18. Banyak Misteri

Aera benar-benar tak bisa mendekati Erzan. Lelaki itu seakan tak mau jauh dari Aruna. Dan ayahnya begitu nyaman berbincang dengan keduanya.

"Antar ke kantor aja. Pak Bengbeng udah jemput di sana."

"Biar saya aja yang antar kamu," balas Erzan tanpa menoleh.

"Enggak, Er. Kasihan Pak Bengbeng udah nunggu aku di sana."

Tak ada jawaban dari Erzan. Pedal gas mulai dia injak dan mobil melaju cukup kencang.

"Er, aku masih ingin hidup!"

Mobil pun Erzan hentikan. Dia menoleh ke arah Aruna di mana bola matanya sudah menahan tangis.

"Cyra, saya min--"

"Aku turun di sini aja."

Pintu mobil Erzan kunci. Dia tak akan membiarkan Aruna turun.

"Er, aku mau turun!"

"Enggak!" tegasnya.

"Aku akan antar kamu ke kantor," ucapnya begitu lemah.

Tangannya pun terulur ke arah wajah Aruna. Dan sebuah kalimat keluar dari bibirnya.

"Maaf, saya sudah buatmu takut."

Mobil sudah berhenti di depan kantor. Tukang ojek langganan Aruna sudah menunggu di sana. Tak ada satu buah katapun yang terucap. Aruna keluar dari mobil dengan membisu. Erzan hanya menghembuskan napas sangat kasar.

"Masih terlalu banyak misteri di dalam diri kamu, Cyra," gumamnya yang masih menatap Cyra dari dalam mobil.

.

Malam ini Cyra merasakan jika ada yang tengah mengikutinya dari belakang. Dia ingin mengadu kepada Pak Bengbeng, tapi dia takut.

"Neng, boleh Bapak sedikit ngebut? Soalnya perut Bapak mules."

"Boleh, Pak."

Aruna menghela napas lega. Tuhan seperti memberikan bantuan kepadanya dengan cara Pak Bengbeng kebelet. Namun, tetap rasa takut itu masih menjalar di hati Aruna.

Tibanya di rumah, rasa takut itu semakin menjadi. Apalagi dia merasa lingkungan kosannya begitu sepi. Aruna segera membersihkan wajah dan tubuh. Tak dia hidupkan lampu kosan. Dan kembali dia tidur di dalam kamar mandi.

Tubuh Aruna bergetar ketika dia mendengar suara orang berjalan menyeret sendal. Jantungnya berdegup hebat. Apalagi dia masih merasakan berada di dalam mobil yang dibawa secara ngebut.

"Tuhan, tolong aku," gumamnya dengan suara yang bergetar hebat.

Mata Aruna sama sekali tak terpejam. Dia tak sabar ingin segera sang fajar datang. Bukan tanpa sebab, jika di pagi hari banyak orang yang berlalu-lalang. Tak menakutkan seperti sekarang.

Aruna tetap berangkat bekerja meskipun dia tak memejamkan mata. Pak Bengbeng sudah menunggunya di depan kosan. Mata Aruna terus memperhatikan sekeliling.

"Neng, ayo naik!"

"I-iya, Pak."

Rasa takutnya mulai hadir lagi. Dia terus merasa diikuti dari belakang. Dia ingin segera cepat sampai di kantor. Sayangnya, jalan cukup macet hingga sedikit terhambat.

Tibanya di kantor, Aruna segera naik ke lantai di mana dia bekerja. Langkahnya sangat dia percepat dan doa terus dia rapalkan. Perasaannya terus membuatnya gelisah. Dia merasa terus diikuti dari belakang.

Aruna segera berlari menuju mejanya. Jantungnya berdegup hebat ketika dia juga mendengar derap langkah yang semakin mengikutinya dari belakang.

"Tuhan, tolong jaga aku," batinnya.

Aruna segera bersembunyi di bawah kolong meja kerja. Tubuhnya sudah gemetar hebat. Tetiba rasa sakit di tubuhnya mulai menjalar. Bayang sebuah balok besar mulai hadir. Suara tamparan yang begitu nyaring terdengar di telinga. Refleks kedua tangan Aruna menutup kedua telinga dengan tubuh yang masih gemetar.

"Aruna--"

"Jangan pukul aku lagi!"

Kalimat itu terdengar dengan sangat gemetar.

"Sa-kit!"

Kepalanya menggeleng diiringi isakan yang begitu lirih. Terlihat bayang lelaki mendekat. Tubuh Aruna yang sudah dalam posisi jongkok terus berangsur mundur.

"Jangan mendekat! Aku mo-hon!"

"PE-PERGI!"

Isak tangis lirih pun terdengar. Teriakan demi teriakan mulai keluar dari mulut Aruna. Lelaki itupun segera pergi dan mulai menghubungi seseorang.

Erzan yang tengah berbincang di lobi dengan asisten Harsa, pengusaha muda di Zurich merogoh sakunya karena ponselnya bergetar. Dahinya mengkerut ketika melihat nama yang terpampang di sana.

"Hem."

"Ke depan ruangan lu sekarang!"

"Kenapa?"

"Aruna!"

Tanpa pamit dan mematikan panggilan dari Jimmy, Erzan segera berlari menuju lantai di mana ruangannya berada. Dia terus mengumpat tatkala lift selalu lama terbuka.

Erzan kembali berlari setelah lift terbuka di lantai di mana ruangannya berada. Dia melihat Jimmy yang berdiri melihat ke arah meja Aruna yang kosong, tapi terdengar isakan tangis.

"Di mana?"

Jimmy menunjuk ke arah kolong meja. Kaki Erzan mulai melangkah ke sana. Isak tangis penuh kepedihan dan kesakitan mampu Erzan dengar.

"Cyra," panggil Erzan dengan begitu lembut.

Wajah yang tertunduk mulai ditegakkan. Wajah yang sudah sangat basah dapat Erzan lihat. Juga wajah yang penuh kesedihan.

"Er--"

Erzan segera berhambur memeluk tubuh Aruna. Tangis Aruna pun kembali pecah. Erzan membiarkannya saja sampai Aruna puas menangis.

"Sa-kit, Er."

Lirih dan penuh kesedihan. Erzan hanya bisa mengusap punggung Aruna dengan lembut. Hatinya ikut perih mendengarnya.

"A-ku ta-kut."

"Ada saya di sini. Jangan takut."

Tangan Aruna semakin erat memeluk tubuh Erzan. Sedangkan Erzan tengah berpikir keras. Dugaaanya benar, banyak trauma yang Aruna derita.

Erzan memilih membawa Aruna ke ruangannya. Dia memberikan kode kepada Jimmy dan lelaki itupun mengangguk mengerti.

"Kamu istirahat saja di sini," ujar Erzan setelah Aruna duduk di sofa.

"Hari ini kan--"

"Semua jadwal sudah Jimmy cancel. Hari ini jadwal saya hanya mengecek laporan sambil menemani kamu di sini."

Senyum Aruna tak lantas menutupi pucat di bibirnya. Erzan menatap Aruna dengan begitu dalam. Tangannya terulur ke bagian wajah Aruna. Tanpa Erzan duga, Aruna meraih tangan Erzan yang ada di pipinya.

"Makasih, Er."

Erzan bergeming. Dia tak menjawab apapun. Namun, tak berapa lama Aruna merasakan keningnya begitu hangat karena lelaki itu dengan lembut mengecup kening Aruna tanpa permisi.

"Er--"

"Istirahatlah!"

Erzan merebahkan tubuh Aruna di sofa empuk. Menutup setengah tubuh Aruna dengan selimut lembut.

"Saya akan selalu ada di ruangan ini menemani kamu."

.

Semua laporan mengenai Aruna ketika tinggal di Eropa sudah dia terima. Akan tetapi, dia merasa banyak yang janggal dari laporan tersebut.

"Apa emaknya masih ikut campur?"

Erzan melihat ke arah sofa. Di mana tubuh Aruna miring menghadap sandaran. Erzan masih penasaran dengan sesuatu. Dia mendekat dengan pelan. Kebetulan baju yang Aruna gunakan memiliki kancing bagian belakang.

Tubuh Erzan menegang ketika dia melihat luka bekas goresan benda tajam yang begitu dalam. Tanpa ada jahitan sama sekali.

"Siapa yang melakukan ini?" geramnya di dalam hati.

Ketika Aruna sudah terbangun, Erzan segera mendekat. Senyum manis Aruna berikan. Namun, Erzan membalasnya dengan wajah yang begitu masam.

"Kita ke rumah sakit. Lakukan visum."

"Pelakunya akan saya bunuh dengan tangan saya sendiri."

...*** BERSAMBUNG ***...

I'm comeback. Ditunggu komennya, ya ... Ramein yuk komennya ..

Terpopuler

Comments

Indah Alifah

Indah Alifah

kasian chyr

2024-11-08

0

Medy Jmb

Medy Jmb

Jangan2 bukan ibu kandung cyra

2024-10-31

0

Indrijati Saptarita

Indrijati Saptarita

cyra... kasihan amat... ibu kandung nya tega sekali...

2024-09-29

0

lihat semua
Episodes
1 1. Kapan Nikah?
2 2. Cinta Kedua
3 3. Sekretaris
4 4. CV
5 5. Interview Yang Terganggu
6 6. Aruna Cyra Sachikirani
7 7. Aturan Yang Akan Dilanggar
8 8. Dua Kepribadian
9 9. Masih Tetap Sama
10 10. Memecahkan Teka-Teki
11 POV. Aruna
12 12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma
13 13. Tujuan Hidup
14 14. Tukang Ojek
15 15. Tidak Sreg
16 16. Makan Siang
17 17. Rencana Yang Gagal
18 18. Banyak Misteri
19 19. Melakukan Yang Terbaik
20 20. Hipnoterapi
21 21. Trauma Begitu Dalam
22 22. Kerjasama
23 23. Effort Begitu Besar
24 24. Hubungan Yang Halal
25 25. Berjalan Lancar
26 26. Singa Muda
27 27. Hadiah Besar
28 28. Kesal
29 29. Mulai Bertindak
30 30. Bekerjasama
31 31. Jelmaan Iblis
32 32. Melawan
33 33. Kekuatan dan Ketakutan
34 34. Rumah
35 35. Empat Lawan Satu
36 36. Meminta Bantuan
37 37. Ayah Dari Tunangan Kamu
38 38. Rumah vs Tempat Singgah
39 39. Perempuan Gila
40 40. Akhir Penderitaan
41 41. ILY
42 42. Terlalu Antusias
43 43. Gantian Berjuang
44 44. Perjuangan Baru Dimulai
45 45. Menginap Di Rumah Mami
46 Pengumuman
47 47. Jika Cinta Tak Akan Mau Melihatnya Menderita
48 48. Effort Yang Sama Besar
49 Pengumuman
50 49. Di Balik Sakit Ada Bahagia
51 50. Janji Mengalahkan Nafsu
52 51. Meminta Restu
53 Pengumuman
54 53. Tak Mau Mati Muda
55 54. Menuju Wedding Impian
56 55. Wedding Impian
57 56. Cuti Sehari
58 57. Red Day
59 58. Merengut Kesal
60 59. Tak Sesuai Ucapan
61 60. Honeymoon Yang Harus Berakhir
62 61. Dingin Di Luar Hangat Di Dalam
63 62. Adonan
64 63. Pemberitahuan Untuk Keluarga Besar
65 65. Baru Dimulai
66 Nanya
67 66. Di Luar Nalar
68 67. Dikira Sudan Selsai
69 68. MISSION COMPLETED
70 69. Makhluk Sempurna
71 70. Saingan Baru
72 71. Bersyukur dan Beruntung
73 New Story
Episodes

Updated 73 Episodes

1
1. Kapan Nikah?
2
2. Cinta Kedua
3
3. Sekretaris
4
4. CV
5
5. Interview Yang Terganggu
6
6. Aruna Cyra Sachikirani
7
7. Aturan Yang Akan Dilanggar
8
8. Dua Kepribadian
9
9. Masih Tetap Sama
10
10. Memecahkan Teka-Teki
11
POV. Aruna
12
12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma
13
13. Tujuan Hidup
14
14. Tukang Ojek
15
15. Tidak Sreg
16
16. Makan Siang
17
17. Rencana Yang Gagal
18
18. Banyak Misteri
19
19. Melakukan Yang Terbaik
20
20. Hipnoterapi
21
21. Trauma Begitu Dalam
22
22. Kerjasama
23
23. Effort Begitu Besar
24
24. Hubungan Yang Halal
25
25. Berjalan Lancar
26
26. Singa Muda
27
27. Hadiah Besar
28
28. Kesal
29
29. Mulai Bertindak
30
30. Bekerjasama
31
31. Jelmaan Iblis
32
32. Melawan
33
33. Kekuatan dan Ketakutan
34
34. Rumah
35
35. Empat Lawan Satu
36
36. Meminta Bantuan
37
37. Ayah Dari Tunangan Kamu
38
38. Rumah vs Tempat Singgah
39
39. Perempuan Gila
40
40. Akhir Penderitaan
41
41. ILY
42
42. Terlalu Antusias
43
43. Gantian Berjuang
44
44. Perjuangan Baru Dimulai
45
45. Menginap Di Rumah Mami
46
Pengumuman
47
47. Jika Cinta Tak Akan Mau Melihatnya Menderita
48
48. Effort Yang Sama Besar
49
Pengumuman
50
49. Di Balik Sakit Ada Bahagia
51
50. Janji Mengalahkan Nafsu
52
51. Meminta Restu
53
Pengumuman
54
53. Tak Mau Mati Muda
55
54. Menuju Wedding Impian
56
55. Wedding Impian
57
56. Cuti Sehari
58
57. Red Day
59
58. Merengut Kesal
60
59. Tak Sesuai Ucapan
61
60. Honeymoon Yang Harus Berakhir
62
61. Dingin Di Luar Hangat Di Dalam
63
62. Adonan
64
63. Pemberitahuan Untuk Keluarga Besar
65
65. Baru Dimulai
66
Nanya
67
66. Di Luar Nalar
68
67. Dikira Sudan Selsai
69
68. MISSION COMPLETED
70
69. Makhluk Sempurna
71
70. Saingan Baru
72
71. Bersyukur dan Beruntung
73
New Story

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!