Aera benar-benar tak bisa mendekati Erzan. Lelaki itu seakan tak mau jauh dari Aruna. Dan ayahnya begitu nyaman berbincang dengan keduanya.
"Antar ke kantor aja. Pak Bengbeng udah jemput di sana."
"Biar saya aja yang antar kamu," balas Erzan tanpa menoleh.
"Enggak, Er. Kasihan Pak Bengbeng udah nunggu aku di sana."
Tak ada jawaban dari Erzan. Pedal gas mulai dia injak dan mobil melaju cukup kencang.
"Er, aku masih ingin hidup!"
Mobil pun Erzan hentikan. Dia menoleh ke arah Aruna di mana bola matanya sudah menahan tangis.
"Cyra, saya min--"
"Aku turun di sini aja."
Pintu mobil Erzan kunci. Dia tak akan membiarkan Aruna turun.
"Er, aku mau turun!"
"Enggak!" tegasnya.
"Aku akan antar kamu ke kantor," ucapnya begitu lemah.
Tangannya pun terulur ke arah wajah Aruna. Dan sebuah kalimat keluar dari bibirnya.
"Maaf, saya sudah buatmu takut."
Mobil sudah berhenti di depan kantor. Tukang ojek langganan Aruna sudah menunggu di sana. Tak ada satu buah katapun yang terucap. Aruna keluar dari mobil dengan membisu. Erzan hanya menghembuskan napas sangat kasar.
"Masih terlalu banyak misteri di dalam diri kamu, Cyra," gumamnya yang masih menatap Cyra dari dalam mobil.
.
Malam ini Cyra merasakan jika ada yang tengah mengikutinya dari belakang. Dia ingin mengadu kepada Pak Bengbeng, tapi dia takut.
"Neng, boleh Bapak sedikit ngebut? Soalnya perut Bapak mules."
"Boleh, Pak."
Aruna menghela napas lega. Tuhan seperti memberikan bantuan kepadanya dengan cara Pak Bengbeng kebelet. Namun, tetap rasa takut itu masih menjalar di hati Aruna.
Tibanya di rumah, rasa takut itu semakin menjadi. Apalagi dia merasa lingkungan kosannya begitu sepi. Aruna segera membersihkan wajah dan tubuh. Tak dia hidupkan lampu kosan. Dan kembali dia tidur di dalam kamar mandi.
Tubuh Aruna bergetar ketika dia mendengar suara orang berjalan menyeret sendal. Jantungnya berdegup hebat. Apalagi dia masih merasakan berada di dalam mobil yang dibawa secara ngebut.
"Tuhan, tolong aku," gumamnya dengan suara yang bergetar hebat.
Mata Aruna sama sekali tak terpejam. Dia tak sabar ingin segera sang fajar datang. Bukan tanpa sebab, jika di pagi hari banyak orang yang berlalu-lalang. Tak menakutkan seperti sekarang.
Aruna tetap berangkat bekerja meskipun dia tak memejamkan mata. Pak Bengbeng sudah menunggunya di depan kosan. Mata Aruna terus memperhatikan sekeliling.
"Neng, ayo naik!"
"I-iya, Pak."
Rasa takutnya mulai hadir lagi. Dia terus merasa diikuti dari belakang. Dia ingin segera cepat sampai di kantor. Sayangnya, jalan cukup macet hingga sedikit terhambat.
Tibanya di kantor, Aruna segera naik ke lantai di mana dia bekerja. Langkahnya sangat dia percepat dan doa terus dia rapalkan. Perasaannya terus membuatnya gelisah. Dia merasa terus diikuti dari belakang.
Aruna segera berlari menuju mejanya. Jantungnya berdegup hebat ketika dia juga mendengar derap langkah yang semakin mengikutinya dari belakang.
"Tuhan, tolong jaga aku," batinnya.
Aruna segera bersembunyi di bawah kolong meja kerja. Tubuhnya sudah gemetar hebat. Tetiba rasa sakit di tubuhnya mulai menjalar. Bayang sebuah balok besar mulai hadir. Suara tamparan yang begitu nyaring terdengar di telinga. Refleks kedua tangan Aruna menutup kedua telinga dengan tubuh yang masih gemetar.
"Aruna--"
"Jangan pukul aku lagi!"
Kalimat itu terdengar dengan sangat gemetar.
"Sa-kit!"
Kepalanya menggeleng diiringi isakan yang begitu lirih. Terlihat bayang lelaki mendekat. Tubuh Aruna yang sudah dalam posisi jongkok terus berangsur mundur.
"Jangan mendekat! Aku mo-hon!"
"PE-PERGI!"
Isak tangis lirih pun terdengar. Teriakan demi teriakan mulai keluar dari mulut Aruna. Lelaki itupun segera pergi dan mulai menghubungi seseorang.
Erzan yang tengah berbincang di lobi dengan asisten Harsa, pengusaha muda di Zurich merogoh sakunya karena ponselnya bergetar. Dahinya mengkerut ketika melihat nama yang terpampang di sana.
"Hem."
"Ke depan ruangan lu sekarang!"
"Kenapa?"
"Aruna!"
Tanpa pamit dan mematikan panggilan dari Jimmy, Erzan segera berlari menuju lantai di mana ruangannya berada. Dia terus mengumpat tatkala lift selalu lama terbuka.
Erzan kembali berlari setelah lift terbuka di lantai di mana ruangannya berada. Dia melihat Jimmy yang berdiri melihat ke arah meja Aruna yang kosong, tapi terdengar isakan tangis.
"Di mana?"
Jimmy menunjuk ke arah kolong meja. Kaki Erzan mulai melangkah ke sana. Isak tangis penuh kepedihan dan kesakitan mampu Erzan dengar.
"Cyra," panggil Erzan dengan begitu lembut.
Wajah yang tertunduk mulai ditegakkan. Wajah yang sudah sangat basah dapat Erzan lihat. Juga wajah yang penuh kesedihan.
"Er--"
Erzan segera berhambur memeluk tubuh Aruna. Tangis Aruna pun kembali pecah. Erzan membiarkannya saja sampai Aruna puas menangis.
"Sa-kit, Er."
Lirih dan penuh kesedihan. Erzan hanya bisa mengusap punggung Aruna dengan lembut. Hatinya ikut perih mendengarnya.
"A-ku ta-kut."
"Ada saya di sini. Jangan takut."
Tangan Aruna semakin erat memeluk tubuh Erzan. Sedangkan Erzan tengah berpikir keras. Dugaaanya benar, banyak trauma yang Aruna derita.
Erzan memilih membawa Aruna ke ruangannya. Dia memberikan kode kepada Jimmy dan lelaki itupun mengangguk mengerti.
"Kamu istirahat saja di sini," ujar Erzan setelah Aruna duduk di sofa.
"Hari ini kan--"
"Semua jadwal sudah Jimmy cancel. Hari ini jadwal saya hanya mengecek laporan sambil menemani kamu di sini."
Senyum Aruna tak lantas menutupi pucat di bibirnya. Erzan menatap Aruna dengan begitu dalam. Tangannya terulur ke bagian wajah Aruna. Tanpa Erzan duga, Aruna meraih tangan Erzan yang ada di pipinya.
"Makasih, Er."
Erzan bergeming. Dia tak menjawab apapun. Namun, tak berapa lama Aruna merasakan keningnya begitu hangat karena lelaki itu dengan lembut mengecup kening Aruna tanpa permisi.
"Er--"
"Istirahatlah!"
Erzan merebahkan tubuh Aruna di sofa empuk. Menutup setengah tubuh Aruna dengan selimut lembut.
"Saya akan selalu ada di ruangan ini menemani kamu."
.
Semua laporan mengenai Aruna ketika tinggal di Eropa sudah dia terima. Akan tetapi, dia merasa banyak yang janggal dari laporan tersebut.
"Apa emaknya masih ikut campur?"
Erzan melihat ke arah sofa. Di mana tubuh Aruna miring menghadap sandaran. Erzan masih penasaran dengan sesuatu. Dia mendekat dengan pelan. Kebetulan baju yang Aruna gunakan memiliki kancing bagian belakang.
Tubuh Erzan menegang ketika dia melihat luka bekas goresan benda tajam yang begitu dalam. Tanpa ada jahitan sama sekali.
"Siapa yang melakukan ini?" geramnya di dalam hati.
Ketika Aruna sudah terbangun, Erzan segera mendekat. Senyum manis Aruna berikan. Namun, Erzan membalasnya dengan wajah yang begitu masam.
"Kita ke rumah sakit. Lakukan visum."
"Pelakunya akan saya bunuh dengan tangan saya sendiri."
...*** BERSAMBUNG ***...
I'm comeback. Ditunggu komennya, ya ... Ramein yuk komennya ..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Indah Alifah
kasian chyr
2024-11-08
0
Medy Jmb
Jangan2 bukan ibu kandung cyra
2024-10-31
0
Indrijati Saptarita
cyra... kasihan amat... ibu kandung nya tega sekali...
2024-09-29
0