12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma

Aruna sudah berada di depan komputer. Dia tengah serius bekerja hingga tak sadar sang atasan sudah tiba. Suara sesuatu yang diletakkan di atas meja terdengar. Kepalanya segera menegak. Sudah ada paper bag, tapi tak ada orangnya. Suara pintu ruangan ditutup terdengar.

"Erzan."

Aruna mengambil paper bag tersebut. Dia menuju ruangan Erzan di mana lelaki itu baru saja duduk dan menghidupkan laptop.

"Ini apa?" tanya Aruna.

"Pakailah!" titah Erzan tanpa menatap Aruna.

"Mata saya sakit melihat rok kurang bahan yang kamu pakai."

Kembali ke setelan pabrik, itulah Erzan sekarang. Bibir Aruna pun manyun seketika. Ujung mata Erzan dapat melihat wajah lucu Aruna.

"Tak ada penolakan!" tekannya.

"Jam sepuluh ikut saya meeting di luar."

Aruna pun terkejut mendengar ucapan Erzan. Tak ada persiapan apapun, lelaki itu malah mengajaknya ikut rapat penting. Aruna sudah tak bisa berkutik ketika mata Erzan sudah mulai menatapnya dengan penuh perintah.

"Iya, aku ganti."

.

Aruna membeku ketika melihat rok yang Erzan berikan. Modelnya sederhana, tapi harganya luar biasa. Di dalam paper bag itu bukan hanya ada satu rok, melainkan tiga. Ketiganya adalah warna netral.

Ketika sudah dipakai, terlihat sangat bagus dan pas di tubuhnya. Juga terlihat sopan karena panjang roknya di bawah lutut.

Aruna mengetuk pintu ruangan Erzan. Ternyata ada Jimmy di sana. Paper bag yang Aruna bawa pun dia sembunyikan di belakang badan. Dua lelaki itu menoleh ke arah Aruna. Jimmy nampak membeku melihat penampilan baru Aruna. Sedangkan Erzan sudah tersenyum tipis.

"Maaf, saya tidak mau mengganggu," ucapnya gugup karena ditatap oleh dua lelaki tampan.

Aruna segera balik kanan dan segera meletakkan paper bag-nya di depan badan. Lalu, keluar dari ruangan sang atasan.

"Kok gua merasa ada yang beda dari Aruna,* ujar Jimmy kepada Erzan.

Lelaki itu hanya menggedikkan bahu dan kembali fokus pada layar laptopnya.

"Lebih cantik," lanjutnya.

Mata Erzan segera menatap Jimmy dengan sangat tajam. Raut tak suka tak bisa berdusta. Jimmy mengerutkan dahi ketika melihat mimik Erzan.

"Kenapa lu? Sensi amat kalau menyangkut sekretaris lu itu," sungutnya.

Erzan pun hanya terdiam. Sebelumnya dia berdecak kesal dengan tatapan tajam bagai pedang.

Aruna melihat Jimmy sudah keluar dari ruangan Erzan. Dia bergegas menuju ruangan sang atasan mumpung Erzan sendirian. Mulut Erzan sudah terbuka dan kata-kata mutiara hampir terlontar, dia kira Jimmy.

Paper bag yang masih berisi rok dia serahkan kepada Erzan. Kedua alis Erzan pun mulai beradu.

"Aku gak pantes pakai ini, Er."

"Kenapa?"

Aruna memperlihatkan pricelist yang menempel di rok tersebut. Erzan malah tertawa kecil.

"Itu Omam yang beliin," sahut Erzan.

"Omam?"

"Tante saya," jelasnya.

"Itu untuk kamu, Cyra."

Hati Aruna mencelos mendengar panggilan kecilnya. Dia menatap Erzan dengan sorot mata sendu..

"Ketika bersama saya, jadilah Cyra yang saya kenal. Bukan sosok lain yang tak saya kenal."

.

Jam sepuluh Erzan dan Aruna sudah keluar dari kantor. Aruna terdiam dengan tangan yang terus meremas satu sama lain. Tubuh Aruna membeku ketika Erzan menghentikan remasan tangannya di mana tangannya sudah menggenggam tangan Aruna.

"Belajarlah melawan rasa takut itu," ujar Erzan yang menoleh sekilas kepada Aruna.

"Saya akan menemani kamu menyembuhkan luka yang membuat kamu trauma hingga kamu fobia. Saya akan bantu kamu, Cyra."

Kalimat itu terlontar ketika mobil sudah berhenti di lampu merah. Keduanya sudah saling pandang begitu dalam. Suara klakson di belakang mobil mereka membuyarkan semuanya. Mobil pun kembali melaju.

Wajah merah seperti kemarin-kemarin kembali terlihat. Kata sang baba trauma itu tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Harus sabar dan telaten.

Sebelum masuk ke ruangan meeting, Erzan menggenggam tangan Aruna hingga membuat Aruna menoleh kepadanya.

"Lawanlah pelan-pelan. Jangan takut. Saya akan selalu ada di samping kamu."

Aruna pun mengangguk dengan senyum yang terukir lebar. Genggaman tangan Erzan seperti menyalurkan kekuatan untuk bisa melawan rasa traumanya.

Di dalam pun, Erzan menyuruh Aruna untuk membantunya presentasi. Kegugupan pun mulai melanda. Dia menoleh ke arah Erzan yang tengah menganggukkan kepala.

Meskipun suara Aruna begitu kecil, tapi Erzan merasa bangga karena Aruna mulai bisa melawan rasa takut dan cemas. Juga, wanita itu sudah mampu menatap lawan bicaranya walaupun hanya sebentar.

Aruna menangis ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil. Erzan sudah menebak jikalau ini akan terjadi. Sedari di tempat meeting matanya sudah memerah. Tangan Erzan mulai menyentuh ujung kepala Aruna. Mengusapnya dengan begitu lembut.

Aruna menegakkan kepala dan senyum indah terukir di wajah Erzan. Aruna terpana akan senyuman musiman itu.

Mobil sudah melaju dan berhenti di sebuah kafe. Ya, memang sudah waktunya makan siang. Aruna mengikuti Erzan dari belakangan dan ternyata kafe itu cukup ramai.

Mereka sudah duduk saling berhadapan. Aruna tak henti memandang wajah tampan di depannya, sang pangeran mahkota.

"Es krim di sini enak loh. Mau coba?"

Tak mendapat respon dari Aruna, Erzan mulai menegakkan kepala. Perempuan di depannya sedang memandang dirinya dengan senyum yang terus terukir indah.

Dia sudah mengibaskan tangannya ke depan wajah Aruna, tapi Aruna tak jua sadar. Erzan hanya menggeleng. Ketika pelayan datang, barulah Aruna tersadar.

"Udah puas mandang sayanya?"

Aruna terdiam dengan wajah yang menahan malu. Sedangkan Erzan sudah mengulum senyum.

Erzan menyerahkan gelas berisi es krim cokelat. Aruna menukikkan kedua alisnya.

"Aku gak pesan."

"Makanlah, itu saya yang pesen."

Aruna pun mencobanya dan matanya seketika berbinar. Raut bahagia jelas terlihat di sana. Erzan pun tersenyum tipis melihat kebahagiaan Aruna yang masih tetap sama.

"Enak.banget, Er."

"Habiskan!"

Sedari dulu kebahagiaan Aruna masih tetap sama. Yakni, hal kecil menyantap es krim. Sekarang ini Erzan melihat sosok Cyra yang dia kenal dulu. Selalu tersenyum ceria dengan wajah gembira.

"Teruslah seperti ini, Cyra."

Pesanan makanan yang lain datang. Erzan memesan banyak makanan kali ini. Namun, raut cerita Aruna berubah begitu saja. Dia tersenyum smirk melihat ke arah sandwich.

"Aku kan udah bilang kalau aku gak suka sandwich!" ucap Aruna dengan suara meninggi.

Orang yang berada dekat Erzan dan Aruna menatap ke arah Aruna yang tengah murka. Wajahnya sudah merah padam. Erzan malah tak bereaksi apapun. Masih menatap wajah Aruna yang seperti iblis jahanam.

Sandwich yang ada di meja pun sudah akan dia buang. Suara Erzan pun mulai terdengar.

"Luapkanlah semuanya!"

Sebuah kalimat yang membuat tangan Aruna yang hendak membuang sandwich terhenti. Dia menatap ke arah Erzan yang begitu datar.

"Hancurkan semua yang membuat kamu terluka. Jika itu bisa membuat kamu sembuh seperti sedia kala."

Aruna menggeleng. Bola matanya sudah berair. Erzan melihat betapa besar luka yang Aruna derita karena sesedih itu sorot matanya.

"Luka itu tak akan pernah bisa sembuh, Er. Gak akan." Lemah dan lirih dia berkata.

Tangan kiri Erzan meraih tangan Aruna. Dan tangan kanannya meraih piring yang masih menggantung di tangan Aruna.

"Psikolog bilang harus ada tujuan untuk bisa berjuang menyembuhkan luka dan juga trauma. Apa kamu memiliki tujuan sekarang?" Aruna menggeleng.

"Aku hanya mengikuti maunya Tuhan."

Erzan menghela napas kasar. Dia kembali menatap dalam wajah Aruna.

"Jadikanlah saya tujuan hidup kamu. Supaya kamu bisa berjuang untuk sembuh dari semuanya."

"Saya akan membantu kamu sebisa saya."

"Er, kenapa kamu seperti rumah yang penuh kehangatan yang sangat aku idamkan?"

"Tuhan, jangan berikan aku harapan jika hanya sebuah angan yang tak bisa aku gapai. Aku sudah terlalu banyak dikecewakan. Jangan biarkan rasa itu datang kembali jika hanya untuk membunuhku perlahan." .

...**** BERSAMBUNG ****...

Mana atuh komennya? Kalau banyak nanti aku up banyak-banyak.

Terpopuler

Comments

Medy Jmb

Medy Jmb

Semoga cyra jodohnya Njan

2024-10-31

0

nuraeinieni

nuraeinieni

kasian cyra,,bgtu banyak luka yg di taburkan oleh mamax,,mrmbuatx trauma.

2024-10-02

0

Indrijati Saptarita

Indrijati Saptarita

trauma... memang ga mudah tapi bukan berarti tidak bisa sembuh.... cooperativ yg penting...

2024-09-27

0

lihat semua
Episodes
1 1. Kapan Nikah?
2 2. Cinta Kedua
3 3. Sekretaris
4 4. CV
5 5. Interview Yang Terganggu
6 6. Aruna Cyra Sachikirani
7 7. Aturan Yang Akan Dilanggar
8 8. Dua Kepribadian
9 9. Masih Tetap Sama
10 10. Memecahkan Teka-Teki
11 POV. Aruna
12 12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma
13 13. Tujuan Hidup
14 14. Tukang Ojek
15 15. Tidak Sreg
16 16. Makan Siang
17 17. Rencana Yang Gagal
18 18. Banyak Misteri
19 19. Melakukan Yang Terbaik
20 20. Hipnoterapi
21 21. Trauma Begitu Dalam
22 22. Kerjasama
23 23. Effort Begitu Besar
24 24. Hubungan Yang Halal
25 25. Berjalan Lancar
26 26. Singa Muda
27 27. Hadiah Besar
28 28. Kesal
29 29. Mulai Bertindak
30 30. Bekerjasama
31 31. Jelmaan Iblis
32 32. Melawan
33 33. Kekuatan dan Ketakutan
34 34. Rumah
35 35. Empat Lawan Satu
36 36. Meminta Bantuan
37 37. Ayah Dari Tunangan Kamu
38 38. Rumah vs Tempat Singgah
39 39. Perempuan Gila
40 40. Akhir Penderitaan
41 41. ILY
42 42. Terlalu Antusias
43 43. Gantian Berjuang
44 44. Perjuangan Baru Dimulai
45 45. Menginap Di Rumah Mami
46 Pengumuman
47 47. Jika Cinta Tak Akan Mau Melihatnya Menderita
48 48. Effort Yang Sama Besar
49 Pengumuman
50 49. Di Balik Sakit Ada Bahagia
51 50. Janji Mengalahkan Nafsu
52 51. Meminta Restu
53 Pengumuman
54 53. Tak Mau Mati Muda
55 54. Menuju Wedding Impian
56 55. Wedding Impian
57 56. Cuti Sehari
58 57. Red Day
59 58. Merengut Kesal
60 59. Tak Sesuai Ucapan
61 60. Honeymoon Yang Harus Berakhir
62 61. Dingin Di Luar Hangat Di Dalam
63 62. Adonan
64 63. Pemberitahuan Untuk Keluarga Besar
65 65. Baru Dimulai
66 Nanya
67 66. Di Luar Nalar
68 67. Dikira Sudan Selsai
69 68. MISSION COMPLETED
70 69. Makhluk Sempurna
71 70. Saingan Baru
72 71. Bersyukur dan Beruntung
73 New Story
Episodes

Updated 73 Episodes

1
1. Kapan Nikah?
2
2. Cinta Kedua
3
3. Sekretaris
4
4. CV
5
5. Interview Yang Terganggu
6
6. Aruna Cyra Sachikirani
7
7. Aturan Yang Akan Dilanggar
8
8. Dua Kepribadian
9
9. Masih Tetap Sama
10
10. Memecahkan Teka-Teki
11
POV. Aruna
12
12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma
13
13. Tujuan Hidup
14
14. Tukang Ojek
15
15. Tidak Sreg
16
16. Makan Siang
17
17. Rencana Yang Gagal
18
18. Banyak Misteri
19
19. Melakukan Yang Terbaik
20
20. Hipnoterapi
21
21. Trauma Begitu Dalam
22
22. Kerjasama
23
23. Effort Begitu Besar
24
24. Hubungan Yang Halal
25
25. Berjalan Lancar
26
26. Singa Muda
27
27. Hadiah Besar
28
28. Kesal
29
29. Mulai Bertindak
30
30. Bekerjasama
31
31. Jelmaan Iblis
32
32. Melawan
33
33. Kekuatan dan Ketakutan
34
34. Rumah
35
35. Empat Lawan Satu
36
36. Meminta Bantuan
37
37. Ayah Dari Tunangan Kamu
38
38. Rumah vs Tempat Singgah
39
39. Perempuan Gila
40
40. Akhir Penderitaan
41
41. ILY
42
42. Terlalu Antusias
43
43. Gantian Berjuang
44
44. Perjuangan Baru Dimulai
45
45. Menginap Di Rumah Mami
46
Pengumuman
47
47. Jika Cinta Tak Akan Mau Melihatnya Menderita
48
48. Effort Yang Sama Besar
49
Pengumuman
50
49. Di Balik Sakit Ada Bahagia
51
50. Janji Mengalahkan Nafsu
52
51. Meminta Restu
53
Pengumuman
54
53. Tak Mau Mati Muda
55
54. Menuju Wedding Impian
56
55. Wedding Impian
57
56. Cuti Sehari
58
57. Red Day
59
58. Merengut Kesal
60
59. Tak Sesuai Ucapan
61
60. Honeymoon Yang Harus Berakhir
62
61. Dingin Di Luar Hangat Di Dalam
63
62. Adonan
64
63. Pemberitahuan Untuk Keluarga Besar
65
65. Baru Dimulai
66
Nanya
67
66. Di Luar Nalar
68
67. Dikira Sudan Selsai
69
68. MISSION COMPLETED
70
69. Makhluk Sempurna
71
70. Saingan Baru
72
71. Bersyukur dan Beruntung
73
New Story

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!