Erzan masih memikirkan kalimat terakhir Aruna tadi sore perihal sandwich. Wajah cerianya seketika berubah ketika Erzan menginginkan sandwich yang pernah Aruna bagi.
"Sebenarnya ada apa?" gumamnya.
Perihal masalah pribadinya, Erzan sama sekali tak banyak bicara. Semuanya dia selesaikan sendiri. Kepada soulmate-nya pun dia tak bercerita. Erzan bukan orang yang mampu bercerita dengan gamblang. Dia sangat hati-hati. Bahkan kepada kedua orang tuanya pun seperti itu.
Alkohol kalengan dia tengguk kembali. Matanya masih tertuju pada mesin pencarian di mana dia masih penasaran dengan sikap yang dimiliki Aruna. Mentalnya seperti tengah terluka.
Sedang serius membaca, ponselnya bergetar. Nama Aera tertera di sana. Erzan hanya melihat sekilas. Lalu, dia abaikan. Bukan karena dia tengah mencari tahu tentang Aruna terus dia abai, tapi dia memang makhluk yang paling malas menjawab panggilan telepon jika bukan dari keluarga dan rekan kerja.
Erzan kembali fokus pada layar segiempat. Dan dia menemukan jawaban atas sikap Aruna.
"Fobia sosial?"
Erzan terdiam sejenak. Dia mulai mengaitkannya dengan sandwich. Erzan mencoba mengingat percakapannya dulu tentang sandwich.
"Mami membekali aku sandwich dan jeruk."
"Apa dia memiliki masalah dengan maminya? Tapi, bukankah maminya begitu menyayanginya?"
Setiap kalimat yang Aruna katakan mengandung teka-teki. Erzan harus bisa memecahkannya. Kembali dia mengingat ke mana Cyra pergi setelah lulus taman kanak-kanak.
"New York," gumamnya.
Erzan mulai mencoba meretasnya kembali. Dia mencari tahu dengan sangat serius karena banyak yang janggal dari Aruna. Erzan rela tak tidur hanya untuk meretas dari Aruna. Tak mudah bagi Erzan hingga dia meminta teman sesama peretas yang tinggal di New York untuk meretas data Aruna.
.
Tibanya di kantor, seperti biasa Aruna menyambutnya dengan senyuman yang sangat manis. Seperti biasa juga Erzan menatapnya tanpa ekspresi. Aruna melihat mata Erzan begitu sayu.
Mulut Erzan terus menguap karena dia hanya tidur satu jam. Selebihnya matanya dipaksa untuk terus berhadapan dengan komputer.
Ketukan pintu terdengar. Aruna masuk dengan membawa kopi dari kedai kopi ternama. Dia menghampiri Erzan dan menyerahkannya kepada sang atasan.
"Aku gak tahu kopi kesukaan kamu. Biasanya kopi tanpa gula akan membuat mata ngantuk bisa sedikit terjaga."
Kalimat yang begitu lembut dan mampu membuat Erzan tersenyum kecil.
"Makasih."
Aruna pun menyunggingkan senyum begitu manis karena mendengar satu kata yang keluar dari mulut Erzan.
"Kalau kamu ngantuk berat, jangan dipaksa kerja. Istirahat saja dulu. Biar aku rapikan sofa--"
Erzan mencekal tangan Aruna yang hendak pergi menuju sofa. Mata Aruna kini tertuju pada tangan Erzan yang memegang tangannya.
"Enggak perlu."
Aruna menghela napas kasar. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Erzan dengan begitu dalam. Tak ada perkataan di antara mereka berdua. Hanya keheningan yang tercipta dengan mata yang saling menatap.
"Kamu satu-satunya orang yang membuat aku merasa nyaman dan aman. Apakah kamu bisa menjadi rumah untuk aku berlindung?"
.
Dahi baba Radit mengkerut ketika melihat sang cucu pertama datang. Tak biasanya Erzan datang sendirian.
"Sendiri?"
"Iya, Ba."
Erzan menjelaskan maksud kedatangannya. Dia menjelaskan semuanya dan baba Radit hanya tersenyum mendengarnya.
"Teman kamu yang mana yang mampu membuat kamu perhatian seperti ini?"
"Ba--"
"Fobia sosial itu di mana seseorang takut dan cemas bertemu dengan orang baru. Ciri-cirinya sama percis seperti yang ada di teman kamu itu. Faktor yang membuat fobia itu datang biasanya karena trauma."
"Kemungkinan dia memiliki kenangan buruk ketika bertemu orang baru hingga menjadi seperti itu."
Erzan pun terdiam mencerna penjelasan sang baba.
"Apa fobia itu bisa sembuh, Ba?"
"Sembuhkan dulu traumanya. Dan nanti fobia itu perlahan hilang."
.
Sikap Aruna yang selalu bar-bar dan tersenyum cerah membuat hati Erzan perih. Aruna hanyalah topeng untuk menutupi rasa sedih dan sakit.
"Kenapa bengong, Er? Apa rok aku kurang seksi?"
Erzan pun menghela napas kasar. Dia menatap dalam wajah Aruna.
"Bukalah topengmu, Cyra."
Wajah ceria itu seketika berubah ketika mendengar nama Cyra yang Erzan sebut.
"Luka seperti apa yang mampu membuat kamu seperti ini?"
Tak ada jawaban, tapi kepalanya mulai menunduk dan air mata mulai luruh.
"Lihat aku, Cyra!"
Hati Aruna semakin sakit mendengar nama itu dipanggil lagi. Perlahan, dia mencoba untuk menegakkan kepala. Wajahnya sudah basah dengan air mata.
"A-ku bu-kan Cy-ra. Di-a su-dah ma-ti."
Jawaban Cyra membuat Erzan terdiam. Suara Aruna yang sangat pelan dan bergetar mampu dia dengar. Perlahan, Erzan mendekat. Awalnya dia ragu untuk memeluk tubuh Aruna. Namun, naluri terus menuntun hingga tangannya memeluk erat tubuh perempuan itu. Tangis Aruna pun semakin pecah.
Erzan memejamkan matanya. Dia teringat akan percakapannya dengan sang teman yang berada di New York.
"Dia bukan dari kalangan sembarangan. Dia anak orang berada. Namun, kedua orang tuanya berpisah tepat di ulang tahun kesepuluh di mana Cyra hampir saja dilecehkan oleh rekan kerja ibunya. Ternyata, ibunya sedikit gila. Dia memperbolehkan rekan-rekan kerjanya untuk melihat bahkan menyentuh tubuh Cyra yang pada saat itu memasuki masa remaja. Untungnya, ayahnya tahu dan bisa menyelamatkan Cyra di mana anak itu sudah telanjang bulat dan dikelilingi pria-pria penuh nafsu."
"Berita itu ditutup sangat rapat oleh ibunya Cyra. Bahkan, ibunya Cyra membalikkan fakta hingga ayahnya Cyra dipenjara dan Cyra hidup sebatang kara. Dia pun diasingkan ke daerah terpencil oleh ibunya sendiri."
"Di daerah terpencil itupun dia hampir dilecehkan. Dia sudah ditelanjangi dan sudah hendak diterkam. Untungnya ada polisi yang menyelamatkannya dan akhirnya dia dititipkan di sebuah panti. Tapi, bukan di daerah sana. Melainkan di Eropa."
Keadaan sangat hening. Kemeja bagian depan Erzan pun sudah sangat basah karena air mata yang tak jua reda. Perlahan, Erzan mengendurkan pelukannya. Betapa perih hatinya ketika melihat wajah yang begitu sembab dengan sorot mata yang penuh dengan luka.
"Jika, kamu masih ingin berteman dengan aku, letakkan topengmu. Jadilah Cyra yang aku kenal dulu."
"Cyra yang kamu kenal dulu sudah aku bunuh, Er. Dia terlalu banyak menanggung luka dan sakit. Daripada dia hidup, lebih baik dia mati."
"Jika, aku ingin menyembuhkan luka dan sakit yang dia derita selama ini. Apa kamu bisa menghidupkan Cyra kembali?"
Aruna terhenyak mendengar ucapan Erzan. Dia pun terdiam dengan mata yang terus memandang wajah lelaki tampan itu. Dia pun teringat akan ucapannya pada masa kecil dulu. Di mana ketika datang kembali ke sini dia ingin menikah dengan Erzan.
"Apa lelaki sempurna seperti kamu masih mau berteman dengan perempuan penuh noda seperti Cyra?"
"Kenapa kamu ragu? Bukankah kamu juga pernah mau berteman dengan anak laki-laki yang tak suka bersosialisasi?"
Perempuan itupun tersenyum dengan sangat indah. Senyum yang sama seperti waktu kecil dulu. Erzan sudah mengarahkan jari kelingkingnya. Aruna alias Cyra tertawa sambil menautkan jari kelingkingnya. Mereka seakan tengah mengulang momen waktu TK.
"Kenapa rasa ingin melindungi tiba-tiba hadir?"
"Dan Sejak kapan gua bisa iba kepada wanita selain keluarga?"
...**** BERSAMBUNG ****...
Mana nih komennya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Lies Atikah
kasian Runa kok ada orang tua seperti ituyah itumah bukan manusia tapi iblis
2025-01-03
0
nuraeinieni
aduh sedih dan miris hidupx aruna
2024-10-02
0
Indrijati Saptarita
lanjuuuuuuttt....
2024-09-27
0