16. Makan Siang

Aruna membeku mendengar kalimat yang baru saja Erzan katakan. Ada desiran di hatinya. Apalagi dia melihat senyum musiman terukir di wajah tampan teman kecilnya itu.

Aruna akui ketika dia menjadikan Erzan tujuan hidupnya, rasa traumanya berangsur menghilang. Di mana sudah dua malam ini dia bisa tidur nyenyak di atas kasur. Dan ketika pulang lebih awal kemarin dia bisa tidur siang tanpa adanya rasa takut yang bersarang. Ditambah dia merasakan banyak orang yang menjaganya di luar.

Mereka berdua masih saling pandang dengan sorot mata yang saling bercerita. Tangan Erzan pun masih menggenggam erat tangan Aruna. Suara ponsel di atas meja membuat Aruna memutus pandangannya. Terdengar decakan kecil dari mulut Erzan.

Erzan meraih ponselnya, melihat nama yang tertera di sana. Tanpa Aruna duga, Erzan kembali meletakkan ponselnya.

"Kenapa gak dijawab?"

"Enggak penting."

Aruna tersenyum kecil. Dia bisa menebak siapa yang menghubungi Erzan.

"Pacar kamu itu," sinisnya.

Erzan hanya tersenyum. Lalu, memutar kursinya dan mulai menatap ke arah laptop.

"Er!"

"Apa belum jelas ucapan saya tadi??" tanya Erzan tanpa menoleh sedikit pun.

"Ambigu."

Erzan malah tertawa dan itu membuat Aruna kesal. Dia meninggalkan tempat itu dengan wajah ditekuk. Pintu ruangan Erzan pun dia banting cukup keras. Sang atasan hanya tersenyum lucu.

"Kenapa gua kesal begini?" gumam Aruna setelah tiba di mejanya.

Hembusan napas kasar pun keluar. Dia memejamkan matanya untuk sesaat. Mengatur napas agar emosinya kembali normal.

"Dia enggak mungkin suka sama kamu, Aruna. Dia langit, sedangkan kamu dasar bumi yang paling dalam," batinnya.

Tengah anteng mengerjakan pekerjaan yang cukup banyak, suara langkah seseorang terdengar mendekat. Aruna mulai menegakkan kepala. Wanita cantik yang kemarin kembali datang.

"Saya ingin bertemu Erzan."

Kepala yang mulai dingin, kini berasap lagi. Aruna menatap tajam wanita yang dia akui sangat cantik.

"Saya kan sudah bilang, Mbak. Jika, ingin bertemu dengan Pak Erzan harus membuat janji terlebih dahulu. Jadwal Beliau setiap hari sangat padat," jelasnya penuh penekanan.

"Tolong panggilkan saja," titahnya dengan santai.

Aruna menggelengkan kepala. Dia memilih untuk tidak meladeni wanita itu. Kembali fokus dengan layar laptop-nya.

"Kamu dengar saya gak?" bentak wanita yang terlihat lembut tersebut.

Ya, Aruna sengaja mengabaikannya. Dan hampir lima menit wanita itu berdiri di depan mejanya tanpa dia respon.

"Mbak juga dengar saya ENGGAK?" tekan Aruna.

"Saya sudah bilang kalau harus membuat janji terlebih dahulu."

Wanita itu terlihat murka. Dia menggebrak meja Aruna.

"Saya akan laporkan ke Erzan bahwa sekretarisnya tak memiliki etika. Dan bersiaplah kamu dipecat."

"Silahkan!" tantang Aruna.

"Emangnya Mbak siapanya Pak Erzan?" Aruna pun mulai songong.

"Saya calon istrinya."

Sangat percaya diri sekarang jawabannya. Namun, itu mampu membuat tubuh Aruna menegang. Baru pagi tadi Erzan mengatakan jika dia tak ingin pacaran. Dia ingin mencari seseorang untuk diajak serius menuju janji pernikahan.

Melihat Aruna yang terdiam membuat wanita itu merasa menang. Dia tersenyum mengejek. Hingga suara seseorang terdengar. Aruna pun segera menyadarkan dirinya.

"Kenapa ada orang asing di sini?" tanya Jimmy sembari mengerutkan dahi.

"Orang asing? Jika, benar wanita itu calon istri Erzan sudah pasti Pak Jimmy tahu. Tapi--"

"Saya Aera," ujar wanita itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Jimmy.

Tak lantas meraih uluran tangan itu, Jimmy malah melihat Aera dengan tatapan penuh selidik.

"Saya calon--"

Jimmy malah berlalu begitu saja. Padahal, Aera belum selesai berbicara. Tangan Aera pun masih terulur.

Ingin rasanya Aruna terbahak. Namun, dia harus menahannya. Meskipun, sesekali senyumnya tak bisa dia tahan. Merasa diejek, Aera mengeluarkan ponselnya sembari menatap tajam ke arah Aruna.

"Habis kamu," ancamnya kepada Aruna.

Aera mencoba menghubungi seseorang, tapi tak jua dijawab dan itu tak luput dari pandangan Aruna. Pintu ruangan Erzan pun terbuka. Aera berharap itu Erzan yang keluar seperti pahlawan. Ternyata bukan.

"Aruna, siapapun orang yang ingin bertemu dengan Pak Erzan harus membuat janji terlebih dahulu. Tak ada pengecualian."

Aruna pun mengangguk. Dan Jimmy menatap sinis ke arah Aera. Setelah Jimmy berlalu, Aruna kembali menatap Aera.

"Mbak denger sendiri kan?" imbuh Aruna.

"TAK ADA PENGECUALIAN."

Aruna kembali ke pekerjaannya. Dia berharap Aera akan pergi meninggalkan kantor. Ternyata wanita itu masih menunggu di sofa khusus para tamu. Ingin mengusir, tapi dia tak memiliki hak apapun.

"Terserah dia ajalah," gumamnya sangat pelan.

Tepat di jam makan siang pintu ruangan Erzan terbuka. Baru saja Aruna menoleh, dia sudah melihat Aera berhambur memeluk tubuh tegap Erzan. Mata Aruna dan Erzan pun bertemu. Namun, Aruna segera memalingkan wajahnya. Dan kalimat yang begitu lembut terdengar.

"I Miss you so much, Erzan."

Aruna memilih untuk segera pergi dari sana. Dia tak ingin melihat adegan manis yang membuat hatinya miris. Baru dua langkah menjauhi mejanya, sebuah kalimat membuat tubuhnya membeku.

"Cyra Sayang."

Matanya tetiba panas jika mendengar nama masa kecilnya dipanggil. Dan hanya Erzan yang tahu nama itu. Perlahan, Aruna memalingkan wajahnya. Erzan sudah menghampirinya. Senyum musiman pun dia ukirkan. Tanpa Aruna sangka, Erzan menggenggam tangannya.

"Er-zan," panggil Aera dengan suara bergetar.

Lelaki itupun menoleh. Dia melihat mata Aera sudah merah.

"Aku harap kamu mengerti."

Kalimat itu membuat Aruna menatap Erzan. Dia merasa sedang menjadi alat untuk memanasi Aera. Apalagi Erzan menggunakan kata 'aku' untuk memanggil dirinya. Sedangkan kepada Aruna kata 'saya' yang Erzan gunakan.

"Er, aku sengaja datang ke sini untuk ngajak kamu makan siang. Sudah lama kan kita gak ketemu dan berbincang." Aera sudah mulai menjual kesedihan.

Merasa tidak tega karena dia juga tahu bahwa Aera sudah menunggu cukup lama. Akhirnya, Erzan pun menerima ajakan makan siang Aera, tapi dengan syarat dia mengajak Aruna.

Aruna hanya terdiam selama perjalanan. Aera begitu berisik dan selalu mencari perhatian kepada Erzan. Lelaki yang berada di belakang kemudi hanya menjawabnya dengan 'hem'.

Aera selalu berusaha mencondongkan tubuhnya ke arah Erzan. Aruna yang merasa risih mulai menautkan tangan kanannya ke tangan kiri Erzan. Lelaki yang berada di belakang kemudi itupun menoleh karena sedikit terkejut. Senyum yang begitu cantik Aruna berikan dan mampu menular kepada Erzan.

"Biar makin panas dramanya," batin Aruna.

Mulut Aera yang berisik pun kini diam melihat tangan Erzan dan Aruna yang saling bertaut. Dia mulai memundurkan tubuhnya dan duduk manis di kursi belakang.

Tibanya di restoran yang Aera pilih, Aera segera merangkul lengan Erzan di mana Aruna baru menutup pintu mobil. Namun, Aruna tak tinggal diam. Dia segera menghampiri Erzan.

"Mas Er," panggil Aruna begitu manja dengan tangan yang sudah terulur.

Erzan yang terkejut dengan panggilan itu terdiam untuk sesaat karena dia merasa hatinya tergelitik hebat dengan panggilan yang begitu manis baginya.

"Aku udah lapar banget, Mas."

Erzan si wajah triplek pun kini menyunggingkan senyum. Dia melepaskan rangkulan Aera dan menyambut uluran tangan Aruna. Senyum pun merekah di bibir Aruna.

Dia menoleh ke belakang di mana Aera masih mematung. Dan dengan sengajanya dia menjulurkan lidah ke arah Aera.

"Cewek siyalan!"

...**** BERSAMBUNG ****...

Mana ini komennya? Coba yang biasa komen, tinggalkan komennya. Yang jadi ghost rider sesekali muncullah. Ramaikan kisah ini 🤧

Terpopuler

Comments

Lies Atikah

Lies Atikah

si Erzan mah pin plan Ga Je banget hati2 Arun mesti tau dulu siapa si aera

2025-01-05

0

Medy Jmb

Medy Jmb

Aera, Nian itu kulkas 7 pintu😀😀😀

2024-10-31

0

nuraeinieni

nuraeinieni

kwkwkwkw,,,mantap aruna,,,biarkan si aera panas,,😃

2024-10-03

0

lihat semua
Episodes
1 1. Kapan Nikah?
2 2. Cinta Kedua
3 3. Sekretaris
4 4. CV
5 5. Interview Yang Terganggu
6 6. Aruna Cyra Sachikirani
7 7. Aturan Yang Akan Dilanggar
8 8. Dua Kepribadian
9 9. Masih Tetap Sama
10 10. Memecahkan Teka-Teki
11 POV. Aruna
12 12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma
13 13. Tujuan Hidup
14 14. Tukang Ojek
15 15. Tidak Sreg
16 16. Makan Siang
17 17. Rencana Yang Gagal
18 18. Banyak Misteri
19 19. Melakukan Yang Terbaik
20 20. Hipnoterapi
21 21. Trauma Begitu Dalam
22 22. Kerjasama
23 23. Effort Begitu Besar
24 24. Hubungan Yang Halal
25 25. Berjalan Lancar
26 26. Singa Muda
27 27. Hadiah Besar
28 28. Kesal
29 29. Mulai Bertindak
30 30. Bekerjasama
31 31. Jelmaan Iblis
32 32. Melawan
33 33. Kekuatan dan Ketakutan
34 34. Rumah
35 35. Empat Lawan Satu
36 36. Meminta Bantuan
37 37. Ayah Dari Tunangan Kamu
38 38. Rumah vs Tempat Singgah
39 39. Perempuan Gila
40 40. Akhir Penderitaan
41 41. ILY
42 42. Terlalu Antusias
43 43. Gantian Berjuang
44 44. Perjuangan Baru Dimulai
45 45. Menginap Di Rumah Mami
46 Pengumuman
47 47. Jika Cinta Tak Akan Mau Melihatnya Menderita
48 48. Effort Yang Sama Besar
49 Pengumuman
50 49. Di Balik Sakit Ada Bahagia
51 50. Janji Mengalahkan Nafsu
52 51. Meminta Restu
53 Pengumuman
54 53. Tak Mau Mati Muda
55 54. Menuju Wedding Impian
56 55. Wedding Impian
57 56. Cuti Sehari
58 57. Red Day
59 58. Merengut Kesal
60 59. Tak Sesuai Ucapan
61 60. Honeymoon Yang Harus Berakhir
62 61. Dingin Di Luar Hangat Di Dalam
63 62. Adonan
64 63. Pemberitahuan Untuk Keluarga Besar
65 65. Baru Dimulai
66 Nanya
67 66. Di Luar Nalar
68 67. Dikira Sudan Selsai
69 68. MISSION COMPLETED
70 69. Makhluk Sempurna
71 70. Saingan Baru
72 71. Bersyukur dan Beruntung
73 New Story
Episodes

Updated 73 Episodes

1
1. Kapan Nikah?
2
2. Cinta Kedua
3
3. Sekretaris
4
4. CV
5
5. Interview Yang Terganggu
6
6. Aruna Cyra Sachikirani
7
7. Aturan Yang Akan Dilanggar
8
8. Dua Kepribadian
9
9. Masih Tetap Sama
10
10. Memecahkan Teka-Teki
11
POV. Aruna
12
12. Tujuan Hidup Untuk Luka dan Trauma
13
13. Tujuan Hidup
14
14. Tukang Ojek
15
15. Tidak Sreg
16
16. Makan Siang
17
17. Rencana Yang Gagal
18
18. Banyak Misteri
19
19. Melakukan Yang Terbaik
20
20. Hipnoterapi
21
21. Trauma Begitu Dalam
22
22. Kerjasama
23
23. Effort Begitu Besar
24
24. Hubungan Yang Halal
25
25. Berjalan Lancar
26
26. Singa Muda
27
27. Hadiah Besar
28
28. Kesal
29
29. Mulai Bertindak
30
30. Bekerjasama
31
31. Jelmaan Iblis
32
32. Melawan
33
33. Kekuatan dan Ketakutan
34
34. Rumah
35
35. Empat Lawan Satu
36
36. Meminta Bantuan
37
37. Ayah Dari Tunangan Kamu
38
38. Rumah vs Tempat Singgah
39
39. Perempuan Gila
40
40. Akhir Penderitaan
41
41. ILY
42
42. Terlalu Antusias
43
43. Gantian Berjuang
44
44. Perjuangan Baru Dimulai
45
45. Menginap Di Rumah Mami
46
Pengumuman
47
47. Jika Cinta Tak Akan Mau Melihatnya Menderita
48
48. Effort Yang Sama Besar
49
Pengumuman
50
49. Di Balik Sakit Ada Bahagia
51
50. Janji Mengalahkan Nafsu
52
51. Meminta Restu
53
Pengumuman
54
53. Tak Mau Mati Muda
55
54. Menuju Wedding Impian
56
55. Wedding Impian
57
56. Cuti Sehari
58
57. Red Day
59
58. Merengut Kesal
60
59. Tak Sesuai Ucapan
61
60. Honeymoon Yang Harus Berakhir
62
61. Dingin Di Luar Hangat Di Dalam
63
62. Adonan
64
63. Pemberitahuan Untuk Keluarga Besar
65
65. Baru Dimulai
66
Nanya
67
66. Di Luar Nalar
68
67. Dikira Sudan Selsai
69
68. MISSION COMPLETED
70
69. Makhluk Sempurna
71
70. Saingan Baru
72
71. Bersyukur dan Beruntung
73
New Story

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!