Aruna sudah berada di depan komputer. Dia tengah serius bekerja hingga tak sadar sang atasan sudah tiba. Suara sesuatu yang diletakkan di atas meja terdengar. Kepalanya segera menegak. Sudah ada paper bag, tapi tak ada orangnya. Suara pintu ruangan ditutup terdengar.
"Erzan."
Aruna mengambil paper bag tersebut. Dia menuju ruangan Erzan di mana lelaki itu baru saja duduk dan menghidupkan laptop.
"Ini apa?" tanya Aruna.
"Pakailah!" titah Erzan tanpa menatap Aruna.
"Mata saya sakit melihat rok kurang bahan yang kamu pakai."
Kembali ke setelan pabrik, itulah Erzan sekarang. Bibir Aruna pun manyun seketika. Ujung mata Erzan dapat melihat wajah lucu Aruna.
"Tak ada penolakan!" tekannya.
"Jam sepuluh ikut saya meeting di luar."
Aruna pun terkejut mendengar ucapan Erzan. Tak ada persiapan apapun, lelaki itu malah mengajaknya ikut rapat penting. Aruna sudah tak bisa berkutik ketika mata Erzan sudah mulai menatapnya dengan penuh perintah.
"Iya, aku ganti."
.
Aruna membeku ketika melihat rok yang Erzan berikan. Modelnya sederhana, tapi harganya luar biasa. Di dalam paper bag itu bukan hanya ada satu rok, melainkan tiga. Ketiganya adalah warna netral.
Ketika sudah dipakai, terlihat sangat bagus dan pas di tubuhnya. Juga terlihat sopan karena panjang roknya di bawah lutut.
Aruna mengetuk pintu ruangan Erzan. Ternyata ada Jimmy di sana. Paper bag yang Aruna bawa pun dia sembunyikan di belakang badan. Dua lelaki itu menoleh ke arah Aruna. Jimmy nampak membeku melihat penampilan baru Aruna. Sedangkan Erzan sudah tersenyum tipis.
"Maaf, saya tidak mau mengganggu," ucapnya gugup karena ditatap oleh dua lelaki tampan.
Aruna segera balik kanan dan segera meletakkan paper bag-nya di depan badan. Lalu, keluar dari ruangan sang atasan.
"Kok gua merasa ada yang beda dari Aruna,* ujar Jimmy kepada Erzan.
Lelaki itu hanya menggedikkan bahu dan kembali fokus pada layar laptopnya.
"Lebih cantik," lanjutnya.
Mata Erzan segera menatap Jimmy dengan sangat tajam. Raut tak suka tak bisa berdusta. Jimmy mengerutkan dahi ketika melihat mimik Erzan.
"Kenapa lu? Sensi amat kalau menyangkut sekretaris lu itu," sungutnya.
Erzan pun hanya terdiam. Sebelumnya dia berdecak kesal dengan tatapan tajam bagai pedang.
Aruna melihat Jimmy sudah keluar dari ruangan Erzan. Dia bergegas menuju ruangan sang atasan mumpung Erzan sendirian. Mulut Erzan sudah terbuka dan kata-kata mutiara hampir terlontar, dia kira Jimmy.
Paper bag yang masih berisi rok dia serahkan kepada Erzan. Kedua alis Erzan pun mulai beradu.
"Aku gak pantes pakai ini, Er."
"Kenapa?"
Aruna memperlihatkan pricelist yang menempel di rok tersebut. Erzan malah tertawa kecil.
"Itu Omam yang beliin," sahut Erzan.
"Omam?"
"Tante saya," jelasnya.
"Itu untuk kamu, Cyra."
Hati Aruna mencelos mendengar panggilan kecilnya. Dia menatap Erzan dengan sorot mata sendu..
"Ketika bersama saya, jadilah Cyra yang saya kenal. Bukan sosok lain yang tak saya kenal."
.
Jam sepuluh Erzan dan Aruna sudah keluar dari kantor. Aruna terdiam dengan tangan yang terus meremas satu sama lain. Tubuh Aruna membeku ketika Erzan menghentikan remasan tangannya di mana tangannya sudah menggenggam tangan Aruna.
"Belajarlah melawan rasa takut itu," ujar Erzan yang menoleh sekilas kepada Aruna.
"Saya akan menemani kamu menyembuhkan luka yang membuat kamu trauma hingga kamu fobia. Saya akan bantu kamu, Cyra."
Kalimat itu terlontar ketika mobil sudah berhenti di lampu merah. Keduanya sudah saling pandang begitu dalam. Suara klakson di belakang mobil mereka membuyarkan semuanya. Mobil pun kembali melaju.
Wajah merah seperti kemarin-kemarin kembali terlihat. Kata sang baba trauma itu tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Harus sabar dan telaten.
Sebelum masuk ke ruangan meeting, Erzan menggenggam tangan Aruna hingga membuat Aruna menoleh kepadanya.
"Lawanlah pelan-pelan. Jangan takut. Saya akan selalu ada di samping kamu."
Aruna pun mengangguk dengan senyum yang terukir lebar. Genggaman tangan Erzan seperti menyalurkan kekuatan untuk bisa melawan rasa traumanya.
Di dalam pun, Erzan menyuruh Aruna untuk membantunya presentasi. Kegugupan pun mulai melanda. Dia menoleh ke arah Erzan yang tengah menganggukkan kepala.
Meskipun suara Aruna begitu kecil, tapi Erzan merasa bangga karena Aruna mulai bisa melawan rasa takut dan cemas. Juga, wanita itu sudah mampu menatap lawan bicaranya walaupun hanya sebentar.
Aruna menangis ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil. Erzan sudah menebak jikalau ini akan terjadi. Sedari di tempat meeting matanya sudah memerah. Tangan Erzan mulai menyentuh ujung kepala Aruna. Mengusapnya dengan begitu lembut.
Aruna menegakkan kepala dan senyum indah terukir di wajah Erzan. Aruna terpana akan senyuman musiman itu.
Mobil sudah melaju dan berhenti di sebuah kafe. Ya, memang sudah waktunya makan siang. Aruna mengikuti Erzan dari belakangan dan ternyata kafe itu cukup ramai.
Mereka sudah duduk saling berhadapan. Aruna tak henti memandang wajah tampan di depannya, sang pangeran mahkota.
"Es krim di sini enak loh. Mau coba?"
Tak mendapat respon dari Aruna, Erzan mulai menegakkan kepala. Perempuan di depannya sedang memandang dirinya dengan senyum yang terus terukir indah.
Dia sudah mengibaskan tangannya ke depan wajah Aruna, tapi Aruna tak jua sadar. Erzan hanya menggeleng. Ketika pelayan datang, barulah Aruna tersadar.
"Udah puas mandang sayanya?"
Aruna terdiam dengan wajah yang menahan malu. Sedangkan Erzan sudah mengulum senyum.
Erzan menyerahkan gelas berisi es krim cokelat. Aruna menukikkan kedua alisnya.
"Aku gak pesan."
"Makanlah, itu saya yang pesen."
Aruna pun mencobanya dan matanya seketika berbinar. Raut bahagia jelas terlihat di sana. Erzan pun tersenyum tipis melihat kebahagiaan Aruna yang masih tetap sama.
"Enak.banget, Er."
"Habiskan!"
Sedari dulu kebahagiaan Aruna masih tetap sama. Yakni, hal kecil menyantap es krim. Sekarang ini Erzan melihat sosok Cyra yang dia kenal dulu. Selalu tersenyum ceria dengan wajah gembira.
"Teruslah seperti ini, Cyra."
Pesanan makanan yang lain datang. Erzan memesan banyak makanan kali ini. Namun, raut cerita Aruna berubah begitu saja. Dia tersenyum smirk melihat ke arah sandwich.
"Aku kan udah bilang kalau aku gak suka sandwich!" ucap Aruna dengan suara meninggi.
Orang yang berada dekat Erzan dan Aruna menatap ke arah Aruna yang tengah murka. Wajahnya sudah merah padam. Erzan malah tak bereaksi apapun. Masih menatap wajah Aruna yang seperti iblis jahanam.
Sandwich yang ada di meja pun sudah akan dia buang. Suara Erzan pun mulai terdengar.
"Luapkanlah semuanya!"
Sebuah kalimat yang membuat tangan Aruna yang hendak membuang sandwich terhenti. Dia menatap ke arah Erzan yang begitu datar.
"Hancurkan semua yang membuat kamu terluka. Jika itu bisa membuat kamu sembuh seperti sedia kala."
Aruna menggeleng. Bola matanya sudah berair. Erzan melihat betapa besar luka yang Aruna derita karena sesedih itu sorot matanya.
"Luka itu tak akan pernah bisa sembuh, Er. Gak akan." Lemah dan lirih dia berkata.
Tangan kiri Erzan meraih tangan Aruna. Dan tangan kanannya meraih piring yang masih menggantung di tangan Aruna.
"Psikolog bilang harus ada tujuan untuk bisa berjuang menyembuhkan luka dan juga trauma. Apa kamu memiliki tujuan sekarang?" Aruna menggeleng.
"Aku hanya mengikuti maunya Tuhan."
Erzan menghela napas kasar. Dia kembali menatap dalam wajah Aruna.
"Jadikanlah saya tujuan hidup kamu. Supaya kamu bisa berjuang untuk sembuh dari semuanya."
"Saya akan membantu kamu sebisa saya."
"Er, kenapa kamu seperti rumah yang penuh kehangatan yang sangat aku idamkan?"
"Tuhan, jangan berikan aku harapan jika hanya sebuah angan yang tak bisa aku gapai. Aku sudah terlalu banyak dikecewakan. Jangan biarkan rasa itu datang kembali jika hanya untuk membunuhku perlahan." .
...**** BERSAMBUNG ****...
Mana atuh komennya? Kalau banyak nanti aku up banyak-banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Medy Jmb
Semoga cyra jodohnya Njan
2024-10-31
0
nuraeinieni
kasian cyra,,bgtu banyak luka yg di taburkan oleh mamax,,mrmbuatx trauma.
2024-10-02
0
Indrijati Saptarita
trauma... memang ga mudah tapi bukan berarti tidak bisa sembuh.... cooperativ yg penting...
2024-09-27
0