Kekacauan di besman

"Bunda sakit..." Rintih bocah lima tahun itu.

Mata Moza dan Aji sama sama membola kala melihat noda darah mulai merembes di baju Sean membuat baju bocah itu perlahan memerah akibat darah. Iya, Sean lah yang terkena tembakan dan itu tepat di bagian dada sebelah kanannya.

"SE-SEAN!"

Saat Moza akan mengangkat tubuh bocah itu, Aji mendorong Moza ke balik mobil yang bertepatan di sebelah mereka, lalu dengan sigap membawa tubuh Sean yang sudah berlumur darah untuk kembali bersembunyi.

Dor!

Dor!

Dor!

Kembali komplotan itu menyerang mereka, suara deru tembakan bersahutan nyaring disana.

Jleb!

"Akh!" Kali ini Aji yang mendapatkan timah panas tepat di kakinya. Aji menjatuhkan tubuhnya di samping Moza setelah menyerahkan tubuh lemas Sean kepangkuan gadis itu. Tempat mereka bersembunyi kali ini lumayan aman dari tempat sebelumnya.

Tubuh Moza bergetar hebat saat melihat tubuh lemas tak berdaya Sean yang sudah berlumur darah di pangkuannya ia langsung saja memeluk tubuh kecil bocah itu yang kini nafasnya mulai putus putus.

"Sa-sakit b-bun-da... Da-dada... Se-Sean sa-kit," Rintih bocah itu dengan wajah meringis menahankan sakit yang teramat sangat. Sementara Aji yang mendengarkan rintihan bocah ceria itu kian tak kuasa melihat bocah sekecil Sean harus merasakan timah panas yang menembus dadanya. Seketika rasa bersalah serta kecewa mulai menggerogoti Aji, seharusnya dia saja yang mendapatkan luka itu jangan Sean ataupun Moza.

Air mata Moza sudah tak terbendung lagi, ia mulai menangis sejadi jadinya "maafin bunda Sean... Dimana yang sakit sayang biar bunda tiup," Teringat jika bocah itu mendapatkan luka di bagian tubuhnya pasti selalu meminta siapapun itu untuk meniupkan lukanya yang menurutnya akan sembuh jika di tiup. Moza menyingkap baju Sean dan melihat luka tembak yang cukup lebar dan dalam di dada kanan bocah itu. Air mata Moza pun kian deras membasahi pipi. Ia mulai meniup luka itu dengan derai air mata, berharap itu mampu meredakan sakitnya seperti yang sering Sean katakan.

Kenapa harus bocah kecil Sean yang merasakan timah panas ini?

"Apa mau mereka letnan?! Apa?!" Amarah Moza bercampur derai air mata tak kuasa melihat bocah lima tahun yang merupakan keponakannya sendiri yang beberapa menit lalu nampak ceria kini malah merasakan sakit yang teramat sangat akibat timah panas menembus dadanya. Matanya menoleh pada Aji yang kini juga merintih menahan sakit di kakinya. Moza tertegun ia sempat melupakan Aji yang saat ini juga tengah terluka sama seperti Sean.

Aji tak menjawab, ia mendongakkan kepalanya meresapi rasa sakit yang sama di kaki kirinya.

Tuhan, Moza harus apa sekarang? Aji, ajudan yang selalu melindunginya juga terluka saat ini.

Lantas apa yang di mau manusia manusia terkutuk ini sebenarnya?

Moza kembali berlaih ke Sean saat bocah itu mulai mengap-mengap dengan mata mengerjap pelan beberapa kali seakan ingin tertutup.

"Gak Sean! Gak! Sean, buka matanya nak, buka!" Moza mulai panik bercampur takut ia menepuk nepuk pipi Sean agar bocah itu tetap dalam kondisi sadar. Aji langsung menoleh ke arah Sean melupakan rasa sakitnya.

"Lihat bunda Sean, lihat bunda nak!" Air matanya bahkan sudah mengalir begitu deras sampai beberapa bulirnya ikut menetes membasahi wajah Sean yang berbaring di pangkuannya.

"Bunda bilang, lihat bunda Sean! Buka matanya sayang, BUKA MATANYA!" Kali ini Moza mulai menggoyang goyangkan tubuh Sean yang sudah benar-benar lemas, ia benar benar panik sekarang.

"SEAN JANGAN BUAT BUNDA TAKUT! PAPI... MAMI... Tolong Oza! SEAN! Hiks..."

Mendengar jeritan Moza, Aji menatap Moza dan Sean secara bergantian. Lalu meneliti Sean yang kini sudah setengah tak sadar dan membutuhkan pertolongan segera.

"BANGSAT!" Umpat Aji, ia marah, kesal dan kecewa pada dirinya sendiri karena gagal menjalankan amanah yang di embannya. Aji merogo saku celananya mengeluarkan ponselnya dari sana. Ia kembali mengintip keadaan sekitar dari cela mobil lalu kembali memejamkan mata menyadari jika komplotan itu tak berjumlah sedikit. Jika dia benar benar nekat membawa Moza dan Sean keluar sudah pasti mereka langsung tewas di tempat, tapi ia harus tetap mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Sean bagaimana pun caranya. Aji harus mencari jalan keluar paling aman secepatnya.

Aji mencoba kuat ia mulai menegakkan tubuhnya lalu memegang kedua pundak Moza yang masih menangis tersedu sedu meratapi Sean yang tak berdaya dan juga situasi mereka saat ini yang juga bisa mati kapan saja. "Dengar nona, saya mohon jangan panik dan jangan bersuara."

Namun suara Aji tak di dengar Moza, gadis itu tak kuasa melihat keponakannya seperti ini, ia takut kalau Sean akan pergi meninggalkannya, apa yang harus ia katakan jika sampai itu terjadi pada Julian dan Fira?

"Nona lihat saya!" Karena tak di dengar oleh Moza Aji menarik paksa wajah Moza untuk menatapnya dan mata keduanya bertemu. Aji masih menangkup wajah cantik Moza yang kini sudah bernodakan darah Sean "lihat dan dengarkan saya." Moza menurut dengan sesenggukan kecil ia menatap wajah Aji "Sean akan baik baik aja, kita semua akan baik baik aja. Saya janji kita semua akan keluar dari sini dengan selamat. Jadi sekarang saya minta nona tolong tenang. Kali ini saya akan coba melawan mereka."

"Ta-tapi mere–"

"Saya gak peduli seberapa banyak mereka," potong Aji "saya akan tetap melawan mereka semampu saya untuk melindungi nona dan juga Sean. Saya akan berusaha sekalipun nyawa saya yang jadi taruhannya. Saya rela mati demi kalian berdua." Aji menurunkan kedua tangannya yang menangkup wajah Moza. Ia kembali memegang kedua pundak Moza.

"Letnan–"

"Ssst! Dengarkan dan ikuti perintah saya, demi keselamatan kita bersama. Ini hp saya, hubungi bapak atau bang Marwan katakan keadaan dan juga lokasi tempat kita berada. Suruh mereka kirimkan bala bantuan ke sini segera dan secepat mungkin," Setelah itu Aji menyerahkan ponselnya pada Moza, ia lantas bangkit dan segera berbalik, rasa sakit pada kakinya seakan tak ia perdulikan lagi membuat Moza takjub melihat pria itu. Aji mengambil satu pistol lagi yang ia sembunyikan di balik bajunya dan kali ini ia sudah siap menyerang dengan dua pistol di tangannya.

Dor!

Dor!

Dor!

Suara tembakan kembali menggema kala Aji bangkit, ia cepat cepat merunduk dan mulai membalas serangan demi serangan yang di lakukan komplotan itu.

"Apa sandinya?" pekik Moza saat membuka ponsel Aji ternyata memiliki sandi.

"AILEFER11." Dengan tangan bergetar Moza menekan sandi yang di ucapkan Aji.

Moza juga segera mencari nomor Hamzah di sana, di saat menemukan ia segera menghubungi sang papi. Sudah lima kali panggilan yang ia coba lakukan ke nomor Hamzah namun tak di jawab, ia mencoba menelpon Marwan pun juga sama aja.

"Mereka gak bisa di hubungi."

Sambil berfikir keras siapa yang harus mereka hubungi dalam keadaan seperti ini, Aji juga membalas serangan demi serangan yang tertuju pada mereka "Cari kontak dengan nama bang ironman, hubungi dia! Akh!" Rintih Aji kala kini tangan kanannya yang terkena tembakan.

"LETNAN!" Pekik Moza kala mendengar rintihan Aji dan melihat tangan pria itu sudah mengeluarkan darah. Rasa khawatir Moza kian tak karuan.

"Saya tidak apa apa. Segera hubungi dia!" Tandas Aji menggigit bibir bawahnya menetralisir rasa sakit yang kian bertambah di bagian tangannya.

Dor!

Dor!

Dor!

Menurut, dengan tangan bergetar hebat Moza mencari nama kontak yang Aji maksud.

BOM!

BRUK!

Suara ledakan di barengi dengan tubuh Aji yang menubruk tubuh Moza bermaksud untuk melindungi, mobil yang mereka jadikan tempat untuk sembunyi sudah hancur lebur membuat mereka kian panik, beberapa puing mobil menghantam tubuh Aji yang tepat berada di atas Moza dan Sean.

Moza memeluk erat tubuh Aji memicingkan matanya kuat kuat sambil menjerit histeris saat mendengar ledakan yang begitu menggelegar disana, telinganya sekarang ikut mendengung akibat ledakan menggelengkan yang baru saja terjadi, tangisnya bahkan makin deras karena syok akan kejadian yang barusan terjadi.

Sementara Aji meringis ngilu, kala merasakan sensasi terbakar juga perih pada punggungnya yang terkena ledakan juga terkena serpihan kaca.

"Let-letnan..." Lirih Moza membuka matanya menetap Aji dari bawah, Aji memberi jarak pada tubuh mereka dan menatap Moza yang berada tepat di bawah tubuhnya.

"Saya... Saya... Tidak apa apa nona," Suara Aji kian lirih merasakan sakit luar biasa yang ia rasakan pada tubuhnya, namun ia berusaha kuat dia harus melindungi moza sampai bala bantuan tiba. Ia bangkit dari atas tubuh Moza di ikuti Moza yang ikut mendudukkan dirinya.

"PERGI BERSEMBUNYI NONA DAN HUBUNGI DIA!" Aji mendorong tubuh Moza untuk menjauh darinya.

"Tapi Sean–"

"SAYA AKAN MEMBAWANYA JADI SEGERA CARI TEMPAT AMAN DAN HUBUNGI DIA!"

Moza menoleh sejenak ke tubuh ponakannya yang tergeletak tak berdaya di sampingnya.

"CEPAT NONA KITA SUDAH TAK PUNYA WAKTU!" Bentak Aji saat melihat Moza malah terdiam mematung.

Menurut, Moza berlari mencari tempat berlindung paling aman dan mencoba menghubungi orang yang di maksud Aji.

"BAGAIMANA DI ANGKAT?!" Tanya Aji saat melihat Moza menempelkan benda pipih itu pada telinganya. Aji bersembunyi di sebuah mobil yang tak jauh dari tempat Moza bersembunyi.

"Belum di–"

"Halo?"

Suara seorang pria di sebrang sana bak angin segar yang membelai Moza dalam keadaan kacau saat ini, semoga pria ini bisa membantu mereka "To-tolong kami."

Sejenak suara di sebarang sana tak terdengar "kamu siapa?"

"BLACKOUT, BANG! KU ULANGI BLACKOUT BANG!" teriak Aji sekencang mungkin meneriakkan kode tanda bahaya begitu tau panggilan terhubung, ia berharap suaranya dapat di dengar pria di sebrang sana karena jarak dirinya dan Moza cukup jauh.

"Dimana posisi kalian?" Sontak sosok itu langsung melayangkan pertanyaan pada Moza.

Dor!

Dor!

Dor!

Moza terdiam menatap Aji yang tengah berusaha melawan dengan mendekap tubuh Sean. Ia kembali menangis histeris ketakutan.

"Hei, tenanglah, kamu harus tenang nona, dengarkan saya kalian dimana? Dan siapa namamu?"

Tak lagi mendengarkan pria di sebrang sana Moza malah menjerit memanggil Aji ingin bergabung dengan pria itu, ia ketakutan setengah mati "LETNAN!"

Aji menggeleng "TETAP DISANA!" Perintahnya telak.

Makin menjadi lah tangisan Moza, "aku takut..." Ucapnya lirih.

Pria disebrang sana mendengar jelas kekacauan yang terjadi disana dan juga suara lirih Moza yang berkata takut.

"Halo? Halo, nona?"

"Iya..." Balas Moza dengan suara bergetar.

"Dengarkan saya, nona harus tenang, oke? Bantuan akan segera tiba. Jadi jangan pernah putuskan panggilan ini."

Moza mengapit bibirnya, memejamkan mata membuat air mata langsung luruh membasahi pipi lalu mengangguk tanpa berkata apa apa.

"Oke, coba tenang ya nona. Dengan siapa saya berbicara?" Suara pria itu mulai melembut.

"Sa-saya... Saya Moza."

"Baik, nona Moza dengarkan saya ya... Kamu harus tenang. Kami akan tiba tepat waktu dan menyelamatkan kalian, kalian semua pasti akan baik baik saja. Jadi jangan panik, kamu harus tenang, oke?"

"Iya..." Patuh Moza, tatapannya tak pernah lepas menatap Aji dan juga Sean sebelah tangannya memegang dadanya yang sejak tadi sudah berdetak tak karuan akibat situasi yang luar biasa mecekamnya.

"Baik, apa sekarang kamu sudah bisa menjelaskan letak dan posisi kalian saat ini ada dimana?"

"Kami... Kami... Berada di besman mall."

"Bisa ceritakan situasi yang terjadi saat ini?"

Moza menatap sekeliling, matanya kembali berkaca kaca setelah menyadari sekitarnya saat ini benar benar kacau. Ia kembali menangis "aku takut... Hiks, aku mau pulang. Papi... Mami... Oza takut. Hiks."

"Iya, kamu pasti akan pulang, kamu pasti akan bertemu dengan–" belum selesai pria di sebrang sana berucap, Moza sudah kembali menjerit.

"AAAKKHH!" Peluru melesat tepat di sampingnya nyaris sedikit lagi mengenai kepalanya. Ia menjatuhkan ponsel dan menutup kedua telinganya lalu kembali menjerit "PAPIIII!!!!"

"Halo... Nona Moza? Moza? Kamu masih disana? Halo? Halo? Moza? Kamu mendengar saya?"

"NONA!!" teriak Aji berlari kearah Moza sambil membopong Sean, ia menjatuhkan tubuh bocah itu di samping Moza lalu mendekap gadis itu kalah semua senjata membidik Moza.

Dor!

Dor!

Dor!

Jleb!

Jleb!

Jleb!

Darah muncrat dari mulut Aji, entah sudah berapa peluru dalam waktu tak kurang dari satu menit itu bersarang di tubuhnya. Aji terbatuk batuk dalam dekapan Moza, tak di sadari air matanya menetes, ini perlindungan terakhir yang mampu ia lakukan untuk melindungi Moza. Pelukan Aji pada nonanya mulai mengendur dengan kesadaran yang mulai di ujung tanduk "maaf... Nona... Maaf... Maafkan saya..." Bisik Aji, padahal ia sudah berkorban nyawa demi melindungi Moza, tapi mengapa ia masih tetap mengatakan kata maaf? Dan setelah itu Aji benar benar tak sadarkan diri dalam dekapan Moza.

Tangisan Moza semakin menjadi jadi kala melihat dua orang yang sedang bersamanya kini sudah tak sadarkan diri di penuhi dengan lumuran darah. Suara orang dari ponsel Aji bahkan sudah tak ia perdulikan lagi.

Ia memangku kepala Aji menepuk nepuk pipi pria itu sama seperti yang ia lakukan pada Sean tadi "Letnan Aji bangun! Jangan tinggalin aku! Aku takut letnan! Tolong bangun, buka matamu! Letnan Aji! Akh! PAPI, MAMI!" teriak Moza frustasi.

Kedua tangannya memegang kepalanya sendiri lalu meremas rambutnya di sana rasanya kepalanya sudah akan meledak sangking frustasinya saat itu "tolong aku siapa pun itu, tolong aku!" Teriak Moza. "Papih!!!"

"Halo Moza, Moza kamu dengar saya! Moza!" Teriak pria di ponsel itu memanggil Moza. "Berengsek, cepat, cepat, cepat!"

"Mami, papi Moza takut Moza takut! Moza sendirian!"

Terpopuler

Comments

DozkyCrazy

DozkyCrazy

😭😭😭

2024-11-13

1

DozkyCrazy

DozkyCrazy

kasiiian si bocah😭😭

2024-11-13

1

Surtinah Tina

Surtinah Tina

ampun dah..ana bala bantuan....cepat Dateng tolong Sean moza dan letnan aji

2024-09-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!