Keanehan Abri

"Kaptenmu itu kenapa bam? Kerasukan? Udah mau jam sepuluh loh ini, ngapa dia masih lari lari?" Tanya Gilang memperhatikan Abri sejak jam delapan tadi berlari lari mengelilingi lapangan istirahat sebentar lanjut muter muter lagi. Apa gak capek?

Ibam yang tengah melakukan video call dengan pacarnya menoleh, mengedikkan bahu "lari dari kenyataan mungkin." Lalu setelahnya tergelak dengan beberapa rekannya yang lain.

"Tapi gak biasa biasanya loh komandan kek gitu. Abis pulang dari rumah mamaknya mukanya udah kek sempak gak ganti seminggu, lecek kali." Dengan logat Medannya Denis berucap.

Ya, saat ini semua anggota Abri tengah duduk di teras barak bujang Meraka dengan memperhatikan sang kapten yang tak ada lelahnya mengitari lapangan yang bertepatan terletak di depan barak mereka.

"Iya, ko betul sekali. Beta se su jua perhatikan kapten Abri seng dapat telepon dari dia su punya mama tapi tra di angkat, malah di tolak. Aneh to? Biasanya dia paling tra da bisa kalau su tolak panggilan dari dia su punya mama e." Dico ternyata juga menyadari kejanggalan yang terjadi pada Abri.

Yang lain mengangguk membenarkan apa yang di katakan Dico lantas kepala keempat anggota Abri itu menoleh ke sang komandan yang saat ini tengah meneguk air minum di pinggir lapangan sambil duduk di atas rumput tak lupa dengan nafas yang sudah ngos ngosan dan juga wajah nelangsanya.

"Jangan bilang dia kelilit utang gara gara main slot terus jual mobil Rubiconnya buat bayar utang dan ketauan mamanya."

Tak!

Satu jitakan mendarat di kepala Gilang yang di lakukan oleh Ibam dengan tidak estetik "kepala bapak kau itu main slot! abislah burungnya paok kalo sampe ketauan sama bapaknya dia main slot."

"Ya kan mana tau, gue ka nebak aja."

Sementara Marvin si anak baru hanya muter sana muter sini memperhatikan rekannya yang lain tengah berbicara dan malah memperdebatkan masalah sang kapten yang kalau menurutnya bukan urusan mereka untuk di urusi.

_________________

Beberapa minggu telah berlalu...

Dan Minggu pun tiba, seperti malam Minggu pada umumnya, barak bujang di penuhi dengan aroma parfum yang aromanya berbeda-beda. Belum lagi para penghuninya yang sekarang hampir berpenampilan rapih semua, bukan rapih menggunakan seragam tapi rapih dengan menggunakan setelan biasa. Mengingat malam ini malam Minggu, jadilah seluruh penghuni itu bersiap-siap akan keluar. Ada yang ingin berkumpul di kafe, ada yang ingin ngapel, ada yang sekedar ingin jalan-jalan. Terkecuali Abri, pria itu hanya diam berbaring di atas ranjang menatap langit langit kamar.

"Abang gak balek lagi malam ini?" tanya Ibam, membongkar lemarinya entah mencari apa. Kalau Ibam ini cowok terbucin di barak bujang ini, tiap malam Minggu kalau punya waktu pasti ya ngapel.

"Gak," jawab Abri enteng, lengannya ia letakkan diatas jidat dan memejamkan mata.

"Kenapa?" Denis ikut nimbrung sambil memakai celana jeans miliknya.

Mereka sudah memperhatikan Abri di beberapa malam libur tidak pernah pulang seperti biasanya, sangat aneh sekali tapi saat di tanya pasti jawabannya 'males,' Kan, aneh kan?

Abri nampak berpikir cukup lama, menimbang-nimbang. Namun setelahnya ia berucap "males." Dan ini jawaban males yang kesekian kalinya.

"Gak percaya aku! Bang Abri yang tiap malam Minggu izin IB untuk ketemu orangtua tiba-tiba berapa malam ini gak mau pulang karena cuma males? Mana percaya aku," ucap Denis, perasaannya semakin janggal saja dengan keanehan kaptennya akhir akhir ini dengan keluarganya. Dan semua rekan sekamar Abri yang ada disana turut membenarkan perkataan Denis, mereka semua tau seberapa sayangnya Abri dengan keluarganya hingga jika tidak tugas di malam Minggu ia pasti akan izin IB, pulang ke rumah orangtuanya dan sekarang tiba-tiba di beberapa malam libur ini dia bilang malas pulang? Bohong sekali.

"Izin bang, apa akhir akhir ini Abang punya masalah sama keluarga?" akhirnya Marvin si anak baru ikut angkat suara. Nah, si Marvin yang di bilang baru bergabung dengan mereka saja menotice keanehan Abri, apa lagi mereka berempat yang sudah khatam memahami sikap komandan mereka.

Abri menghela nafas berat, duduk dari rebahannya. Apa dia harus cerita pada anggotanya ini? Ia menatap satu persatu wajah mereka yang kini fokus akan dirinya, lalu kembali menghela nafas lagi, "Saya cuma banyak pikiran."

Keempat manusia itu perlahan mendekat tau sesi curhat Abri akan berlangsung. Keempat empatnya melupakan kegiatan mereka di malam Minggu ini dan duduk di sisi ranjang Abri.

"Pikiran apa itu bang? Jangan bilang Abang kelilit hutang ya," todong Denis seenak jidat. Lagi lagi otaknya berpikir Abri kalah main slot. Apa tampang Abri seperti bandar judi di mata Denis?

Abri langsung menatap Denis tajam "enak aja, saya gak punya hutang atau pun pernah berhutang!"

Denis terkekeh "wes, chill lah bang. Jadi apa yang membuat kapten gantengku ini banyak pikiran?" ia merangkul pundak sang kapten.

Abri menundukkan kepala "saya di jodohkan."

Keempatnya cukup kaget, namun setelahnya bisa menguasai diri merasa tak heran juga melihat umur Abri yang terbilang tak lagi muda tapi belum menikah malah di langkahi adik bontotnya sudah pasti orangtuanya akan bertindak mencarikannya jodohkan?

"Lah, terus apa salahnya sama perjodohan itu?" tanya Marvin lebih dulu.

Abri menatap Marvin sejenak, lalu menghela nafas lagi dan kembali menunduk "saya gak mau nikah."

"Alasannya?" tanya Ibam.

"Jangan bilang karena masih kepikiran itu cewek gak tau diri ya bang." ucap Denis dengan sinisnya. Mengingat wajah wanita itu saja buat Denis pingin jatuhkan rudal ke rumahnya sangking geramnya.

"Saya cuma gak bisa, saya gak mau menerima perjodohan ini. Saya belum siap, hati saya masih berantakan."

Denis, Ibam dan Gilang saling pandang pandangan, mereka bertiga ini yang paling tau seberapa ngenesnya Abri soal percintaan.

"Berantakan jua karena Abang yang tra da mau menatanya ulang to deng orang baru?"

Ucapan Dico membuat Abri termenung sejenak. "Bukan gak mau menata ulang ko, cuma saya... Saya takut jatuh cinta lagi, saya takut di tinggal lagi."

Boleh tidak sih mengkorek isi kepala Senior sendiri? Baik Ibam, Gilang, Denis dan Dico merasa geram akan ucapan Abri barusan. Jika memang punya masa lalu yang mengenaskan ya mbok jangan kelihatan ngenes banget lah, yang ada mantannya makin kesenangan kalau tau Abri segalon ini.

"Gak semua cewek kayak cewek gila itu bang. Apa lagi ini pilihan orangtua Abang, udah pasti milihin cewek yang terbaik di antara yang terbaik. Percayalah samaku. Orangtua Abang itu sayang sama Abang makannya nyarikan Abang calon istri supaya Abang gak kek gini lagi."

"bener, bang kata Ibam. Gak semua cewek kek dia. Buktinya gak usah jauh jauh, mamak Abang juga perempuan. Di tinggal tugas sama bapak pangdam selama apapun juga gak pernah pindah jalur, lurus dan sabar nunggu bapak pangdam balik."

Abri lagi lagi terdiam setelah mendengar perkataan Ibam dan Denis yang tak sepenuhnya salah, hanya saja gimana ya, Abri benar benar gak berani memulai, dia benar benar takut kejadian mengenaskan itu terjadi untuk yang kedua kalinya.

"Kalian katanya mau malam mingguan. Lihat jam udah mau jam delapan tu. berangkat sana." ujung ujungnya Abri tak ingin meneruskan obrolan serius malam ini dengan anggotanya. Ia malah mengalihkan pembicaraan dan secara halus mengusir mereka.

"Wih, iya cok! Matilah aku ibuk negara udah ngeromet ini! Gak dapat jatah aku, gak dapat jatah!" Ibam yang melihat ponselnya menampilkan pop up dari kekasihnya pun segera berlari dari keluar dari sana. Begitu juga yang lain.

Abri melihat seluruh anggotanya langsung berhamburan pun terkekeh lalu setelahnya membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan menatap langit langit kamar. Ruangan sudah tak sebrisik tadi otaknya mulai menggalau lagi.

Hidupnya benar benar berantakan setelah di tinggal nikah sekitar lima tahun lalu. Gambaran masa lalu mereka saja masih tergambar jelas dalam ingatan Abri yang dulu menurutnya begitu indah jika di ingat namun sekarang bagai belatih yang mampu menyayat nyayat hatinya sampai tak berbentuk lagi.

Hubungan yang di jalin Abri dengan sang mantan bukan setahun dua tahun melainkan hampir tujuh tahun terhitung dari Abri duduk di bangku pertengahan SMA. Tapi mengapa wanita itu begitu tega meninggalkannya dan memilih menikah dengan pria lain padahal mereka masih menjalin hubungan.

Dret! Dret!

Ponsel Abri bergetar, membuat sang empu langsung tersadar dan kembali ke masa kini. Nama Dwika tertera disana. Ia jadi teringat akan perkataan sang papa yang mengatakan bahwa gadis yang di jodohkan dengannya itu adalah anak dari panglima jenderal Hamzah, yang berarti adik ipar dari Dwika. Apa Dwika sudah mendengar kabar perjodohan tersebut dan meminta pendapatnya?

"Ya, halo." Abri mulai berbicara.

"Lagi dimana?"

"Di barak, apaan?"

"Kau gak keluar?"

"Gak, males. Kenapa?"

"Gak ada, aku cuma mau kasih kabar. Bulan depan aku di pindah tugaskan ke sat 81."

Spontan Abri mendudukkan dirinya "Ha? serius? memangnya kau lulus seleksi?" mengingat jika ingin masuk satuan 81 Gultor itu harus melewati seleksi yang cukup ketat karena yang berada di sat 81 itu adalah prajurit kopassus pilihan terbaik di antara yang terbaik.

"Wah, sepele banget samaku. Mantunya panglima jenderal nih mana mungkin gak lulus seleksi." ucap Dwika sombong.

Abri mendengus "ingat ya sombongnya di kurangi, ini juga percobaan keberapa? Lima kan? Aku aja yang sekali nyoba langsung jebol aja gak kayak kau sombongnya."

"Ya si anjing, gak usah di perjelas juga dong!"

Abri lantas terkekeh mendengar umpatan Dwika di sebrang sana. "dah lah aku mau tidur."

"Dih, jomblo ngenes. Malam Minggu bukannya pelukan sama pacar malah sama guling." ejek Dwika.

"Bacot!"

Tut!

Langsung saja Abri putuskan sambungan panggilan mereka setelah mengumpati sang sahabat.

______________

Pukul delapan malam Moza baru saja pulang dari studio, tentu saja di jemput Aji ajudan Moza yang begitu setia selalu mengawal dirinya kemana pun Moza pergi.

Dan kini keduanya secara bersamaan memasuki kediaman Abraham dengan Aji yang berjalan tepat di belakang gadis itu.

"Assalamualaikum," salam keduanya secara bersamaan.

"Waalaikumsalam," jawab Clara yang saat itu tengah duduk di ruang santai sambil menonton televisi.

"Kok malam benget kalian baru pulang?" tanya Clara.

"Namanya juga kerjaan Moza di studio tadi padat mi, Taukan ini bulan bulan yang lagi rame ramenya orang pada nikah, jadi studio banjir untuk melakukan foto prewed." jelas gadis itu menghampiri Clara lalu ikut duduk disana

Clara mengangguk "letnan Aji sudah makan?" tanya Clara begitu perhatian.

"Belum Bu."

Clara langsung menatap tajam sang putri membuat Aji kembali bersuara "bukan karena nona Moza gak kasih saya makan, tapi karena saya memang pingin makan di rumah Bu, makan di luar terus juga bosan."

Clara lalu tersenyum "ya sudah kalau begitu, lauk sama sayurnya sudah ada di atas meja makan. Kalau sudah dingin, minta bibi panaskan."

"Siap Bu. Kalau gitu saya permisi dulu." Aji langsung pergi ke kamarnya yang terletak di bawah tangga bersama dengan kamar Marwan karena keduanya sekamar.

"Papi belum pulang?" tanya Moza tak melihat sang papi yang biasanya pasti selalu menempel pada sang mami jika berada di rumah.

"Belum."

"Kalau bang Julian, kak Fira sama Sean mana?"

"Julian masih di kantor, kalau Fira sama Sean lagi di kamar ngerjain tugas prakarya sekolah Sean."

Moza manggut manggut "Kalau gitu, Moza juga pamit mi, mau mandi." Moza lantas bangkit dari duduknya.

"Eh, tunggu dulu dek, mami mau ngomong sesuatu sama Oza."

"Ngomong? Ngomong apa?" Moza kembali duduk di tempatnya.

Clara tak langsung mengatakan apa yang ingin ia katakan lebih dulu, melainkan menatap wajah putri bungsunya ini Lamat Lamat lalu membelai pipi gadis itu dengan sayang. "Oza."

"Iya mi?"

Kembali Clara diam sejenak lalu selanjutnya menarik nafas mungkin ini saat yang tempat untuk memberi tahukan Moza soal perjodohan yang mereka rencanakan untuknya.

"Apa pendapat Oza tentang perjodohan?"

Sepontan duduk Moza semakin tegap, ia menatap wajah maminya begitu lekat. "Kenapa mami tanya begitu?"

Clara tersenyum "Mami tanya, Oza harus Jawab."

"Menurut Oza gak masalah sih, sah sah aja yang penting gak di paksakan dan kedua belah pihak yang bersangkutan juga di berikan ruang untuk berkenalan satu sama lain untuk memahami peribadi masing masing, kalau cocok lanjut kalau gak juga ya udah. Lagian anak muda jaman sekarang juga banyak gak punya waktu untuk memikirkan masalah jodoh kan mereka lebih di sibukkan sama yang namanya cari uang. Ketimbang masalah cari jodoh. Jadi kalau di jodohkan oleh orangtua gak masalah sih."

Mendengar itu Clara kembali tersenyum "jadi kalau papi sama mami menjodohkan Oza bagaimana?"

Moza termenggu sejenak "gak salah ini papi jodohin Oza?" bukan bagaimana, banyak loh pria di luar sana yang menginginkan Moza tapi tak satupun menembus benteng pertahanan Hamzah dan sudah pasti pria itu menolaknya keras seakan akan tak akan pernah menikahkannya dengan siapapun seumur hidupnya. Tapi ini apa? Bahkan Hamzah yang berinisiatif dengan menjodohkannya.

Clara mengangguk semangat tidak lupa dengan full senyum. "Dia anak pangdam Kodam jaya, papanya teman papi. Dan dia seorang tentara."

"Terus menurut papi sama mami dia orangnya bagiamana?"

Clara mencoba berpikir dan mengingat ingat Abri itu seperti apa. "Mami baru ketemu sekali sih, anaknya manis, ramah banget, murah senyum, penurut, penyayang dan tentunya ganteng dong sama satu lagi, dia tinggi banget loh dek, mami bahkan cuma sebatas ketiaknya doang. Pokoknya dia gagah banget cocok banget sama Oza." jelas Clara dengan antusias.

Melihat cara maminya bercerita Moza yakin jika memang pilihan orangtuanya kali ini tidaklah salah, sudah pasti pemuda itu begitu berkesan sampai membuat kedua orangtuanya tanpa ragu menjodohkannya dengan pria itu.

"Dia juga teman dekatnya Dwika. Dan setelah mami cari tahu, ibu ibu batalyon di tempat ia tugas juga punya julukan untuknya kamu tau gak julukannya apa?" lanjut Clara lebih antusias membuat Moza tersenyum geli lalu selanjutnya menggelengkan kepalanya. sesuka itu mamanya pada sosok pria yang belum Moza ketahui akan di jodohkan dengannya.

"Mantu idaman. Semua ibu ibu disana pingin jadikan dia mantu mereka. Dia sesempurna itu loh dek sampai ibu ibu disana semua menyodorkan anak anak mereka. Jadi Oza mau ya mami jodohkan sama dia?"

Deg!

Tawa Moza langsung mereda ia menatap dalam wajah sang mami yang matanya penuh binar bahagia seperti telah menemukan harta karun yang begitu berharga untuk putrinya.

Melihat Moza yang tiba tiba terdiam Clara lantas tersenyum, ia kembali membelai wajah sang putri "papi sama mami yakin kalau dia bisa jagain Oza, bahagiakan Oza dan tentunya membimbing Oza. Gak pernah Loh papi dengan sukarela menyerahkan putrinya pada seorang pria seperti ini. Kamu tau sendiri kan seperti apa perlakuan papi ke Dwika dulu sampai mas mu itu bisa benar benar mendapat restu dari papi untuk memperistri Belian?"

"Kalau papi sudah memilih pasti pilihan papi itu tepat dan sudah pasti yang terbaik baik untuk Oza."

Kini tangan Clara berlaih menggenggam tangan sang putri "kamu tau kan kalau nikah itu ibadah, dan ibadah itu indah sayang, termasuk pernikahan."

"Jadi walaupun kalian belum saling kenal, mami yakin perlahan tapi pasti cinta itu akan tumbuh karena terbiasa bersama."

Moza mengangguk membenarkan perkataan sang mami.

"Jadi bagaimana? Apa Moza mau di jodohkan dengan pria itu?"

Melihat binar mata bahagia sang mami rasanya Moza benar benar tak tega untuk menolak. Belum lagi mendengar ini adalah pilihan dari papinya langsung yang sudah pasti pilihan yang terbaik dari yang tebaik.

"Iya mi, Moza mau."

Terpopuler

Comments

Ani

Ani

ya ampun mulutmu bang

2024-09-16

1

💗 AR Althafunisa 💗

💗 AR Althafunisa 💗

Wah... Lain dengan Moza mas Abri. Moza sih mau 😂

2024-09-16

1

💗 AR Althafunisa 💗

💗 AR Althafunisa 💗

Lanjutttt ka ❤️❤️❤️

2024-09-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!