Erzan sudah sangat merasa tidak nyaman karena kliennya terus saja menatap Aruna. Padahal, Aruna tengah mencatat poin penting dari pembahasan Erzan dan kliennya itu. Sesekali Aruna menatap wajah Erzan dalam beberapa detik untuk merasakan keamanan dan kenyamanan.
Aruna tak sama sekali menatap ke arah klien Erzan. Dia mengikuti apa yang dikatakan sang atasan agar kecemasannya hilang.
Meeting pun Erzan sudahi. Dia hanya memberikan waktu satu jam. Terlihat raut kecewa terukir di wajah kliennya karena ajakan makan siang dengan tegas Erzan tolak.
"Sebelum Pak Erzan pergi, boleh saya meminta nomor sekretaris Anda untuk menanyakan jadwal Anda."
Aruna terdiam. Dia mulai meremas tangannya lagi. Wajahnya pun mulai memerah kembali.
"Anda bisa hubungi asisten saya saja," jawab Erzan dengan wajah datar.
"Tapi--"
Erzan sudah merangkul pundak Aruna. Kehangatan sedikit menjalar di hati wanita itu. Erzan pun membawa Aruna pergi dari sana.
Rangkulan itu terlepas ketika mereka sudah sampai di samping mobil. Erzan yang kembali bersikap dingin sudah akan membuka pintu mobil. Sepasang tangan tiba-tiba melingkar di perutnya. Tangannya yang sudah memegang handle pintu mobil pun membeku. Tubuh Aruna yang begitu menempel pada punggung Erzan membuatnya dapat merasakan degup jantung Aruna yang begitu cepat.
Egonya ingin melepaskan tangan Aruna di perutnya. Namun, hatinya menyuruhnya untuk membiarkannya. Serta tubuhnya pun merasa nyaman ketika tangan itu melingkar di perutnya.
Beberapa menit berselang, Erzan merasa tak nyaman karena sudah banyak orang yang memandang. Tangannya mulai menyentuh tangan Aruna untuk dia jauhkan dari perutnya. Dia terkejut ketika tangan itu begitu dingin.
Erzan segera memutar tubuhnya. Dia menatap Aruna dengan begitu dalam. Tangannya pun masih menggenggam erat tangan Aruna. Bahkan, ibu jarinya mengusap lembut tangan Aruna yang dingin. Mencoba memberikan kehangatan.
"Are you okay?"
Bukannya menjawab, Aruna malah menunduk dalam. Dia tengah menyembunyikan sesuatu yang membuat matanya perih. Sesuatu yang ingin keluar sedari tadi. Alhasil, bulir bening itu mulai merembes dan membuat jejak di wajah cantiknya.
Kedua tangan Erzan mulai menangkup wajah Aruna. Mata Aruna sudah sembab dan pipinya sudah basah. Tak ada satupun kata yang terucap dari bibir Erzan. Dia hanya menatap Aruna dengan tatapan dinginnya. Ibu jarinya mulai menghapus jejak air mata yang membasahi wajah Aruna dengan Begitu lembut dan tatapan yang begitu teduh.
"Masuklah!" titahnya begitu lembut.
Erzan menghela napas begitu berat ketika Aruna mulai memutari mobil dan membuka pintu penumpang depan. Di dalam mobil menuju arah pulang, Aruna masih saja terdiam. Begitu juga dengan Erzan yang menutup rapat mulutnya. Suasana di dalam mobil pun sangat hening.
Aruna menghela napas sangat kasar ketika hendak keluar dari mobil. Dia menatap Erzan yang juga masih berada di sana.
"Makasih, Er."
Perlahan Erzan pun menoleh. Aruna tersenyum di tengah wajahnya yang sembab. Senyum itu tak seindah biasanya.
"Terimakasih masih tetap menjadi orang yang sama."
Tak ada jawaban dari Erzan. Hanya kebingungan yang dia rasakan. Aruna seakan meninggalkan teka-teki dalam kalimat yang baru saja dia sampaikan. Erzan masih menatap Aruna yang sudah turun dari mobil dan menuju pintu masuk kantor. Pikirannya mulai bercabang.
"Ada apa dengan Aruna?"
Sikap aneh Aruna membuat Erzan terus kepikiran. Tidak biasanya perempuan yang sudah tiga hari menjadi sekretarisnya itu alim ketika di mobil. Padahal, jika di ruangannya dia akan menjelma seperti wanita penggoda.
"Kenapa dia begitu aneh? Terkadang menjadi Aruna dan terkadang seperti Cyra yang gua kenal. Cyra yang perasa dan cengeng."
.
Erzan kembali membawa Aruna meeting dengan klien. Kali ini kliennya seorang wanita. Dia ingin melihat apakah Aruna masih akan tetap sama seperti kemarin? Jika, benar. Sudah dipastikan Aruna memang mengenal kliennya kemarin.
"Klien kita wanita."
Aruna hanya mengangguk. Dan kembali wajahnya berubah. Padahal, pagi tadi perempuan itu masih menggoda Erzan. Masih bisa tersenyum manis kepadanya. Tapi, sekarang Aruna malah terdiam dengan terus meremas tangannya.
Erzan tak berkata apapun. Ujung matanya terus memperhatikan tangan dan gestur tubuh Aruna. Dia seperti orang cemas dan takut. Baru keluar dari mobil, wajah Aruna sudah memerah. Padahal, cuaca sedang mendung. Lagi dan lagi Erzan tak membuka suara. Dia seakan acuh, tapi dia terus memperhatikan Aruna.
Seperti biasa Erzan akan meletakkan jasnya di pangkuan Aruna. Meskipun Aruna dan kliennya sesama wanita, Erzan tetap melakukan itu karena aurat itu tak boleh diumbar.
"Wah, Anda begitu gentle man sekali," puji kliennya ketika melihat sikap Erzan kepada Aruna.
Erzan meresponnya dengan senyuman kecil. Dia melihat ke arah Aruna yang masih sama seperti kemarin. Tak berani menegakkan kepala dengan tangan yang terus meremas satu sama lain. Bahkan remasannya kini semakin keras.
Kehangatan mulai dia rasakan tatkala tangan Erzan sudah menggenggam kedua tangannya. Aruna menolehkan kepala. Erzan tengah menatapnya dengan sangat lembut.
"Saya di sini. Jangan takut."
Aruna mengangguk. Lalu, Aruna menatap ke arah tangannya di mana tangan Erzan masih menggenggamnya serta mengusap punggung tangannya. Senyum kecil pun terukir di sana.
Erzan menyimpulkan memang ada yang janggal dari Aruna. Aruna akan menjadi perempuan ceria ketika berdua dengannya di ruangannya. Namun, kepada karyawan lagi dia sangat dingin dan jutek. Jimmy pun menjuluki Aruna sekretaris judes. Dan ketika diajak bertemu dengan orang baru, dia seperti cemas dan ketakutan. Wajahnya langsung memerah, tangannya dingin dan degup jantungnya sangat cepat.
"Apa dia memiliki trauma?" batin Erzan sambil menatap sekilas ke arah Aruna yang tengah menghadap kaca jendela mobil samping.
Rasa penasaran mulai menjalar. Erzan mulai mencari tahu tentang apa yang dia lihat pada Aruna jika tengah berada di luar kantor. Kedua alisnya mulai beradu menandakan dia sangat serius. Suara ketukan pintu membuatnya menegakkan kepala. Senyum yang begitu manis Aruna berikan.
Erzan benar-benar heran karena mood Aruna bisa berubah dengan sangat cepat. Sekarang, dia sudah kembali ke setelan awal. Dahi Erzan mengkerut ketika Aruna memberikannya cokelat.
"Sebagai terimakasih."
Erzan tersenyum sangat tipis dan nyaris tak terlihat. Wajahnya tetap datar meskipun Aruna sudah tersenyum sangat manis.
"Saya gak suka cokelat."
"Tapi, waktu itu kamu ngasih cokelat ke aku sebagai tanda terimakasih karena aku udah bagi kamu sandwich dan jeruk," Aruna menjelaskan.
"Cuma ngasih kan. Apa kamu ngeliat saya memakannya?" Aruna menggeleng pelan. Mimik wajahnya masih sama seperti dulu.
"Saya ingin sandwich yang kamu kasih dulu. Rasanya enak." Seketika Aruna terdiam. Wajahnya kembali berubah.
"Maaf, Er. Sandwich itu tidak akan pernah bisa aku kasih lagi ke kamu sekalipun kamu sangat menginginkannya. Selain rasanya sudah tak enak, sekarang aku sangat membenci sandwich."
...*** BERSAMBUNG ***...
Kencengin dong komennya. Jangan kasih kendor ..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Lies Atikah
Erzan ngeri banget kalau sampai sedingin itu
2025-01-03
0
Medy Jmb
Apakah Aruna korban anak broken home?
2024-10-31
0
Indrijati Saptarita
ada apa dg Aruna atau Cira...
2024-09-27
0