimmy bersungut ria setelah keluar dari ruangan Erzan. Hari ini Erzan seperti ABG yang sedang PMS. Langkahnya terhenti di meja Aruna.

"Aruna, boleh minta nomor wa?"

"Untuk apa?" tanya Aruna tanpa menatap Jimmy.

"Untuk bertukar pekerjaan."

Aruna mulai memandang Jimmy. Senyum yang begitu manis terukir di wajah Jimmy yang juga tampan.

"Maaf. Pak Jimmy asistennya Pak Erzan. Dan saya sekretaris Pak Erzan. Jadi, saya dan Pak Jimmy tak ada ikatan pekerjaan. Jadi, tak perlu memiliki nomor satu sama lain."

Baru kali ini sekretaris Erzan tak menyambut perkenalannya. Bahkan, tak ada senyum sedikit pun yang terukir di wajah Aruna.. Hanya wajah jutek yang dia berikan.

"Ya sudah kalau gak boleh." Jimmy meninggalkan Aruna dengan hati yang terus mengomel ria.

"Enggak bos gak sekretarisnya mulutnya berbisa semua," sungutnya lagi.

.

Aruna yang tengah fokus bekerja dipanggil oleh Erzan. Senyum manis pun dia ukirkan.

"Kenapa? Kangen, ya?" goda Aruna.

Erzan melihat jikalau Aruna mampu menempatkan diri. Dia akan profesional ketika di depan karyawan yang lain. Tapi, jika tengah berdua seperti sekarang ini khodam cacing kepanasan hadir.

"Saya ingin kamu ikut meeting di jam makan siang besok."

"Serius?" Mata Aruna berbinar.

"Sebagai penilaian hari akhir magang. Apakah kamu masih pantas saya pertahankan. Atau akan saya keluarkan."

Kalimat Erzan membuat Aruna terdiam. Mimik wajahnya sudah berubah.

"Apa kamu tidak siap?"

"Aku siap, Er."

Erzan memberikan materi yang akan dibahas esok. Aruna pun mengambilnya dengan raut wajah tak secerah tadi.

Keesokan harinya, Aruna menatap dirinya di depan cermin toilet kantor. Aruna memejamkan matanya sejenak.

"Ada Erzan, Cyra. Jangan takut."

Sedangkan Erzan sudah berdecak kesal ketika Aruna tak ada di mejanya. Tak lama dia melihat Aruna yang berjalan menuju tempatnya.

"Jam berapa ini?"

Terdengar Erzan membentak Aruna. Tak ada jawaban dari sekretarisnya itu. Dia segera mengambil tas dan mengikuti Erzan dari belakang.

Aruna mendadak alim. Bagi Erzan, Aruna memiliki dua kepribadian. Sekarang ini dia tengah menjaga keprofesionalan. Di dalam mobil pun begitu sunyi. Erzan fokus pada jalanan, dan Aruna diam seribu bahasa. Erzan merasa aneh dengan sikap Aruna sekarang. Jika, di kantor dan hanya ada mereka berdua sudah pasti Aruna akan menjelma menjadi wanita bar-bar. Tapi, tidak untuk sekarang.

Ujung mata Erzan melihat Aruna selalu meremas kedua tangannya. Seperti tengah dilanda kecemasan dan ketakutan. Ingin bertanya, tapi mulut Erzan sulit untuk dibuka.

Baru saja turun dari mobil, wajah Aruna memerah. Erzan yang melihat perubahan wajah Aruna segera bertanya.

"Apa kamu sakit?"

Aruna menggeleng pelan tanpa mau menatap ke arahnya. Erzan semakin dibuat bingung. Tapi, tak melanjutkan pertanyaannya karena klien sudah menunggu.

Tibanya di tempat meeting, wajah Aruna semakin memerah dan tangannya terus dia remas karena mata klien Erzan yang tak berkedip melihat Aruna.

"Silahkan duduk," ujar sang klien.

Erzan melihat ke arah Aruna yang masih sama seperti tadi. Aruna mulai menurunkan bokongnya ke atas sofa. Erzan segera meletakkan jas yang sudah dia lepas ke atas paha Aruna hingga membuat Aruna menoleh dan menatap lelaki tampan itu dengan wajah yang masih memerah.

"Cukup catat poin penting dan abaikan yang lain." Aruna mengangguk dengan sorot mata penuh kecemasan.

"Ketika takutmu datang, tataplah orang yang ada di samping kamu sekarang. Dia akan memberikan ketenangan."

...**** BERSAMBUNG ****...

Biasakan komen ya kalau udah habis baca. Jangan ditinggal begitu aja.

Terpopuler

Comments

Medy Jmb

Medy Jmb

Makin penasaran kak fiee

2024-10-31

0

nuraeinieni

nuraeinieni

ada apa dengan aruna

2024-09-10

0

Rahmawati Abdillah

Rahmawati Abdillah

kepo ku tingkat dewa sudah ini,ada apa dengan Aruna apakah kasusinya kurang lebih sama istri Apang?????

2024-09-03

0

lihat semua
Episodes
1 1. Kapan Nikah?
2 2. Cinta Kedua
3 3. Sekretaris
4 4. CV
5 5. Interview Yang Terganggu
6 6. Aruna Cyra Sachikirani
7 7. Aturan Yang Akan Dilanggar
8 8. Dua Kepribadian
9 9. Masih Tetap Sama
10 10. Memecahkan Teka-Teki
11 POV. Aruna
12 12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma
13 13. Tujuan Hidup
14 14. Tukang Ojek
15 15. Tidak Sreg
16 16. Makan Siang
17 17. Rencana Yang Gagal
18 18. Banyak Misteri
19 19. Melakukan Yang Terbaik
20 20. Hipnoterapi
21 21. Trauma Begitu Dalam
22 22. Kerjasama
23 23. Effort Begitu Besar
24 24. Hubungan Yang Halal
25 25. Berjalan Lancar
26 26. Singa Muda
27 27. Hadiah Besar
28 28. Kesal
29 29. Mulai Bertindak
30 30. Bekerjasama
31 31. Jelmaan Iblis
32 32. Melawan
33 33. Kekuatan dan Ketakutan
34 34. Rumah
35 35. Empat Lawan Satu
36 36. Meminta Bantuan
37 37. Ayah Dari Tunangan Kamu
38 38. Rumah vs Tempat Singgah
39 39. Perempuan Gila
40 40. Akhir Penderitaan
41 41. ILY
42 42. Terlalu Antusias
43 43. Gantian Berjuang
44 44. Perjuangan Baru Dimulai
45 45. Menginap Di Rumah Mami
46 Pengumuman
47 47. Jika Cinta Tak Akan Mau Melihatnya Menderita
48 48. Effort Yang Sama Besar
49 Pengumuman
50 49. Di Balik Sakit Ada Bahagia
51 50. Janji Mengalahkan Nafsu
52 51. Meminta Restu
53 Pengumuman
54 53. Tak Mau Mati Muda
55 54. Menuju Wedding Impian
56 55. Wedding Impian
57 56. Cuti Sehari
58 57. Red Day
59 58. Merengut Kesal
60 59. Tak Sesuai Ucapan
61 60. Honeymoon Yang Harus Berakhir
62 61. Dingin Di Luar Hangat Di Dalam
63 62. Adonan
64 63. Pemberitahuan Untuk Keluarga Besar
65 65. Baru Dimulai
66 Nanya
67 66. Di Luar Nalar
68 67. Dikira Sudan Selsai
69 68. MISSION COMPLETED
70 69. Makhluk Sempurna
71 70. Saingan Baru
72 71. Bersyukur dan Beruntung
73 New Story
Episodes

Updated 73 Episodes

1
1. Kapan Nikah?
2
2. Cinta Kedua
3
3. Sekretaris
4
4. CV
5
5. Interview Yang Terganggu
6
6. Aruna Cyra Sachikirani
7
7. Aturan Yang Akan Dilanggar
8
8. Dua Kepribadian
9
9. Masih Tetap Sama
10
10. Memecahkan Teka-Teki
11
POV. Aruna
12
12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma
13
13. Tujuan Hidup
14
14. Tukang Ojek
15
15. Tidak Sreg
16
16. Makan Siang
17
17. Rencana Yang Gagal
18
18. Banyak Misteri
19
19. Melakukan Yang Terbaik
20
20. Hipnoterapi
21
21. Trauma Begitu Dalam
22
22. Kerjasama
23
23. Effort Begitu Besar
24
24. Hubungan Yang Halal
25
25. Berjalan Lancar
26
26. Singa Muda
27
27. Hadiah Besar
28
28. Kesal
29
29. Mulai Bertindak
30
30. Bekerjasama
31
31. Jelmaan Iblis
32
32. Melawan
33
33. Kekuatan dan Ketakutan
34
34. Rumah
35
35. Empat Lawan Satu
36
36. Meminta Bantuan
37
37. Ayah Dari Tunangan Kamu
38
38. Rumah vs Tempat Singgah
39
39. Perempuan Gila
40
40. Akhir Penderitaan
41
41. ILY
42
42. Terlalu Antusias
43
43. Gantian Berjuang
44
44. Perjuangan Baru Dimulai
45
45. Menginap Di Rumah Mami
46
Pengumuman
47
47. Jika Cinta Tak Akan Mau Melihatnya Menderita
48
48. Effort Yang Sama Besar
49
Pengumuman
50
49. Di Balik Sakit Ada Bahagia
51
50. Janji Mengalahkan Nafsu
52
51. Meminta Restu
53
Pengumuman
54
53. Tak Mau Mati Muda
55
54. Menuju Wedding Impian
56
55. Wedding Impian
57
56. Cuti Sehari
58
57. Red Day
59
58. Merengut Kesal
60
59. Tak Sesuai Ucapan
61
60. Honeymoon Yang Harus Berakhir
62
61. Dingin Di Luar Hangat Di Dalam
63
62. Adonan
64
63. Pemberitahuan Untuk Keluarga Besar
65
65. Baru Dimulai
66
Nanya
67
66. Di Luar Nalar
68
67. Dikira Sudan Selsai
69
68. MISSION COMPLETED
70
69. Makhluk Sempurna
71
70. Saingan Baru
72
71. Bersyukur dan Beruntung
73
New Story

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!