Kembali ke kantor malah dipusingkan dengan kinerja sekretarisnya yang baru. Semua berkas yang diserahkan oleh sekretarisnya dibanting ke atas meja. Erzan memijat kepalanya yang sudah sangat pusing. Ponsel pun dia raih.
"Ke ruangan gua!"
Siapa lagi jika bukan Jimmy yang dia hubungi. Jimmy Barata adalah asisten pribadi Erzan. Namun, dia memiliki ruangan tersendiri dikarenakan Erzan tak mau ada orang lain di ruangannya termasuk
Jimmy adalah manusia yang kesabarannya setebal dompet Erzan. Bukan tanpa sebab dia bertahan bekerja dengan lelaki tanpa ekspresi itu. Dia hanya seorang anak kuli bangunan, di mana dia membutuhkan uang untuk biaya pengobatan sang ibu yang tengah sakit parah. Dia mencoba melamar ke anak perusahaan Zenth Corporation dan diterima. Tiga bulan training dengan kinerja yang bagus, akhirnya dia diangkat menjadi asisten sang direktur utama, Erzan Akhtar Wiguna.
Awal bekerja dengan Erzan, dia merasa sangat tidak kuat. Mulut Erzan yang sangat berbisa. Emosi yang meluap-luap bahkan dia pernah ditonjok oleh lelaki itu karena berbuat kesalahan. Namun, demi kedua orang tuanya dia tetap bertahan. Tak dia pungkiri gaji di perusahan itu cukup besar untuk kalangan sepertinya. Dan seiring berjalannya waktu, dia melihat sisi lain dari Erzan.
Di balik sikapnya seperti itu, ada kebaikan yang tak pernah Erzan tunjukkan. Dia membiayai semua pengobatan sang ibu tanpa Jimmy tahu. Bahkan, ketika ibunya meninggal pun semua biaya pemakaman dan lainnya ditanggung oleh Erzan. Itulah kenapa sekarang dirinya mengabdi kepada Erzan. Bukan karena balas budi, tapi memang dia senang bekerja dengan Erzan.
Benar kata pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya karena kita tidak pernah tahu bagaimana isinya. Itulah Erzan. Jimmy pun merasa nyaman bekerja dengan lelaki itu. Meskipun terkadang sang bos tantrum tak jelas. Juga bisa mematikan sering keluar dari mulutnya, Jimmy akan santai saja dan menganggapnya hanya angin lalu.
Bahkan Erzan meminta Jimmy untuk tidak memanggilnya Bapak jika tengah berdua. Dia sangat tidak suka dengan panggilan tersebut. Apalagi mereka berdua seumuran. Itulah yang membuat mereka bukan seperti bos dan bawahan. Melainkan seperti teman.
"Kena--?"
"Cari sekretaris lain!"
Jimmy menghela napas sangat kasar. Dia menghampiri Erzan yang sudah memasang wajah sangat datar. Dia duduk tepat di depan meja Erzan.
"Berikan gua alasannya."
"BAU KETEK."
Jimmy berdecih. Dia melipat kedua tangannya dan menatap Erzan dengan sangat malas.
"BAPAK ERZAN.TERHORMAT," ucapnya penuh penekanan.
"Apakah Anda sadar jika sebulan ini saja sudah tujuh sekretaris yang Anda pecat. Tanpa ada alasan yang benar-benar masuk akal." Jimmy mulai memaparkan.
"Sekretaris pertama, alasannya kutuan."
"Sekretaris kedua, alasannya bibirnya gak simetris."
"Sekretaris ketiga, alasannya ada tahi lalat di atas bibir."
"Sekretaris keempat, alasannya karena mulutnya bau."
"Sekretaris kelima, alasannya mukanya lonjong kayak si Patrick."
"Sekretaris keenam karena rambutnya keriting."
"Dan sekarang karena bau ketek."
"Pertanyaan yang nempel sekarang di otak gua, YANG ENGGAK WARAS SIAPA?"
Jimmy pun sedikit murka. Namun, Erzan malah memasang wajah datar yang sangat amat menyebalkan.
"Setiap tiga hari sekali mereka Anda pecat. Di mana-mana masa training itu tiga bulan, BAPAK ERZAN," terang Jimmy dengan nada yang kesal.
"Bekerja dengan gua masa trainingnya lebih singkat. TIGA HARI!"
"Serah lu, Zan! Serah!" Jimmy pun frustasi.
"Makanya cari lagi! Apa susahnya sih?" bentak Erzan.
Jimmy memutar bola matanya kesal kepada sang atasan. Meskipun begitu, dia harus tetap mencarikan sekretaris yang baru daripada dia harus dibebani pekerjaan sekretaris. Menjadi asisten Erzan saja pekerjaannya segunung.
"Ada kriteria khusus gak?" tanya Jimmy.
"Kalau bisa mah yang seksi."
"Cari di tempat karaoke atau club," sahut Jimmy dengan sangat santai.
"Bang Sat!"
Kini giliran Jimmy yang memijat kepalanya. Direktur utama susah sungguh sangat sulit untuk ditebak. Apa yang dia mau harus dilaksanakan. Sungguh amat menyebalkan.
"Padahal dia yang nge-interview. Dia yang setuju, tapi dia yang mecat. Heran banget gua," omel Jimmy setelah dia duduk di kursinya.
Membuka kembali lowongan untuk jadi sekretaris Erzan. Sebenarnya Jimmy sudah capek setiap tiga hari sekali membuka lowongan pekerjaan. Tapi, bosnya malah bersikap seenaj jidat
"Udah dapat?" tanya Erzan ketika keesokan harinya.
"Banyak yang ngasih CV. Tapi, belum gua seleksi."
"Gua butuh dua kandidat. Pilih yang terbaik dari segi pengalaman," balas Erzan.
"Segi pendidikan gak lu nilai?"
"Banyak yang lulusan sarjana, tapi cuma kebanyakan gaya. Gua gak suka."
Begitulah Erzan dalam mencari karyawan. Dia tidak melihat seberapa tinggi tingkat pendidikan, tapi seberapa banyak pengalaman yang mereka miliki. Untuk meminimalisir ketidak cocokan, Jimmy membawa semua CV kepada Erzan. Biarkan dia yang memilih.
"Terus gunanya lu apa?" sergah Erzan ketika Jimmy sudah menyerahkan semua CV pelamar.
"Sekali-kali lu turun sendiri untuk mencari sekretaris yang sesuai dengan apa yang lu mau."
"Siyalan!" umpatnya dengan keras.
"Gua potong gaji lu!"
"Sesuka hati lu ajalah, Zan."
Jimmy pun berlalu meninggalkan ruangan Erzan. Umpatan demi umpatan yang terlontar tak membuat Jimmy marah. Dia memang tengah sengaja memancing ketantruman direktur utama.
Bukannya makan siang, Erzan mulai melihat CV yang tadi dibawa oleh Jimmy. Cukup banyak CV yang masuk. Satu per satu dia lihat dengan serius. Dia juga sudah lelah karena harus sering gonta-ganti sekretaris.
Alasan utama Erzan memecat tujuh sekretarisnya setelah tiga hari bekerja karena ketidakmampuan mereka dalam bekerja. Satu kali Erzan memaklumi, tapi ketika sudah tiga kali terus melakukan kesalahan sudah pasti Erzan tendang. Dia ingin mempekerjakan orang-orang yang berkompeten.
Saking seriusnya, dia tak melihat masih ada satu CV yang belum dia lihat. Sedangkan dia sedang memilih dua kandidat yang akan diinterview. Tengah serius ponselnya malah berdering. Dan nama Jimmy-lah yang tertera.
"Hmm."
"Mau makan siang apa?"
Jimmy tahu Erzan tengah sibuk melihat CV yang masuk dan akan lupa dengan jam makan. Makanya dia menghubungi Erzan dan menanyakan perihal makanan untuk makan siang.
"Gua lagi pengen burger sama kopi tanpa gula."
"Oke."
Jimmy adalah manusia yang selalu mengurus Erzan. Itulah yang membuat Erzan seakan tak memerlukan sosok perempuan pendamping.
Bolak-balik melihat CV para pelamar tak jua membuat Erzan bisa memilih. Bukan karena mereka terlalu bagus, tapi feeling Erzan mengatakan mereka tak ada yang berkompeten. Dia pun menyandarkan tubuhnya sambil memijat pangkal hidung yang terasa pusing. Seketika kedua alisnya beradu ketika masih ada satu CV di atas meja.
"Gua kira cuma segitu doang," gumam Erzan.
Tangannya mulai meraih CV yang tertinggal untuk diperiksa. Kedua alisnya semakin beradu ketika membaca nama si pelamar.
"Aruna Cyra Sachikirani," gumamnya. Nama itu tak asing untuknya.
Rasa penasaran pun mulai muncul. Dan wajahnya seketika berubah ketika melihat foto yang ada di CV.
"Wajahnya ... Namanya ...."
"Apa dia Cyra?"
...*** BERSAMBUNG ***...
Biasakan komen ya kalau udah habis baca. Jangan ditinggal begitu aja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Medy Jmb
Siapa sih kak Fie cyra? penasaran deh
2024-10-31
0
Sri Lestari
Siapa nie ,,,, dibab yang mana Mak ini dibahas
2024-08-31
0
Saadah Rangkuti
Dasar lu bambang! ada2 aje..Erzan punya 4 S ya mbak othor (susah sungguh sangat sulit) 😀😀
2024-08-31
0