Seperti yang mamanya perintahkan kemarin, Abri benar benar pulang menuruti perkataan mamanya di malam berikutnya yaitu pulang, ia pulang setelah dua bulan tak pulang. Abri melepas helmnya menatap rumah megah yang tentunya merupakan kediaman kedua orangtuanya.
"Inget pulang bang?"
Sambutan pertama yang ia dapatkan setelah mengucapkan salam adalah pertanyaan sang mama yang terlihat sedang menyiapkan makan malam namun tak di jawab Abri sama sekali.
"Sudah mutungmu?" Kali ini pertanyaan dari sang papa yang terkesan datar tengah menonton berita di ruang keluarga masih mengenakan sarung khas bapak bapak sepertinya baru pulang dari masjid.
"Abang gak mutung," tentu saja dia tak membenarkan perkataan papanya karena menurutnya ia tak seperti itu.
"Terus?"
Lagi lagi Abri tak menjawab, ia berjalan ke dapur membuka kulkas mengambil air dingin di sana dan langsung meneguknya.
Jujur ya Abri yang seperti ini lebih lebih Argan, Argan itu luarnya aja terlihat datar, dingin dan cuek bebek tapi ia memiliki hati yang hangat ketika bersama keluarganya. Sedangkan Abri ini dari luar ia memang ramah, humble, murah senyum, penyayang, dan hangat tapi ketahuilah jika memang ada yang tak sejalan dengan apa yang ia inginkan, tak sejalan dengan apa yang dia mau atau sedang tidak suka dengan sesuatu seperti sekarang ini dia pasti lebih banyak diam, dingin dan cuek bahkan dengan keluarganya sekali pun begitulah Abri.
Nada dan Saga saling melirik lalu sama sama menghela nafas pelan.
"Jadi gimana bang?" Tanya mama Nada lagi.
"Apanya ma?"
"Perjodohan itu? Kenapa tiba tiba Abang bisa berubah pikiran?"
"Ya bisa ma," jawab Abri ogah ogahan, mengambil buah jeruk di dalam kulkas sebelum akhirnya menutupnya kembali.
"Penyebabnya?"
Abri duduk di meja makan membuka kulit jeruk itu "karena mama mau Abri nikahkan, papa juga." Jawabnya tak semangat, ia bahkan tak menatap papa dan mamanya saat berbicara. Sepertinya ia benar benar ngambek karena di paksa menikah.
"Jadi kapan rencananya pertemuan keluarga di lakukan?" Tanya papa Saga menatap istrinya yang duduk di sebelahnya.
"Dua hari lagi mas. Bu Abraham mengaturnya lusa untuk kita melakukan pertemuan keluarga." Papa Saga mengangguk.
"Gimana bang?" Tanya papa Saga beralih pada sang putra.
"Terserah papa mama aja," pasrah Abri. "Abang naik," ia bangkit dari kursinya.
"Gak makan dulu?"
"Gak, Abang masih kenyang," lalu Abri benar-benar pergi naik ke kamarnya.
Setibanya di dalam kamar ia langsung pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena saat dari kesatuan ia tadi belum sempat mandi juga, bahkan baju dinasnya saja masih Abri pakai.
Air dari shower langsung membasahi tubuh tegap bak gapura kabupaten itu, Abri mendongakkan kepalanya menyapu air yang membasahi kepalanya lebih dulu menggunakan sebalah tangan dengan matanya memejam menikmati dan berharap air dingin yang mengguyur tubuhnya itu juga dapat mendinginkan pikirannya yang ingin terus memberontak dan tak ingin perjodohan ini terjadi. Tapi balik lagi, ia sadar yang di hadapinya kali ini bukan cuma orangtuanya saja tapi jenderal bintang empat yang kemungkinan akan menjadi mertuanya itu juga. Bisa bisa ia di buang ke sarang buaya karena itu lebih manakutkan dari sarang mafia.
Wajah Moza pun terngiang di benaknya. Iya, Abri akui gadis itu cantik, bahkan untuk seorang perempuan Moza itu kelewat cantik, laki laki mana sih yang gak tertarik setelah melihat kecantikannya itu dan Abri menjadi salah satu di antaranya. Hanya saja... Pernikahan itu bukan permainan lebih lebih di saat hatinya itu berantakan seperti ini. Banyak yang ia takutkan, salah satunya adalah jatuh cinta lagi, ia takut suatu saat jatuh cinta pada gadis itu dan ketika perasaannya sudah di tahap kedalaman yang tak mampu di ukur lagi, ia akan di tinggalkan memilih pria yang setiap saat selalu berada di sisinya.
Abri takut!
"Aku bodoh ya ran? Kamu buat aku sesakit ini pun aku masih gak bisa hapus kamu dari sana. Kenapa harus buat aku jatuh terlalu dalam kalau kamu cuma mau berpaling? Udah lima tahun ran, udah lima tahun. Tapi kenapa kamu masih gak mau pergi dari sana." Abri meninju tembok kamar mandi dengan sekuat tenaga melampiaskan perasaannya yang menurutnya kelewat bodoh hanya karena seorang perempuan.
Abri menyudahi mandinya. Berjalan ke balkon membawa ponselnya dan mengetikkan nama seseorang di sana. Sepertinya ia harus bercerita dengan seseorang agar tenang.
"Hm, apaan?" Suara serak pria dari seberang sana sangat jelas terdengar. Seperti tidurnya terganggu karena panggilan dari Abri.
"Salam kek dek," ya, dia menelpon adiknya, Argan. Ia tau jika berbicara dengan si kulkas ini pikirannya agak sedikit tenang dan terbuka. Keduanya memang kakak beradik yang cukup dekat, bahkan akan saling berbagi curhatan ketika mereka mempunyai sesuatu yang menganggu pikiran masing masing. Jika dengan Aidan keduanya tidak begitu karena tau sendiri mulut si bungsu itu seperti petasan banting yang tak bisa di pancing sedikit bisa meledak kapan Saja. Bisa bisa yang seharusnya jadi rahasia negara malah jadi go public hanya karena mulut Aidan yang remnya kelewat blong.
Argan terdengar berdecak di sebrang sana karena tidurnya terganggu "Gak tau waktu banget jam dua malam loh ini! ada masalah apa?" Tak mengindahkan apa yang di katakan kakaknya Argan malah sudah tau apa tujuan Abri menghubunginya lewat panggilan internasional yang cukup menguras kantong. Bener bener buang buang duit Abri ini.
Abri terkekeh "hapal banget."
"Bau masalah Abang aja kecium sampai sini."
Tawa Abri seketika pecah.
"Semenyengat itu ya gan masalah abang?" Ia tersenyum miris.
"Buruan," Argan mengalihkan. Ia ingin segera lanjut tidur lagi.
Abri menyisir rambutnya dengan jari kebelakang lalu membalik tubuhnya untuk bersandar di pembatas balkon. "Abang di jodohkan."
Argan tidak terkejut sama sekali "Sama cewek mana lagi?"
"Masih sama."
"Bukannya Lo tolak?"
Abri menengadahkan kepalanya menatap langit "iya, itu kan dua bulan yang lewat."
"Terus?"
"Dan kemarin Abang berubah pikiran, Abang terima perjodohan itu."
"Mama yang maksa?"
Abri menggelengkan kepalanya "Enggak, malah kamu tau gak gan bapaknya yang maksa Abang buat nikahi dia."
"Dan itu penyebabnya Lo berubah pikiran?"
"Lebih tepatnya Abang di paksa harus bilang iya."
Argan lagi lagi mendengus "Drama banget hidup Lo."
Abri terkekeh, membenarkan perkataan Argan. Hidupnya memang penuh dengan drama semenjak mengenal yang namanya perempuan. Di buat cinta mati, terus di tinggal nikah pas lagi sayang sayangnya, menjadi gagal move on sampai lima tahun lamanya dan berakhir di jodohkan dengan anak seorang jenderal yang ternyata gadis yang sudah beberapa kali ia temui dan ia selamatkan. Sangat penuh drama sekali.
"Curhatan Lo kali ini salah tempat."
"Salah tempat?"
"Hm, curhat ke sang pencipta sana."
Astaga Abri melupakan itu.
Terdengar helaan nafas dari Argan yang mengisyaratkan bahwa akan ada kalimat panjang yang menguras energinya kali ini dan Abri siap untuk mendengarnya.
Terdengar suara grasak-grusuk sebelum Argan memberi pencerahan pada kakaknya yang kehilangan arah dan tujuan hidup itu. "Saran gue bang, Lo harus lupain dia. Dia aja udah hidup bahagia di luar sana dan bahkan dia gak tau Lo masih hidup dan bernafas di bumi sampai gagal move on bertahun tahun gini. Sadar bang, dunia Lo itu luas, bukan cuma mau mikirin dia doang, bukan juga isinya cuma dia. Siapa tau perjodohan ini itu jalan buat Lo lupain dia. Gak ada salahnya buat coba lapang dada kan?"
Abri menghela nafas dan masih diam karena tau kalau Argan sudah memberikan pencerahan tak akan cukup satu paragraf.
"Jangan buat hidup Lo menyedihkan bang dengan menggalaui istri orang begini. Lo ganteng, Lo mapan, semua yang di mau perempuan ada di Lo. Dan bahkan tuhan langsung sediakan perempuan tanpa Lo susah susah harus cari kesana kemari. Jadi manfaatkan apa yang ada. Manfaatkan dengan baik apa yang udah di kasih yang maha kuasa. Mungkin awalnya susah buat coba. Tapi kalau Lo gak niat buat lupain dia sama aja. Sampai gue punya cucu juga Lo gak akan nikah nikah. Jadi coba buka lembaran baru bang. Tutup buku Lo yang udah usang, yang bahkan gak ada satu huruf lagi yang akan di ulang disana."
Abri diam sampai akhir, sesekali kepalanya mengangguk membenarkan apa yang di katakan adiknya lalu berakhir dengan tersenyum senang karena setidaknya pikirannya kini tenang dan di penuhi hal positif yanga di katakan adiknya barusan.
Dia antara mereka bertiga cuma Argan yang bijak sendiri. Ya walaupun kadang dia itu cuek bebek kalau di ajak ngomong. Tapi kalau dia di butuhkan menjadi tempat keluh kesah pasti ia akan memberikan saran yang membuat otak siapapun terbuka. Ya seperti Abri ini.
"Perkataanmu gak ada yang salah."
Argan balas menggumam saja karena masih mengantuk "Dah lah, gue mau tidur Lo ganggu! Inget omongan gue. Assalamualaikum." Dan akhirnya ia mengakhirinya setelah tenaganya terkuras habis untuk menasehati kakaknya.
"Waalaikumsalam."
Setelah itu Abri diam melamun cukup lama di balkon dengan angin yang menerpa kulit tubuhnya yang tak mengenakan atasan itu sambil memikirkan setiap apa yang di katakan Argan. Apa dia benar benar harus mencobanya? Apa dia benar benar harus membuka lembaran baru seperti yang Argan katakan? Tidak ada salahnya sih mencoba, hanya saja. Abri masih ragu untuk melangkah. Ia takut membuka lebaran yang salah, ia takut melangkah dan salah berpijak kembali dan memperparah hidupnya.
Matanya memejam cukup lama sambil berusaha membuang pikiran pikiran negatif yang seliweran di kepalanya. "Coba bri, coba. Hal yang sama gak akan terjadi untuk kedua kalinya," Dan seperti yang Argan katakan mungkin perjodohan ini itu adalah jalan untuk ia bisa melupakan mantan kekasihnya.
"Ya, gak ada salahnya mencoba."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
DozkyCrazy
Rania y mantan nya ABRI?? yg atas nya Yura waktu magang
2024-11-13
1
Sulfia Nuriawati
kok blm up lg y,?
2025-02-12
0
Sukemi Nak Murtukiyo
ayooo Up nya bpk loreng ini,,,,,jangan klamaan kak,,,,,
2024-10-04
1