Bekerja di anak perusahaan Zenth Corporation adalah mimpi dari semua pencari kerja. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan perusahaan raksasa, Wiguna Grup dan juga AdT. Corp.
Perihal gaji sudah dipastikan sangat besar. Juga kemakmuran para pegawai pun dijamin di sana. Namun, harus melalui seleksi sangat ketat karena perusahaan itu mempekerjakan orang-orang yang berkompeten.
Erzan mulai menatap tajam ke arah Aruna yang dengan tak sopan mencium pipinya. Telapak tangan Erzan sudah k menghapus bekas kecupan Aruna yang meninggalkan bekas lipstik di pipinya.
"BISA SOPAN GAK KE ATASAN KAMU!"
Khodam Erzan pun keluar. Tatapan membunuh pun dia keluarkan. Sayangnya, Aruna sama sekali tak takut. Dia malah kembali tersenyum.
"Sekarang, silahkan keluar dari sini," usir Erzan dengan wajah murkanya.
Aruna tak jua pergi. Dia masih berdiri di samping Erzan. Senyum pun kembali terukir di bibirnya.
"Waktu tak banyak merubah kamu ya, Er."
Aruna pun mulai meninggalkan Erzan di ruangannya. Setelah pintu ruangannya tertutup, hembusan napas kasar keluar dari bibir Erzan.
"Ternyata salah memilih dia," sesal Erzan.
.
Baru masuk ruangan sudah disambut dengan senyuman hangat nan manis Aruna. Hari ini dia terlihat sangat cantik mengenakan rok di atas lutut berwarna cokelat susu. Aruna berharap Erzan akan membalas senyumnya, nyatanya tidak. Wajah tanpa ekspresi dan sangat dingin yang Erzan tunjukkan.
"Mau aku buatin kopi gak?"
Betapa lembutnya pertanyaan itu. Akan tetapi, tak Erzan jawab sama sekali. Dia sudah mulai fokus pada layar segiempat di hadapannya.
Aruna pun menghela napas kasar. Dia mulai menghampiri Erzan. Dia sudah berada tepat di samping sang bos. Aroma parfum bunga segar dapat Erzan cium. Namun, dia masih bergeming.
Kursi kebesaran yang Erzan duduki sudah diputar oleh Aruna. Baru saja Erzan hendak menukikkan kedua alisnya, kedua tangan Aruna sudah menangkup wajah Erzan. Dia menatap Erzan dengan begitu tajam.
"Kamu gak bisu dan tuli kan?" tanya Aruna penuh penekanan.
Kedua tangan Erzan pun melepaskan kedua tangan Aruna yang tengah menangkup wajahnya. Tatapan sangat tajam dia berikan kepada sekretaris magangnya itu.
"Aturan menjadi sekretaris saya ada di atas meja kamu. Baca dengan seksama."
Erzan kembali memutar kursinya. Dia kembali fokus pada pekerjaan.
"Bekerjalah sesuai tugas kamu. Dan ikutilah aturan yang sudah saya buat."
Berkata tanpa menatap Aruna sama sekali. Wajah Aruna seketika berubah.
"Kembalilah ke meja kamu! Dan bekerjalah dengan benar jika kamu masih mau bekerja di sini."
Aruna pun mulai menjauhi Erzan dan keluar dari ruangan bosnya itu. Erzan pun sama sekali tak menoleh ataupun menegakkan kepala. Dia tetap fokus pada pekerjaannya.
Ketika jam makan siang, Erzan yang baru keluar ruangan dikejutkan dengan berdirinya Aruna di depan pintu ruangan. Senyumnya sangat manis.
"Aku gak tahu kantin di sini. Aku ikut makan siang sama kamu, ya."
"Tinggal pesen go food saja. Apa susahnya?"
Erzan berlalu meninggalkan Aruna begitu saja. Aruna pun menghela napas kasar dengan mata yang menatap punggung Erzan yang mulai menjauhinya.
Aruna kembali duduk di kursi kerjanya. Dia meraih sebuah map transparan yang berisi peraturan seorang sekretaris.
"Dilarang memakai pakaian seksi." .
Aruna pun berdecih. Lalu, membaca poin berikutnya. Aman untuk poin yang lain, tapi dia tidak terima untuk poin pertama.
"Terus sekretaris harus pakai gamis dan mukena gitu," omelnya sendiri.
"Kenapa semakin dewasa dia semakin kudet? Gak pernah nonton drama Korea apa? Di mana sekretarisnya pada modis dan seksi."
.
"Gimana? Sekretaris non pengalaman aman?" tanya Jimmy ketika Erzan baru menyesap kopi.
"Baru juga setengah hari," jawab Erzan sangat santai.
Jimmy merasa aneh dengan jawaban Erzan. Tak biasanya sang bos menjawab seperti itu. Ini adalah hal yang sangat amat langka karena biasanya dia akan uring-uringan tidak jelas jika sudah tidak sreg dengan sekretarisnya.
"Lu gak risih sama penampilannya? Lu kan anti banget sama cewek seksi."
Erzan tak menjawab. Dia kembali menyesap kopi yang dia pesan. Jimmy merasa ada kejanggalan. Namun, dia belum bisa menanyakan.
Langkah Erzan sedikit lamban ketika hendak masuk ke ruangan. Dia melihat ke arah meja sekretarisnya. Aruna sedang fokus pada layar laptop. Mendengar suara pintu terbuka, Aruna menoleh dan ternyata Erzan sudah kembali ke ruangannya.
Baru saja duduk, mata Erzan memicing karena Aruna masuk ke ruangannya tanpa mengetik pintu. Kedua alis Erzan sudah beradu ketika Aruna melangkah menghampiri dirinya.
"Aku mau komplain."
Dahi Erzan mengkerut. Tanpa dia duga, sekretarisnya itu duduk di atas meja tepat di hadapan Erzan. Paha putih mulusnya sangat mengganggu pandangan mata.
"Turun!"
"Enggak."
Hembusan napas kasar keluar dari bibir Erzan. Dia mulai menatap Aruna yang tengah melipat kedua tangannya.
"Saya kasih waktu lima menit."
Dinginnya menembus ke tulang. Aruna harus ekstra sabar menghadapi lelaki gunung es ini.
"Perihal aturan sekretaris yang kamu buat," ujar Aruna.
"Ada satu yang akan selalu aku langgar." Aruna berbicara dengan penuh keyakinan.
"Yakni, berpakaian sopan."
"Terserah. Saya bisa melakukan pemecatan hari ini juga terhadap kamu."
Aruna tak menyangka dengan jawaban Erzan. Dia turun dari meja dan mendekat ke arah sang bos. Dia memanyunkan bibir dengan melipat kedua tangannya di atas dada.
"Di mana-mana sekretaris itu pakai setelan begini, Erm Masa iya mau pake gamis sama cadar," omel Aruna sambil menunjuk ke penampilannya.
"Aturan yang saya buat untuk kamu patuhi. Saya hanya memberi kamu tiga kali kesempatan."
Hembusan napas kasar keluar dari bibir Aruna. Dia menatap Erzan dengan sangat kesal. Tubuh Erzan seketika menegang ketika Aruna duduk di pangkuannya. Wajah kesal Aruna sudah hilang dan berganti dengan senyuman manis. Tangan Aruna pun sudah melingkar di leher Erzan. Aroma parfum Aruna sangat menyeruak ke hidung.
"Aku gak akan mematuhi aturan kamu yang satu itu. Aku akan tetap berpenampilan seperti ini karena is my fashion. Cantik dan seksi," ucap Aruna penuh penekanan.
"Tunggu surat pemecatan dari saya."
Aruna malah tersenyum. Dia menatap dalam wajah Erzan. Begitu juga dengan mata Erzan yang tengah menatap Aruna dengan serius.
"Apa yakin kamu bisa melakukan itu?" tanya Aruna menyepelekan.
"Kenapa tidak?"
Aruna pun berdecih. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah tampan Erzan.
"Aku akan mencium kamu jika kamu melakukan itu."
"Kamu mengancam saya?"
"Bukan hanya sekedar itu, tapi aku akan merealisasikan."
Mata Erzan melebar ketika bibir lembut itu menyentuh bibirnya. Jantungnya yang tenang kini berdegup kencang. Aruna memejamkan mata dan seketika bulir bening menetes. Ada sesuatu yang tengah dia rasakan.
Ponsel Erzan berdering Aruna melepaskan sentuhan bibirnya dari bibir Erzan. Segera memalingkan wajah agar Erzan tak melihat ada jejak air mata di pipinya.
Aruna hendak turun, tapi tangan Erzan seperti menguncinya. Pandangan Aruna mulai tertuju pada Erzan yang tengah menjawab panggilan telepon. Mereka pun saling pandang dengan begitu dalam.
"Er, kamu masih tetap sama. Tapi, tidak dengan aku."
...*** BERSAMBUNG ***...
Biasakan komen ya kalau udah habis baca. Jangan ditinggal begitu aja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Medy Jmb
Ada apa ya sama cyra?
2024-10-31
0
nuraeinieni
weh aruna,,,ingin meluluhkan gunung es,,😃
2024-09-10
0
Ida Farida
ada yg aneh dengan sikap aruna,,
?
2024-09-02
0